
Perjalanan yang cukup panjang, tetapi tidak terasa oleh Alzam dan Qari di mana pengantin baru itu sepanjang perjalanan saling bertukar cerita yang menurut mereka menarik. Bahkan Alzam sampai beberapa kali tertawa lepas dengan candaan yang Qari hadiahkan untuk membuat perjalanan mereka semakin berwarna.
"Tepat pukul satu dini hari rombongan yang terdiri dari tiga mobil pun telah sampai di pesisir pulang jawa, yang terkenal dengan keindahan pantainya.
"Sayang kamu langsung istirahat saja pasti kamu cape sekali," ucap Alzam, di mana sepanjang perjalanan Qari sangat antusias dengan ceritanya, dan benar-benar tidak tertidur, hanya untuk menemani suaminya mengemudi.
"Ya udah, aku istirahat dulu sayang nanti kamu nyusul yah," balas Qari, mereka pun beristirahat semua tanpa terkecuali adik kecilnya yang malam ini beristirahat dengan mamih mertua dari kakaknya. Seolah ibu dan anak mereka tidak sekali pun terpisah.
Alzam yang belum bisa tidur pun menunggu di luar kamar di bila yang sengaja di sewa oleh mereka, yang berhadapan langsung dengan indahnya pantai.
"Kamu belum tidur Al?" tanya tuan Latif yang kebetulan belum tidur juga.
Alzam yang tidak mengetahui bahwa ada yang datang menghampirinya pun menoleh kesumber suara. "Belum Kek, masih belum mengantuk," jawab Alzam sembari mengulurkan tangannya untuk sang bos besar sekaligus kakak mertuanya untuk duduk di sampingnya. Dengan di temani secangkir kopi mereka pun mengobrol ringan.
"Kek, sebenarnya ada yang ingin Alzam tanyakan tetapi bingung harus memulainya dari mana," lirih Alzam sembari tangannya menggaruk tengkuk lehernya yang langsung gatal dan tubuhnya menegang sempurna, seolah ia sedang dihadapkan dengan situasi yang semakin sulit.
"Katakanlah Alzam, kalau Kakek bisa bantu pasti Kakek akan bantu dan cari jalan keluarnya," lirih tuan Latif sebagai tertua yang nasihatnya sangat dibutuhkan.
"Ini soal hubungan aku dan Qari. Dulu Kakek pernah bilang kalau kami bisa menikah, tetapi untuk berhubungan aku di minta sabar, tetapi seiring berjalannya waktu dan hubungan kami semakin dekat dan dekat, rasanya untuk bertahan sulit sekali Kek." Alzam semakin menunduk dan rasanya ia juga malu untuk bercerita hal seperti ini pada tuan Latif di mana dia adalah big bossnya.
__ADS_1
"Yah, yah Kakek tahu apa yang kamu alami, dan jujur Kakek salut kalau sampai detik ini kamu masih menahan hasrat itu, di mana kalau laki-laki lain pasti sudah menyerah di tengah jalan, dan mereka akan tetap melakukan hubungan intim tidak perduli akan dosa, toh mereka sudah menikah dan sah, menurut Mazhab Imam Syafi'i. Kamu boleh melakukan hubungan suami istri. Namun apabila kamu masih berusaha untuk menahannya, dan Kakek acungi jempol kamu memang hebat." Tuan Latif terus memuji Alzam.
"Kuat Kek, tapi sering rembes juga, dan ujungnya bersolo karir," balas Alzam, dengan terkekeh, tidak kalah tuan Latif pun terkekeh dengan jawaban Alzam. Malam ini mereka seperti sedang bercerita dengan sahabat terlihat sangat bebas, santai dan hangat.
"Kalau kamu sudah tidak sabar lakukanlah Alzam, Qari halal untuk kamu kok, kamu bisa ikut mereka yang menganut kepercayaan pada Imam Syafi'i, di mana kalian boleh berjimak atau berhubungan intim, dari pada terus-terusan menyiksa kamu," ucap tuan Latif dengan senyum teduh terlihat di wajah keriputnya.
Alzam langsung menatap sang tertua dengan wajah yang berseri bahagia. "Jadi kami boleh melakukan hubungan layaknya suami istri pada umumnya?" tanya Alzam dengan gembira, bahkan harinya terasa langsung berwarna.
