
"Kenapa mata kamu bengkak kaya gitu?" tanya Jec di mana Cucu datang-datang matanya kayak habis disengat tawon. Sebenarnya Jec bertanya pun hanya iseng tentu laki-laki itu tahu, mata Cucu bengkak kenapa.
"Berisik banget, kerja-kerja aja. Jangan kebanyakan tanya macam-macam," balas Cucu yang mana dia sebenarnya lagi marah sama Deon, karena suaminya itu udah janji akan pulang dalam waktu satu bulan, tetapi justru Deon melanggar janjinya lagi. Itu sebabnya Cucu kesel.
"Aku tahu pasti kamu sedang kangen sama suami yah. Jangan ditangisi gitu apalagi kalau kamu marah, yang ada nanti Tuan Deon di sana tidak fokus kerjanya. Di samping nanti selesainya jadi tambah lama, juga nanti takutnya Tuan Deon ada apa-apa, karena terlalu memikirkan kamu. Kerjaan Tuan Deon itu pergi ke sana ke sini takutnya dia mengemudi sendiri dan terjadi apa-apa jadi lebih baik kamu dukung Bos Deon dan beri motifasi yang positif biar Tuan Deon jalanin kerjaan dengan semangat. Percaya deh Cu, Tuan Deon juga pasti kesiksa banget berjauhan sama kamu. Apalagi dia laki-laki biasanya akan terus ingin dekat dengan wanitanya karena penelitian mengatakan laki-laki paling tidak bisa nahan nunu nana, dan kalau laki-laki itu tahan percayalah itu adalah hal yang sangat berat sehingga perlu diapresiasi dengan dukungan yang positif. Aku yakin kamu pasti bisa. Cucu adalah cewek yang paling kuat, paling pengertian yang pernah aku temui," puji Jec dengan mengacungkan dua jempolnya.
Bruuggg...!!! Cucu memukulkan map pada pundak Jec.
"Katakan apa mau kamu?" tanya Cucu dengan ketus meskipun Cucu tahu kalau yang dikatakan Jec itu betul dan dia nanti akan telpon sama suaminya dan akan meminta maaf atas kesalahannya, Cucu hanya kesal sesaat saja kok setelah dinasehati oleh Jec juga wanita itu kembali bisa berpikir normal.
"Hehe, kok kamu tahu sih Cu, kalau aku lagi ada maunya," balas Jec dengan nyengir? kuda.
"Tahu lah, kamu itu kebiasaan lama. Bahkan aku kayaknya lebih kenal sama kamu dari pada Qila-Qila itu," jawab Cucu dengan ketus.
"Kamu masih marah sama Qila?" tanya Jec heran, pasalnya Cucu paling malas kalau Jec cerita Qila.
"Marah mah enggak, hanya saja masih kesel aja. Dia itu ngeselin banget. Aku masih kesel ajah dia ngebayangin aku dan saat dia nyolot aku nasihatin," balas Cucu dengan menirukan dulu Qila menjawab ucapan-ucapanya.
Cucu pun mengingat semu ucapan Qila yang bagi Cucu sangat mengelakkan, sebenarnya Cucu bukan hanya kesal dengan omongan Qila hanya saja wanita itu kesal dengan gaya bicara Qila dan juga cara dia berbicara dengan Cucu.
"Tidak ada, gue tidak mempunyai keistimewaan, dan gue juga enggak ingin di nikahi sama laki-laki itu, sudah gue bilang gue enggak kenal dia, laki-laki itu aja yang tiba-tiba ajak nikah nggak tahu maksudnya apa. Nikah itu karena cinta bukan paksaan," jawab Qila dengan nada yang ketus. dan sontak saja Cucu semakin di buat geleng-geleng sama kelakuan wanita yang sedang terbaring lemah di atas ranjang pasien.
