
"Cu tunggu," ucap Deon ketika Cucu akan kembali ke lantai bawah. Cucu yang melihat kalau Deon selama ini baik pun tidak ada curiga sedikitpun wanita itu pun menunggu Deon. yang bangun dari pembaringanya dan membuka salah satu laci di lemarinya.
Sebenarnya Cucu sudah sedikit curiga ketika Deon mengambil uang yang Cucu tahu itu nominalnya tidak sedikit, tetapi Cucu lagi-lagi mencoba menepis pikiran buruknya.
"Ambil uang ini dan layani aku! Aku sedang ingin bercinta." Deon menatap Cucu dengan tajam.
Plakkk... Cucu justru menghadiahkan satu tamparan tepat di pipi kanan Deon. Panas itu yang Deon rasakan.
"Anda pikir saya cewek murahan, yang dengan lembaran uang mau melayani Anda." Cucu menatap Deon dengan jijik.
"Ini uang bukan sedikit Cu, lima puluh juta dan itu tandanya bisa kamu gunakan untuk melunasi hutang-hutang kamu," ucap Deon dengan meninggi juga.
Hahaha Cucu justru tertawa dengan keras di balik kemarahanya. "Pantas saja anak Anda diambil oleh Tuhan, karena dia malu punya papah berengs*k seperti Anda. Ternyata kesedihan yang Anda tunjukan kemarin adalah kebohongan semata, itu hanya ekting. Aku yakin Qinar malu punya papah yang kelakuanya hina seperti ini." Cucu pun tidak merasa takut sedikitpun meskipun lawan bicaranya adalah bosnya.
"Jaga mulut kamu Cu, aku benar-benar kehilangan Qinar." Deon pun terpancing dengan ucapan Cucu yang justru membawa meninggalnya buah hatinya untuk mengurusi kelakuan buruknya.
"Apa seperti ini kelakuan Anda sesungguhnya, dan Ibu dari Qinar adalah wanita yang Anda beli juga?" tanya Cucu dengan pandangan yang sinis pada Deon.
Pranggg... nampan yang Cucu pegang pun terjatuh. Karena Deon yang menampiknya, dan tangan laki-laki itu kini mencengkram dagu Cucu dengan kuat, tetapi Cucu sebisa mungkin tetap tenang, meskipun ia merasa sakit karena cengraman tangan Deon yang terlalu kuat.
__ADS_1
"Jaga mulut kamu yah, Qari adalah wanita baik-baik, dia wanita terbaik yang pernah aku kenal. Dan dia tidak seperti kamu, aku yakin kamu hanya sedang mencoba menawarkan tubuhkamu dengan harga yang lebih mahal." Deon berucap tepat di wajah Cucu.
Palaakkkk... tamparan pun kembari melayang di pipi kiri Deon. Hingga Deon kini mendorong Cucu hampir saja wanita itu jatuh terjerembak ke belakang, untung ia bisa mengimbangi tubuhnya sehingga bisa tetap berdiri kembali.
"Ok, Qari adalah wanita baik-baik dan terbaik dari para pe-la-cur yang pernah Anda tiduri, tapi kenapa tidak Anda nikahi saja. Malah laki-laki baik itu yang mau menikahi Qari, dan menutup abinya. Aku yakin Qari tidak langsung menujuk laki-laki baik itu untuk menikahi dirinya, tetapi pasti lebih dulu mencari Anda. Lalu kenapa bukan Anda yang menikahinya? Ah, aku tahu karena Anda bukan laki-laki baik-baik." Cucu pun terus merancau.
Rasanya unek-uneknya selama ini yang mengganjal bisa dia luapkan saat ini juga sehingga wanita itu tidak mau menyia-nyiakanya.