"Lakukanlah dari pada kamu menahannya sedangkan kamu sudah memiliki seorang istri, rasanya Kakek justru berdosa apabila menahan kamu untuk melakukan yang seharusnya kamu lakukan untuk memuaskan hasrat kamu. Karena tidak bisa di pungkiri kebutuhan s*k adalah kebutuhan yang menjadi nomor satu, ketika sudah berumah tangga," balas tuan Latif dengan bijak.
"Alhamdulillah terima kasih Kek." Sebenarnya bukan hanya alasan s*k semata tetapi Alzam juga ada rasa takut kalau Qari dinikmati kembali oleh laki-laki yang pernah menghamilinya. Rasanya terlalu tidak ikhlas apabila Alzam menahan dengan sangat kuat demi terhindar dari dosa, tetapi ada laki-laki lain yang tidak ada ikatan apapun justru dengan sengaja menikmati tubuh istrinya.
"Udah sana kalau kamu mau menikmati malam yang panjang, mumpung masih ada waktu, dan suasana juga mendukung. Kakek juga cape hampir semalaman menjalani perjalanan darat, apalagi fisik udah tua dan stamina makin menurun jadi melakukan perjalanan segini terasa cape di badan." Tuan Latif pun berdiri dan akan kembali ke kamarnya.
"Baiklah selama istirahat Kek, dan terima kasih atas izinya untuk patroli," lirih Alzam, dan hal itu masih terdengar oleh tuan Latif.
"Iya nikmatilah kebersamaan kalian, tapi ingat kamu melakukanya harus hati-hati di dalam sana ada penunggunya jadi jangan terlalu keras ngadonya," pesan Latif yang langsung di iyakan oleh Alzam.
Mungkin kalau ini bukan suasana malam, dan sebagian orang di vila sudah pada tidur. Alzam ingin sekali teriak dengan sangat kencang dan mengabarkan pada dunia bahwa saat ini ia sedang bahagia luar biasa. Dengan langkah berhati-hati dan mengendap-endap Alzam masuk ke kamar yang pencahayaannya masih remang-remang.
__ADS_1
Tubuh Qari yang tidur dengan pulas di bawah selimut tebalnya menambah rasa haus Alzam.
Glekkk... laki-laki itu menelan salivanya dengan kasar. 'Kenapa tubuhku jadi gemetar begini yah, apa Qari mau melakukan hubungan dengan aku,' batin Alzam kini justru laki-laki itu seperti sedang kebingungan dan ragu dengan apa yang akan dia lakukan. Alzam juga seperti tidak tega kalau harus membangunkan Qari.
'Kasihan sekali Qari kecapean, apa apu tahan dulu buat besok, tetapi senjatanya sudah tidak bisa di tawar lagi, atau di bohongi. Seolah sang adik sudah tahu kalau dia akan buka puasa malam ini.
Dengan ragu akhirnya Alzam pun mendekat keranjang yang sangat empuk dengan selimut tebal dan ditambah udara yang sejuk memang sangat nyaman untuk menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut seperti Qari. Alzam merebahkan tubuhnya ter-lentang dengan menatap langit-langit kamar. Beberapa kali matanya mencuri pandang pada wanita yang saat ini sedang berada di sampingnya. Semakin ditahan rasanya semakin menyakitkan itu sang saat ini Alzam rasakan tetapi laki-laki itu juga tidak tega apabila akan melanjutkan ketahap yang selanjutnya, tidak tega untuk membangunkan Qari. Di mana istrinya sedang pulas tertidur, butuh waktu lama Alzam untuk mengambil keputusanya.
"Tidak apa-apa aku mengganggu tidur Qari, toh besok ia juga bisa bangun lebih cepat lagi," lirih Alzam, tangannya mulai menyusuri setiap jengkal tubuh Qari, dan berakhir di bukit yang sangat menggoda mata Alzam sejak satu bulan lebih pernikahan mereka.
Qari yang sedang tertidur merasakan hal yang selama ini ditakutinya, bukan takut kalau Alzam yang melakukanya tetapi Deon yang akan melakukanya.
Plakkkk.... Auwwww... Qari dengan segala kekuatannya, memukul tangan Alzam dan mendorongnya dengan kuat.
"Kamu jangan macam-macam Deon atau kamu ingin aku bu-nuh," ucap Qari dengan suara yang bergetar, dan nafasnya tersengal.
Deg...!! Jantung Alzam seolah berhenti.
"Deon."
__ADS_1
...****************...