Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode157


__ADS_3

Deon tahu betul bahwa Tantri dan bi Sarni tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Deon, sehingga Deon butuh membuktikan bahwa semua yang dikatakan oleh Deon adalah benar.


"Apa kamu ingin aku antar ke makam anakku?" tanya Deon, ia pun siap kalau akan dimaki dan dihajar oleh gadis kecil yang saat ini berdiri dihadapannya. Justru Deon merasakan senang ketika ada yang marah pada dirinya, karena memang laki-laki itu sudah sadar bahwa ia sangat keterlaluan.


Tubuh Tantri kembali lemas, hingga bi Sarni harus menahannya karena akan jatuh pingsan kembali. Mendengar apa yang dikatakan Deon. Bukan Tantri saja yang terkejut dengan ucapan Deon, bi Sarni saja ikut merasakan hal yang sama kaget, dan masih berharap bahwa ini semua mimpi. Rasanya terlalu tidak mungkin apabila anak dari majikanya meninggal tetapi Alzam atau siapa pun tidak mengatakan apa-apa atas semua yang terjadi.


"Tunggu Tuan, Anda bilang kalau anak dari majikan kami sudah meninggal, tetapi kenapa mereka tidak mengabarkan apapun dengan apa yang terjadi dengan buah hati Nona Qari?" Bi Sarni yang juga tidak percaya langsung mencecar pertanyaan untuk Deon.


"Alzam masih sibuk dengan kondisi Qari yang belum setabil, dan kondisi Nyonya Qanita dan Tuan Latif juga drop sehingga kereka meminta aku yang memakamkan Qinara, dan mungkin mereka lupa memberitahukan bagaimana kondisi yang terjadi sebenarnya dengan putrinya." Deon kali ini hanya ingin jujur sehingga sebisa mungkin Deon tidak berbohong dengan semuanya, Deon tidak mau ada kebohongan lagi, sehingga ia berjanji mulai saat ini demi putrinya Qinara ia harus berkata jujur.


"Kalau gitu antarkan aku ke makam ponakan bayi," isak Tantri dia tidak sama sekali menyangka kalau ponakanya yang selama ini menjadi teman untuk mengobrol dengan dirinya justru meninggal dan yang bikin meninggal adalah dirinya.


Deon pun mengangguk ada perasaan lega setidaknya dia tidak harus berbohong dengan apa yang terjadi di antara dirinya dan buah hatinya, biarkan Tantri tahu dan mencoba bercerita apa yang terjadi, dan Tantri akan berusaha ikhlas dan menerima takdir ini, sama seperti dirinya yang belajar untuk ikhlas.


"Tunggu Neng, bibi ambil jaket dulu ini semua masih terlalu pagi, udara masih sangat dingin apalagi masih ada gerimis rintik-rintik.Tubuh Qari pun dengan lemas dan langkah kakinya terasa berat, berat sekali, tidak menyangka sama sekali kalau apap yang terjadi dengan ponakan bayinya. Sekarang Tantri pun tengah meratapi penyesalanya.


Suasana hening di dalam mobil, baik Bi Sarni maupun Tantri dan Deon tidak saling mengatakan sesuatu, itu semua karena mereka sibuk dengan pikiranya masing-masing.


Banyak pertanyaan sebenarnya untuk laki-laki yang saat ini ada di balik kemudi, tetapi Qari juga tahu bahwa semuanya tidak mungkin ia ungkapkan saat ini, di mana saat ini ia lebih di kuasai oleh api kemarahan pada Deon, Tantri masih menyalahkan laki-laki itu atas apa yang terjadi pada kakak ipar dan juga ponakan bayinya.


Bi Sarni pun yang melihat kalau Tantri sejak tadi melamun dengan air mata jatuh membanjiri pipi hanya bisa menguatkan Tantri dengan cara mengusap punggung tangan gadis kecil itu dan mencoba mengusap-usapnya.


"Neng yang kuat yah, mungkin ini memang yang terbaik untuk ponakan bayi, mungkin Allah lebih saya pada ponakan bayi," ujar Bi Sarni agar Tantri bisa melepasakan kepergian ponakan bayinya.


