
Kini Sam dan Naqi pun berjalan beriringan bersama, sembari terus mengobrol santai layaknya seorang teman yang sudah lama tidak saling bertemu.
"Ngomong-ngomong kamu mau ke rumah aku untuk apa? Nggak mungkin kan karena alasan kangen doang? Pasti ada udang di balik rempeyek," kelakar Naqi.
Laki-laki itu sudah membiarkan Cyra dan Meta pulang lebih dulu. Apalagi dia juga akan langsung pergi ke kantor dengan pakaian batiknya, biar di katakan cinta Indonesia.
"Tentu selain kangen ngobrol dan berbagi cerita sama kamu sampai malam. Aku juga ingin tanya kabar Qila, Qila gimana kabarnya, aku kangen banget. Jujur aku terima tawaran praktek lagi di Indonesia, tujuanya ingin memperbaiki hubungan dengan Qila. Aku masih sayang sama dia," jawab Sam dengan wajah cerianya.
Degg!! Wajah Naqi langsung berubah pias, mendengar ucapan Sam.
"Kenapa kamu mesti cari Qila, kamu bisa cari wanita lain banyak kok wanita yang baik dan juga wanita yang cantik lebih dari Qila," ucap Naqi dengan nada yang datar.
"Entahlah Qi, semakin aku ingin lepas dari Qila aku juga semakin sulit untuk menghilangkan bayangan Qila dari pikiran aku. Aku nyesal banget karena sudah selingkuh dari dia. Qila itu wanita yang baik dan juga tidak macam-macam. Di saat umur kita yang semakin tua, aku sudah tidak mencari wanita cantik, seksi dan lain sebagainya yang aku cari saat ini adalah wanita yang baik, sabar dan bisa menjaga persaanya dengan aku," balas Sam dengan wajah yang serius.
Glekkk!! Naqi menelan salivanya kasar, ia sadar bahwa dirinya saat ini semakin berada di posisi sulit.
"Kenapa kamu seperti tegang banget gitu Qi, apa ada sesuatu yang terjadi pada Qila? Dia masih tinggal di Jakarta kan?" cecar Sam dengan pandangan yang penuh selidik pada sahabatnya itu.
"Intinya lebih baik kamu lupakan Qila, kedatangan kamu telambat," balas Naqi dengan tatapan yang tajam pada Sam.
__ADS_1
Sam pun semakin tidak tahu akan apa yang Naqi katakan. "Maksud kamu itu apa sih Qi, terlambat, yang seperti apa?" tanya Sam masih berusaha menghibur dirinya.
"Qila sudah menikah, barusan saja," ucap Naqi, setelah memikikan pertimbangan yang berat Naqi pun memutuskan untuk menceritakan apa yang terjadi pada Qila. Meskipun Naqi tahu kalau Sam pasti sangat terkejut dan kaget.
Sam tertawa getir. "Apa yang kamu katakan itu adalah suatu kebenaran, atau kamu diminta oleh Qila untuk mengatakan seperti ini. Aku yakin Qila masih sangat mencintai aku. Lagi pula kita berpisah baru satu tahun Qi, tidak mungkin rasa cintanya dia dalam waktu yang dekat hilang gitu saja," balas Sam mencoba mengingat semua yang telah ia lakuin dengan Qila.
"Mungkin memang Qila masih sayang dan cinta sama kamu, tetapi pada kenyataanya, dia sudah menikah dengan laki-laki lain, dan laki-laki itu yang menginginkan pernikahan itu," jawab Naqi dengan jujur. Itu yang Naqi tahu daei cerita Meta.
"Oh, berati bukan Qila dong yang menginginkan pernikahan ini. Ini namanya pernikahan paksa, tidak baik suatu hubungan di dasari dengan pernikahan paksa. Berati aku tetap masih ada kemungkinan untuk mendapatkan hati Qila," ucap Sam dengan yakin. Laki-laki itu sangat sakin kalau Qila masih sayang dengan dirinya, sehingga masih bisa medapatkan cintanya Qila.
"Untuk urusan hati aku tidak tahu. Lagi pula aku tidak terlalu dekat dengan Qila. Tapi untuk apa kamu memikirkan Qila dan ingin memperjuangkanya sedangkan dia sudah menikah. Hargai suaminya Sam, kamu jangan jadi pembinor." Naqi yang sudah lama berteman dengan Sam pun tahu bagaimana sifat sahabatnya itu.
