Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 72


__ADS_3

Satu sendok nasi goreng yang Qari buat sendiri, dan dalam hatinya dia pun sudah sangat menyadari kalau rasanya pasti akan hancur, mungkin garam yang kebanyakan, kecap atau bahkan cabai yang terlalu banyak. Namun, justru ia salah, rasanya sangat enak dan kematangannya pun sangat pas.


"Sayang, apa ini tadi nasi goreng yang aku masak sendiri?" tanya Qari dengan wajah yang bingung, dan sangat menggemaskan.


Alzam terkekeh dengan sempurna ketika mendengar pertanyaan Qari yang bagi dia sangat aneh itu, bagaimana tidak aneh. Jelas ia yang memasaknya, tetapi dia juga yang meragukannya. Qari memang ajaib.


"Sayang, apa kamu tadi tidak mencicipinya?" tanya Alzam, sisa tawa masih jelas terlihat di dalam wajahnya.


"Aku mencicipinya, tetapi aku tidak tahu perbedaannya kalau rasanya kurang sesuatu, dan aku rasa tadi sudah pas masakannya sama dengan dulu aku masak, tetapi ternyata pas di makan lagi rasanya air laut, asih sekali sampai-sampai Tantri masak ulang," jawab Qari sembari pikirnya kembali mengingat ke kejadian masa itu.


"Tidak Sayang, masakan kamu kali ini benar-benar enak, dan aku tidak sabar ingin menghabiskannya. Tentu aku juga tidak sabar untuk  menikmati masakan kamu yang lainya." Alzam terus memuji Qari yang makin hari makin pandai menyesuaikan dengan dirinya.


"Tunggu-tunggu, aku akan cari resep itu dan akan aku tulis di buku, lalu aku akan gunakan ketika  masak lagi nanti." Qari langsung meletakan piring yang berisi nasi goreng di atas meja samping suaminya, dan dia sendiri langsung kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengambil ponsel untuk mencari kembali resep yang ia pakai. Lalu Qari mengunduhnya dan menyimpannya di ponsel sebagai catatan penting.


Mereka pun kembali melanjutkan sarapan pagi dengan masakan Qari yang bisa di bilang kali ini sangat sempurna. Namun dalam hati Qari ia juga bertanya-tanya apakan nanti apabila ia mengulang masakannya akan sama halnya dengan yang di masak kali ini.


Makan satu piring berdua dengan saling bergantian menyuapi, mungkin kalau Deon saat ini berhasil melihatnya secara langsung, bisa-bisa dia akan langsung, marah-marah dan menyalahkan siapa pun  yang berada di sampingnya.

__ADS_1


"Sayang, kamu nanti kalau pengin makan sesuatu boleh request sama aku yah. Aku akan belajar lagi dan mungkin rasanya akan sama dengan hari ini," ujar Qari, hatinya berbunga-bunga sangat bahagia sekali ketika ia berhasil memasak nasi goreng dengan sangat sempurna, bahkan ia seolah lupa capeknya memasak.


Wanita itu merasa kalau ia sangat bersyukur, setiap saat selalu diajarkan sesuatu yang baru oleh Alzam, hingga kini ia sudah banyak perubahannya. Dulu Qari menjadi wanita yang malas dan juga manja, tetapi saat ini ia menjadi wanita yang jauh lebih baik dan tentunya tidak semanja dulu. Meskipun kalau dengan Alzam ia sangat manja. Namun, apabila dengan Tantri bisa menyesuaikan perannya.


'Oh jadi seperti ini rasanya menjadi seorang istri yang masakannya dihargai oleh suaminya,' batin Qari, hal yang sepele dan mungkin bahkan Alzam melakukanya dengan biasa saja, tetapi tidak di hati Qari ia sudah sangat bahagia dengan apa yang Alzam lakukan memuji hasil masakannya. Sehingga ia lupa capek dan juga jadi tambah semangat untuk belajar lagi.


******


Dirumah sakit....


"Jec, aku masih sangat lapar. Coba kamu pilihkan olahan yang menurut kamu enak dan aku akan memakannya, mungkin dengan masakan pilihan dari kamu aku justru akan bisa memakannya seperti tadi," titah Deon, dan hal itu berhasil membuat Jec terserang keterkejutan yang teramat hebat.


