Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 147


__ADS_3

Di tempat lain, Tantri yang baru pulang bersama Bi Sarni pun langsung masuk ke dalam kamarnya. Kembali menangis, dan gadis itu terus di hantui dengan perasaan yang bersalah.


"Non, mandi dulu yah." Bi Sarni pun menyiapkan air untuk mandi Tantri. Gadis kecil itu pun masih teringat jelas dalam pikiranya gimana ia bertengkar dengan kaka iparnya, setiap kata-katanya Tantri masih bisa mengingatnya satu persatu.


"Bi, nanti kalau memang ponakan Tantri atau Kakak Ipar itu ada yang tidak tertolong keselamatanya gimana?" tanya Tantri dengan raut wajah yang sangat sedih.


Bi Sarni berjalan ke arah Tantri dan mengusap punggungnya dengan lembut. "Non, mandi dulu yah, setelah itu kita berdoa dengan Allah, mengaji untuk mengirim doa agar adik kecil dan Kakak Qari bisa melewati masa-masa sulit ini." Bi Sarni yang sudah diberi amanah oleh Alzam pun benar-benar menjaga Tantri dengan baik. Benar saja Tantri pun mau mengikuti apa kata Bi Sarni, ia beranjak ke ke kamar mandi untuk membersihkan badanya dan setelahnya mereka pun mengaji bersama untuk Qari dan Qinara.


*********


Pandangan mata Deon terus menatap Cucu pergi menggendong Qinara mengikuti suster. Laki-laki itu duduk dengan tubuh yang sangat lemas, Doni pun melakukan hal yang sama, tidak kalah Jec pun melakukan hal yang sama.


Sementara Naqi yang tahu kalau ponakanya sudah berpulang pun langsung menuju ruang NICU. Mata Naqi langsung memerah ketika melihat Deon sedang duduk termenung melamun, meratapi kesalahanya, menyesali kebodohannya.


"Kurang ajar kamu. Gara-gara loe, Adik, Qinara, Mamih dan juga Kakek gue semuanya jatuh sakit gara-gara loe, bajin-gan."


Bruggg... Bruuggg... Naqi langsung melayangkan tinjuan berkali-kali ke wajah Deon, hingga laki-laki itu yang belum siap menerima serangan dari Naqi pun jatuh tersungkur. Jec dan Doni yang sebelumnya tidak tahu bakal ada keributan pun langsung kalang kabut, melerai Naqi dan Deon.


"Tuan... Tuan... tolong jangan seperti ini. Kasihan Qinar kalau tahu dihari kematianya justru terjadi keributan." Jec yang memegang Naqi pun langsung menasihati Naqi, sebisa Jec.


Semetara Doni yang menahan Deon agar Naqi tidak menghajarnya lagi, ia memberikan sapu tanganya agar Deon membersihkan darah yang mengalir dari hidung, dan sudut bibirnya.


Doni tahu kalau kakak tirinya mendapatkan kesakitan yang luar biasa, tetapi Doni yang marah, dan kecewa dengan Deon pun hanya bisa menatap dengan perasaan yang pasrah.


"Terima kasih." Deon pun mengambil sapu tangan yang Doni kasih. Doni sendiri bergeming dalam kebisuan.


Naqi pun mengikuti apa kata Jec, dia mulai menahan kemarahanya, dengan mengatur nafasnya pelan-pelan, dan memejamkan matanya untuk menghirup nafas dalam dan menghembuskanya pelan-pelan.


"Dengar ucapanku laki-laki berens*k! Alzam meminta kamu untuk mengantarkan Qinar ke rumah barunya, lakukan sebagai ayahnya, tetapi setelah itu loe pergi dari kehidupan kita. Soal Qari biar kami yang urus, dan Mamih pun kondisinya belum setabil karena masalah ini, Kakek juga terkena serangan jantung, biar kami yang urus kekacauan ini. Tugas loe pergi jauh-jauh dari keluarga gue. Karena kalau loe masih terus mengusik, bisa-bisa gue khilaf dan membunuh loe juga." Naqi berbicara dengan suara yang berat dan parau, pasti mereka tahu bagaimna sesaknya berada di posisi Naqi saat ini.


Deon hanya mengangguk pasrah, Doni pun berdiri di samping Deon hanya bisa menatap Deon dengan iba.


"Aku berharap dari kejadian ini loe bisa petik pelajararanya Deon. Bahkan gue entah berapa kali mengingatkan loe bahwa yang loe lakukan itu tidak manusiawi, tetapi loe lagi-lagi tidak mau mendengarkanya hingga kejadian seperti ini. Berubahlah demi kebaikan bersama. Kamu bayangkan bagaimana hancurnya Qari nanti ketika bangun tetapi dia tidak bisa melihat buah hatinya."


Doni terisak ketika membayangkan hal itu terjadi, laki-laki itu juga membayangkan betapa sulitnya berada di posisi Alzam, yang harus memberi tahukan fakta ini pada Qari.