"Bodoh loe yah, loe cari laki-laki yang seperti apa emang. Ada laki-laki yang mau memuliakan loe menghargai loe dengan harga yang paling mahal, tapi loe malah milih jadi wanita murahan. Loe bukan hanya bodoh tapi nggak waras. Cinta? berapa banyak yang sudah jadi korban karena Cinta. Sekarang gue tanya apa dengan cinta menikah akan terjamin bahagia?" Cucu kali ini benar-benar terpancing dengan ucapan Qila bukan terpancing dengan ucapan Qila yang menurut Cucu sangat tidak sepatutnya di
__ADS_1
ucapkan oleh wanita karena diluaran sana banyak yang menginginkan dinikahi oleh laki-laki seperti Jec.
"Terserah loe mau ngomong apa. Bukanya loe sedang bekerja pada Jec untuk merayu gue agar mau menikah dengan laki-laki itu demi uang kan loe melakukanya?" Qila tidak kehabisan ide untuk. membuat Cucu gagal. membujuk dirinya. Ketika Cucu berusaha menyadarkan Qila, wanita itu pun berusaha dengan keras agar Cucu tidak ikut campur urusanya.
"Yah, gue memang melakukan ini karena uang, tapi asal loe tahu gue membutuhkan uang itu karena barusan ada laki-laki gila yang menghargai tubuhku dengan nominal uang yang menurut loe sebagai wanita murhan pasti sangat banyak, tapi gue tolok. Dan gue tawarkan pernikahan, tapi sayang nasib gue nggak seberuntung loe yang tiap bulan dapat nafkah. Gue hanya menawarkan pernikahan agar hubungan badan yang kita jalani beribadah dan mengalirkan pahala dan keberkahan, soal nafkah gue masih bisa bekerja sendiri. Tetapi laki-laki itu dengan tegas menolak dan meminta gue membayarkan uang yang tidak sedikit karena kalau tidak gue akan dibuat celaka. Beruntung loe cewek bodoh dipertemukan dengan Jec yang baik danĀ bisa menghargai wanita. Sekarang loe boleh membenci cara Jec yang terkesan memaksakan kehendak pada loe, tapi gue pastikan sejauh mana loe pergi tidak akan loe temukan laki-laki seperti Jec." Cucu terus membuat Qila tidak bisa berkata-kata lagi dalam ucapanya benar-benar membuat Qila diam.
"Gue tidak akan melakukan pekerjaan bodoh ini kalau bukan untuk mempertahankan kehormatanku sebagai wanita, Qila. Gue tidak akan mengemis pekerjaan pada Jec dan mau melakukan pekerjaan berat ini di mana membuat kamu sadar itu kemungkinanya hanya 0,01% jadi hanya keajaiban Tuhan yang bisa merubah otak bodoh loe. Andai laki-laki yang gila itu mau menikahi aku. Apa loe pikir gue cinta dengan laki-laki gila itu kenapa gue bisa menawarkan pernikahan?" Cucu memperhatikan Qila yang terus acuh dengan semua ucapan Cucu.
Yah, Cucu masih ingat betul apa aja yang Qila katakan, dan cara Qila berbicara dengan dirinya yang Cucu anggap sangat tidak sopan.
"Ya Tuhan Cu, kamu masih ingat saja. Aku aja udah lupa, malah aku saja sama Qila sudah nikah, sudah bahagia, saling memberi dan sudah saling menerima," balas Jec tidak menyangka kalau Cucu justru masih mengingat kejadian itu dengan detail.
"Iya lah jelas. Mana Qila sejak jadi istri kamu juga nggak pernah nemuin aku, setidaknya minta maaf atau nyapa mengingat kita adalah teman, tapi nggak apa-apa aku tidak gila penghormatan," balas Cucu lagi dengan ketus. Dia yang sedang marah pada Deon akhirnya bisa juga melupakannya meskipun bukan pada Deon, tetapi pada Jec.
"Tidak usah Jec, aku juga lagi nggak mood untuk terima tamu apalagi ada Qila. Aku cuma bercanda kok, kamu pergilah kalau mau cuti. Aku bisa atur semuanya kok. Kamu kan tahu aku wanita paling kuat dan paling pandai. Jadi soal kerjaan sudah jelas aku bisa mengerjakannya semua," balas Cucu dengan nada yang jutek, bahkan Jec sendiri jadi tidak enak dengan Cucu.
