
"Aku suka cara kamu mencintai adikku. Aku setuju dengan usulan kamu kalau kamu ingin menikahi Qila. Apalagi Qila memang butuh dukungan dari orang yang mencintainya. Kapan kira-kira kamu akan menikahi Qila?" tanya Meta, sontak Qila langsung meriang mendengar pertanyaan Meta. Namun, justru Meta nampak bahagia dengan kabar bahagia ini. Bukan karena dia bosan mengurus Qila, hanya saja kalau Qila sudah menikah pasti akan mendapatkan kebahagiaan setidaknya seperti Cyra dan Qari.
Laki-laki itu juga mulai saat ini bisa lebih fokus dengan keluarganya. Karena Qila sudah ada yang mengambil tanggung jawabnya.
Jec pun tersenyum kemenangan, dan menatap pada Qila dengan sinis. Ok, Qila masih mencoba untuk santai dan juga masih mencoba mengikuti apa yang akan Jec katakan.
"Besok!!"
Jeduerrr... Sontak Qila langsung menoleh ke arah Jec, dan dari kedua mata Qila seolah menunjukan kilat, api kemarahan.
"Ok, kalau kamu mau menikah dengan Qila besok aku akan coba berunding dengan keluargaku," ucap Meta justru tanpa banyak haha hihi langsung menyanggupi ucapan Jec. Qila menggelengkan kepalanya dengan pelan. Tanda wanita itu tidak setuju dengan ucapan Meta.
Namun, Qila lagi-lagi kembali teringat dengan ancaman Jec yang dengan sadis mengancamnya dengan menggunakan keluarga.
Sementara Jec, lagi-lagi dia berbangga hati dengan apa yang telah dia lakukan, kini Meta sudah berpihak kepadanya, hanya tinggal membuat Qila nurut saja.
"Baiklah Jec, aku pulang dulu karena aku akan mengurus semuanya, dan aku nitip Qila. Kamu jangan macam-macam sama adikku karena kalau macam-macam kamu akan tahu resikonya." Meta mengepalkan telapak tanganya yang berotot itu, sedangkan Jec tetap terlihat santai.
"Qila, I'm pulang dulu yah, ingat you tidak boleh setres agar cepat sembuh, dan nanti kalau you akan operasi I'm pasti datang lagi," ucap Meta dengan mengusap rambut Qila yang dalam hatinya masih kesal dengan sikap Jec itu. Dan Jec juga mengantar Meta hingga depan.
"Bagaimana tidak setres kalau selalu dihadapkan dengan Jec" batin Qila benar-benar murka.
__ADS_1
Setelah memastikan kalau Meta sudah pulang Jec pun kembali ke dalam kamarnya, dia sudah siap dengan segala kemarahan Qila. Yah, tentu Jec sudah tahu kalau Qila itu pasti akan marah dengan apa yang sudah dia lakukan. Tidak mungkin seorang Qila akan pasrah saja mengikuti apa yang Jec katakan.
"Gila kamu yah Jec. Kamu maunya apa sih?" Sesuai dengan pikiran Jec kalau Qila pasti akan melayangkan protesnya. Jec sendiri tetap santai dengan segala kemarahan Qila. Udah biasa Qila seperti itu. Kira-kira seperti itu pikiran Jec.
Laki-laki itu merogoh ponselnya ketika tiba-tiba ponsel yang ada di saku celananya bergetar. "Cucu, ngapain dia telpon malam-malam? Apa ada sesuatu dengan bos?" batin Jec. Ia pun langsung mengangkat panggilan dari Cucu dan mengabaikan ocehan dari Qila. Hingga Qila yang merasa cape karena sudah ngoceh tidak ditanggapi oleh Jec pun berhenti dan menajamkan indra pendengarannya untuk mendengarkan apa yang Jec obrolin dari sambungan teleponnya.
[Kenapa Cu, apa ada masalah dengan Bos?] cecar Jec, begitu telepon sudah tersambung.
Cucu langsung menghela nafas dalam. [Banyak!] jawab Cucu dengan ketus.
Jec sempat mengerutkan keningnya dengan hebat, dan tentunya penasaran dong, banyak yang Cucu maksud itu apa, sedangkan setahu Jec tadi mereka pulang ke rumah sangat romantis dan kompak. [Bisa kamu perjelas kenapa kamu mengatakan banyak?] tanya Jec bisa Cucu pastikan Jec sedang dalam mode bingung berat dari suara Jec sudah terdengar sangat lemah.