Deon lagi dan lagi hanya bisa menganggukan kepalanya. Hanya itu yang bisa Deon lakukan, dia harus pergi demi kebaikan semuanya.

__ADS_1


Malam ini juga Deon dan yang lainya melakukan pemakaman, sementara Naqi kembali lagi ke ruangan Qanita dengan kesedihan yang masih melekat kuat di dalam hatinya. Hanya ini yang mereka bisa lakukan. Berserah dalam semua cobaan dari-Nya.


******


Beberapa saat kemudian.


Deon melangkah dengan kaki yang berat, sesak di dadanya, belum tenggorokanya yang sudah sangat sakit menahan tangisnya. Di tangannya ada buah hati yang sudah tidak bernyawa. Satu liang tempat peristirahtan terakhir untuk buah hatinya sudah tersedia tepat di hadapnya. Tidak pernah ia bayangkan kalau dia akan mengantarkan anaknya ke rumah terakhirnya. Terlebih ia tidak sama sekali melihat senyum anaknya untuk terakhir kalinya.


"Qinar, maafkan papah, karena kebodohan papah kamu akan tinggal di tempat ini," lirih  Deon dengan tangisnya yang kembali pecah.


Di tempat itu juga sudah ada ustadz dan juga  petugas yang sengaja disewa untuk mengajikan buah hatinya. Hal itu di lakukan karena Deon sendiri tidak bisa mengaji.


Dengan didampingi Ustadz, Deon melakukan langkah demi langkah pemakaman untuk Qinar. Sebelum benar-benar di tutup dengan tanah Deon kembali mencium  bayinya.


"Sayang ini ciuman dari papah, ini dari Bunda, dan ini dari Ayah Al. Mereka tidak ikut mengantar ke rumah Qinar karena Bunda masih sakit. Doakan Bunda untuk tetap bertahan yah Sayang." Deon pun naik ke atas dan benar-benar menyaksikan buah hatinya mulai ditimbun dengan tanah.


Bruggg... Deon bersimpuh dengan lutut yang seolah tidak ada tulangnya. Rasanya dunia ini hancur, ketika ia melihat dengan kedua matanya sendiri buah hatinya perlahan tertimbun tanah.


"Sayang, jangan tinggalin papah. Qinar, papah mau ikut Qinar." Deon merancau dengan hebat. Jec dan cucu yang ada di belakangnya pun saling tatap. Selanjutnya Jec menyikut Cucu memberi kode agar membantu Deon untuk menasihatinya, karena hanya Cucu yang nasihatnya bisa di dengar oleh Deon.


Doni pun sama merasakan hancur, tetapi bisa menahanya. Berbeda dengan Deon yang terlalu lemah. Cucu pun maju dengan mengusap punggung Deon, wanita itu sama-sama bersimpuh di samping Deon.


Menasihati Deon memang gampang-gampang susah dan itulah yang Cucu rasakan, ia merasakan ada sulit dan gampangnya berbicara dengan bosnya itu.


"Cu, Jec. Aku pulang duluan yah." Suara serak dari Doni pun memecah kesunyian di malam itu, punggung tangan Doni mengucap pipinya, untuk menghapus air mata yang jatuh.


"Qinar, om pulang dulu yah. Bahagia di dalam sana bersama dengan Allah, dan doakan Bunda terus yah, agar Bunda bisa melewati ini semua. Qinar pati bisa bantu Bunda agar cepat sadar. Kasihan Ayah pasti sedih banget." Doni mengusap nisan bertuliskan.


Qinara bin Najma Qarina Orlin (18 Januari 2023)


Dengan perasaan berat Doni pun meninggalkan Deon, Jec dan Cucu yang masih berada di atas pusaran tanah Merah yang masih basah.


"Tuan, kita juga pulang yah?" lirih Cucu dengan suara lembut. Tangan mengusap pundak Deon, cara memperlakukan seperti ini yang Deon butuhkan.


'Kamu memang wanita lembut Cu, aku tidak salah memilih kamu sebagai orang yang tepat untuk mengarahkan Deon yang sudah jauh terjerumus dalam lembah dendam yang tidk berunjung," batin Jec, pandangan matanya terus menatap perlakuan Cucu pada Deon.


Deon menatap Cucu yang ada di sampingnya. "Apa anak aku di dalam sana bahagia?"

__ADS_1


Cucu pun membalas tatapan Deon yang dalam, sedetik kemudian mengangguk dengan kuat. "Iya, Qinar sudah bahagia, Qinar langsung naik ke surga, dan semua yang Qinar butuhkan ada di dalam surga. Itu adalah harta kalian nanti di saat Anda dan kedua orang tua Qinar sudah tidak ada." Cucu kembali menguatkan Deon.


"Tuan, apa yang Cucu katakan itu benar. Sekarang kita pulang, kalau kita tetap bersikeras terus menangisi Qinar malah kasihan anak itu akan tersakiti." Kini Jec pun ikut menasihati Deon yang cukup keras kepala memang.