Jec kali ini tidak langsung meng iyakan apa yang bosnya katakan, tetapi tangannya justru sibuk menggaruk-garuk tengkuk lehernya yang tiba-tiba diserang dengan rasa gatal. Jec merasa sejak Deon dirawat di rumah sakit laki-laki itu mengalami banyak perubahan yang sangat jauh berbeda.


"Jec, apa perintah aku masih kurang jelas?" tanya Deon dengan suara yang semakin berat. Cacing diperutnya semakin berdemo, tetapi Jec justru masih mematung tidak segera beranjak dari tempatnya.


"Oh, tidak Tuan. Perintah Anda sudah sangat jelas. Apa tidak sebaiknya Anda menentukan makanan apa yang Anda inginkan, biar saya yang akan membelikannya untuk Anda. Saya takut kalau saya membeli makan sesuai apa yang saya inginkan malah Anda tidak menyukainya," saran Jec, laki-laki itu tidak mau kalau nanti malah Deon kembali memarahinya dengan pilihan makanan yang salah.

__ADS_1


"Jec, ayolah aku sudah sangat lapar," lirih Deon, dan Jec pun akhirnya tidak banyak berprotes lagi, karena melihat wajah Deon yang sangat mengiba. Sepanjang perjalanan Deon mencari makanan yang dia inginkan, pikirannya masih kembali terlintas pada wajah-wajah bosnya akhir-akhir ini di mana Deon kadang sifatnya baik sekali, tetapi justru kadang sangat menyeramkan seperti monster.


Kira-kira aku pengin makanan apa yah?' batin Deon, sekaligus mengetes Deon apakah ia benar-benar mau makan-makanan yang di pilih sesuai selera makan Deon.  Dalam pikiran Jec terlintas adalah nasi hangat dan juga sambel diatasnya lalu sayur ayem dan ikan asin. Bahkan laki-laki itu hampir meneteskan salivanya begitu membayangkan masakan itu.


'Tapi apa Bos mau makan masakan seperti itu, apa lagi ada sayur ayem dan ikan asin?' Deon kembali menepis pikirannya yang memikirkan makanan seperti itu, nanti yang ada Deon ngamuk. Jec kembali memikirkan masakan lain yang sesuai dengan selera Deon, tetapi otaknya seperti sudah kejebak dengan pikirannya itu sehingga ikan asin dan sayur ayam menjadi makanan yang sangat Jec inginkan. Sehingga ia pun mengambil keputusan itu. Namun, di lain makanan yang ia inginkan tadi, Jec mengambil menu pilihan alternatif lain, yaitu ada cumi bakar sambal ijo, ayam gulai, dan juga aneka masakan ikan yang biasanya menjadi makanan yang disukai oleh Deon.


Sepanjang jalan Jec membayangkan makan dengan menu sayur ayam dan sambel lalu ikan asin. 'Biar kalau Bos tidak mau makan yang aku pilihkan kan ada masakan yang lain yang di sukai oleh bos,' batin Jec hatinya tenang, karena setidaknya Deon tidak akan marah, kan ada alternatif pilihan makanan lainnya.


Kali ini Jec tidak membutuhkan waktu lama untuk mencari makanan yang diinginkan oleh Deon. Hanya perlu waktu setengah jam ia sudah kembali dengan beberapa bok makanan yang siap untuk di berikan pada Deon.


"Wah Jec, kamu cepat sekali aku sudah tidak sabar ingin makan menu yang ingin kamu makan," ujar Deon wajahnya yang masih tertutup masker ia buka dan mengendus aroma makanan yang menurut dia, malah wangi dan menggugah selera sampai bunyi-bunyi di perutnya semakin kencang, menandakan kalau laki-laki itu segera ingin menikmati makanan yang ada di hadapannya.


Jec memang pertama kali membuka sayur asam dan ikan asin makanan yang ia mau dan menyembunyikan makanan cadangan yang akan ia buka, kalau Deon tidak mau memakan menu pilihanya.


Jec dengan cekatan menyiapkan sarapan yang sudah telat untuk bosnya. "Ini masakan apa Jec, kok wanginya sangat enak, dan membuat aku ingin segera mencicipinya," tanya Deon, wajah yang sangat penasaran dan juga tidak ada marah membuat Jec lagi-lagi menggaruk rambutnya yang mulai gatal.


'ini Bos yang berubah kelasnya atau aku yang sedang bermimpi,' batin Deon dengan pandangan yang kosong menatap Deon menikmati masakan itu.

__ADS_1


__ADS_2