Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam Bab 228


__ADS_3

Sementara itu di tempat yang lain.


"Ganti aku tidak suka kamu pakai itu seperti aku melihat asisten rumah tangga," balas Deon dengan menunjukkan wajah tidak sukanya. Kembali Cucu melihat pakaiannya yang menurut pandangan dia tidak ada masalahnya, bahkan dari sekian daster, daster yang dipakai Cucu saat ini adalah daster dengan kualitas terbaik. Yang lainnya ada jendela di bagian ketiak dan juga warnanya jauh lebih buluk dari yang Cucu pakai saat ini.


"Kenapa Deon, aku suka pakai daster dingin dan nyaman kalau mau tidur, lagian kita kan mau tidur siapa juga yang lihat kan mau tidur baju bolong juga aman-aman saja nggak ada yang lihat," balas Cucu tetap malas rasanya kalau harus ganti pakaian lagi.


"Yah mungkin menurut kamu seperti itu, tapi bagi aku justru kamu kalau mau tidur pakai-pakaian terbaik kamu karena ada aku yang harus kamu buat bahagia," balas Deon tetap dia tidak mau kalau Cucu pakai daster.


"Terus kalau aku tidak pakai daster aku pakai apa dong," balas Cucu dengan bingung.


"Apa kamu tidak ada pakaian yang jauh lebih bagus lagi?" tanya Deon.


Cukup lama Cucu diam untuk berpikir kira-kira apakah dia ada pakaian yang bagus lagi atau tida. Cucu menggeleng. "Tidak ada pakaian aku rata-rata seperti ini," balas Cucu dengan yakin.


"Kalau gitu buka, kamu jangan pakai baju hanya pakaian dalam saja," balas Deon dengan yakin, sontak saja Cucu langsung melebarkan kedua bola matanya.


"Ini mah mau kamu, aku tidak mau. Kamu bahkan tadi pagi sudah menghukum aku dengan dua kali permainan," tolak Cucu dengan tatapan yang nyalang.


"Kalau gitu kita pulang. Tidak ada tidur di sini," balas Deon tidak kalau tegas. Cucu pun kembali melebarkan kedua bola matanya.


"Iya-iya, aku buka baju ini, tapi kamu nggak boleh macam-macam," ancam Cucu, dia sudah ngantuk dan bahkan sudah membayangkan kalau dia akan tidur dengan nyenyak tetapi malah Deon yang jahanam itu langsung membuatnya kesal.


"Iya santai ajah sih, kamu kan tahu kalau aku nggak pernah macam-macam paling juga macam- macam dan macam, pokoknya macamnya nggak cukup satu atau dua kali," balas Deon dengan mengerlingkan matanya serta memonyongkan bibirnya pada Cucu yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Cucu.


Wanita itu dengan segala pertimbanganya akhirnya mengikuti apa kata Deon membuka baju kebangaan emak-emak sejagad raya (Termasuk yang nulis) dan hanya memakai sepasang pakaian dalam yang menempel di tubuhnya. Meskipun Deon pun jadi tegang ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit Cucu, tetapi laki-laki itu mencoba menahannya itu semua karena di rumah ini sangat sempit sehingga pasti akan banyak yang dengar kalau sampai Cucu seperti malam-malam biasanya terus meracau setiap dalam permainannya.


Cucu yang bangun lebih dulu pun memilih untuk membersihkan tubuhnya lebih dulu, dan setelah itu memakai pakaian dia kembali, dan makan lalu pergi berbelanja pakaian untuk dia. Itu yang Deon katakan, karena Deon tidak mau sang istri memakai pakaiannya yang di nilai buluk oleh Deon.


"Deon... bangun." Cucu menggoyang-goyangkan tubuh sang suami dengan lembut, Deon pun yang sebenarnya sudah bangun semenjak Cucu ada di dalam kamar mandi bangun, tetapi laki-laki itu memilih berpura-pura untuk tetap tidur tentunya untuk mengerjai sang istri yang sangat manis itu.


"Brukkk... Ah, Deon kamu bisa tidak, kalau apa-apa jangan main tarik-tarikan kalau tangan ini copot gimana," ucap Cucu yang kali ini sudah jatuh tepat di atas tubuh kekar sang suami.


"Sejak kapan ada sejarahnya kalau ditarik manja tangan patah, paling mentok-mentok kekilir dan berakhir diurut," balas Deon dengan kakinya direntangkan dan mendekap tubuh Cucu yang jauh lebih kecil dari Deon.

