Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam Bab 143


__ADS_3

Deon cukup terkejut dengan apa yang Doni katakan. "Loe pasti bohong, tidak mungkin Qari dan anakku dalam keadaan keritis, aku hanya berbicara sesuai keadaan, loe jangan bercanda Doni!"


"Untuk apa gue bercanda, untungnya ap? Loe bisa lihat sediri, ngapain cuma bertanya, lihat di Rumah Bersalin Kasih Bunda. Apakah di sana ada Qari yang sedang berjuang antara hidup dan mati, dan buah hatinya yang kondisinya bahkan hanya  tiga per empat untuk hidup. Semuanya karena loe Deon, Loe orang paling jahat di dunia ini." Doni langsung menepis tangan Cucu yang melingkar di pinggangnya dan kembali meninggalkan rumah Deon.


Tubuh Deon pun seketika lemas dia tidak menyangka apa yang dia lakukan akan berujung kekacauan sepertin ini.


Jec dan Cucu pun saling tatap dan saling berdiam, marah, kecewa dan kasihan menjadi satu ketika melihat Deon menangis dalam penyesalanya.


"Jec, antar aku ke rumah bersalin yang Doni maksud, aku ingin melihat anakku, dan juga melihat Qari," ujar Deon dengan suara yang lirin. Jec pun menyikut pinggang Cucu agar wanita itu pun ikut.


Baru saja Cucu merasakan marah, dan jengkel dengan tingkah Deon yang kekanakan, tetapi sekarang Cucu merasakan kasihan dengan Deon. Cucu melihat Deon seperti orang yang berbeda dengan tadi.


'Kalau lihat kayak gini kasihan juga, tapi kalau lihat tingkahnya yang tadi sangat menyebalkan sekali,' batin Cucu.


Jec dan Deon serta Cucu pun tidak menunggu lama menyusul Doni. Sementara di rumah mewah tuan Latif, Naqi yang baru saja menerima telepon dari Alzam pun cukup terkejut dengan apa yang Alzam katakan.


"Qari, apa yang terjadi dengan kamu, Qari? Bukanya tadi siang kamu masih baik-baik saja, bahkan kamu masih marah-marah karena menganggap kalau abang mengerjai suami kamu. Bilang sama abang kalau kamu hanya bercanda, ini semua hanya prank," gumam Naqi, tanpa terasa air matanya jatuh, takut yang teramat, kalau Qari akan kenapa-napa.


"Mas kamu kenapa?" tanya Cyra yang melihat Naqi justru menangis, tidak biasanya suaminya menangis seperti itu. Naqi sendiri baru sadar dari lamunanya, dan menatap Cyra dengan sedih.


"Ra, Qari... Qari koma, dan anaknya kondisinya sangat buruk," ucap Naqi, dengan wajahnya yang serius, membuat Cyra juga langsung diserang kepanikan.


"Ka... kamu tidak bohong kan Mas? Ini bukan lelucon kan? Sekarang ada di mana Qari?" Cyra langsung mencecar Naqi dengan segudang pertanyaan, tetapi setelahnya wanita itu pun langsung duduk di atas ranjang, dan terisak membayangkan adik iparnya yang paling dekat dengan dirinya, takut kalau-kalau terjadi sesuatu.


"Qari pasti kuat. Ayok Mas kita temui Qari sekarang!" Cyra bangkit dan beranjak untuk memberitahukan kabar ini pada mamih mertuanya, dan tentunya sang kakek, di mana mereka sudah siap untuk menyantap hidangan makan malam.


"Kek, Mih, kita harus ke rumah sakit sekarang, Qari dan bayinya kritis." Cyra tanpa banyak berbasa basi langsung mengabarkan informasi penting ini. Naqi pun di belakang Cyra langsung membenarkan apa yang Cyra ucapkan, ia menganggukan kepalanya dengan kuat.


Qanita tentu terkejut, begitu pun dengan Latif tanpa bertanya mereka berjalan mengikuti Cyra dan Naqi, saking banyaknya pertanyaan dan juga masih tidak percaya membuat mereka diam saja hanya berjalan mengikuti anak dan menantunya.


"Bang, apa yang kalian katakan itu bohong kan?" tanya Qanita begitu mereka sudah masuk ke dalam mobil.


"Cyra dan Mas Naqi juga inginya ini adalah bohong Mam, tetapi Alzam yang telpon dan tidak mungkin Alzam telpon dalam keadaan menangis apalagi ini menyangkut nyawa, kalau sampai berbohong sangat tega Alzam."


Cyra pun masih berdoa dalam hatinya kalau ini adaah sebuah mimpi.

