Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam Bab 231


__ADS_3

Hari terus berganti, dan tanpa terasa hari ini adalah keberangkatan Deon ke luar negri yang mana dalam perkiraan dia hanya membutuhkan waktu paling lama dua bulan untuk mengerjakan pekerjaannya yang sangat berantakan. Setelahnya Deon akan berusaha agar semuanya bisa di kontrol dari negara ini.


Jec pun hubungannya dengan Qila semakin harmonis, dan juga laki-laki itu sudah sering berkomunikasi dengan keluarga Qila, yang mana mereka sangat terbuka untuk menerima Jec menjadi menantunya. Terlebih sejak Qila menikah dengan Jec putrinya itu terlihat sangat bahagia.


Seperti pada orang lain pada umumnya Cucu pun sedang bersedih ketika akan melepas kepergian sang suami. "Sayang kamu janji kan kalau kamu tidak akan bermain wanita lain di luaran sana?" tanya Cucu, yah hanya itu  ketakutan yang menguasai Cucu ketika Deon akan berangkat kerja ke negara yang jauh di sana, bahkan perjalanan di atas awan pun harus di tempuh belasan jam.


Deon pun terkekeh dengan renyah, entah ini pertanyaan Cucu yang berapa kali, yah Deon tahu betul kalau dia dulu memang laki-laki yang berengsek, tetapi untuk sekarang laki-laki itu benar-benar tidak memiliki pemikiran ingin bermain-main dengan para wanita penggoda. Bahkan yang ada di dalam pikiran Deon adalah bagaimana caranya agar dia tidak berlama-lama di negara itu mengingat dia saat ini juga seolah sangat berat untuk berpisah dengan Cucu. Padahal bekal yang di berikan oleh Cucu sudah sangat cukup.


Yah, pasangan suami istri itu sangat tidak mau rugi selama satu minggu ini kegiatannya hanya menanam benih agar semuanya cepat tumbuh.


"Kamu boleh menghukum aku dengan apapun yang kamu mau, bahkan kalau kamu mau mengambil nyawaku untuk bayaran kalau aku bermain dengan wanita penggoda. Maka akan aku serahkan nyawa ini dengan suka rela. Yang ada dalam pikiran aku saat ini itu bukan wanita-wanita molek berlenggak lenggok Sayang, tetapi bagaimana caranya agar aku  cepat pulang lagi ke negara ini. Aku benar-benar tidak kuat apabila aku berlama-lama jauh dengan kamu," ucap Deon dengan sangat sedih. Ini adalah rasa sedih yang tulus yang baru dia rasakan biasanya dia adalah laki-laki yang kurang peka dengan perasaan seperti itu, tetapi semenjak dia kenal dengan Cucu hatinya menjadi sangat sensitif.


"Aku percaya dengan kamu, itu sebabnya aku akan menjadi wanita yang baik yang menunggu kamu untuk kembali ke negara ini." Cucu pun menghambur ke dalam pelukan Deon untuk perpisahan terakhir Deon akan bekerja.


Cukup lama Cucu membiarkan tubuh kecilnya dipeluk dengan mesra oleh Deon. Dan Deon pun baru kali ini merasakan berat dan bahkan sampai laki-laki itu meneteskan air mata. "Kamu jangan nakal yah, dan aku mengizinkan kamu kalau mau bekerja seperti yang kamu inginkan tetapi jangan terlalu cape. Dan setiap malam kita akan telponan, dan aku juga apabila ingin kamu harus siap memberikan apa yang aku mau," ucap Deon yah, pasangan suami istri itu sudah sepakat apabila menginginkan maka Cucu akan melayaninya dari kejauhan. Caranya? Tanya sama Mbah Google. Othor nggak bisa kasih tutorial.


Tangan Cucu dan Deon pun saling melambai, sedih sudah pasti tetapi Cucu sudah berjanji kalau dia akan merelakan Deon untuk bekerja jangan ditangisi terus menerus karena Deon pasti akan sedih sekali kalau Cucu menangisi kepergiannya. Cucu mengusap bulir air mata yang ke luar dari sela-sela matanya. Padahal sudah Cucu tahan tetapi air mata itu sangat bandel sehingga terus mengintip seolah meledek Cucu yang sedang bersedih.

__ADS_1


Setelah memastikan kalau Deon sudah masuk pesawat Cucu pun memutuskan datang ke kantor Deon dan membantu pekerjaan Jec di mana Jec sudah bilang terus pada Cucu bahwa ia akan mengundurkan diri begitu Deon sudah siap untuk mengurus perusahaan peninggalan papahnya seorang diri.


