
Alzam terkejut ketika pagi-pagi dokter yang menjadi dokter pribadinya selama dua tahun ini meneleponnya. "Dokter Doni ngapain telpon pagi-pagi tumben sekali," lirih Alzam, tapi tak lama pun jari jempolnya menekan ikon bergambar telepon berwarna hijau itu.
[Hallo selamat pagi Al.] sapa dokter Doni dari balik teleponnya.
[Pagi Dok, tumben telpon pagi-pagi apa ada kabar yang harus aku ketahui secepatnya Dok?] tanya Alzam, dengan suara yang setengah berbisik agar Qari tidak mendengar begitupun Tantri.
[Ah tidak Al, aku hanya ingin kamu siang nanti ke ruanganku untuk mengetahui hasilnya apa kamu bisa?] tanya Doni yang gaya bicaranya lebih santai karena tidak ingin membuat Alzam cemas. Doni dari sebrang telepon sudah menduga kalau Alzam saat ini sedang cemas dengan apa kira-kira hasil yang dia lakukan check up kemarin.
[Apa tidak bisa lewat telepon saja Dok?] Alzam semakin cemas dan ia sangat yakin kalau hasil dari pemeriksaanya sangat tidak masuk akal. Sehingga Doni ingin berbicara secara langsung.
[Bisa saja Al, tapi ini ada yang ingin aku tanyakan, bukan mengenai sakit kamu, tapi lebih kehidupan pribadi kamu. Makanya aku meminta kamu datang keruangan aku, kamu bisa kan Aku janji tidak akan lama kok, hanya ada beberapa yang ingin aku tanyakan, dan itu rasanya kalau ditanyakan lewat sambungan telepon akan kurang enak," jelas Doni. Alzam tidak langsung meng-iyakannya karena ia juga tengah berpikir kira-kira alasan apa yang akan ia katakan pada istrinya sedangkan hari ini ia tidak ada jadwal meeting dengan rekan bisnis atau yang lainya.
"Al... bagaimana?" tanya Doni untuk memastikannya.
"E... baik Dok nanti akan saya sempatkan untuk datang keruangan Anda," balas Alzam, matanya di pejamkan secara sempurna ia mencoba untuk berpikir dengan keras apa kiranya yang alasan yang akan Alzam gunakan untuk meminta izin pada Qari, agar istrinya itu tidak curiga. Di mana Qari adalah Tantri kedua ketika meminta izin sesuatu maka harus jelas dan juga meyakinkan. Cacat logika sedikit saja Qari akan curiga dan tidak akan mengizinkan.
[Ok, terima kasih sekali yah Al, karena kamu mau meluangkan waktu kamu untuk menemui aku,] balas Doni. Telepon pun akhirnya Doni akhiri ketika Alzam sudah mau meluangkan waktunya untuk menemui Doni.
Yah, setelah semalaman Doni berpikir dengan matang dan juga ia memikirkan akibatnya juga atas apa yang telah ia katakan pada Jec, Doni sangat yakin kalau Deon itu saat ini bisa saja mencelakai dirinya, dan sebelum itu terjadi Doni juga harus punya satu langkah lebih depan untuk menggagalkan rencana itu.
__ADS_1
Namun, kalau itu semua gagal setidaknya Doni bisa memberitahukan pada Alzam kalau dia diincar keselamatannya oleh Deon laki-laki yang entah dengan alasan apa mengincar keselamatan Alzam yang Doni yakini Alzam adalah orang yang baik, tidak neko-neko dan juga tidak macam-macam dalam bergaul rasanya mustahil memiliki musuh seperti Doni.
Alzam keluar kamar dan menuju meja makan di mana dua bidadarinya sedang bekerja sama membuat masakan untuk Alzam. Sekarang Alzam tidak perlu khawatir kalau Qari dan juga Tantri akan ribut. Hal itu tidak akan mungkin terjadi, karena saat ini dua wanita beda generasi itu sudah menjadi tim yang saling mendukung. Malahan saat ini Tantri sudah menunjukkan sifat manjanya pada Qari.
"Pagi istriku yang cantik," ujar Alzam, dan Tantri pun langsung melebarkan kedua bola matanya, dan mencoba mengamati abangnya yang sedang memuji kakak iparnya.
"Abang..." pekik Tantri, menandakan kalau dirinya cemburu, ingin juga disapanya.
