
Alzam melangkah dengan langkah kaki yang berat, dan tertatih, laki-laki itu terus mengayunkan kakinya. Ruangan operasi yang jaraknya hanya beberapa meter lagi rasanya sangat jauh. Kakinya pun terasa semakin berat ketika melihat banyak darah dipakaian adiknya.
"Tantri... apa yang terjadi dengan Qari?" kenapa pakaianmu banyak darah?" cecar Alzam, dan Tantri sendiri langsung tersentak kaget dengan pertanyaan dari Alzam.
Bocah kecil itu pun langsung menghambur memeluk abangnya. "Abang, maafkan Tantri ini semua salah Tantri."
Alzam sendiri semakin bingung, dengan apa yang Tantri katakan. "Memang apa yang terjadi pada Qari?" tanya Alzam dengan suara yang lirih dan ke dua matanya menatap ruangan operasai, di mana di dalam sana sang istri sedang berjuang. Alzam sendiri tidak tahu gimana parahnya kondisi sang istri dan apa yang terjadi dengan dirinya.
"Abang, ini semua salah Tantri kalau Tantri tidak marah pada Kakak semua ini tidak akan terjadi. Tantri jahat Abang." Tangis dari bocah kecil itu kembali pecah. Meskipun Alzam belum begitu tahu atas apa yang terjadi dengan Qari, tetapi dirinya mencoba untuk tetap mengerti apa yang sedang Tantri rasakan.
Degan lembut Alzam mengusap rambut sang adik. "Kamu tenang yah, nanti kalau sudah tenang kamu cerita, dan kamu harus bercerita. Laki-laki itu menuntun Tantri agar kembali lagi, bahkan saking paniknya dia hingga Alzam lupa tidak memberikan kabar pada kelaurga Qari.
Tantri sendiri masih berusaha untuk mengatur nafas, dan perasaanya, bagaiamanapun ini adalah kesalahanya sehingga Alzam harus tahu dengan apa yang terjadi, itu yang ada di dalam pikiran Tantri.
"Abang, apa kalau salah satu dari Kakak dan anaknya tidak tertolong Tantri akan masuk penjara?" tanya Tantri, dengan suara yang bergetar, dan masih tersengal dengan sisa tangisnya.
Sontak saja Alzam cukup terkejut dengan ucapan Tantri. "Kamu kenapa sih Dek, coba bicarakan dengan abang, mungkin abang bisa bantu," ucap Alzam dengan suara yang lirih. Sementara Bi Sarni hanya diam saja menyimak, berhubung dirinya juga sangat penasaran dengan apa yang terjadi antara majikan dan Tantri.
"Tadi siang ada laki-laki yang menghampiri Tantri pas makan siang. Dia bilang kalau anak yang Kakak Qari kandung itu bukan anak Abang. Laki-laki itu menunjukan rekaman di mana Kakak mengatakan, takut kalau ada yang tahu bahwa anak yang Kakak kandung bukan anak Abang." Ucapan Tantri langsung terhenti ketikan tangan Alzam memberikan kode agar Tantri menghentikan ceritanya.
Gigi Alzam pun saling mengadu, tanpa Tantri sebutkan siapa orang yang menemuinya, dia langsung bisa menebak siapa kira-kira orang yang jahat itu.
"Abang tahu siapa laki-laki itu. Dan kamu pasti berpikir kalau Abang menikahi Qari karena permintaan dia dan keluarganya. Asal kamu tahu Dek, Qari itu korban pemerk*saan dari orang itu, dan dia dengan sengaja meninggalkan Qari, dan abang sudah tahu semua ceritanya. Abang memang menikahi Qari dalam keadaan dia sudah hamil duluan, tapi abang sayang sama Qari dan abang mau menerima semuanya dengan ikhlas, baik Qari dan anak itu, tapi tidak tahu kenapa orang itu masih saja mencari gara-gara apakah kalau sudah seperti ini dia akan senang?"