Tantri sendiri hanya membalas dengan anggukan kepala tetapi ia tidak sama sekali tahu arti dari keiklasan. Tantri masih berharap bahwa apa yang terjadi pada dirinya hayalah mimpi.

__ADS_1


"Apa yang Anda rasakan Tuan, setelah bayi dari kakak iparku meninggal? Apa Anda puas, senang dan bahagia karena apa yang Anda inginkan tercapai?" tanya Tantri dengan tatapan yang ganas.


Deon menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Sama sekali tidak seperti itu. Aku justru sangat menyesali. Andai Tuhan memberikan satu kali kesempatan untuk memperbaiki ini semua aku tidak akan membiarkan ini semua terjadi. Aku akan belajar untuk Ikhlas dengan apa yang terjadi pada Alzam dan Qari. Aku terlalu iri dan marah pada Alzam karena sudah membuat Qari bahagia. Sedangkan yang seharusnya bahagia bersama Qari adalah diriku. Karena keegoisan aku kini anak aku jadi korbanya. Orang tua mana yang mau mengorbankan anaknya?"


Suara bergetar dan berat menandakan bahwa memang Deon itu sangat menyesali apa yang terjadi dengan dirinya, tidak sama sekali Deon merasakan bahagia atas kepergian Qinar, tidak. Dia juga sedih, tetapi apa yang di katakan Cucu juga dia masih ingat dengan jelas.


"Tuan, ikhlaskan Baby Qinar, ini yang tebaik untuk Qinar. Mungkin Allah lebih sayang Qinar, dari pada Qinar di dunia ini malah nantinya hanya akan merasakan sakit. Bisa saja Qinar kalau hidup nantinya jadi bahan rebutan oleh kalian, Allah sudah bisa memperkiakan apa yang kiranya terjadi sehingga ini adalah jawaban atas semua perbuatan kalian. Ikhlaskan karena Qinar pasti di dalam sana juga bahagia." Deon terus mengingat apa kata Cucu itu. "Qinar bahagia di surga-Nya."


"Udah Neng, jangan disesali lagi kasihan ponakan bayi, Neng juga harus belajar ikhlas sama seperti Tuan Deon dia menyesali perbuatanya dan itu tandanya Allah sudah membuka pintu hidayah pada Tuan Deon dengan kepergian Qinar." Bi Sarni, tahu betul, sifat Tantri yang sedikit keras dan juga umur dia yang masih kecil, sehingga sifatnya gampang berubah-ubah belum mengerti apa yang seharusnya dia lakukan ataupun tidak.


Meskipun Tantri kadang sangat bersikap dewasa, tetapi naluri anak kecilnya masih tetap ada sehingga kini bi Sarni harus benar-benar memperhatikan Tantri agar tidak berkecil hati, dan salah dalam mengambil keputusan.


Tantri kembali diam mengikuti apa yang Bi Sarni katakan, mau marah juga tidak akan ada gunanya saat ini Qinar sudah tenang bersama Tuhan dan bidadari-bidadari surga yang jadi pengasuhnya. Tantri yang sudah merasakan kehilangan kedua orang tuanya dan juga satu perempuan kakaknya sedikit banyak tahu apa yang terjadi pada mereka, Alzam yang selalu mengatakan pada dirinya bahwa orang-orang yang seharusnya bersama degan dirinya sudah bahagia di surga-Nya.


"Ini makam Qinar." Deon berdiri di samping makam yang masih baru bahkan harum dari bunga tujuh rupa masih tercium dengan jelas. Air mata yang sudah terkuras dari kemarin pun masih terus berproduksi, tangisan pun kembali pecah, dan gadis kecil berusia dua belas tahun bersimpuh memeluk pusaran Qinar. Tantri memeluk nisan yang bertulisan nama Qinar bin Najma Qarina Orlin.


Bukan hanya Tantri yang sedih dengan kenyataan ini, tetapi bi Sarni pun sama ia merasakan kesedihan yang luar biasa. Bahkan bi Sarni sebagai wanita yang memiliki buah hati bisa merasakan bagaiamana sedihnya Qari, bagaimana perasaan kehilangan sang majikan atas meninggalnya buah hatinya.


