
Naqi berjalan dengan perasaan yang sangat senang, bahkan langkah kaki terasa sangat ringan. Setelah dirinya menemukan bayi pengganti Qinara.
"Dok, Anda pastikan kalau perawat, maupun siapa saja yang tahu akan kenyataan Qinar telah meninggal tolong rahasiakan yah," ucap Naqi sekali lagi memohon pada dokter Herman. Bahkan Nasi entah sudah memohon beberapa kali agar dokter Herman merahasiakan kebenaran atas Qinar.
"Anda tenang saja, semuanya bisa di atur."
Naqi sudah tidak sabar ingin menunjukan bayi itu pada Alzam yang saat ini sedang berdiri di samping jendela, menatap Qari yang sedang berjuang untuk kesembuhanny di dalam sana.
"Al..." Alzam yang sedang melamun pun langsung memalingkan pandanganya pada Naqi.
"Ini anak kalian." Naqi menujukan bayi mungil yang saat ini sedang berada di gendonganya. Alzam masih bingung dengan apa yang di maksud oleh kakak iparnya.
"Ini adalah Kinara, pengganti Qinar." Naqi memberikan bayi mungil itu pada Alzam. Dan laki-laki itu pun menerima bayi mungil yang ada dalam gendongan kakak iparnya. Alzam menggendongnya. Ciuman pertama Alzam berikan sebagai salam pertemuan.
"Hai Nara, kenalin saya adalah calon papah kamu, namanya papah Al, dan di dalam sana adalah bunda kamu, namanya bunda Qari. Nara, terima kasih sudah hadir dalam hidup kami, semoga kamu jadi anak yang tumbuh dengan kasih dan sayang, dan menyayangi kami. Nara semoga dengan hadirnya kamu di tengah-tengah keluarga kami, kamu adalah jawaban dari doa dan ini adalah semua solusi dari masalah kami." Alzam terus melangitkan doa kebaikan untuk kehadiran Kinara. Yah, Kinara kini di panggil Nara agar membedakan dengan Qinara yang asli yang saat ini sudah di surganya Allah.
Setela puas berkenalan dengan Nara kini Alzam memberikanya lagi pada Naqi. "Bang, terima kasih atas solusinya dan saya sangat senang dengan adanya Nara, perasaan saya semakin tenang."
__ADS_1
"Sama-sama, kamu jangan terlalu cemas, Qari hanya sedang istirahat, barusan dokter Herman berkata bahwa Qari pasti akan sehat seperti sedia kala. Kamu istirahatlah sebentar, nanti akan ada suster yang menjaga Qari. Aku tidak bisa membantu kamu pasalnya Mamih juga tidak ada yang menjaganya."
"Baik Bang, terima kasih nanti saya akan istirahat," balas Alzam, meskipun ia sendiri tidak merasakan mengantuk, dan tidak yakin kalau dirinya bisa beristirahat kalau tahu Qari belum sadar.
Naqi kembali lagi membawa Nara ke ruang bayi, sejak tadi bayi mungil itu menggerak-gerakan bibirnya mungkin haus. "Nara, kamu di sini sama suster dulu yah, om tinggal pergi dulu masih banyak urusan yang harus om lakukan."
Naqi memberikan Nara pada suster dan dia sendiri akan kembali ke kamar Qanita. "Sus, saya titip Nara yah kalau ada apa-apa kalian langsung hubungi saya, dan pastikan berikan pelayanan yang tebaik untuk ponakan saya."
Nanti Naqi langsung tenang. Esok hari ia akan mengunjungi Deon untuk menutup mulut atas kematian Qinar. Sekaligus mengancam Deon agar tidak berbuat yang macam-macam lagi. Mungkin selama ini Naqi diam saja, oleh sebab itu Deon berulah terus, tetapi mulai detik ini urusan Qari semuanya akan jadi urusan Naqi juga. Berani Deon bermain-main maka Naqi tidak akan memberikan ampun pada dirinya.