Alzam sangat kecewa dengan Deon ingin dia meghajar laki-laki itu, tetapi Alzam juga tahu bahwa laki-laki seperti Deon itu tidak akan pernah bisa dinasihati.
"Abang, maafkan Tantri, Tantri tidak tahu dengan apa yang terjadi di antara kalian, dan Tantri pikir kalau yang dikatakan oleh laki-laki itu benar." Tantri kembali terisak sedih, dengan kesalahanya. Alzam hanya bisa diam, Tantri sendiri juga tidak sepenuhnya salah.
__ADS_1
Setelah hampir dua jam di ruang operasi, lampu operasi pun mati. Perasaan Alzam semakin tidak menentu tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana, sehingga Alzam hanya bisa berdoa, dan berdoa. Dokter pun keluar, dengan raut wajah yang lelah dan kurang bersemangat.
Tubuh Alzam kembali lemas, bahkan untuk berdiri dan menanyakan kondisi Qari rasanya sangat berat. Tantri bocah kecil itu sudah lebih dulu berlari untuk menghampri sang dokter.
"Dok, bagaimana kondisi kakak ipar saya? Mereka baik-baik saja kan?" cecar Tantri dengan wajah yang panik. Alzam berdiri di belakang Tantri dengan perasaan yang tidak jauh berbeda.
"Kondisi ibunya masih kritis, pertolongan terlalu lama dilakukan, sehingga kondisinya sudah parah baru mendapatkan pertolongan. Ibu dari bayinya masih kritis, tetap berdoa saja agar bisa melewati semuanya. Dan untuk anaknya juga kondisinya tidak lebih baik dari sang ibu, malah bisa dikatakan, putrinya hanya memiliki tiga per empat untuk bisa bertahan. Kondisi bayinya sangat lemah."
Judeeerrrr!! Baik Tantri, Alzam dan Bi Sarni langsung lemas seketika. Kelopak mata Alzam pun menghangat tidak bisa berkata apa-apa lagi, dan itu semua karena kondisi Qari yang ternyata separah ini. Bulir air mata jatuh, menandakan betapa hancurnya perasaannya.
"Dok, apa saya boleh lihat kondisi anak dan istri saya?" Suara Alzam yang sangat lirih hingga hampir tidak terdegar oleh sang dokter.
"Untuk sementra tunggu dulu yah Tuan, istri dan anak Anda masih dilakukan perawatan nanti kalian bisa lihat dari jendela kaca di ruangan sebelah." Dokter menujukan ruangan perawatan Qari, dan anaknya. Alzam hanya mengangguk dengan pasrah.
Mereka pun kembali untuk duduk. "Abang, maafkan Tantri gara-gara Tantri semuanya jadi seperti ini." Lagi, Tantri mengemis maaf dari Alzam, dan hal itu menambah pusing laki-laki itu. Seketika ia merasakan bahwa hidupnya tidak adil.
"Tantri, Bi Sarni kalian pulang saja, biar urusan Qari, dan buah hatinya jadi urusan abang."
Alzam sudah tidak tahu harus berbicara apa, terutama setiap Tantri berbicara, meminta maaf dan mengakui kesalahanya, Alzam sendiri jadi seba salah.
"Tapi Bang, ini salah Tantri dan Tantri harus tanggung jawab, gimana kalau nanti terjadi sesuatu pada kakak ipar dan adik bayi?" tanya Tantri, dengan nada yang berontak.
"Tantri...(Suara Alzam sedikit meninggi) Kamu pulang dan bereskan kekacauan nanti setelah tubuh kamu bersih. Abang tidak mau kamu sakit dan lain sebagainya. Pulang!" Baru kali ini Alzam berbicara dengan nada yang tinggi. Padahal sebelumnya dia tidak pernah berbicara dengan nada yang tinggi pada Tantri.
"Neng, yuk kita pulang saja tubuh Neng juga perlu istirahat. Neng harus yakin kalau Kakak Qari itu kuat." Bi Sarni berusaha membujuk Tantri yang masih keras kepala ingin menunggu Qari hingga sadar, atau hingga tahu kondisi seperti apa.