[Aku sudah mengundurkan diri dari pekerjaan itu,] jawab Cucu dengan suara yang tegas tanpa ada penyesalan sedikitpun.
[Apa aku pernah berbohong, dan untungnya aku untuk berbohong apa?] terdengar nada bicara Cucu yang juga tidak kalah meninggi, dan juga terdengar sangat kesal.
[Ok, kamu mengundurkan diri alasanya apa? Harus jelas Dong?] tanya Jec, laki-laki itu berusaha mengatur nafasnya dan bersiap untuk mendengarkan apa ucapan Cucu.
[Itu aku lakukan karena bos kamu yang gila Jec. Apa kamu tahu dia memberikan uang lima puluh juta dengan imbalan aku tidur bareng dengan dia semalaman, dan aku melayani dia untuk sebuah kenikmatan surga duniawi, apa seperti itu kelakuan Bos kamu. Aku tawarkan pernikahan, tapi dia menolak, jadi aku putuskan untuk ke luar dari kerjaan itu. Bekerja dengan Deon, aku jadi tambah gila Jec.] Cucu terus saja bercerita dengan Jec, mengeluarkan semua unek-uneknya.
Jec pun di tempat yang berbeda, beberapa kali memijit kepalanya dengan pelan. Mendengar cerita Cucu kepala Jec langsung berdenyut hebat. Masalahnya datang satu lagi.
__ADS_1
[Baiklah aku memaklumi keputusan kamu, memang aku akui Bos itu kadang-kadang sulit dikendalikan keinginanya. Lalu tujuan kamu telpon aku apa lagi, apa hanya ingin mengambarkan kalau kamu tidak bekerja dengan Tuan Deon lagi?] tanya Jec dengan suara yang terdengar lirih, kepala Jec langsung pusing dan itu karena kelakuan bosnya.
[Tentu tidak Jec, aku ingin meminta gajihku kamu bayarkan, dan apa kamu bisa meminjamkan aku uang dengan nominal yang gila?] tanya Cucu dengan suara yang melemah bahkan dia mau menyebutkan nominal uang yang Deon katakan pun ragu. Mengingat Jec hanyalah asisten dari Deon.
Kembali Jec menghela nafasnya panjang. [Nominal gila berapa dan untuk apa? Kamu harus jelaskan alasanya karena aku tidak akan berbaik hati kalau alasan kamu tidak tepat.]
[Deon, dia mengancam aku, agar aku mengembalikan utang aku yang lima puluh juta, sore tadi dia membayarkan lunas hutang-hutang aku pada pinjol dan karena aku menolak untuk melayani dia. Laki-laki gila itu mengancam aku akan membuat aku celaka, kalau tidak memberikan dua ratus juta,] jelas Cucu, bahkan wanita itu sampai terisak.
[Bantu aku Jec, aku punya uang dari mana dua ratus juta, dan kalau aku benar-benar di buat celaka oleh laki-laki gila itu bagaimana? Kakek dan Nenek aku dengan siapa. Hanya aku yang bekerja untuk mereka Jec.] Cucu terus bercerita kemalanganya dengan terisak.
[Baiklah, kamu datang ke rumah sakit 'Aku ingin sehat' temui aku di kamar VIP nomor 12 ada kerjaan untuk kamu, dan imbalanya aku akan meminjamkan uang itu serta aku akan buat perhitungan untuk Deon,]
Sontak saja Cucu tanpa pikir panjang langsung berjingkrak dan berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Jec. Cucu yakin pekerjaan Jec tidak akan sehoror pekerjaan yang ditawarkan oleh Deon.
"Tapi, ngomong-ngomong Jec dapat uang banyak dari mana yah?" batin Cucu dengan bersiap langsung malam ini juga ia akan menemui Jec.
Sementara Jec menatap Qila. "Baiklah Qila aku yakin Cucu akan bisa segera menyadarkan kami," batin Jec dengan bangga, karena ada Cucu yang bisa dia andalkan.
Sekedar informasi kalau Jec sebenarnya orang tajir dia selain bekerja sebagai asisten Deon, laki-laki itu juga pemilihan gerai es cream yang terkenal lezat itu, bahkan gerai yang ia miliki sudah puluhan.
Jadi uang dua ratusan juta tidak ada masalah buat Jec.
__ADS_1
#Jangan ada yang tanya Qari dulu yah, Qari belum dilanjutkan karena masih cuti melahirkan 🙏🙏