Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 95


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul empat itu tandanya kalau jam sudah menunjukan pulang kerja. Seperti biasa Alzam akan datang ke ruangan sang istri untuk mengajaknya pulang.


"Kemarin aku datang dia sedang tidur, apa hari ini juga akan sama, dia akan tidur karena kekenyangan?" gumam Alzam. Hari ini ada janji dengan Tantri untuk melihat rumah yang akan ditempatinya nanti.


Pintu di buka dengan perlahan, "Oh tidak, tumben kamu rajin banget, Sayang," kekeh Alzam, yang melihat Qari masih kerja dengan santai.


Qari mengangat wajahnya yang sudah lelah itu. "Ini bukan rajin, tetapi terpaksa. Sumpah deh kakak ipar kamu itu sangat menyebalkan sekali," geram Qari yang sangat kesal dengan Naqi, padahal tugas awalnya sudah selesai, tetapi di tambah dengan tugas yang baru.


Alzam mendekat. "Udah kamu istirahat ajah, biar aku yang kerjakan, dan kita habis ini ada janji dengan Tantri, untuk lihat-lihat rumah yang akan kita tempati kalau pulang lama bisa marah dia. Kamu tahu kan adik ipar kamu itu sekarang sangat mengerikan," bujuk Alzam, dan Qari yang memang sudah cape pun langsung menyingkir, mengikuti apa yang suaminya katakan. Ia bangikit dari duduknya dan melentingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.


"Cape yah?" tanya Alzam dengan tangan mengusap punggung sang istri. "Nanti di pijit yah," imbuh Alzam dengan lembut.


"Sedikit, tapi nggak apa-apa aku suka kok..Tidak usah ini hanya lelah duduk nanti juga baikan," balas Qari, tidak mau membuat Alzam merasa bersalah. Kerja adalah keinginanya. Bukan paksaan dari Alzam. Qari yang ingin agar bisa bersama-sama terus dengan sang suami, itu sebabnya ia memaksa agar terus diizinkan untuk bekerja.


Qari berjalan ke sova, dan merebahkan tubuhnya ke tempat yang cukup empuk untuk meluruskan punggungnya.


"Aduh, enak banget," beo Qari ketika punggungnya yang terasa panas dia rebahkan.


Alzam hanya tersenyum samar dengan tangan dan mata yang masih fokus menggantikan tugas-tugas istrinya. Benar saja ketika Alzam yang mengerjakan tidak sampai setengah jam pekerjaanya. Setelah merapihkan meja meja sang istri, ia pun berjalan kearah Qari.


"Sayang, ayok kita siap-siap," ucap Alzam, mengagetkan Qari yang sedang asik membaca novel online karya othor Ocy. Ah, Qari kamu memang readers yang baik, dalam kesibukan yang padet, kamu juga masih menyempatkan baca novel-novel Othor.

__ADS_1


"Hah, kamu serius Sayang, cepet banget?" cicit Qari, ah mungkin kalau dia yang mengerjakan satu jam adalah waktu yang sangat cepat.


"Udah dong, emang harusnya berapa lama?" kekeh Alzam yang melihat istrinya malah bengong dan terkejut dengan Qari yang mematung dengan keterkejutanya.


"Aku pikir satu jam baru selesai," balas Qari, tetapi wanita itu langsung buru-buru karena takut Tantri yang kelamaan menunggu. Mereka pun langsung pulang kerumah dan melanjutkan untuk mengunjungi rumah yang akan mereka tempati.


"Kakak kok lama sekali pulangnya?" protes Tantri yang sudah rapih menungu kakaknya pulang kerja dan langsung mengunjungi rumah baru untuk mereka.


"Iya Sayang, tadi ada kerjaan tambahan yang diberikan oleh bos Naqi, jadi mau tidak mau harus diselesaikan dulu," balas Qari masih kesal dengan abangnya itu. Terlebih setelah Qari mengerjakan laporanya hingga selesai sang bos malah sudah pulang sangat mengesalkan kan. Karena kejadian itu sepanjang jalan, telinga Alzam harus tahan dengan ocehan sang istri yang mengutuk tanpa henti sang abang kandungnya itu.


{Awas ajah besok pasti aku tegor dia. Enak ajah pulang sembarangan tanpa izin, membiarkan aku lembur setengah jam demi mengerjakan laporan dia, sedangkan dia enak-enak pulang. Bukan hanya aku tegor tapi juga potong gajih.}Itu adalah ancaman Qari untuk abangnya yang pulang lebih dulu.


