
Brakkkk.... Pintu ruangan Alzam, di buka dengan paksa oleh Qari.
"Astaga, Sayang kamu kenapa?" tanya Alzam, sebelah tanganya memegangi dadanya, seolah jantungnya yang hampir lompat.
"Habis ketemu setan," dengus Qari, sembari meletakan bokongnya di sofa. Alzam pun mengernyitkan dahinya, heran di mana ada setan.
"Setan? Ini siang hari Sayang, di mana ada setan yang keluar di siang hari?" kekeh Alzam, semakin membuat Qari BT, apalagi kalau ia mengingat wajah Deon yang tampan itu, rasanya ia ingin mengirimnya ke Antartika.
"Justru Sayang, setan yang keluarnya siang hari lebih seram, dan lebih menyebalkan. Sumpah gara-gara setan yang tadi aku lihat, rasanya pengin hiatus dari muka bumi ini," sungut Qari.
'Entah mimpi apa aku semalam, kenapa bisa ketemu dengan Deon yang wajahnya mirip setan,' batin Qari. Bahkan dia tidak mendengar apa ancaman Deon yang terakhir untuk dirinya, saking ia marah dan kesal.
"Ya udah, mungkin setanya lagi apes ketemu sama kamu," kekeh Alzam, dia malah suka melihat sang istri yang bersungut itu. Jarang-jarang Alzam melihat kalau Qari semarah ini. Yah, tentu Alzam tahu kalau Qari memang benar-benar sedang marah, dan itu penyebabnya, karena setan tadi. Entah setan apa yang berhasil membuat Qari sekesal ini, tetapi Alzam sepertinya akan berterima kasih untuk setan itu karena dia, kini Alzam bisa melihat wajah Qari yang menggemaskan itu.
"Justru Sayang, bukan setan itu yang apes, tapi aku yang apes karena ketemu setan itu," beo Qari, sembari membuang wajahnya jengah.
"Tunggu, aku kok jadi penasaran dengan setan yang kamu maksud. Apa itu adalah setan yang tampan atau cantik?" tanya Alzam, ia yang awalnya tidak tertarik untuk membahas setan malah rela menunda pekerjaanya demi setan itu.
"Kata orang ganteng, tapi kata aku jelek! Sangat jelek, malah masih ganteng kamu ke mana-mana, kamu adalah laki-laki terganteng nomor satu," ringis Qari.
Alzam pun tidak melanjutkan lagi. Ia sangat tahu kalau Qari memang selalu ada ide untuk menggobalinya, dan dia kira kalau apa yang Qari bahas adalah satu cara gombalan terbarunya.
Alzam justru kembali fokus dengan tumpukan-tumpukan mapnya. Ia sudah sangat hafal dengan kelakuan istrinya. Gombalan adalah vitaminnya.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kamu cuek dan bikin aku tambah BT ajah," protes Qari, ia masih ingin membahas setan tampan itu.
"Ini gombalan terbaru kamu kan?" kekeh Alzam, sembari mengancungkan dua jempolnya, menandakan kalau ia sangat suka dengan gombalan Qari.
Qari sendiri jelas bingung dengan apa yang Alzam katakan, gombalan? "Kapan aku gombalin kamu. Aku serius bahas setan, bukan gombalin kamu," ucap Qari, dalam otaknya berpikir ulang kapan ia bergombal dengan Alzam, sedangkan dia sejak tadi membahas Deon yang dia sebut dengan setan.
"Tadi kamu bilang kalau aku paling ganteng di dunia, itu gombalan kan? Tiap hari kamu selalu mengatakan hal seperti itu. Meskipun aku sudah tahu seribu kali kalau yang kamu katakan adalah fakta yang tertunda," kekeh Alzam, tetap dengan kedua mata yang menatap pada deretan angka pada mapnya.
"Oh, ya Tuhan. Soal itu, tapi itu fakta Sayang, dan soal setan itu juga fakta," ucap Qari, dan barulah Alzam mengangkat wajahnya.
"Apa setan itu adalah Deon?" tanya Alzam kali ini ia lebih serius dan mengangkat wajahnya, menatap Qari dengan tatapan yang tajam, mengharapkan kejujuran dari Qari. Karena kalau sudah berurusan dengan Deon, itu tandanya ia juga harus ikut campur.
Wajah Qari nampak berubah, dan Alzam tentu sudah tahu apa arti dari perubahan wajah Qari itu.