"Di samping pusaran bi Sarni pun melafalkan doa-doa yang ia bisa untuk kebaikan Qinar dialam kubur sana. Sementara Tantri masih memeluk nisa yang bertuliskan Qinara bin Qa


Matanya sudah sangat bengkak, Deon di belakang Qari kembali terisak, kemali hatinya menolak atas kepergian buah hatinya.


"Jadi ini semua bukan mimpi? Padahal Tantri berharap kalau apa yang terjadi pada ponakan bayi adalah sebuah mimpi. Bibi katakan Tantri harus apa? Apakah Tantri akan di pejara? Bagaimana kalau kakak Qari tidak mau memaafkan Tantri? Bagaimana Bi?" Tantri kembali pecah dalam tangisanya. Membayangkan kemarahan Qari, dan juga bukan hanya itu Tantri membayangkan kemarahan sang abang dan keluarga kakak iparnya.


Gadis kecil itu terus bersimpu di atas tanah merah yang kotor, pakaian yang ia kenakan sudah sangat kotor, ia tidak berani untuk pulang dan Tantri juga tidak berani untuk meminta maaf atas apa yang terjadi dengan kakak iparnya.

__ADS_1


Cukup lama Tantri tetap bergeming di samping makam sang ponakan.


"Qinar kenapa kamu pergi, kenapa kamu tidak tetap bertahan. Bagaimana kalau Kakak Qari marah pada tante, dan Abang Al marah juga lalu semuanya marah, siapa yang akan jadi teman tante, kenapa kamu meski pergi Qinar."


"Neng, pulang yuk kita di makam sudah sangat lama." Bi Sarni kembali membujuk Tantri, bahkan pagi sudah menjelang matahari pun sudah mulai menampakan wajahnya meskipun masih malu-malu. Dari pagi yang masih gelap hingga terang tiga orang itu masih belum beranjak dari pusaran yang baru itu.


"Tantri takut Bi, Tantri takut kalau Abang dan Kakak Qari akan marah pada Tantri." Pandangan mata Qari masih menatap pada nisan Qirana. Berat sekali meninggalkan ponakan bayinya sendirian. Sedangkan Deon sendiri yang tidak tidur semalaman justru merasakan badannya kurang enak, dan mulai kepalanya berdenyut.


"Neng, harus yakin kalau apa yang terjadi pada kita semua adalah jalan takdir, kita harus pulang dan jelaskan pada Kakak Qari dan meminta maaf yah. Bibi yakin Non Qari tidak mungkin marah. Non Qari dan Den Alzam adalah orang baik, jadi jangan takut semuanya akan baik-baik saja."


Setelah cukup lama Bi Sarni membujuk Tantri agar pulang dan juga Bi Sarni yang berharap kalau Tantri kembali ceria dan tidak murung seperti sekarang ini.


"Kalau gitu kita pulang Bi," ucap Tantri dengan beranjak bangun dan berjalan tertatih. Sementara Deon yang sudah tidak kuat pun jatuh pingsan dia atas pusaran buah hatinya.


"Tuan... Tuan... Anda kenapa." Bi Sarni berlari menghampiri Deon, sedangkan Tantri mematung tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


Pandangan mata Bi Sarni memindai ke sekeliling makam yang mungkin saja akan ada salah seorang yang bisa membantu mengangkat tubuh Deon yang tinggi dan besar. Namun ternyata tidak ada siapapun yang ada di sekitar.


"Neng, tidak ada siapa-siapa kita harus gimana?" tanya Bi Sarni dengan wajah pucat dan bingung.


"Biarkan saja Bi, orang itu hidup pun hanya membuat masalah," balas Tantri dengan nada yang jutek dan tidak perduli.


Deg!!! Bi Sarni langsung tersentak kaget dengan ucapan Tantri.


"Neng, kenapa Neng Tantri jadi seperti ini?"

__ADS_1


__ADS_2