Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 145


__ADS_3

Deon menatap Cucu dengan kedua mata yang melebar sempurna memberi tahukan pada Cucu kalau dia sedang marah. "Tidak Cu, aku tidak akan melepaskan anakku, buah hatiku akan tetap hidup."


'Biarkan lah suka-suka laki-laki itu saja toh anak itu anak dia. Aku hanya kasihan saja dokter menyakiti jiwanya yang sudah tidak mau tinggal dalam raganya,' batin Cucu dan Jec sendiri menatap pada Cucu dengan tatapan yang mengiba.


Namun, seperti yang Cucu katakan kalau anak itu sudah tidak kuat untuk bertahan hidup. Cucu kembali menggeleng dengan lemah. Sebagai tanda bahwa anak itu tidak akan bisa bertahan dengan kehidupan di dunia ini.


Wanita itu tidak ingin memberikan harapan yang palsu, berharap dalam hatinya agar bayi mungil dan cantik untuk tetap bertahan, tetapi tanpa disadari cara itu malah hanya membuat bayi itu tersakiti.


"Kembali dokter itu menatap Deon dengan tatapan yang lelah dan pasrah. Deon menggelengkan kepalanya, dan Cucu yang tahu kalau laki-laki itu belum terima pun menuntun Deon.


"Tuan kita temui anak Anda, ucapkan kata perpisahan agar dia tahu bahwa Anda sangat menyayanginya." Cucu setengah menarik tubuh Deon yang berat dan Deon sendiri pun hanya diam mematung dan menyeret kakinya yang berat.


"Aku harus apa kalau anak aku saja menyerah? Aku harus apa setelah ini?" isak Deon dengan tatapan kosong meskipun kaki terus menganyun mengikuti Cucu. Jec pun sama dengan langkah yang berat mengekor Cucu dan Deon.


###Teman-teman mohon dukunganya, mampir ke karya baru othor judulnya DINIKAHI ANAK KONGLOMERAT.###


"Anda jangan menyerah seperti itu Tuan, banyak yang bisa Anda lakukan tanpa putri cantik Anda. Terutama kebaikan, lakukanlah yang membuat putri Anda bahagia, dan bangga karena telah memiliki papah seperti Anda. Jangan kembali berbuat sesuka Anda, kalau itu Anda lakukan pasti putri Anda sangat sedih." Cucu yang lebih banyak menasihati Deon, sedangkan Jec justru merasakan hal yang sama sedih dengan kenyataan ini. Deon masuk ke dalam ruangan di mana bayinya sedang di lepas alat-alat medis dari tubuh mungilnya.


"Tuan mohon maaf karena kami tidak bisa mengikuti apa yang jadi keinginan Anda. Putri Anda tidak bisa kami selamatkan." Dokter yang lagsung menyambut Deon, langsung mengabarkan kabar duka itu. Mata Deon pun langsung tertuju pada bayi mungil yang cantik.


Jec langsung sigap menahan tubuh Deon yang hampir saja terjatuh. "Tidak Dok, putri saya tidak meninggal, dia masih hidup hanya sedang tidur saja," racau Deon dengan kaki mengayun dengan lemah, menuju pada bok di mana bayi itu sedang tertidur. Oh salah bukan tertidur, tetapi beristirahat dengan tenang.


Dengan tubuh bergetar tangan Deon menggendong bayi mungil itu. "Jec, kamu bisa lihat dia tidak meninggal, anakku masih hidup, jari telunjuk Deon diletakan di depan hidung jasad bayi itu, tetapi sedetik kemudian Deon terisak ketika menyadari tidak ada hembusan nafas dari bayi itu, sebagai tanda kalau anaknya memang sudah meninggal.

__ADS_1


Tangis Deon pecah seketika dengan memeluk bayinya.  Hidupnya sudah hancur tidak ada lagi harapan dia untuk dipanggil papah oleh anak cantiknya. Sekujur tubuh yang masih terasa hangat itu diciuminya. Dari kejauhan seorang laki-laki dengan tertatih berlari untuk melihat kondisi bayinya, dia adalah Alzam.


Baru saja suster mengabarkan kondisi anaknya dan betapa hancurnya Alzam ketika melihat Deon tengah mencium jasad bayinya. Alzam kembali mundur hingga menyentuh dinding.


"Tidak mungkin... ini pasti pasti mimpi," isak Alzam, seketika Jec, Deon dan juga Cucu melihat ke arah Alzam.


"Al... aku minta maaf, karena kebodohanku anak kalian tidak bisa bertahan hidup." Deon berjalan ke arah Alzam yang masih syok. Bahkan dia lupa kalau laki-laki yang ada di hadapanya adalah penyebab anaknya meninggal.


Deon memberikan bayi yang sudah meninggal itu pada Alzam, dan Alzam pun langsung menerimanya dengan tangan bergetar.


"Sayang, kenapa kamu tinggalin ayah dan Bunda? Apa kamu marah sma ayah? Apa kamu tidak sayang sama ayah? Bahkan kamu belum cobain baju yang ayah belikan untuk kamu. Kata Bunda pasti kamu suka dengan baju yang ayah beli, tapi kenapa kamu tidak mau mencoba dulu baju itu. Gambarnya lucu warnanya cantik, kamu bangun yah, bilang sama ayah kalau kamu cuma cape dan lelah, setelah itu bangun, kita pulang bersama, dan bermain bersama." Alzam mencium tubuh bayi itu dengan penuh kasih bahkan rasanya sejengkal pun tidak ada  yang terlewatkan.