Dari kata-kaya Cucu hari ini cukup menyindir di balik candaannya, bukan seperti biasanya yang candaan pasti sangat enak didengar meskipun gaya bicara Cucu memang ceplas ceplos. Laki-laki itu berusaha berpikir positif saja, mungkin Cucu memang sedang sangat kangen dengan sang suaminya sehingga Cucu cukup sensitif. Jec tidak menyangka kalau Cucu masih marah pada Qila, gara-gara kejadian waktu itu. Jec jadi merasa tidak enak dengan Cucu.
"Terima kasih yah Cu, tapi aku perginya juga masih minggu depan, aku janji sebelum aku pergi kerjaan kantor aku pastikan akan beres jadi kamu tidak terlalu berat ketika aku kerja nanti," ucap Jec dengan suara yang lembut. Jec tahu kalau Cucu memang sedang sensitif sehingga dia pun tidak ingin kalau Cucu berkecil hati karena merasa tidak ada teman yang perduli dengan dirinya. Yang tentu nyatanya Jec sangat perduli dengan Cucu.
Bahkan Jec menganggap Cucu, bukan hanya teman kerja, dan istri dari bosnya, tetapi Jec sudah menganggap Cucu seperti adik sendiri. Itu sebabnya hingga detik ini Jec lebih mengalah pada Cucu.
"Iya santai saja, lagian aku masih bisa diandalkan untuk semua pekerjaan ini," balas Cucu dengan fokus pada pekerjaannya.
__ADS_1
Sedangkan Jec jadi merasa bersalah, karena memang sejak dia menikah dengan Qila, tidak sekali pun laki-laki itu mengajak Qila menemui Cucu. Laki-laki itu tahu kalau Cucu pasti sangat berat karena hidup sendiri. Pasti kalau Cucu ada temanya akan senang. "Ah, mungkin aku memang harus bawa Qila mengunjungi Cucu, agar mereka saling kenal," batin Jec dengan menyusun ulang apa yang sekiranya akan dia lakukan.
Namun, beberapa menit kemudian Jec pun kembali dilanda kebingungan pasalnya Jec sendiri tidak menemukan waktu senggang. Satu minggu ini Jec harus kerja lembur bagai kuda, demi bisa di minggu pulang kampung ke rumah keluarga Qila dan tentunya pekerjaannya tidak banyak.
*********
Sedangkan di tempat lain. Deon pun sama sedang bekerja keras melebihi seekor kuda, bahkan laki-laki itu hanya berhenti kerja kalau sedang telpon dengan sang istri dan untuk tidur laki-laki itu pun hanya tidur tidak lebih dari lima bulan. Pekerjaan yang numpuk dan berantakan membuat Deon harus bekerja dengan keras.
Hari ini Deon pun merasakan hal yang sama dengan Cucu, rasa rindunya membuat ia uring-uringan. Entah berapa anak buahnya jadi kemarahan laki-laki itu. Terlebih hari ini Cucu juga terlihat marah pada dirinya gara-gara ia yang sampai satu bulan belum bisa menyelesaikan urusannya.
"Kira-kira Cucu masih marah nggak yah? Dia sekarang lagi ngapain?" batin Deon pekerjaannya sedikit melambat karena ia yang terus terpikirkan oleh Cucu.
"Apa aku coba telpon lagi yang? Tapi kalau tidak diangkat bagaimana?" Kembali Deon bermonolog dalam batinnya, pagi ini saja laki-laki itu entah menelepon Cucu berapa kali tetapi hasilnya semua sama. Cucu tidak juga mengangkat teleponnya.
Namun kini justru Deon dikejutkan dengan panggilan telpon dari orang yang sejak tadi membuat dia tidak fokus bekerja.
"Cucu... apa itu tandanya dia sudah tidak marah lagi," gumam Deon dengan wajah berbinar bahagia, karena itu tandanya Cucu ada tanda-tanda tidak marah lagi.
Bersambung...
coming soon Mbak Gatot. Siap-siap Om Dokter dibuat bucin sama Mbak Gatot nih...
__ADS_1