"Dan... soal aku yang Anda katakan sedang berusaha menawarkan tubuh ini dengan harga yang lebih mahal seperti ucapkan Anda. Itu memang benar. Saya sedang mencoba menawarkan pelayanan yang lebih dan juga pahala bukan semata dunia yang memabukan, tetapi surga yang saya tawarka, apa Anda mau Tuan. Jaminanya Anda bisa nikmati tubuh ini setiap saat dan kebutuhan Anda tercukupi. Bukankan Anda butuh s*k," ucap Cucu, langsung menyela ketika wanita itu melihat kalau Deon hampir saja melayangkan protesnya.
"Syaratnya mudah, Anda mendapatkan pelayanan yang saya bisa jamin memuaskan." Lagi, Cucu kali ini bersikap seperti seorang pe-la-cur yang sedang mencoba menawarkan tubuhnya. Yah, Cucu yakin seratus persen kalau Deon pun tidak akan mau mengikuti syaratnya, karena mudah bagi Cucu, pasti sulit untuk Deon, sehingga Cucu berani seperti itu, karena Deon hanya butuh s*k bukan pahala seperti yang dia katakan. Apalagi surga, mana tau laki-laki itu soal surga dan neraka.
"Nikahi aku. Tidak usah dengan mahar uang puluhan juta, takut Anda rugi. Cukup dengan niat yang tulus dan tanggung jawab yang penuh serta sepansang cicin pernikahan, tidak usah yang bermata berlian, karena takut nanti saya jual karena harganya yang mahal," balas Cucu dengan santai.
"Hahaha... tidak mau! Karena aku hanya butuh teman tidur bukan keluarga." Deon pun tetap keras kepala dengan pendirianya.
"Baik, silahkan cari teman tidur yang lain, karena tawaran saya pun hanya berlangsung sekali. Dan mulai saat ini, saya berhenti bekerja, dan soal hutang lima ratus juta saya akan cicil." Cucu pun tanpa menunggu jawaban dari Deon langsung pergi meninggalkan laki-laki itu, di mana Deon justru tidak menyangka kalau Cucu akan mengundurkan diri.
"Cucu, kalau kamu sampai berhenti kerja, maka hutang-hutang kamu aku naikan jadi dua ratus juta." Deon melihat Cucu yang akan membuka pintu kamarnya pun menghentikanya. Deon cukup tersenyum dengan santai.
__ADS_1
"Baiklah, tunggu aku pasti datang ke rumah ini dengan membawa uang itu," jawab Cucu tanpa memalingkan pandanganya, dan wanita itu pun langsung menarik gagang pintu kamar Deon dan melesat untuk pergi dari kamar bosnya.
"Sialan wanita itu benar-benar keras kepala," ucap Deon sembari melempar uang-uangnya.
Sedangkan Cucu bisa bernafas lega karena pada akhirnya bisa meninggalkan laki-laki itu dengan segala keburukanya, Cucu sendiri sebenarnya takut kalau Deon akan melakukan di luar nalarnya. Mungkin memper-kosanya yang jelas-jelas pasti tenaga Cucu akan kalah dengan laki-laki itu.
Mata Cucu melihat makanan di atas meja makan, yang masih banyak. semenit kemudian dia melihat ke arah kamar Deon yang tidak ada tanda-tanda Deon mengejarnya.
"Bi, makanan ini tolong bungkus yah," ucap Cucu, ah persetan dengan Deon, ia akan bawa makanan yang lezat itu untuk nenek dan kakeknya.
Asisten rumah tangga pun tidak banyak bertanya langsung melaksanakan perintah Cucu, membungkus semua makanan yang ada di meja makan, dan satu pelastik besar makanan enak Cucu bawa.
"Ah setidaknya aku nggak rugi banget." ucap Cucu dengan pandangan mata menatap makanan yang sudah ada di dalam genggaman tanganya. Kini Cucu pun akan pulang ke rumah neneknya.
"Tapi uang gajih aku? Lumayan berapa hari kan bisa buat beli pulsa dan token listrik," gerutu Cucu sepanjang jalan.
"Ah, aku akan coba minta sama Jec siapa tau dia lebih baik dari pada laki-laki gila itu."
#Hahaha Cucu-Cucu nggak sekali isi kulkas bawa Cu?
__ADS_1