Naqi pun hanya menggelengkan keplanaya dengan gerakan yang kencang. "Sarap kamu Sam, lalu apa kalau sama kamu Qila sudah pasti bahagia? Belum tentu karena kamu juga bekas laki-laki tidak benar. Lebih baik cari wanita lain jangan merusak hubungan yang sudah sah dan suci." Naqi tentu tahu bagimana perasaanya ketika rumah tangganya ada yang ganggu.
Sam pun terkekeh samar. "Bukanya kamu juga dulu merusak hubungan yang sakral dan suci, dengan memilih wanita lain," kekeh Sam sembari terus meledek Naqi.
"Nah, maka dari itu aku tidak mau kamu berbuat bodoh seperti aku, karena yang ada penyesaan," balas Naqi, meskipun laki-laki itu tahu kalau dirinya hanya akan berbicara percuma.
"Kamu tenang saja aku tidak akan berbuat seperti kamu. Aku akan lebih baik dalam urusan ini." Sam pun menepuk pundak Naqi dengan hangat.
__ADS_1
"Aku duluan yah, ada jadwal operasi soalnya, dan salam untuk Cyra, kapan dia akan hamil, jangan sampai keduluan sama aku," goda Sam pada Naqi yang sudah siap melayangkan protes, tetapi Sam sudah lebih dulu meninggalkan Naqi.
"Sam, kamu jangan aneh-aneh deh," gumam Naqi tetntu sudah tidak di dengar oleh Sam, yang khawatir dengan sifat Sam yang sedikit keras kepala itu. Naqi hanya takut kalau Sam nanti ujungnya akan menyesal, karena telah bermain api.
Sementara Sam pun setelah melihat Naqi pergi meninggalkan rumah sakit tempatnya bekerja laki-laki itu langsung memutar langkahnya kembali, menuju ruangan yang tadi pagi ia mendengar adanya ijab kabul. Sam sangat yakin kalau tadi pagi yang melakukan akad nikah adalah Qila.
"Aku akan memastikanya agar aku tidak mati penasaran," batin Sam dengan menganyunkan kakinya panjang. Tepat di depan pintu ruangan yang tadi pagi diadakan ijab kabul, Sam berdiri dengan kedua matanya tajam menatap ke dalam ruangan itu. Bibirnya pun melengkung sempurna.
"Qila, ternyata benar tebakan aku kamu yang pagi tadi mengadakan ijab kabul, gumam Sam dengan tatapan yang terus tertuju pada Qila yang tengah mengobrol laki-laki yang sudah bisa Sam tebak, bahkan tebakan benar dengan seratus persen bahwa laki-laki itu adalah suami dari Qila.
Tatapan Sam terus tertuju pada laki-laki itu. "Kasihan kamu Qila, kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini," batin Sam, yah Sam bisa memastikan kalau Qila tidak bahagia dari tatapan Qila yang kosong, dan cara berbicara dengan laki-laki yang ada di sampingnya terlihat sangat terpaksa.
"Kenapa Qila, kenapa kamu terima penikahan ini kalau kamu sendiri tidak bahagia. Kenap kamu jerumuskan kebahagiaan kamu sendiri dalam lembah pernikahan yang tidak bahagia ini," batin Sam, dengan kedua mata yang terus menatap tajam pada Qila dan Jec di dalam ruangan sana.
Cukup lama Sam terus mengawasi Qila dan juga suami barunya, sampai Sam sangat yakin kalau Qila tidak bahagia. Laki-laki itu pun meninggalkan ruangan Qila dan mencoba mencari tahu tentang yang terjadi pada Qila.
"Kamu harus bahagia Qila, kalau kamu tidak bahagia maka lebih baik kamu tetap bersama dengan aku. Aku akan membuat kamu bahagia. Tidak akan aku buat kamu menderita seperti dulu." Dalam pikiran Sam, kali ini hanya ada Qila, Qila dan Qila.
Othor lupa dulu Sam itu dokter apa yah? Ah, berhubung di catatan othor nggak ada penjelasan laki-laki itu jadi dokter apa, anggap saja kali ini Sam sudah jadi dokter spesialis bedah, dan merangkap jadi umum, biar bisa segalanya hahaha...
__ADS_1