Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 137


__ADS_3

"Sayang, kamu pulang lebih dulu yah. Aku ada meeting dengan kepala bagian lain, untuk persiapan peluncuran produk baru perusahaan kita."


Alzam yang sudah bersiap pulang dan tiba-tiba mendapat telpon dari Naqi agar meeting lebih dulu. Mau tidak mau harus mengikuti meeting yang penting itu. Wajah Qari langsung berubah.


"Apa tidak bisa diganti? Kamu lagi sakit, wajah kamu pasti masih sakit, dan seharusnya kamu istirahat, bukan malah lembur," protes Qari. Sebenarnya ia tahu, ketika akan mengeluarkan produk-produk baru memang sangat sibuk.


"Sayang kamu tahu aku di sini jabatanya cukup tinggi kalau aku mangkir dari meeting yang penting seperti ini, bagaimana kata mereka, dan aku pun nanti dicap tidak profesional. Aku juga tidak mau merepotkan Abang, pasti dia juga cape, bahkan pulang  pun beberapa hari ini Abang Naqi selalu di atas jam delapan malam, itu karena memang sedang banyak kerjaan. Kamu mengertiin aku yah." Alzam dengan nada bicara yang lembut meminta pengertian dari istrinya.


Qari pun akhirnya membiarkan Alzam lembur dan dia yang sudah lelah pun memilih pulang lebih dulu. "Baiklah, kalau begitu aku pulang lebih dulu yah," lirih Qari dan Alzam pun mengangguk dengan lembut dan mengantarkan Qari hingga naik mobil dan sampai memastikan semuanya aman.


"Mang bawa mobilnya hati-hati yah," pesan Alzam pada sopir pribadinya. Entah mengapa Alzam sendiri merasa seperti berat melepas Qari pulang.


"Kalau ada apa-apa kabarin yah, dan jangan kemana-mana istirahat di rumah. Aku tidak akan lama, begitu meeting selesai aku akan langsung pulang," lirih Alzam, dan lagi-lagi hanya di balas anggukan pasrah oleh Qari.


Wanita itu memejamkan matanya. dan tangannya meraba dadanya yang tiba-tiba berdetak lebih kencang. "Kenapa perasaanku tidak enak begini. Apa akan terjadi sesuatu dengan Alzam?" gumam Qari perasaanya mulai tidak tenang. Terutama ketika Deon sudah mulai mengganggu dirinya.


Kedua matanya memejam dengan sempurna. "Apa aku juga harus menemui Deon?" Bertanya pada batinya sendiri.


"Tidak-tidak, kalau aku menemui dia, yang ada dia semakin besar kepala, karena cara-cara kotornya berhasil. Aku harus bersikap cuek dan masa bodo, tidak perduli dengan apa yang terjadi dengan laki-laki itu. Kini saatnya Qari fokus dengan keluarganya, semakin Deon diladenin akan semakin melonjak, dan kesenangan." Qari bergumam seorang diri.


Tidak menunggu lama kini Qari pun sampai di rumah mereka, tetapi rasanya sangat berbeda, di mana biasanya Qari akan disambut oleh Tantri, kini pun tidak ada celoteh bocah itu. Hari-hari biasanya Tantri akan langsung menghampirinya ketika mendengar mobil mereka pulang.


"Bi, Tantri kemana? Tumben tidak ada suaranya," tanya Qari pada asisten rumah tangga yang sedang sibuk masak untuk makan malam mereka.


"Bibi juga bingung Non, Neng Tantri sejak pulang sekolah sudah masuk kamar, sampai sekarang tidak keluar-keluar," balas asisten rumah tangga mereka.


Qari pun mengernyitkan dahinya, hingga alisnya hampir menyatu, dalam otaknya banyak kemungkinan, dari mulai cemas kalau Tantri sakit, atau justru Qari yang mungkin saja sedang belajar karena akan ulangan, tetapi buru-buru ditepis oleh Qari, biasanya kalau ulangan pun Tantri masih keluar kamar.


"Bibi udah coba tanya Tantri kenapa tidak keluar kamar. Sedang sakit atau memang ada sesuatu yang membuta dia marah dan tidak ke luar kamar?" tanya Qari lagi.

__ADS_1


"Sudah Non, kata Neng  Qari lagi malas ajah, dan sepertinya juga kalau sakit tidak, Bibi lihat sehat-sehat saja."


Qari pun langsung kembali mengayunkan kakinya, menapaki satu per satu anak tangga hingga sampai di depan pintu kamar adik iparnya. Dengan perlahan Qari mencoba membuka pintu kamar Tantri, tetapi tidak biasanya kamar bocah itu dikunci.


"Tumben banget, pintunya di kunci," batin Qari dengan pelan wanita dengan perut buncit mengetok pintu kamar Tantri.


Tokk... Tokkk... cukup lama Qari mengetuk pintu Tantri, tetapi tidak juga mendapatkan jawaban dari balik pintu berwarna putih itu.


"Tantri... apa kamu baik-baik saja di dalam sana?" tanya Qari dengan perasaan sudah tidak tenang. Daun telinganya menempel di daun pintu, sepi.


"Tantri... Sayang, kamu jangan bikin Kakak cemas dong. Ayo kamu jawab di dalam sana kamu sedang apa? Setidaknya beri tahu Kakak kalau Kamu baik-baik saja." Qari tidak menyerah dia mencoba memanggil Qari lagi.


Kembali wanita itu menempelkan daun telinganya, betapa kagetnya Qari ketika mendeng suara tangisan dari balik daun pintu.


"Tantri... kamu kenapa? Kenapa kamu menangis? Tolong buka pintunya dan biarkan kakak masuk. Apa kamu sakit? Apa  terjadi sesuatu pada kamu?" Suara Qari semakin bergetar, pikiranya sudah buruk dan banyak kecemasan lainnya.


