
"Kenapa kamu selalu tersenyum terus?" tanya Deon ketika ia dan sang istri sudah ada di dalam ruangan rawat sang istri.
"Aku sangat senang karena sekarang kamu sudah benar-benar berubah, bahkan kamu sekarang sudah mau meminta maaf pada Qari dan bisa menerima keadaan bukankah ini adalah kabar yang sangat bahagia?" ucap Cucu dengan bangga. Yah, Cucu sekarang sangat bangga karena Deon sudah banyak perubahan.
"Yah, aku sadar sekarang waktunya menutup dendam, tidak ada gunanya aku terus terusan dendam dengan Qari yang mana Qari saja sudah bahagia dengan keluarga kecilnya. Qari lebih bahagia dengan Alzam. Lagi pula Alzam adalah laki-laki yang sangat baik," balas Deon, perubahan ini tidak terjadi satu atau bahkan dua kali ia berfikiri, ini terjadi ketika Deon sudah sejak lama berperang dengan hatinya dan ingin memperbaiki semua hubunganya tetapi baru kali ini Deon menemukan kesempatan itu.
"Uluh... aku jadi tambah sayang," balas Cucu dengan merentangkan tanganya dan memberi kode pada sang suami agar segera memeluknya. Deon yang sudah lama menunggu momen ini pun tidak menyia-nyiakanya. Yah Deon langsung membalas pelukan Cucu, dengan pelukan hangat dan juga rindu.
Namun, belum juga rasa rindu terobati Cucu langsung mendorong tubuh sang suami.
"Kamu bau sekali...." Cucu menutup hidungnya dan juga langsung belari ke kamar mandi.
Huwekkk... Huwekkk... wanita itu menumpahkan isi perutnya hingga rasa lemas menguasai tubuhnya. Deon pun langsung memijit tengkuk leher sang istri yang nampak sangat lemas.
"Sayang apa kamu sangat menderita?" tanya Deon dia baru tahu kalau hamil itu sangat mederita seperti ini muntah-muntah bahkan untuk makan seleranya menurun.
"Deon, kamu mandi yah, aku tidak tahan mencium bau kamu," rengek Cucu sembari menutup hidungnya sedangkan dia dari tadi saja tidak ada masalah, tetapi kenapa sekarang Cucu meminta agar Deon mandi, dengan alasan bau. Sedangkan Deon yang merasa kalau dirinya tidak ada yang salah dan bahkan baunya Deon sangat wangi.
Namun karena kasihan dengan sang istri Deon pun terpaksa mengikuti kemauan sang istri yang saat ini sedang mengandung anaknya.
"Ok-ok aku mandi tapi tunggu yah, aku akan cari pakaian mungkin di sekitar rumah sakit ada yang jual, aku benar-benar tidak membawa pakaian dan alat mandi. Sekarang aku bantu kamu untuk istirahat di ranjang dulu," ucap Deon dengan suara yang terdengar sangat lembut. Cucu pun hanya mengangguk dengan bahagia karena saat ini Deon sudah sangat jauh berbeda, lebih romantis, lebih lembut dan tentunya jauh lebih nurut sama Cucu dan apa yang Cucu minta Deon akan selalu tepati.
__ADS_1
Setelah memastikan kalau sang istri baik-baik saja, Deon pun langsung pergi mencari pakaian dan alat mandi tentu setelah menitipkan Cucu pada perawat yang tengah berjaga. Deon terlalu takut kalau Cucu akan kenapa-napa. Tidak perlu menunggu lama kini Deon pun sudah kembali dengan satu setel pakaian lengkap beserta pakaian dalamnya dan alat mandi lengkap beserta minyak wangi terbaiknya. Serta tidak ketinggalan aneka makanan kesukaan Cucu, ada rujak, dan semua makanan jajan kaki lima yang entah mengapa menarik mata Deon pun langsung dibelinya. Padahal biasanya Deon adalah laki-laki yang paling anti untuk membeli makanan yang seperti itu, tetapi saat ini dia adalah orang yang sangat menyukai dengan makanan seperti itu.
"Hai Sayang, kamu belum istirahat?" tanya Deon dengan dua tangan penuh tentengan, ada aneka makanan yang menggodanya.
Kedua mata Cucu langsung melebar sempurna ketika Deon membawa makanan yang sejujurnya sedang Cucu bayangkan. "Sayang, apa itu rujak dan juga cilok?" tanya Cucu dengan antusias bahkan wanita itu sudah membayangkan makanan itu ada di dalam mulutnya.
"Iya Sayang, kamu mau?" tanya balik Deon, dengan memberikan buruannya, yang baru saja dia beli.
"Mau..." Cucu pun langsung berbinar bahagia dan juga bersemangat untuk mencicipi makanan yang Deon berikan. Laki-laki itu pun mengeluarkan makanan yang dia beli, dan Cucu langsung mengambil rujak dengan penuh semangat.