Deon pun menganggukkan kepala, pada akhirnya lagi-lagi Cucu bisa menasihatinya. "Sayang, Bidadarinya papah. Papah  pulang dulu yah, semoga kamu bahagia di dalam sana, dan doakan Bunda agar cepat sadar yah." Terakhir Deon mencium nisan buah hatinya.


Dengan di bantu oleh Jec dan Cucu kini Deon perlahan mengayunkan kakinya  pergi dari makam Qinara, rumah si kecil.


Setelah melewati jalanan yang sepi dan juga cukup jauh, kini Deon sudah kembali ke rumahnya. Cucu dengan tubuh lelah dan juga lemas langsung masuk ke dalam kamar Deon dan menyiapkan air untuk membersihkan tubuh bosnya yang sangat kotor.


"Tuan, air hangatnya sudah saya siapkan, Anda mandi yah," ucap Cucu dengan mondar-mandir menyiapkan semua keperluan bosnya. Jec dan Deon masih duduk dengan pikiranya masing-masing.


"Tidak Cu, aku tidak mau mandi. Apa Qinar di sana juga mandi? Sama seperti aku? Kinar di sana pasti tidak ada yang menjaganya," racau Deon , sontak saja Cucu langsung tersentak kaget, berkali-kali ia mengusap dadanya. Sesak rasanya ketika kita bekerja dengan orang-orang yang keras kepala.


"Tuan tolong lah, dengarkan apa kata saya, apa Anda pikir saya tidak cape kerja seperti ini. Bahkan Anda bisa lihat ini sudah pukul satu dini hari. Pekerja mana yang masih terus bekerja dari pagi hingga menjelang pagi seperti ini? Bahkan saya belum mandi sore dan belum makan apa-apa dari siang, tapi Anda selalu menambah beban tugas saya. Gila, lama-lama saya kerja dengan Anda yang kekanakkan." Cucu berbicara sedikit meninggi. Rasanya kesabaranya benar-benar terkuras dengan sikap Deon itu.


Jec sendiri langsung menatap jam di dinding benar saja di sana jarum pendek penujuk angka satu dan jarum panjang menujuk angka tiga.


"Ya Tuhan kenapa sudah selarut ini," batin Jec, sama halnya dengan Cucu, Jec dan Deon pun tidak juga makan malam, baru terasa perih perutnya ketika Cucu berkata seoperti itu.


"Kamu bersih-bersih dulu saja Cu, dan bangunkan Bibi untuk siapkan makan untuk kita jangan sampai kita malah sakit karena peristiwa ini. Soal Tuan Deon biar saya yang mengurusnya.


Cucu pun turun ke bawah dan mandi di kamar yang Jec katakan. "Mandi sih mandi, tapi baju aku pake apa, masa iya pakai baju ini lagi kan kotor, " gumam  Cucu sembari kakinya di hentakan. Dan Cucu pun masuk ke kamar itu yang ternyata itu adalah kamah Dena. Kakaknya Deon dan tentu saja di sana masih banyak pakaian Dena yang bagus dan pastinya seukuran dengan Cucu.


"Tuan, benar yang di katakan Cucu, mulai sekarang Anda jangan keras kepala, belajar dari kejadian hari ini karena sikap keras kepala Anda, semuanya menanggung akibatnya. Coba Anda berpikir nasib Qari kritis. Tuan Latif pun terkena serangan jantung, gimana kalau beliau juga akan menyerah dengan semua ini. Terus Nyoya Qanita juga jatuh pingsan karena terlalu sedih melihat nasib anak dan cucunya. Rubah sifat Anda Tuan, sebelum semuanya semakin parah," lirih Jec dengan berdiri di samping Deon.


"Aku harus bagaimana setelah ini Jec, semuanya menyalahkan aku?" tanya Deon, dengan tatapan mengiba.


Jec menghela nafas panjang. "Jadilah pribadi yang lebih baik lagi Tuan. Semua orang pernah melakukan kesalahan, tetapi mereka mau berproses, menjadi lebih baik lagi. Anda juga pasti bisa melakukanya."


Deon pun akhirnya mau mengikuti apa kata Jec yaitu untuk mandi. Jec pun bersyukur setidaknya Deon saat ini tidak terlalu keras kepala seperti biasanya apabila Deon berkata A maka Jec harus berkata A juga tidak ada yang bisa mereka katakan selain mengikuti apa maunya Deon.


"Terima kasih Tuhan telah mengirimkan Cucu untuk membantu saya menasihati Bos."


Sedangkan Cucu di dalam kamar Dena sedang bingung ada banyak pakaian wanita, mau pinjam tetapi ia juga takut kalau nanti akan di marahi oleh Deon dan Jec, apalagi nanti yang punya pakaian tahu dia akan di cincang lagi.


#Pakai saja Cu itung-itung rasain pakai baju mahal...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2