"Eh, astaga, ada adik aku yang cantik. Cantik nomor satu kalau istriku nomor satu setengah," kekeh Alzam, dan Tantri pun langsung tersenyum dengan lebar dan tentunya bangga, terlebih cantik nomor satu. Qari sih biasa saja, sebab Alzam sudah bilang kalau ternyata yang paling cantik nomor satu adalah dirinya, tapi untuk menyenangkan adiknya jadi untuk sementara di geser sedikit posisinya.
"Sayang, nanti kita jadi melihat rumah yang di kasih Kakek kan?" tanya Qari sembari tangannya mengambilkan nasi dan juga menu makan untuk Alzam.
"Kakak dan Abang sedang ada rencana apa sih, kenapa tidak ajak Tantri," protes adik kecilnya yang selalu cemburuan kalau Alzam terlalu menomor satukan kakak iparnya.
"Kita akan lihat-lihat rumah buat kita nanti pindah karena kata Abang kamu, rumah ini nantinya pasti akan kecil kalau ponakan kamu sudah lahir," balas Qari dengan senyum merekah.
"Tapi Tantri diajak kan?" tanya Tantri sangat antusias, senang kalau mau pindah rumah.
"Tidak dong kamu tetap di rumah ini. Yang pindah ke rumah baru hanya kami berdua dan calon ponakan kamu saja." Sifat jahil Qari sudah mulai digunakan sebagaimana mestinya.
__ADS_1
"Kakak... aku tahu pasti Kakak hanya bercanda. Abang tidak akan tega meninggalkan aku seorang diri di sini," dengus Tantri, tetap fokus dengan makanan di atas piringnya.
"Cih... menyebalkan, rencana aku untuk mengerjainya tidak mempan," balas Qari, tetapi hanya ditanggapi oleh Tantri dengan senyum yang mengejek.
Seperti biasa Tantri akan berangkat lebih dulu dengan Alzam dan Qari akan menunggu sampai Alzam pulang lalu, mereka akan berangkat ke kantor secara bersama-sama.
"Sayang nanti istirahat kamu tolong belikan aku rujak kayak kemarin yah. Aku pengin banget makan rujak itu lagi," ujar Qari ketika mereka baru berangkat kerja. Alzam pun hatinya langsung lega. Laki-laki itu sejak tadi berpikir bagaimana cara mencari ide agar ia bisa keluar menemui dokter Doni, tetapi justru rencananya sangat di permudah oleh Tuhan. Justru Qari yang meminta agar Alzam keluar kantor.
"Boleh Sayang, aku senang sekali kalau kamu pengin apa-apa selalu bilang sama kamu, jangankan rujak seperti kemarin untuk minta apapun pasti aku akan turuti meskipun harus keluar kota," balas Alzam, yah sebenarnya senangnya bukan karena Qari yang mau mengatakan apa yang dia inginkan melainkan juga karena itu tandanya ia tidak harus susah-susah mencari cara agar ia bisa keluar di jam istirahat menemui dokter Doni.
"Qari pun memeluk pinggang Alzam dengan kencang dan menyenderkan kepalanya di punggung Alzam. "Aku ingin seperti ini terus hingga tua. Aku ingin kamu menemani aku hingga tua Al, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan kalau hidup aku tanpa kamu," lirih Qari dengan suara yang cukup pelan tetapi Alzam masih bisa mendengarnya.
"Kalau begitu kamu doakan aku terus untuk tetap sehat, karena cita-cita aku adalah menemani kamu dan menjaga kamu terus hingga kita menua bersama," balas Alzam tangannya menggenggam sebelah tangan Qari dan menciumnya dengan lembut. Tanpa mereka sadari dari dalam mobil mewah sepasang mata menatap keromantisan mereka dengan jijik.
"Nikmati saja kebersamaan kalian Qari dan laki-laki cacat, setelah kamu mati, wanita itu akan jadi milikku seutuhnya," batin Deon yang saat ini baru pulang dari rumah sakit, itu semua karena laki-laki itu terus memaksa agar ia bisa pulang saat itu juga. Sehingga dokter pun akhirnya mengizinkannya karena tidak mau berisik setiap pagi Deon selalu mencari gara-gara dengan mual dan muntah karena aroma masakan dari rumah sakit.
Deon bahwa harus mengeluarkan ancaman agar ia dikeluarkan dari rumah sakit itu. Jec lagi-lagi menjadi tamengnya agar ia bisa bebas dari rumah sakit yang bagi Deon sangat menyebabkan.
"Jec kamu lihat itu kan? Kamu tentu tahu apa yang harus kamu lakukan untuk membuat mereka menyesal telah memamerkan kemesraan di hadapanku." Deon menunjukkan Alzam dan Qari yang sedang menunggu lampu merah berganti hijau.
__ADS_1