Tantri pun akhirnya mau pulang dan tidak lagi keras kepala ingin menunggu Qari sampai sadar. "Abang Tantri pulang dulu. Nanti kalau ada apa-apa infoin Tantri yah." Dengan suara yang bergetar Tantri pun berpamitan, dan Alzam hanya membalasnya dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Bi, nitip Tantri yah." Alzam tidak berbicara banyak dengan Tantri. Hatinya masih marah, tetapi entah ia sendiri tidak tahu marah dengan siapa? Dengan Deon? Yah, sudah pasti dia marah dengan Deon, tetapi dia juga tidak bisa berbohong kalau dirinya juga marah dengan Tantri.
Tantri dan Bi Sarni perlahan, tetapi pasti sudah menjauh meninggalkan Alzam yang masih duduk dengan tatapan yang kosong. Jangankan untuk ingat mengabari keluarga Qari untuk memikirkan anak dan istrinya saja kepala Alzam langsung berdenyut dengan hebat.
"Al... ngapain kamu di sini? Sendirian?" Doni yang baru selesai mengantarkan sang ibu untuk menjenguk salah satu karyawanya yang baru saja menjalani persalinan, langsung berbelok ke ruang operasi ketika melihat ada orang yang sangat dikenalnya, tanpa berpikir lama Doni pun menghampiri pasienya, Alzam.
Alzam sendiri langsung tersentak kaget, ketika mendengar suara yang sangat dikenalnya. Laki-laki itu mendongakan wajahnya menatap siapa yang memanggilnya. Meskipun dari suaranya ia sudah bisa tebak, bahwa yang mengajaknya berbicara ada Doni.
"Dokter, sedang apa Anda ada di sini?" tanya Alzam dengan mengedarkan pandanganya, tetapi tidak menangkap ada siapa pun di sekitar dokter Doni.
"Aku yang bertanya pada kamu, sedang apa kamu di sini, tapi kenapa tanya balik," kekeh Doni, sembari menepuk pundak Alzam, seolah laki-laki itu sedang memberikan kekuatan untuk Alzam.
"Dok..." Suara Alzam langsung berbeda, seolah ia ingin membagi kisah sedihnya.
"Ceritalah, kalau itu akan membuat kamu tenang!" Setelah hampir tiga tahun Doni menjadi dokter pribadi Alzam, tentu dia sedikit banyak tahu kalau Alzam saat ini sedang dirundung masalah.
Alzam pun yang sudah nyaman dengan dokter Doni langsung menceritakan apa yang terjadi pada Qari, dari mulai Deon yang tiba-tiba menemui Qari, dan mengancam Qari. Lalu dirinya yang menyambangi Deon dan terjadi perkelahian, dan ternyata Deon yang tiba-tiba menemui adiknya Tantri, dan mengatakan yang tidak-tidak pada Tantri. Hingga terjadi perdebatan antar Tantri dan Qari. Lalu kondisi Qari yang kritis, dan anaknya yang tidak lebih dari lima puluh persen kemungkinan untuk hidup.
Doni pun langsung tersentak kaget dengan apa Alzam katakan. Matanya memanas, jantungnya mempompa darah lebih kencang, dan juga emosi yang langsung naik.
"Jadi ini semua ulah Deon? Aku tidak tahu apa isi kepala laki-laki itu." Seketika Doni langsung mendidih isi kepalanya. Kenapa Alzam saja yang tidak ada ikatan darah dengan anak itu, bisa seperduli ini dengan kondisinya sedangkaan Deon? Laki-laki itu justru selalu membahayakan anaknya sendiri.
"Kamu tenang aja Al, tidak akan aku biarkan Doni mengusik kehidupan kalian lagi."
...****************...
Teman-teman, sembari nunggu kisah Qari yuk mampir ke novel bestie others di jamin bikin nagih dan tidak membosankan...
__ADS_1