__ADS_1


Tanpa menunggu waktu lama, kini mobil Naqi sudah sampai di rumah bersalin yang Alzam katakan, rombongan itu langsung masuk ke dalam rumah bersalin dan setelah bertanya mereka pun menuju runagan ICU di mana Qari masih di rawat.  Entah doa apa saja yang sudah mereka rapalkan tetapi tidak sedikit pun membuat mereka tenang. Terlebih ketika melihat Alzam, yang sangat kacau sedang berdiri di samping jendela kaca sembari menatap kosong ke dalam sana.


"Al..." Alzam pun tersentak dari lamunanya ketika ada suara yang memanggil namanya. Dapat mereka bisa lihat sendiri bahwa Alzam memang sangat sedih. Berati kabar yang disampaikan adalah benar. Qari dan bayinya sedang berjuang melawan maut.


"Qari ada di dalam, dan  belum melewati masa kritisnya." Alzam menunjuk kaca jendela yang kecil dengan suara yang parau dan sisa air mata yang mengering.


"Qari..." Siapa yang menyangka kalau anak yang ceria, kuat ramai dan pemberani saat ini sedang terbaring tidak berdaya dengan banyak alat-alat medis yang menempel di tubuhnya.


Latif yang menyaksikan cucu ke sayanganya pun langsung memegangi dadanya yang terasa sangat sakit.


"Kek... Kakek." Naqi menuntun Latif agar duduk di kursi. Qanita pun sama begitu melihat anak kesayanganya seperti itu pandanganya semakin gelap dan tubuhnya semakin lemas.


"Mamih..." Kali ini Cyra yang menjerit menahan tubuh mertuanya berhubung Cyra yang paling dekat dengan Qanita.


Naqi, dan Alzam berlari menahan Qanita. "Biar Al, aku yang urus Mamih, kamu urus Kakek saja jangan sampai dia syok lagi, aku takut terjadi apa-apa." Naqi membopong Qanita untuk mendapatkan pertolongan.


"Minum dulu Kek." Alzam menyodorkan air mineral. Sementara Cyra memijit Latif, Qanita sudah di urus oleh Naqi, dan Cyra yakin akan baik-baik saja.


Latif dengan tangan bergetar meraih botol air mineral yang Alzam berikan, dan meneguknya dengan gerakan yang sangat pelan. Alzam tahu gimana perasaan laki-laki tua itu dan Qanita. Alzam sendiri kembali dirundung rasa penyesalan yang sangat dalam, gimana tidak mereka semua sudah mempercayakan anak dan cucunya pada Alzam, tetapi malah Alzam tidak bisa membahagiakan Qari, dan saat ini dia tidak bisa melindungi Qari hingga wanita itu saat ini harus menanggung semua ini.


"Maafkan Alzam, Kek. Gara-gara Alzam yang tidak bisa menjaga Qari, kini cucu Kakek harus menghadapi ini semua."


Biarkan Latif tenang, Alzam pun kembali bangun dan menatap Qari dari jendela kaca. "Qari, bangunlah, hukum aku sesuka kamu, karena aku yang telah lalai, tetapi jangan hukum aku dengan cara yang seperti ini. Aku tidak kuat, aku tidak kuat apabila harus hidup tanpa kamu."


"Al, kondisi anak Qari bagaimana," Suara Latif, yang lemah pun kembali mengagetkan Alzam yang masih melamun membayangkan kalau Qari tidak bisa bertahan. Alzam kembali menunjukan kesedihanya.


"Jauh lebih buruk dari nasib Qari sendiri Kek," jawab Alzam, laki-laki itu bisa lihat kalau Latif sangat marah dengan jawaban Alzam.


"Apa yang terjadi pada Qari?" Pertanyaan Latif kali ini menabah kebingungan pada Alzam. Dia tidak mungkin berkata jujur pasalnya, yang menyebabkan Qari seperti ini adalah Tantri, meskipun  tidak dipungkiri kalau Qari itu seperti ini Deon yang jadi penyebab utamanya.


"Ini semua salah Alzam, Kek. Alzam yang lalai dan tidak bisa menjaga Qari," jawab Alzam, biarlah dia yang dipersalahkan dalam masalah ini, dari pada harus Tantri yang merasakan ini semuanya. Dan soal Deon, sekali pun kita berbicara yang sebenarnya pasti tidak akan mengakuinya. Alzam sudah malas berurusan dengan laki-laki itu sehingga lebih memilih untuk tetap pada pendirianya. Diam dam lebih baik tidak berurusan lagi dengan laki-laki itu.