"Sayang, Bunda sudah siapkan nama untuk kamu. Bunda titipkan nama itu sama ayah. Nama kamu adalah Qinara. Kamu suka kan? Nama yang bagus dari Bunda. Sayang, bahkan kamu belum tidur di kamar yang ayah dan Bunda siapkan. Kata Bunda kamu pasti senang tidur di kamar kamu yang cantik dan banyak gambar princes-nya, tapi kenapa kamu tidak izinkan ayah dan Bunda untuk menjaga kamu. Apa kamu marah sama ayah? Kalau kamu marah sama ayah hukum ayah, tapi jangan Bunda. Bunda pasti sangat sedih kalau tahu kamu sudah tidak ada. Ayah harus bilang apa sama Bunda kalau sampai Bunda bangun nanti dan mencari kamu?"


"Qinar, ayah ikhlas kalau Qinar lebih nyaman tinggal di surga sana, tapi Qinar jangan ajak Bunda yah. Biarkan Bunda sama ayah di sini, ayah belum bisa bahagiin Bunda. Berikan izin ayah untuk membahagiakan Bunda. Ayah janji tidak akan bikin Bunda sedih, ayah janji akan selalu membuat Bunda tertawa. Sekarang Bunda sedang istirahat, tolong katakan sama Bunda, ayah menunggu Bunda sadar. " Alzam  kembali mencium jasad bayi itu dengan tulus.


"Ini adalah ciuman dari ayah." Alzam memcium pipi kanan dan kiri serta seluruh wajah bayi yang seperti tengah tertidur itu.


"Dan ini ciuman dari Bunda, saat ini Bunda sedang istirahat, tapi Bunda titip ciuman ini untuk Qinar. Bahagia di surganya Allah yang Sayang." Alzam melakukan hal yang sama dengan sebelumnya, yaitu memcium pipi kanan dan kiri hingga seluruh wajah bayi itu.


"Qinar, maafkan ayah, untuk saat ini tidak bisa mengantar Qinar sampai rumah baru Qinar. Ayah di sini harus jaga Bunda, takut nanti Bunda bangun dan akan sedih karena ayah tidak ada. Tapi Bunda dan ayah akan terus mendoakan Qinar, nanti ketika Bunda sudah sembuh pasti ayah dan Bunda akan main ke rumah Qinar. Qinar jangan nakal yah, Qinar jangan sedih karena ayah tidak bisa antar Qinar. Ayah sayang sama kamu, Nak."


Terakhir, Alzam memberikan ciuman terakhirnya untuk anaknya. Setelah itu ia menatap Deon yang sedari tadi juga terisak dalam kebisuanya. Bukan hanya Deon yang menangis karena pesan Alzam. Jec, Doni dan Cucu pun berlinang air mata, merasakan bagaimana kehilanganya Alzam yang selama ini sudah sangat dekat dengan buah hatinya.

__ADS_1


"Deon, aku niatip anakku, antarkan dia keperistirahatan terakhirnya. Jangan biarkan dia sedih karena aku dan Qari tidak bisa mengantarkanya. Pelakukan dia dengan baik." Alzam kembali memberikan jasad bayi itu pada Deon. Setelahnya ia pergi untuk melihat Qari. Dia tidak sanggup melihat bayinya yang akan di mandikan dan dipakaikan pakaian terakhirnya.


"Alzam..." Doni memanggil Alzam, dan Alzam pun berhenti tanpa berbalik.


"Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku, aku tidak akan melakukan hal yang bodoh. Yang saat ini aku cemaskan adalah kondisi Qari, bagaimana kalau Qari bangun dan  menanyakan di mana anaknya, aku harus jawab apa? Aku tidak tega kalau harus mengatakan yang sesungguhnya." Alzam  berbicara tanpa melihat ke arah Doni, dan Doni pun hanya menunduk. Ia tahu betul gimana perasaan Alzam saat ini. Deon, sendiri sangat menyesal, ketika tahu betapa baiknya Alzam, pantas saja Qari nyaman dengan laki-laki itu, karena memang ia yang sangat baik, berbeda dengan dirinya.


"Apa kamu butuh teman untuk bercerita?" tanya Doni yang tahu gimana hancurnya Alzam.


Laki-laki itu buru-buru menggelengkan kepalanya, "Aku hanya ingin berdua dengan Qari. Aku titip anakku. Antarkan Qinara ke rumah barunya." Alzam kembali melangkahkan kakinya dengan lemah, bahkan Naqi, Cyra, Kakek dan Qanita belum tahu kabar duka ini.


Gimana kalau Qanita sadar dan tahu kebenaranya, lalu Latif juga bertanya akan cicitnya apa yang akan Alzam katakan. Laki-laki itu berjalan terus menyusuri lorong, menunju ruangan Qari di mana saat ini Qari pun kondisinya tidak banyak perubahanya.


Doni langsung memalingkan wajahnya dan menatap Deon yang sedang menunduk kenatap jasad bayinya. Ingin Doni saat itu juga menghajar kakak tirinya itu, tetapi suasana duka menahan Doni untuk menghajar Deon. Alzam saja berusaha menahan kemarahanya demi buah hatinya, Doni pun sama menahan kemarahanya demi sang ponakan.


"Apa yang kamu inginkan sudah tercapai semua Deon. Tidak ada yang tersisa. Semuanya terkabulkan." Doni menatap Deon dengan sengit, dan Deon pun menatap Doni dengan iba, pandangan mata adik kakak itu bertemu. Namun buru-buru Deon memutuskan kontak matanya.


"Aku menyesal."


"Sudah terlambat!!!"


...****************...


__ADS_1


__ADS_2