Jec sudah menyiapkan segalanya dengan bisnisnya, sudah jauh dari cukup untuk membiayai ia dan keluarga kecilnya. Itu sebabnya Jec tidak ingin lagi bekerja di perusahaan Deon. Doni juga rupanya tidak pernah tertarik untuk mengurus perusahaan peninggalan sang papah sehingga mau tidak mau ketika Deon pergi maka Cucu memanfaatkan waktunya untuk mengurus perusahaan Deon dan tentu itu ia lakukan untuk membantu sang suami untuk mengurus perusahaan yang berterbangan di mana-mana.


Jec menatap Cucu dengan tajam ketika wanita itu baru masuk ke dalam ruanganya. Ada rasa kasihan juga ada rasa lucu ketika melihat wajah bengap Cucu. "Dulu ajah kabur-kaburan, sekarang aja ditangisin. Dasar kalian itu aneh," ledek Jec pada Cucu. Dia mungkin lupa seharian ini saja dia tidak fokus bekerja.


"Berisik, kamu juga dulu Qila nggak mau sekarang bucin," balas Cucu nggak mau terima diledek oleh Jec.


"Beda cerita, itukan Qila yang bucin, aku biasa saja," akunya dengan menyombongkan diri.


"Apaan biasa saja, pengin pulang terus. Aku sama kamu itu sama saja, sama-sama bucin juga. Kamu minta aku datang ke sini mau apa? Buruan jangan banyak basa basi aku lagi malas basa-basi," dengus Cucu masih merasakan patah hati dengan perpisahan dirinya dengan sang suami.


Seperti Deon Cucu juga menatap Jec dengan tatapan yang tajam, seolah tengah mengajak untuk berkelahi. "Berani bayar berapa kamu? Apa kamu tidak tahu kalau aku sudah jadi orang kaya. Suamiku memberi gajih yang banyak tanpa harus bekerja. Jadi berapa bayaran kamu?" tanya Cucu dengan gaya sombongnya. Maklum wanita itu sudah jadi sosialita jadi tidak harus bersusah payah kerja juga duitnya ngalir terus.


"Ckkk... mentang-mentang istri Deon, sombongnya juga ngikutin dia. Harusnya kamu yang bayar aku mengingat aku kerja di perusahaan suami kamu Cu. Kenapa jadi kamu yang minta bayaran," dengus Jec dengan meminta Cucu duduk karena dia akan mengajarkan pekerjaan untuk istri dari bosnya itu.


"Ini sih udah masuk perbuatan tidak menyenangkan, dan juga sudah memaksa aku untuk bekerja." Bibir sih masih terus menolak, tetapi wanita itu juga mengikuti kemauan Jec duduk dengan manis dan akan mengikuti apa yang Jec ajarkan.

__ADS_1


Dengan telaten, Jec mengajarkan satu persatu apa yang seharusnya Cucu kerjakan. Yah, Jec melakukan itu tentu juga atas persetujuan Deon, karena kalau Cucu tidak ada kegiatan pasti wanita itu akan sedih terus karena Deon yang juga bekerja di tempat yang berbeda. Selain untuk mengalihkan kesedihannya, juga untuk mengisi waktu yang pasti bosan kalau hanya duduk di dalam rumah.


"Apa kata aku, kamu itu orang yang pandai, buktinya baru dijelaskan saja kamu sudah bisa menguasai pekerjaan ini," puji Jec, entah berapa kali laki-laki itu terus memuji Cucu selain memang Cucu yang pandai untuk mengurus semuanya. Jec juga melakukan itu untuk memberikan Cucu semangat.


"Bisa dien tidak, aku jadi besar kepala," dengus Cucu yang justru tidak suka kalau Jec terus-terusan memuji dirinya.


"Oh iya Cu, kalau kamu nanti sudah bisa dilepaskan untuk mengurus perusahaan ini. Aku mau minta izin satu minggu mau mengunjungi mertuaku," ucap Jec di sela-sela kesibukan mereka. Sontak saja Cucu langsung melebarkan kedua bola matanya.


"Oh, jadi ini rencana kamu mengajari aku pekerjaan yang bikin gila ini, karena kamu ingin berlibur," balas Cucu dengan nada yang ketus. Yah memang Cucu seperti itu tabiatnya. Ceplas-ceplos apalagi dengan Jec yang sudah tahu watak Cucu sehingga meskipun terdengar tidak enak ucapannya tetapi biasa saja bagi Jec.


"Ini beda Cu bukan liburan. Tapi ini salah satu bakti menantu untuk mengunjungi  mertuanya yang sama sekali belum pernah libur," jawab Jec tanpa mengalihkan pandanganya dari pekerjaan yang menggunung itu.


"Ok baiklah, tapi tetap potong gaji!"


"Hah!! Gila loe Cu..."


"Mau nggak? Kalau nggak aku nggak akan kasih izin!!"

__ADS_1


Bersambung...


...****************...


__ADS_2