Mereka pun langsung berangkat menuju rumah pemberian tuan Latif. Yang letaknya masih satu komplek dengan rumah sang kakek, hanya di pisahkan dengan blok, tetapi tidak terlalu jauh dengan kediaman mewah milik kakeknya. Sehingga kalau Tantri tidak ada teman masih bisa datang kerumah mamih Qanita untuk bermain.


"Iya, kamu suka tidak?" tanya Qari, ingin tahu perasaan adik iparnya yang nampak kaget dengan rumah barunya itu. Tantri mengangguk dengan kuat.


"Tantri senang, apalagi ada kolam renangnya, pasti Tantri akan betah di rumah ini, dan akan berenang setiap hari," oceh bocah itu. Renang adalah kesukaanya sehingga ketika melihat air di bak ajah bawaanya pengin loncat.


"Kalau gitu, sekarang kita lihat-lihat ruanganya yuk, dan kamu pilih kamar yang akan kamu jadikan kamar kamu." Qari menggandeng tangan adik iparnya dan Alzam mengekor di belakang tidak banyak berkata-kata melihat istri dan adiknya akur seperti itu saja Alzam sudah sangat senang.


"Setelah melihat-lihat kamar, Tantri memilih satu kamar yang letaknya di pojok dan berhadapan langsung dengan pintu gerbang. Di sana ada balkon yang cukup nyaman untuk melihat pemandangan keluar rumah.

__ADS_1


"Kenapa kamu memilih kamar itu?" tanya Qari. terlebih kamar itu tidak terlalu luas, tetapi nyaman dan terlihatĀ lebih mungil dan tempatnya strategis.


"Entah, tapi Tantri suka dengan posisinya yang langsung menghadap ke gerbang, mungkin nanti biar bisa mengawasi siapa tahu akan ada cowok yang tampan lewat," balas bocak kecil itu dengan polos, dan hal itu berhasil membut Qari langsung melebarkan matanya.


"Tantri??" pekik Qari dengan kedua bola mata yang hampir loncat.


"Hehehe tidak Kak, Tantri cuma bercanda kok, lagian mana berani lirik-lirik cowok tampan, umur Tantri ajah baru jalan dua belas tahun. Sekolah dasar saja belum selesai," balas Tantri dengan terkekeh, dan tampang yang mengsalkan, bangga telah membuat kakak iparnya hampir jantungan, dengan kegenitan adiknya itu.


Alzam dan Qari saling melempar pandangan dan menggeleng pelan dengan Tantri yang terkekeh dengan kelakuanya sendiri. Kebanyakan bermain sama Qari, Tantri jadi sedikit terturar kejahilanya. Bukan lagi Tantri yang pendiam dan keras kepala. Saat ini lebih senang dengan kejahilanya.


"Tapi nggak apa-apa Tantri, kamu adalah generasi penerus Kakak, dulu Kakak juga gitu, genit, tapi nggak ada yang mau, malah mereka pada takut," jelas Qari, dan Alzam jadi teringat kenangan sekolah dulu yang selalu di ganggu oleh Qari.


"Ah, Kakak sama Abang dulu satu sekolah yah. Gimana kisah kalian sekolah dan kenapa Kakak panggil Abang cupu?" cecar Tantri yang tertarik dengan kisah kakak ipar dan abangnya itu.


Qari terkekeh dengan pertanyaan Tantri yang mengingatkan dirinya dulu, mungkin orang sekarang bilang kalau Qari itu badung, tapi dia adalah pelajar yang baik, dia hanya iseng saja, sebenarnya nakal nya dikit, lebih banyak petakilan.


"Udah yuk Sayang, kita juga harus melihat kamar pribadi kita." Alzam buru-buru menarik Qari, sebelum adik dan istrinya teribat gibah yang tidak bermanfaat.


"Abang, Kakak mau cerita dulu," balas Tantri, berusaha menahan kakak iparnya.


"Tidak-tidak kita harus melihat kamar kita juga," tolak Alzam, tanganya menahan Qari agar tidak menghadap Tantri yang Alzam tahu kalau adiknya itu semakin penasaran.

__ADS_1


"Kakak berjanjilan nanti cerita pada Tantri masa sekolah kalian," pekik Tantri dan tangan Qari membalas dengan simbol "Ok".


"Aku jadi penasaran dengan kisa cerita Kakak ipar saat sekolah pasti sangat menarik."


__ADS_2