Qari sendiri sudah menebak bahwa Deon pasti sudah merencanakan yang tidak-tidak, ia tahu watak orang seperti Deon memang menghalalkan segala cara agar ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan tidak perduli apapun imbasnya.
Alzam sendiri nampak memijat keningnya dan memejamkan kedua matanya. Bingung yang teramat ia akan memulai berkomentar dari mana. Masalah yang ia nilai kalau sudah selesai, tetapi justru masalah itu baru akan di mulai.
"Kalian bertemu di mana?" tanya Alzam, dengan suara beratnya.
"Maafkan aku, aku datang ke kehidupan kamu dengan segudang masalah. Aku terlalu tidak tahu diri bisa, menyeret kamu dalam masalahku," lirih Qari, melihat sangat bersalah melihat Alzam dengan masalah seperti ini.
"Aku tidak merasa kamu adalah pembuat keonaran, aku tahu jalan hidupku memang seperti ini. Tetap menjadi Qari yang kuat, Qari yang tegar menghadapi masalah, tanpa harus merasa bersalah." Alzam menghirup nafas dalam. "Aku bahagia sekali sudah diizinkan oleh kamu menjadi bagian perjalanan dalam kisah hidup kamu. Jadi kalau ada ujian yang datang itu bukan atas kesalahan kamu. Semua orang diuji, meskipun dengan cara yang berbeda-beda. Dan mungkin ini adalah ujian yang harus kita lewati. Percayalah akan ada pelagi setelah badai."
__ADS_1
Alzam menatap Qari dengan tulus, sangat tulus. Andai ditanya kenapa dia bisa secinta ini dengan Qari, entahlah. Bahkan Alzam rela kehilangan nyawanya asal Qari bahagia. Itulah dalamnya cinta Alzam pada wanita yang berperut buncit yang ada di hadapanya.
Qari menarik sudut bibirnya membentuk seulas senyum yang terbaiknya. "Katakan aku harus bersyukur seperti apa lagi, karena telah dikirimkan laki-laki penyabar seperti kamu," lirih Qari dengan mata berkaca-kaca, tetapi bukan ini yang ingin Alzam bahas, tetapi tentang Deon.
"Jadi kamu bertemu dengan Deon di cafe tadi?" tanya Alzam ulang, kali ia sudah semakin serius lagi. Sebagai jawaban dari pertanyaan Alzam, Qari membalas dengaan seulas senyuman, dan anggukan kepala.
"Dia selama ini masih memata-mata kita, kerja Deon memang sangat rapih sampai kita tidak menyadari kalau laki-laki itu masih berada di sekitar kita," jelas Qari.
"Terus dari mana laki-laki itu bisa tahu kalau yang kamu kandung anak dia bukan anak aku. Sedangkan selama ini kita selalu berhati-hati untuk mengucapkan fakta ini, keluarga kamu juga tidak mungkin mebeberkan masalah ini," cecar Alzam.
Qari nampak menghela nafas dalam dan semakin dalam. "Ada anak buah Deon yang merekam percakapan kita saat di depan ruang pemeriksaan. Dan dari sana jelas aku mengakui kalau anak ini bukan anak kamu."
Alzam nampak mengingat-ingat apa yang Qari katakan. Cukup lama ia berpikir. "Oh astaga ternyata karena itu," ucap Alzam dan dia juga kaget.
"Ternyata laki-laki itu sangat mengerikan sekali yah. Pantas kamu sebut dia sebagai setan, dalam kisah nyata dia memang syetan," umpat Alzam. Dan langsung di balas anggukan oleh Qari.
"Terus apa rencana kamu setelah ini, tidak mungkin laki-laki itu hanya mengancam kamu. Dia pasti akan mencoba menghancurkan kembali rumah tangga kita."
Qari mengangguk dengan lemah. "Aku pun menduga seperti itu, orang seperti Deon tidak akan puas sebelum yang ia inginkan tercapai. Tetapi aku bingung, dulu dia sebegitu bencinya denganku karena kematian kakak, dan papahnya, tetapi kenapa sekarang dia seolah lupa akan dendamnya. Apakah ini cara dia agar aku tetap menderita, dalam dekapanya?"
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku akan terus melindungi kamu, dan memberikan kebahagiaan untuk kamu."
#Uluh Alzam memang so sweet.
__ADS_1