"Tantri apa yang kamu alami saat ini ada hubunganya dengan Kakak? Ayo lah kalau ada hubunganya dengan kakak, kamu buka pintunya dan kita bicarakan secara baik-baik. Kakak tahu kamu sudah bisa diajak bicara baik-baik, jangan seperti ini, kakak cemas," lirih Qari, wanita itu sangat yakin kalau adik iparnya bisa mendengar ucapannya.


Kali ini Qari yakin, kalau Tantri memang sedang marah dengan dirinya, tidak mungkin kalau Tantri baik-baik saja pintu kamarnya tidak dikunci, dan gadis kecil itu juga tidak menjawab setiap pertanyaan yang Qari lontarkan.


"Deon? Apa mungkin laki-laki itu benar-benar meracuni pikiran Tantri," batin Qari, wajahnya langsung memerah membayangkan kalau Deon memang benar-benar melakukan ancamanya.


Qari sangat yakin, kalau Tantri marah padanya satu orang yang wajib ia curigai adalah Deon. Hanya dia yang bermasalah dengan Qari, dan juga wanita itu mengingat ucapan Deon tempo hari. Gigi-ginya saling beradu membayangkan kalau Deon sudah meracuni pikiran Tantri.


Brakkkk... pintu dibuka dengan kasar. Tantri dengan wajah sembab dan sebuah koper yang ada di tangan sebelah kananya. Untuk beberapa saat Qari menatap Tantri dengan bingung, sementara Tantri menatap Qari dengan tatapan yang sengit.


"Sayang kamu mau ke mana? Kamu sebenarnya ada apa sih, kenapa jadi begini?" cecar Qari, tanganya berusaha menahan adik iparnya agar tidak ke luar dari kamarnya.


Tantri menyunggingkan senyum sinisnya. "Kenapa Anda masih bertanya pada saya, kenapa dengan saya sebenarnya, bukanya  yang seharusnya bertanya itu saya. Apa misi Anda sudah berhasil Nona? Semua yang Anda inginkan sudah tercapai. Apa yang Anda lakukan pada Abang Alzam hingga dia mau menikahi Anda?" tanya Tantri dengan suara serak, karena terlalu lama menangis dan juga tatapan yang tajam.

__ADS_1


Qari memegangi dadanya yang tiba-tiba berdenyut dengan kuat, sesak. "Apa yang kamu katakan Tantri, kenapa kamu bisa berbicara seperti itu, kami menikah karena kami saling mencintai."


Kembali Tantri tertawa dengan nada yang mengejek."Yah, maling mana ada yang mau mengaku, dan apabila maling mengaku, polisi tidak ada kejaan. Anda hanya memanfaatkan Abang saya untuk menutupi aib-aib Anda bukan? Anak itu? Dia bukan anak Abang Al, dan Anda memanfaakan abangku untuk menutupi semua aib Anda. Anda jahat Nona, tega menjebak Abang. Padahal Abang orang baik, tapi Anda tega menjebaknya hingga terikat penikahan sandiwara ini."


Tantri kembari terisak, dan Qari pun merasakan semakin sesak, marah dan juga bingung harus berkata apa sedangkan dia mengatakan yang sebenarnya pun Tantri tidak akan percaya.


"Tantri tolong percaya pada Kakak, apa yang kamu dengar itu tidak benar," lirih Qari tanganya mau meraih tangan adik iparnya, tetapi buru-buru Tantri menepisnya.


"Tidak benar? Yang mana yang tidak benar? Bukanya Anda sendiri yang mengakui kalau anak itu bukan anak Abang Al. Saya sudah tahu kebenaranya semua Nona Qari yang terhormat. Rekaman itu saya sudah mendengarnya. Saya kecewa berat, saya kecewa pada Anda, pada keluarga besar Anda. Ternyata kebaikan Anda dan keluarga Anda tidaklah lebih dari sebuah tanda terima kasih karena Abang yang telah menyelmatkan Anda dari aib ini."


Bahkan Tantri tidak memberikan kesempatan untuk Qari menjelaskannya. Air mata Qari sudah luluh, tidak berbeda dengan Tantri yang kembali menangis, kecewa dengan wanita yang berperut buncit itu.


"Apa salah Abang saya Nona, kenapa Anda tega memanfaatkan kebaikan Abang, dan menjebaknya dalam pernikahan ini. Apa yang Anda ancamkan pada Abang?" Tantri menatap Qari dengan tajam.


"Tantri demi Tuhan, aku tidak pernah melakukan itu. Alzam yang datang dan dia yang mau menerimaku dengan segala kekurangan dan diriku yang sudah kotor," balas Qari dengan menangis tersedu.


"Lakukanlah pembelaan terus, selagi masih diberikan kesempatan membela diri, tapi ingat saya bukan anak kecil lagi yang dengan mudah bisa kalian bohongi," balas Tantri. Tanganya menarik koper, dan berjalan meninggalkan Qari


"Tantri kamu mau ke mana? Tunggu Kakak tidak seburuk apa yang laki-laki itu katakan." Qari mencoba mengejar Tantri yang berjalan meninggalkan rumah ini.


Sedetik pun Tantri tidak mau memberikan waktu untuk Qari menjelaskanya. Tantri menganggap apa yang Qari lakukan adalah sebuah pembelaan.


"Tantri Tunggu!!"


Namun bocah itu justru semakin berjalan dengan cepat.


"Tantri Kakak bisa jelaskan..."


Bruukkk...

__ADS_1


"Auwww.... sakit!!"


#Hayoh, apa yang terjadi? Qari atau Tantri yang kesakitan?


__ADS_2