"Terima kasih Sayang, aku senang banget. Jujur dari tadi aku sedang membayangkan makanan ini," ucap Cucu dengan antusias. Dan Cucu memeluk Deon yang sedang berdiri di samping Cucu, tetapi yang membuat Deon bingung sekarang Cucu malah seolah sangat menyukai tubuhnya yang habis berpanas-panasan.
"Sayang, aku mau mandi dulu, nanti kamu muntah lagi," ujar Deon dengan mencoba menggeserkan tubuh Cucu, tetapi bukanya nurut, Cucu malah semakin mengeratkan pelukannya.
Jeduerrr... Deon pun langsung bergeming, setelah ia cape-cape berjalan mencari pakaian dan alat mandi serta lain sebagainya, malah Cucu kini menahannya agar tidak mandi dengan alasan suka dengan harum tubuhnya.
"Tapi aku bau." Deon mencoba untuk membuat Cucu melepaskan pelukannya lagi.
"Tidak, ini tidak bau kamu wangi, dan aku suka wangi tubuh kamu." Cucu pun meminta agar Deon duduk di sampingnya. Laki-laki itu pun pasrah saja, terserah apa kata ibu hamil.
Tiga hari kemudian, Deon dan Cucu pun sudah pulang ke rumah, itu karena sejak sang suami pulang Cucu selalu dilayani dengan baik sehingga tubuhnya cepat pulih dan segar.
"Sayang, aku ingin ke makam Qinar, apa kamu mau ikut?" tanya Deon, yang akhir-akhir ini laki-laki itu selalu bermimpi sang buah hati, dan dia juga ingin mengatakan pada Qinara, kalau saat ini dia akan jadi kakak.
__ADS_1
"Aku ikut Sayang, kebetulan aku juga sudah lama tidak ke makam anak kamu," balas Cucu, yang tanpa diminta, wanita itu langsung bersolek dengan cantik. Tidak butuh waktu lama kini Deon dan Cucu juga sudah berada di makam Qinar.
"Sayang, sepertinya ada Qari dan Alzam juga," ucap Cucu sembari menunjuk makam Qinar.
"Tidak apa-apa mungkin Qinar ingin Ibu dan ayahnya datang bersama dan berdamai di hadapannya," ucap Deon dengan menggandeng tangan Cucu dengan mesra.
"Assalamualaikum..." ucap Cucu dan Deon bersamaan, dan Alzam serta Qari yang sedang mengaji untuk Qinar pun kaget dan langsung menatap ke samping yang ternyata ada Deon dan juga Cucu.
Waalaikumsalam....
"Deon, Cucu, kalian mau ziarah juga ke makam Qinar?" tanya Alzam dengan ramah.
"Iya Al, kebetulan ada kalian berdua. Rasanya meskipun kemarin-kemarin kita sudah sempat bermaaf-maafan. Aku ingin kembali meminta maaf pada kalian. Aku ingin meminta maaf dihadapan anak kami. Akhir-akhir ini aku sering memimpikan Qinar, dan di pagi ini aku sangat ingin mengunjungi makam Qinar, dan ternya kalian ada di sini. Mungkin kemari-kemarin adalah firasat kalau di depan makan Qinar ingin aku meminta maaf pada kalian lagi. Jadi saat ini di depan makam Qinar. Aku ingin meminta maaf atas semua salah yang sudah aku perbuat. Jujur selama ini aku tersiksa dengan sifat-sifatku, tetapi entah rasa apa aku terus membuat kerusuhan untuk kalian. Qari, Alzam, maafkan aku." Kembali Deon mengulurkan tangannya di depan makan sang putri.
Alzam pun langsung memeluk Deon. "Kami sudah memaafkan kamu, aku tahu kamu adalah orang baik, setiap orang pernah melakukan kesalahan, dan untuk saat ini berusahalah menjadi orang baik, dan bertanggung jawab pasti Qinar sangat bangga punya ayah seperti kamu," ucap Alzam dengan menepuk-nepuk punggung Deon.
Dan di pagi yang cerah itu, dua keluarga yang tadinya bersitegang terus, bahkan dendam menyelimuti hati Deon, hingga segala cara telah ia lakukan untuk membuat Qari jatuh pada tangannya, tetapi namanya jodoh, sekuat apapun Deon berusaha kalau bukan jodohnya ia akan kalah dan mendapatkan pengganti yang jauh bisa memahami Deon. Qari dan Deon pun saling memaafkan, dan Qinar di surga sana sangat bahagia melihat ibu dan ayahnya yang selalu bersitegang akhirnya damai, dan bisa bahagia dengan pasangan masing-masing. Alzam bersama dengan Qari, dan Deon dengan Cucu. Bahkan mereka sebentar lagi akan memiliki pengganti Qinar yang akan menjadi anak mereka.
TAMAT....
Selamat bertemu di novel selanjutnya...
Terima kasih untuk teman-teman semuanya atas dukungan ngikutin kisah mereka sampai sejauh ini🙏🏻❤
__ADS_1