
Cucu pun setelah diajarkan oleh dokter Mila cara memberikan perhatian kecil dia pun langsung pamit dan mulai mencari makanan yang sekiranya Deon suka. Cukup lama Cucu melihat barisan pedagang makanan yang sekiranya sang suami sukai.
"Kira-kira makanan apa yang Bos Deon suka yah?" gumam Cucu masih bergeming dari ketoprak, mie ayam dan beraneka makanan lain yang menggoda matanya.
"Jec, yah lebih baik aku tanya Jec saja kira-kira makanan apa yang disukai oleh bosnya. Mengingat dia yang paling setia dengan laki-laki aneh itu." Sama seperti sebelumnya rasanya tidak akan senang kalau tidak mengganggu Jec. Hingga wanita itu pun akhirnya memutuskan bertelepon dengan Jec.
Di tempat yang berbeda, Jec yang sejak tadi pagi langsung disibukkan dengan tumpukan map dan ribuan bahkan jutaan angka sudah menghiasi isi otaknya terkejut ketika tiba-tiba ada telpon yang mengagetkan dia.
"Sial, siapa sih yang pagi-pagi gini telpon. Nggak tau apa aku lagi sibuk," umpat Jec yang bahkan untuk sekedar melihat siapa yang telepon rasanya sangat berat matanya meninggalkan deretan angka. Tangan Jec pun langsung menekan ikon berwarna hijau.
[Jec, makanan kesukaan bos kamu apa?] tanya Cucu dari sebrang telpon dengan suara yang langsung mengganggu Jec.
[Astaga kamu ternyata yang telpon, dan ganggu aku saja, hanya untuk bertanya makanan kesukaan suami kamu? Kenapa nggak kamu tanya langsung dengan orangnya?] tanya balik Jec, mungkin laki-laki itu tidak tahu kalau Cucu sedang tidak ingin di ajak bercanda.
[Jec, kamu bisa cepat jawab nggak? Kalau tidak mulai detik ini nomor kamu aku block yah,] ancam Cucu, mungkin dia lupa selama ini yang sering mengganggu Jec, adalah dirinya. Bahkan rasanya Jec sendiri tidak pernah menghubungi Cucu, selalu wanita itu yang mengganggu Jec lebih dulu.
Jec pun di lain tempat tentu terkekeh dengan ucapan Cucu. [Yah, setahu aku Taun Deon pemakan segalanya. Tetapi karena dia saat ini sedang sakit hindari makanan keras dan juga hindari mie. pilih makanan yang lebut seperti bubur,] ucap Jec dengan sabar. Padahal laki-laki itu tadinya ingin meledek Cucu soal pemblockan nomor hp, tapi karena dia lagi mode waras sehingga mengalah saja.
[Yah, padahal aku sudah pesan mie ayam dua, malah ujung-ujungnya beli bubur saja] balas Cucu dengan suara menggemaskan, Jec pun kembali terkekeh dengan kelakuan istri bosnya itu.
[Terus ngapain kamu telpon aku kalau ujungnya kamu sudah beli mie ayam? Kamu tanya kesukaan Tuan Deon atau keinginan kamu? Atau mau meminta izin agar suami kamu diizinkan makan mie ayam?} tanya Jec setengah gemas bin keselin dengan istri bosnya itu.
[Aku tadi lihat mie ayam, jadi pengin beli. Dan ingin membelikan bos kamu juga, tapi malah kamu melarangnya. Kalau gitu ya sudah lah biar aku makan dua-duanya,] jawab Cucu dengan santai.
[Terus untuk suami kamu, di belikan apa?] tanya Jec mengetes kecerdasan Cucu.
__ADS_1
[Tidak ada, biar dia makan-makanan dari rumah sakit saja, lagian namanya bubur sama ajah mau beli apa dari rumah sakit nggak ada bedanya lah,] balas Cucu tanpa rasa bersalah.
[Bagus, kamu sudah ganggu jam kerja aku, ujung-ujungnya hanya iseng ngerjain aku. Lebih baik aku yang block nomor kamu Cu,] geram Jec benar-benar kenapa bisa dia dulu memilih Cucu yang sangat unik, sebagai teman kerjanya.
[Ya elah Jec, aku hanya ganggu kamu beberapa menit doang. Lagian kapan lagi coba kamu diusilin sama aku yang maha lucu ini.]
Nut... Nut... Benar-benar Jec pun memutus sambungan telepon dari Cucu yang sudah berhasil membuat dia kesal.
"Dasar cowok, baperan banget. Padahal kan cuma tanya iseng ajah," gerundel Cucu, mengutuk Jec. Sedangkan Jec sendiri di tempat yang berbeda juga melakukan hal yang sama yaitu mengumpat Cucu yang hanya iseng dengan dirinya. Padahal Jec sendiri susah-susah mengumpulkan moodnya untuk bekerja setelah tahu di belakangnya Qila masih sering berkomunikasi dan bertemu dengan mantan kekasihnya.
Yah nomor ponsel yang tadi pagi mengirim gambar-gambar Qila dan Sam, dari nomor itu juga Jec tahu kalau selama ini Qila masih berhubungan dengan Sam. Marah, kesal dan kecewa laki-laki itu tuangkan denganbekerja gila-gilaan. Malah rasanya laki-laki itu malam ini tidak ingin pulang ke rumahnya. Toh ruamh itu juga tidak memberikan kenyamanan untuknya.
