
Alzam bangun lebih dulu, pandangan yang pertama ia lihat adalah wajah Qari yang masih tertidur dengan pulas. Laki-laki yang masih dalam keadaan polos tanpa busana itu tidak pernah menyangka bahwa Qari, wanita yang pernah ia kagumi sejak lama, tetapi dengan segala ketidakberdayanya cinta itu hanya bisa ia simpan di dalam hatinya yang terdalam, namun kali ini Qari yang sering mencari gara-gara dengan dia ternyata ada di hadapannya, dan mewarnai hari-harinya.
Tangan Alzam terangkat ia akan memegang wajah Qari di mana wajah cantik dengan takaran yang sangat sempurna dan pas. Namun niatan itu buru-buru Alzam tahan ketika matanya menangkap kala Qari juga akan segera bangun. Alzam buru-buru menyembunyikan tangannya di dalam selimut dan kedua bola matanya memejam secara sempurna, membiarkan Qari bangun lebih dulu dan Alzam ingin tahu apa kira-kira yang akan dilakukan oleh Qari ketika bangun nanti.
Qari menyusul bangun dan sama wanita itu langsung di hadapkan oleh pemandangan yang tidak pernah ia banyangkan sama sekali sebelumnya. Laki-laki yang selalu ia sebut cupu, dan selalu di buat bahan olok-olokan justru menjadi suaminya, dan anehnya lagi Alzam adalah laki-laki yang sangat dia cintai. Dan Qari rela melakukan apapun untuk bisa tetap bersama Alzam. Tidak perduli nyawanya yang akan jadi taruhannya, Qari sudah berjanji pada dirinya sendiri entah janji yang ke berapa tetapi ia sudaah berjanji bahwa ia akan tetap bersama dan rela mengorbankan segala apapun untuk tetap bersama Alza.
"Udah jangan di pandang terus aku memang dari dulu sudah tampan dan mempesona." Kali ini suara Alzam yang mengagetkan Qari di saat wanita itu sedang mengangkat tangannya hendak menyusuri wajah Alzam yang semakin dilihat semakin terpesona.
Bluk... Qari memukul pundak Alzam. "Kamu sudah bangun dari tadi yah?" seru Qari sambil menggelitik suaminya yang justru tertawa terkekeh-kekeh.
'Aku ganteng banget yah sayang," bisik Alzam semakin terkekeh sempurna.
Sementara Qari memilih membuang pandanganya dan pura-pura tidak mendengarnya adalah pilihan yang baling baik.
"Tau ah... aku mau mandi badan pada lengket itu karena kamu semalam ngajak olahraga terus," dengus Qari sembari menari selimut yang sedang di gunakan untuk menutupi tubuh polos nya juga.
"Aww... Sayang kok selimutnya di bawa ini kedinginan." Alzam menunjuk antenanya yang sedang berdiri dengan congkaknya.
__ADS_1
Qari terkekeh. "Kalau mau ambil aja ke sini," jawabnya dengan tanpa dosa. Alzam pun tanpa menunggu lama menyusul Qari bukan untuk mengambil selimut tetapi memang untuk menghukum istrinya yang semakin nackal itu, Qari yang tahu kalau Alzam sedang lari dengan berjinjit kearah kamar mandi pun buru-buru menutup pintu kamar mandi.
Namun, semua telat meskipun Alzam hampir telat satu detik ajah tetapi dia bisa menahan pintu yang hampir tertutup dengan rapat.
Sayang aku cape," lirih Qari yang mengira kalau Alzam akan mengajaknya mencangkul ladang lagi.
"Kalau cape duduk lah, biarkan aku yang memandikan kamu," jawab Alzam dengan suara yang teduh dan sabar. Tidak salah memang hatinya memilih Alzam karena Qari merasakan benar-benar dijadikan ratu oleh laki-laki itu. Cara Alzam memberi nasihat, cara Alzam memperlakukannya sungguh Qari merasakan kasih sayang dari sosok ayah ia dapatkan dari sosok Alzam, kasih sayang yang tidak pernah Qari dapatkan dari Luson bisa ditutup oleh kasih sayang Alzam. Dia adalah laki-laki yang ngemong dan sangat menghormati wanita.