__ADS_1


"Iya itu maksud aku, kekilir, lagian kan sakit dodol kalau diurut itu," balas Cucu ingin berontak dan melepaskan diri dari pelukan Deon tetapi rupanya Deon adalah laki-laki yang sangat kuat, bahkan Cucu gerak-gerak agar kaki Deon lepas justru laki-laki itu mendekap lebih kuat lagi.


"Bisa tidak kamu diam? Aku berasa lagi di ko-cok kalau kaya gini," ucap Deon dengan merem melek seperti orang sedang melakukan hubungan badan. Sontak saja Cucu langsung diam ketika tubuh bagian bawahnya tahu kalau sang senjata perang sudah on dan ingin segera di tuntaskan.


"Iya aku diam, tapi kamu lepaskan yah, kamu mandi dan bukanya kata kamu mau membelikan aku pakaian, aku nggak punya baju, masa iya harus pakai punya kakak Dena terus tidak enak dong terus terusan punya kakak Dena, atau kalau pakai baju aku kamu akan marah katanya itu buluk kamu nggak suka lihatnya," adu Cucu dengan suara yang manja-manja serak dan basah. Sangat menggemaskan kalau di dengar oleh Deon apalagi kalau sedang bercinta suara Cucu sangat natural dan membangkitkan nafsunya terus.


"Kita main dulu sebentar," balas Deon dengan wajah memelas, tetapi langsung di balas dengan tatapan Cucu yang sangat tajam itu.


"Aku nggak mau, kalau kamu mau buruan mandi kita ke hotel. Kalau di rumah ini tidak aman, terus juga apa enaknya main celap celup udahan tidak-tidak kita ke hotel," balas Cucu dengan yakin dan mencoba untuk membangunkan sang suami yang orangnya sangat malasan.


"Tidak apa-apa kali Cu, ada yang dengan samar-samar juga, aku rasa kakek dan Nenek kamu tahu kalau kamu saat ini sedang seru-serunya jadi pasangan suami istri." Sama dengan Cucu yang bersikeras untu di hotel, Deon juga bersikeras tetapi bermain di kamar sempit ini.


"Iya sih mereka juga akan berpikir seperti itu wajar karena memang pengantin baru, bahkan wajar untuk setiap pasangan suami istri seperti itu karena memang berhubungan badan termasuk kebutuhan dalam pasangan suami istri, tapi kita juga harus isa menjaga tempat. Lagian apa susahnya bangun dan mandi setelah itu kita mau ke hotel dulu atau bahkan ke mall dulu untuk beli pakaian jadi apa yang susah sih. Yang susah itu kamu yang malas malasan terus. Ayok bangun habis itu kita bisa buru-buru untuk bermain yang seru-seru," balas Cucu dengan memberikan senyum semangatnya.


Deon pun membalas Cucu dengan senyum jahilnya, laki-laki itu pun mengikuti apa kata sang istri bangun dengan semangat membersihkan diri.


"Cu, kamu ambil pakaian aku di dalam mobil, kalau pakai-pakian ini percuma dong mandi pakai baju yang sama gatel lagi," balas Deon dengan santai, dan kini Cucu pun kali ini tidak banyak protes, ia tahu kalau suaminya memang sangat perfeksionis soal gaya dan penampilan.


"Ini pakaian kamu Mas suami, segeralah berpakaian karena di luar Nenek dan Kakek sudah masak makanan spesial untuk cucu menantunya. Dan aku yakin kamu pasti akan makan banyak dan lahap, karena masakan Nenek adalah masakan terenak di dunia," racau Cucu dengan mengulurkan pakaian untuk Deon.


"Kalau makanan terenak sedunia kamu makanya lahap dan banyak dong," ucap Deon dengan tangan masih terus memakai pakaian helai demi helai.


"Oh sudah jelas iya dong, kamu nanti bisa lihat aku makan dengan lahap," ucap Cucu dengan santai.


"Tapi, kok badan kamu kurus banget, kayak orang yang nggak pernah di kasih mana," balas Deon dengan bibir tersenyum sempurna. Sontak saja Cucu langsung melemparnya dengan bantal.


"Enak saja kamu kalau ngomong, aku kurus itu karena kamu. Aku ngurus kamu itu cape banget makanya kurus kaya gini," balas Cucu dengan percaya diri justru menyalahkan Deon sontak saja Deon langsung terkekeh dengan sempurna. Cucu memang ada-ada ajah sehingga dia pun terkekeh dan tentu bahagia dengan adanya Cucu yang sangat menggemaskan itu.