Setelah membeli makanan yang Cucu inginkan, dan jugaa beberapa makanan yang dia yakini sang suami bisa memakanya wanita itu pun kembali ke dalam ruangan rawat Deon.
"Kenapa aku jadi deg-degan banget yah, gimana kalau malah Tuan Deon marah?" batin Cucu sepanjang perjalanan balik ke kamar rawat sang suami dia di penuhi dengan rasa ketakutan yang luar biasa. Takut akan hal-hal yang belum tentu terjadi. Takut kalau justru Deon tidak suka Cucu perhatikan.
"Loh Tuan, kenapa Anda jalan?" tanya Cucu terkejut ketika melihat sang suami yang justru tengah berdiri di depan jendela dengan selang infus di tangan kananya. Deon yang sedang melamun pun terkejut dengan suara yang tiba-tiba mengagetkanya.
"Emang kenapa?" tanya Deon singat bin irit bicara.
"Bukanya Anda sedang sakit. Terus kenapa jalan?" tanya Cucu lagi.
Sontak saja Deon justru mengerutkan keningnya. Heran maksud Cucu apa? "Emang sejak kapan orang sakit tidak boleh jalan?" tanya Deon dengan santai dan tatapanya terus menatap Cucu yang tampak bingung juga.
"Loh, iya juga yah. Sejak kapan orang sakit tidak bole jalan?" tanya balik Cucu dengan bingung pula. "Ah, lupakan pertanyaan aku tadi. Aku terlalu takut kalau Anda kenapa-napa," balas Cucu dengan santai. Dan wanita itu pun berjalan ke samping Deon dan meletakan beberapa kantong makanan yang dia sudah beli.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Deon, sembari hidungnya mengendus aroma yang harum menggoda hidungnya.
"Aku tadi jalan-jalan ke luar dan melihat ada beberapa makanan yang sepertinya enak jadi aku beli. Apa kamu mau?" Cucu membuka aneka makanan yang dia beli, dan yang terpenting adalah mie ayam yang berhasil membuat dia tergoda. Kini Cucu pun mengganti panggilanya menjadi aku dan kamu sesuai yang disarankan oleh dokter Mila.
Deon pun melihat ada beberpa kue tradisional, seperti saat Qari hamil dan dia ngidam malam-malam ingin kue dan karena Jec dia pun tahu makanan tradisional yang enak.
"Coba Cu, aku ingin kue yang warna ijo itu. Aku pernah makan dan rasanya enak di dalamnya manis kan?" tanya Deon menunjuk kue kelepon kudapan manis yang terbuat dari tepung ketan dan gula berah di dalamnya dan disajikan dengan taburan kelapa.
"Oh ini namanya kue kelepon, rasanya manis dan enak." Cucu mengambilkan satu dan menyuapkan pada Deon tapi laki-laki itu malah diam mematung.
"Kenapa?" tanya Cucu heran tinggap mangap saja harus di setop dulu.
"Biar aku makan sendiri saja. Kamu makan sendiri," elak Deon dengan mengambil kelepon di tangan Cucu.
"Udah sih, tingal A. Mangap susah amat. Lagian nggak ada larangan kan aku nyuapin kamu," elak Cucu sebrai tetap menyodorkan satu butir kelepon ke depan bibir pucat Deon. Laki-laki itu pun akhirnya membuka mulutnya dan makan-makanan yang dia masih ingat sekali rasanya itu karena dia yang pernah makan saat ngidam Qinar.
"Aku suka makanan ini," ucap Deon yang sudah hampir habis tiga biji.
"Doyan juga makan-makanan kaya gini?" tanya Cucu iseng.
"Baru tahu saat Qari hamil Qinal, dan saat itu aku yang ngidam, Jec yang beli maknan seperti ini, tapi aku yang menghabiskanya." Entah sadar atau tidak Deon berkisah mengenai dirinya ngidam. Namun justru Cucu wajahnya sedikit murung.
"Lain kali jangan bahas masa lalu. Aku cemburu," ucap Cucu membuat Deon langsung menghentikan kunyahanya. Apalagi Cucu juga langsung memberikan sisa kue kelepon tepat di atas pangkuan Deon.
Wanita itu pun langsung diam membuka mie ayam yang tadi membuat dirinya ingin buru-buru menyantapnya. Dua bungkus mie ayam dia tuangkan ke dalam mangkok, dengan sambal dan juga dengan kecap dan saus yang tak kalah banyak.
__ADS_1
Sedangkan Deon sendiri masih bungung dengan sifat Cucu yang tiba-tiba berubah. Dia bahkan tidak menyangka kalau Cucu dengan terang-terangan mengatakan cemburu. Sedangkan kemarin dia kesal marah dan ingin pergi dari Deon.
Namun, Deon tetap bersikap santai kembali menikmati kudapan kenyal dan manis itu. Ada rasa bahagia karena Cucu ada tanda-tanda bahwa mau memperbaiki hubungan itu tapi juga dia masih ada rasa takut nantinya malah menyakiti Cucu.