Wajar saja Tantri untuk pertama takut kehilangan kasih sayang Alzam yang selama ini sangat tulus menyayanginya.
"Apa kamu tidak malu memandikan istri sendiri?"lirih Qari yang baru pertama kalinya diperlakukan sepesial ini.
"Pantas kamu dan Tantri sangat dekat. Dan mungkin itu juga yang membuat Tantri takut kalau aku akan merebut kasih sayang kamu," ujar Qari.
"Iya, apa kamu cemburu dengan dik kecil ku?" tanya Alzam sembari membungkus tubuh polos Qari dengan handuk. Selanjutnya ia yang melanjutkan mandi sendiri.
"Pertama seperti merasa asing banget diantara kalian, tetapi sekarang-sekarang aku sudah terbiasa dan Tantri itu seru," balas Qari, bahkan acara mandi kali ini terasa sangat berbeda.
__ADS_1
Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam untuk mandi dan juga untuk mengobrol kini Qari dan Alzam sudah rapih akan melancong menikmati liburan mereka.
Sebelum benar-benar jalan-jalan Alzam dan Qari lebih dulu sarapan. Dan mereka pun sudah ditunggu oleh keluarga besarnya.
"Abang kok lama banget keluarnya?" cecar tantri begitu Alzam dan Qari menghampiri keluarga yang bahkan hampir selesai menikmati sarapannya.
"Iya Sayang, mungkin karena kecapean menyetir, jadi Abang bangunnya kesiangan," balas Alzam, dan tuan Latif pura-pura percaya dengan alasan yang Alzam katakan.
Ehemz... Sang tertua yang tahu kebohongan Alzam pun memberikan kode deheman.
"Ayo Qari, Alzam makan yang banyak, biar kalian nggak pingsan karena kehabisan tenaga," ujar Kakek yang sudah selesai makan. Naqi dan Cyra pun hanya bisa terkekeh, begitu pun mamih yang sudah hafal kelakuan putrinya, apalagi rambut Alzam masih setengah basah
Setelah sarapan selesai mereka pun mulai memulai misi-misinya untuk menikmati jalan-jalan ala keluarga Cemara. Tantri pun terlihat sangat antusias, impiannya terwujud jalan-jalan dengan keluarganya, ini bukan keluarga kecilnya melainkan keluarga besar. Pose demi pose memenuhi laman galeri mereka, dari yang gaya kalem biasa wajar hingga absurd dan petakilan, mereka bidik untuk sebuah kenang-kenangan. Kenang-kenangan indah yang belum tentu mereka akan mengalami hal yang sama lagi di tahu ke tahun.
"Sayang apa kamu cape?" tanya Alzam mengingat istrinya itu sudah hamil tiga bulan dan itu pasti sangat melelahkan.
Qari menggeleng dengan kuat, "Tidak, aku justru merasa lebih bersemangat dan tidak merasakan seperti orang hamil, atau jangan-jangan memang aku tidak hamil," bisik Qari dengan heran kata dokter ia memang hamil, tetapi dia yang sedang hamil tidak merasakan apapun, bahkan untuk rasa mual tidak ada, kata orang ada yang tidak suka dengan masakan, parfum, dan bau-bauan yang lainya. Qari tidak merasakan itu semua. dan soal makanan Qari semua jenis makanan di lahapnya tanpa ada yang paling di suka atau sebaliknya dihindari.
__ADS_1
"Tapi kalau kamu cape atau merasakan nyeri di perut atau di manapun kamu bilang sama aku yah, aku takut kamu kenapa-napa," imbuh Alzam, jujur laki-laki itu justru yang mulas melihat Qari yang terus menikmati wahana dari satu tempat ke tempat yang laian, hingga tibalah kewahana yang sangat dia inginkan yaitu panjat tebing, Tantri sudah lebih dulu lari karena ingin menikmati juga permainan yang sepertinya sangat menantang itu.
Qari pun memperhatikan sesekali terlihat ia menelan saliva nya dengan kasar. Namun, dia juga mengingat ucapan Alzam di mana pilihan Qari hanya dua panjat tebing atau bermanja-manjaan dengan suaminya nanti malam. 'Uh memang pilihan yang sulit.'