"Ya udah yuk kita makan, udah nggak tahan nanti bakal dapat servis sepesial dari istri karena siang ini sudah jadi suami yang manis," balas Deon dengan sangat yakin. Kini Deon dan Cucu pun ke luar kamar tentu dengan penampilan yang sangat segar. Sehingga meskipun mereka berdua tidak melakukan nunu nana, tapi kakek dan nenek sudah senyum-senyum sendiri karena mengira sang cucu melakukan kegiatan tanam saham.


"Ayo Cucu makan, Kakek dan Nenek sudah masak makanan yang Cucu suka," ucap Kakek sembari melambaikan tangannya. Deon dan Cucu yang memang sudah lapar mana mungkin hanya diam saja dengan adanya tawaran yang menggiurkan itu.


"Kakek, Nenek nggak makan?" tanya Cucu yang melihat Kakek dan Neneknya justru pergi ke halaman belakang yang banyak pohon buahnya.

__ADS_1


"Kakek baru selesai makan dan sekarang lagi makan rujak," ucap sang nenek yang mana pasangan suami istri itu justru lebih suka makan di bale belakang dari pada di meja makan.


"Wah, Cucu mau Nek rujak tapi buat nanti di mobil," ucap Cucu, wanita itu bahkan sudah membayangkan makan rujak yang pasti enak.


Sedangkan Deon sejak tadi hanya diam melihat makanan yang ada di hadapanya.


"Ini namanya nasi liwet, dan ini pepes tunggir ayam, ini pepes ikan mas, ini sambel kemangi enak banget, ini cumi sambal ijo dan ini namanya tumis daun pepaya muda, ini ada ikan asinnya. Cobain deh di jamin kamu bakal suka dan makan banyak." Cucu pun untuk pertama kalinya melayani sang suami mengambilkan nasinya dan juga mengambil beberapa lauknya.


"Sebenarnya lebih enak lagi kalau ada pete dan jengkol tapi aku yakin kamu tidak akan suka maka makanan sejuta umat itu aku singkirkan," ucap Cucu dengan wajah sedikit murung, sebenarnya dia sangat suka dengan makanan yang baunya khas itu tapi dari pada nanti bertengkar dengan Deon sehingga Cucu lebih baik mengalah saja. Toh ada atau tidaknya jengkol dan pete dia tetap bisa makan enak.


Kini Deon dan Cucu pun menikmati makan sore campur malam, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Cucu kalau sang suaminya entah berapa puluh kali mengucapkan enak dan bahkan makan Deon pun terlihat sekali kalau sangat lahap.


Cucu pun mengembangkan senyumnya bahagia siapa sih yang tidak bahagia ketika melihat suami kita makan dengan lahap.


"Gimana enak tidak?" tanya Cucu lagi, padahal seharusnya dia sudah tahu lah wong Deon saja sudah mengucapkan enak entah berapa puluh kali.


"Juara, enak sih aku suka masakan nenek kamu, bilang pada beliau kalau aku menyukai masakannya," ucap Deon dengan mengacungkan dua jari jempolnya.


Cucu pun meskipun bukan dia yang memasak, tetapi cukup senang dengan ucapan Deon dia pun sangat senang dan juga puas karena Deon suka masakan sang nenek.


Setelah makan sore yang sangat lezat, kini Deon dan Cucu pun sudah ada di dalam mobil, tentu setelah pamitan dengan sang kakek dan neneknya Cucu.


"Jadi kita mau ke mall kan?" tanya Cucu dengan santai.


"Ke Mall? Hotel lah kamu kira kalau sudah tegang begini enak diajak jalan-jalan. Yang ada makin sakit. Keluarin dulu baru bisa Jalan-jalan," balas Deon tanpa menatap Cucu.


Deh!! Cucu pun makin tidak bisa menghindar lagi.


#Bersambung....


...****************...


Sembari nunggu buka mampir yuk ke Om Duda, aman dibaca pas puasa juga. Pokoknya baper dengan pasangan ini dah. Kalau yang lain cowoknya yang suka merayu di sini Mbak Lydia yang aktif ngegombal sampai Om Duda yang dingin ketagihan sama gombalan Mbak Lidi...

__ADS_1



__ADS_2