Di tempat yang berbeda, tepatnya di pinggiran kota Jakarta, di sebuah rumah sakit swasta yang jauh dari kata mewah, itu bahkan hanya klinik kecil yang jauh dari kata lengkap fasilitas
"Maaf Pak, sebelumnya kami sudah tidak bisa memberikan perawatan gratis lagi untuk Anda, itu semua karena klinik kami juga biaya operasionalnya membengkat, dan Anda tidak bisa membayarkan, bagaiamana kami bisa menutupi biaya yang membengkak itu." Dokter yang menangani pria paruh baya yang sudah satu minggu di rawat di rumah sakit itu karena, kangker prostat.
# Prostat merupakan kelenjar dalam organ reproduksi pria yang mengelilingi uretra atau saluran kemih. Fungsi kelenjar prostat yaitu untuk memproduksi cairan semen yang keluar bersama sel ****** serta membawa urine keluar dari kandung kemih menuju uretra. Jadi, kanker prostat adalah pertumbuhan sel abnormal pada kelenjar prostat yang membuat salah satu organ reproduksi pria tersebut tidak dapat berfungsi secara optimal. Kanker prostat adalah jenis kanker yang cukup sering dialami oleh pria lanjut usia. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan kanker prostat bisa terjadi pada pria yang berusia lebih muda.#
"Dok, tolong berikan bantuan pada saya, setidaknya sampai saya mendapatkan biaya pengobatan gratis." Laki-laki yang saat ini bertubuh kurus pun mengiba agar ada dokter atau perawat ada yang iba, dan mencarikan cara agar dirinya mendapatkan biaya gratis. Sakit kanker yang sudah dia diagnosa selama empat bulan lalu berhasil membuat hidup dia jauh dari yang dibayangkanya sebelumnya. Harta-hartanya habis selain untuk biaya hidup juga untuk biaya pengobatan yang tidak murah.
__ADS_1
Bahkan laki-laki paruh baya itu selama beberapa bulan biaya menjalani pengobatan mahal tetapi tidak dengan satu minggu terakhir ia berobat ke klinik yang biasa saja, karena uang-uangnya sudah habis.
"Maaf Pak, untuk urusan itu bukan ranah kami. Bapak bisa minta pada RT atau pengurus RW tempat Bapak tinggal, agar mendapatkan kartu bantuan untuk mendapatkan yang bisa digunakan untuk pengobatan gratis."
Yah, laki-laki itu adalah Luson. Pria yang sudah terusir dari keluarganya. Pria yang memilih hidup dengan kebebasanya, dan mengabaikan keluarganya, demi kesenanganya. Namun,saat ini karma perlahan sedang menghampirinya.
Setelah melewati perdebatan yang panjang, kini Luson terpaksa pulang ke kontrakanya yang bahkan kali ini kontrakanya sudah bukan rumah mewah seperti beberapa bulan lalu hanya kontrakan kecil, bahkan barang-barang yang berharga sudah Luson jual untuk biaya pengobatanya. Kini tubuhnya pun tidak seperti dulu yang kekar dan atletis.
Luson sudah menjelma jadi laki-laki yang kurus dengan kulit berkeriput dan juga, tidak memiliki apa-apa, jangankan untuk bekerja, jalan dari klinik hingga kontrakanya saja tubuh Luson serasa mau jatuh pingsan.
"Apa aku harus pulang ke rumah Papah, setidaknya aku bisa melanjutkan pengobatanku, atau malah aku bisa meminta bantuan pada Naqi dan Qari," batin Luson, tetapi laki-laki itu dari dulu tidak pernah mau berbicara dengan Qanita, entah mengapa sejak Qari lahir, wanita itu seolah menjadi wanita yang yang paling bersalah, sehingga sejak kelahiran Qari, sikap Luson semakin berubah, tidak pernah menyentuhnya dan juga tidak pernah mau tahu bagaimana dengan keadaan Qanita dan putra serta putrinya.
Namun, sedetik kemudian Luson menepis pikiranya. "Tidak, jangan kembali ke rumah Papih pasti aku akan semakin bingung," batin Luson.
Dalam ruangan yang tidak terlalu luas. Luson terus berikir kira-kira siapa yang akan ia mintai bantuan. "Ah, bukanya aku masih punya Rania dan Adam, pasti dia akan mau membantu aku." Luson pun mengebangkan senyumnya.
Setidaknya nasib aku tidak terlalu memprihatinkan. Kini Luson bersiap akan menemani putrinya yang lain.
__ADS_1