"Aku menyesal telah mengizinkan kamu untuk menikahi cucuku. Kalau terjadi sesuatu pada cucuku maka kamu akan siap-siap untuk menanggung akibatnya," ancam Latif, dan Alzam hanya mengangguk dengan lemah.


"Saya siap menanggung apa yang jadi kesalahan saya Tuan." Bukankah sudah seharusnya dia melindungi adiknya, Tantri. Toh boca kecil itu sudah menyesali perbuatanya, dan lagian kasihan kalau Tantri harus menanggung semuanya, dia abangnya bukanya sudah seharusnya Alzam menjadi pelindung untuk adiknya. Meskipun Alzaam sendiri masih marah dan kesal pada Tantri, terlebih pada Deon.

__ADS_1


Kini saatnya dia tidak lagi berurusan dengan laki-laki itu Alzam tahu betul kalau Deon itu tidak bisa dibaik-baikin, dan lebih baik di hindari, biarkan masalah ini sebagi pelajaran betapa berbahayanya Deon itu.


#Teman-teman mampir di novel baru othur yah, judulnya (Dinikahi Anak Konglomerat)


"Anda tidak bisa menghukum Alzam Tuan, karena yang seharusnya di berikan hukuman adalah Deon.  Dia lah akan masalah dari kejadian ini semua. Alzam tidak bersalah apa-apa. Kalau aku jadi Anda justru berterima kasih untuk Alzam, karena dia sudah memberikan yang terbaik pada cucu Anda." Doni yang baru sampai pun langsung membela Alzam, laki-laki itu memang terlalu baik sampai-sampai kesalahan orang lain saja dia tidak masalah menanggung kesalahanya.


Latif memalingkan pandanganya pada sosok yang langsung menyambar suaranya. "Siapa kamu dan apa hubunganya kamu dengan Alzam dan Deon?" tanya Latif  dengan nada yang masih terlihat emosi.


Doni tidak lama melihat Deon yang sedang berjalan ke arah mereka juga. "Biarkan laki-laki itu yang menjelaskan semua ini." Doni menunjuk Deon yang makin mendekat. Alzam sendiri melihat Deon, langsung emosi, untung laki-laki itu masih ingat kalau saat ini mereka berada di rumah sakit, kalau tidak mungkin Alzam akan memberikan tinjuan pada Deon, seperti siang tadi Deon yang meninjunya.


Alzam sendiri bersandar di dinding bukan hanya amarahnya yang tengah memucah tetapi juga dadanya yang semakin sesak.


"Mau apa kamu ke sini Deon? Ini bukan yang kamu inginkan, semuanya sudah terjadi, dan itu tandanya misi kamu sudah selesai. Pergilah, aku tidak mau kalau Qari melihat wajah kamu," seru Alzam dengan suara yang lirih dan juga kemarahan yang luar biasa.


"Al... dan semuanya aku minta maaf, bukan ini yang aku minta. Aku hanya..." ucapan Deon terhenti.


"Aku hanya tidak ingin Qari menjadi milikku. Dan kamu ingin kalau bukan kamu yang mendapatkan Qari, maka akupun tidak pantas untuk mendapatkanya. Iya kan, itu sebabnya kamu merencanakan ini," cecar Alzam yang sangat marah.


Cyra terus mengusap-usap punggung Latif yang nafasnya makin tersengal ketika menyaksikan Alzam berdebat dengan Deon.


"Iya, aku salah Al, tapi izinkan aku melihat anakku, dan Qari?" lirih Deon dengan tatapan dan suara memohon. Alzam tidak banyak berbicara, biarkan Deon melihat memuanya yang mungkin dia akan menyesal, itu yang Alzam pikirkan.


Benar saja Deon yang langsung terdiam, tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat bagaimana parahnykondisi Qari.


"Itukan yang kamu inginkan?" tanya Alzam kembali ketika melihat raut wajah penyesalan dari wajah Deon.


"Demi Tuhan bukan seperti ini Al. aku hanya ingin kamu berpisah makanya aku melakukan ini semua. Tetapi aku tidak tahu kalau justru kejadianya akan seperti ini," racau Deon dengan suara yang semakin parau dan berat.


"Jadi ini semua gara-gara kamu. Kurang ajar!!"


"Kakek..." Semua yang ada di sana panik ketika tiba-tiba Latif ambruk pingsan ketika beranjak akan memukul Deon. Hanya Deon dan Cucu yang berdiri kebingungan.


Sementara Jec dan Alzam serta Doni membantu Latif untuk mendapatkan pertolongan.


Cyra pun langsung terduduk lemas ketika sang tertu pingsan. Ia tidak menyangka kalau semua akan kacau seperti ini.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2