Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 152


__ADS_3

Di rumah yang mewah.


Malam ini Tantri benar-benar tidak bisa tidur, padahal dalam kamar sudah di temani oleh Bi Sarni. Entah sudah berapa balik Tantri mencoba memejamkan matanya, tetapi lagi-lagi gadis kecil itu tidak juga bisa tertidur. Sama halnya seperti tadi satu per satu ingatanya tentang pertengkaran hingga kejadian mengerikan itu terekam dengan jelas.


Bahkan jantungnya beberapa kali tiba-tiba berdetak semakin kencang dan darah mengalir dari dada semakin deras sehingga seolah tubuh tersengat aliran listrik.


"Kak, apa Kakak Qari di sana baik-baik saja? Apa ponakan bayi juga baik-baik saja? Kenapa Tantri seperti merasa ada yang tidak beres," gumam Tantri sembari terus memegangi dada sebelah kirinya.


Gadis kecil itu melihat ke samping tempat tidurnya di mana di sana ada Bi Sarni yang sedang tidur dengan pulas, seolah tidak memikirkan apapun, berbeda dengan dirinya jangankan bisa tenang untuk tidur, sekedar memejamkan mata saja jantungnya sudah tidak tenang teringat dengan dosa-dosany.


Bayangan Qari yang meminta tolong membuat Tantri tidak bisa berbuat apa-apa. "Aku harus cari tahu sama siapa yah, agar aku tahu bagaimana kondisi Kakak Qari dan ponakan bayi." Tantri belum bisa tidur dengan nyenyak. Perlahan Tantri pun bangun, ia ingin mencari tahu bagaimana kabar kakaknya, tetapi tanpa ke luar dari kamarnya, karena malah bisa menimbulkan masalah baru.


Alzam bisa makin cemas kalau Tantri pergi, meskipun Tantri pergi ke luar untuk melihat kondisi kakak beserta ponakan bayinya. Di depan kaca jendela yang besar Tantri melihat ke luar jendela, hari semakin malam, angin juga semakin kencang rintik hujan menambah suasana semakin tidak tenang, perasaan Tantri masih belum tenang.


"Apa aku hubungi Kakak Cyra?" Tantri diam sejenak untuk berpikir. "Tidak-tidak Kakak Cyra tidak mungkin mau memberitahu apa yang terjadi di antara Kakak Qari dan bayinya. Tantri lagi-lagi diam merenung dan hanya diam menatap ke luar kaca jendela.


"Astaga bukanya aku juga kemarin diberi kartu nama oleh laki-laki jahat itu, mungkin saja laki-laki jahat itu bisa memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada Kakak Qari. Tantri langsung beranjak menunju tas sekolahnya dan menyimpan kartu nama yang Deon berikan.


"Untung saja tidak aku sobek kartu nama ini. Padahal kemarin aku ingin sekali menyobeknya." Tidak menunggu lama Tantri langsung meraih ponselnya dan menghubungi nomor ponsel yang tertera di kartu nama yang sedang Tantri pegang.


"Deon Keisha Cakrabellamy, nama yang bagus, tetapi kenapa kamu jahat sekali, Tuan," geram Tantri sembari berdoa agar Deon mau mengaangkat panggilan teleponya.


"Oh, apakah laki-laki jahat itu bisa tidur nynyak sedangkan Kakak Qari sedang berjuang antara hidup dan matinya, dan juga anak yang diakunya bagaimana kondisinya sekarang." Tantri terus mengumpat Deon yang tidak juga  mau mengangkap panggilan teleponya.

__ADS_1


"Ayolah Tuan Jahat, angkat telponya karena apabila sampai Anda tidak mau mengangkatnya, akan aku pastikan, aku akan membalas dendam untuk Anda, Tuan Jahat." Tantri bahkan entah berapa kali dirinya menghubungi nomor telepon itu. Sampai pada akhirnya dia hampir putus asa seorang diri, karena Deon tidak juga mengangkat sambungan teleponya.


Test... Tantri pun meneteskan air matanya, entah berapa banyak juga air mata yang ia keluarkan hanya untk menangisi kesalahnya.


"Ya Tuhan hamba hanya meminta satu di dunia ini, jagalah Kakak Qari dan buah hatinya. Tantri janji akan menyayangi anak itu meskipun bukan anak Abang Al."


*******


"Cyra..." Suara sayup-sayup terlontar dari bibir Latif, entah berapa kali Latif memanggil Cyra yang baru di jam empat pagi dirinya bisa tidur, tepatnya setelah mendengarkan kabar kalau Naqi sudah mendapatkan putri baru untuk pengganti Qinara. Baru Crya yang sebenarnya sudah mengantuk dan lelah pun langsung merebahkan diri dan tertidur dalam damai.


Kedua mata Cyra di paksa untuk bangun ketika kupingnya menangkap ada yang memanggilnya. Cyra duduk mencari sumber suara yang memanggilnya.


"Kakek... ada apa? Apa ada yang bisa Cyra bantu?" cecar Crya sembari langsung mengayunkan kakinya menuju Latif yang sudah bangun.


Cyra mengangguk dan menggenggam tangan Philip dengan kencang.


"Kakek mau apa? Apa mau ke kamar mandi atau..."


Latif buru-buru menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa dirinya tidak ingin sesuatu. "Qari gimana keadaanya?" Suara lirih dan terbata kembli keluar dari bibir laki-laki tua itu.


Cyra pun mengembangkan senyumnya. Agar Latif tidak terlalu tegang. "Qari kondisinya terus membaik, dan buah hati Qari jauh lebih baik," jawab Cyra memberikan senyum terbaik sebagai dukungan dengan apa yang ia katakan agar Latif percaya.


"Kakek mau lihat."

__ADS_1


Cyra pun berpikir sejenak. "Kalau Kakek mau lihat Qari dan buah hatinya belum bisa, karena kondisi Kakek yang masih lemah dan butuh banyak istirahat. Kakek, baru saja dokter mengatakan bahwa Kakek terkena serangan jantung ringan, jadi diminta istirahat total. Bagaimana kalau sekarang kita telpon Alzam, video call agar bisa lihat Qari dan juga baby Nara?" Usul Cyra dengan mendekatkan bibirnya ke telinga Latif (Berbisik),


Latif pun menganggukan kepalanya dengan lemah. Laki-laki tua itu terlihat sangat cemas dengan kondisi Qari dan  buah hatinya sehingga rasanya belum bisa tenang kalau belum melihat kabar Qari dan putrinya.


Cyra pun berjalan ke sofa tempat semula dirinya tidur, untuk mengambil ponselnya dan segera menghubungi Alzam.


Sementara di tempat yang berbeda Qanita pun sedang merengek pada Naqi untuk menemui Qari.


"Bang, mamih sudah baik-baik saja. Mamih ingin bertemu dengan Qari dan anaknya, Bang. Kalau kamu  tidak mengizinkan mamih bertemu Qari yang ada mamih berpikir kalau Qari memang terjadi sesuatu." Qanita terus saja merengek pada Naqi.


" Mih, percumah Mamih juga nemui Qari tidak boleh masuk yang boleh masuk hanya satu orang dan itu hanya Alzam." Sama dengan Cyra yang memiliki seribu satu cara agar kakeknya tidak menemui Qari, Naqi pun sama memiliki seribu alasan agar Qanita tetap di dalam kamar.


"Lagian Mamih juga bosen di dalam kamar terus Bang, yang ada mamih tambah sakit karena setres Bang." Qanita pun menujukan sifat tidak sukanya pada Naqi dan justru semakin Naqi melarangnya Qanita pun berpikir kalau Naqi sedang menyembunyikan sesuatu.


Naqi  pun diam sejenak, "Kalau Naqi telepon Alzam bagaimana? Setidaknya Mamih tahu kondisi Qari dan cucu Mamih," usul Naqi setidaknya mamihnya bisa tenang memihat Qari.


"Itu usul yang tidak terlalu buruk," balas Qanita, dan Naqi pun melakukan cara yang sama dengan Cyra memilih menghubungi Alzam dari sambungan teleponya.


Dalam hati Naqi dan Cyra pun memiliki harapan yang sama yaitu ingin agar Alzam tidak mengangkat sambungan teleponya. Karena pasti kalau diangkat Qanita dan Latif akan sangat sedih melihat Qari yang belum sadar juga.


#Ayo Qari sadar, banyak yang sayang sama kamu...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2