
"Qila kamu bisa bawa motor nggak sih?" dengus Meta yang di bonceng sama Qila.
"Tenang ajah sih Met, kalau kamu gerak-gerak terus yang ada nanti malah benaran nabrak," balas Qila dengan pandangan tetap fokus ke jalanan. Semua ini gara-gara Fifah yang ngidam ingin beli bakmi sultah tetapi yang bawa motor Qila.
Yah, gadis itu baru saja belajar bawa motor, tetapi malah Fifah yang sedang hamil justru menginginkan suaminya di bonceng oleh Qila.
"Qila... hati... hati..." Meta setiap ada mobil atau motor di depan Qila langsung heboh dan itu semakin membuat konsentrasi Qila hilang.
"Met, kamu bisa diam tidak, nanti kalau benran nabrak malah berabe. Kalau kamu takut kamu cukup pejamkan mata semuanya beres. Aku bisa diandalkan kok," ucap Qila dengan santai dan pandangan matanya tetap fokus kejalan. Sementara Meta mengikuti apa yang Qila ucapkan mataanya terpejam dan memeluk pinggang Qila dengan kuat.
Bibir Qila melengkung dengan sempurna. Ketika merasakan pinggangnya yang dicengkram kuat oleh Meta yang takut kalau dirinya akan menabrak. Sementara Qila sendiri justru santai.
"Heh, kamu mau kemana? Tukang bakmi di sana. Nyonyah bisa marah kalau Bakmi tidak dapat." Meta menarik kerah baju Qila yang tiba-tiba belok entah mau kemana sedangkan tukang bakmi adalah beda arah.
"Santai Met, jalan sini lebih enak adem dan tidak rame," balas Qila tetap santai, meskipun sepanjang jalan hampir dia diocehin oleh Meta yang sangat berisik itu. Untung telinga Qila yang sudah kebal dengan mulut Meta yang berisik, tapi dibalik keberisikanya dia adalah abang, teman dan juga bos yang baik. Bahkan Qila yang memang hampir tidak bisa menggunakan alat-alat make up sejak kenal Meta, sedikit-sedikit kenal apa yang namanya lipstik dan bedak.
Meskipun kalau ada sesuatu tetap saja dibalik penampilan Qila yang cantik ada Meta di belakangnya.
Sedangkan Jec dan Deon hampir saja sampai di depan rumah Qari. "Tuan apa kita yakin akan menunggu Qari di sini? Qari kayaknya sudah hafal kalau ada mobil yang palikir di sini pasti kita akan ketahuan," tanya Jec, dalam hatinya sejak tadi tidak enak banget, mana perutnya lapar belum ada isinya di pagi ini.
"Udah ikuti aku ajah Jec jangan banyak protes, berenti di depan sana," desis Deon dengan menujuk tempat biasa ia singgah di rumah Qari. Justru laki-laki itu semakin tertantang agar Qari tahu kalau dirinya masih sering menyambangi rumah suaminya untuk sekedar menatap dari jauh. Seolah menjadi can-du bagi Deon, ia akan senang dan cinta ketika ia melihat wajah Qari yang sedang marah pada dirinya itu.
Cittttt... Bruuuukkk... Pyarrrrrr....
Mobil Deon yang berhenti tiba-tiba ditabrak oleh sepeda motor dari belakang. "Apa itu Jec?" tanya Deon, ia melihat kearah belakang dari sepion tengah.
Brukkkk... Brukkkk "Keluar!!!" Seolang laki-laki memukul pintu mobil Deon dengan kasar dan terliaht wajahnya yang memerah dan sangat marah. Sementara Jec melihat malas dengan laki-laki itu. Jec sudah tahu betul kalau yang menabraknya itu masih belajar. Yah dia adalah wanita yang tadi dia omongin dengan Deon, dan sekarang benar saja mobilnya jadi korban wanita itu.
"Jec, apa dia adalah orang gila?" tanya Deon malas juga melihat wajahnya yang licin seperti memproduksi minyak goreng. Jec pun menggedikan bahunya, tetapi tak ayal ia membuka pintu mobilnya juga, bukan mau bertanggung jawab, tetapi mau membuat pelajaran untuk wanita yang saat ini sedang meringis karena di tubuhnya banyak luka-luka lecet karena mencium aspal.
__ADS_1
Sementara itu Qari, Deon dan Tantri yang ada di dalam rumah juga langsung berhamburan keluar setelah mendengar suara benturan yang keras di depan rumahnya.
"Sayang suara apa itu?" tanya Qari ketika mereka sedang menikmati sarapan yang hangat bersama suami dan adik tercintanya.
"Abang apa ada b*m?" tanya Tantri sama kaget juga sementara Alzam sendiri sama bingung suara apa yang pagi-pagi membuatnya terkejut. Tanpa menunggu persetujuan dari mereka Alzam, Qari dan adik iparnya pun menganyukan kakinya ke halaman rumah.
"Abang, ada yang kecelakaan," pekik Tantri yang memang bocah itu lebih dulu berada di depan dari Qari dan Alzam.
"Sayang, ayo kita buruan bantu," ujar Qari yang kedua matanya menangkap wanita sedang meringis kesakitan, tetapi justru yang lain sedang asik berdebat. Gigi Qari pun saling beradu karena kesal bukan memberi bantuan dulu pada korban malah dua laki-laki saling tuding.
Mata Qari menangkap sapu dan tanganya pun langsung meraihnya mungkin benda itu bisa ia gunakan untuk memberi pelajaran pada dua laki-laki itu.
"Loh, Meta, Qila, kalian kenapa?" tanya Alzam yang lebih dulu sampai.
Meta pun heran kenapa ada Alzam di sini. "Al, ngapain kamu di sini?" tanya Meta bingung, dan saat itu juga ia memberhentikan perdebatannya, dengan pengemudi mobil.
"Ini rumah aku Meta," jawab Alzam, dan saat ini yang bingung bukan Alzam dan Meta saja. Jec dan Deon (Duduk di dalam mobil) sama-sama bingung. Kenapa laki-laki gemulai itu kenal dengan Alzam.
Namun, bukannya terpesona justru Qari benar-benar merasakan enek, pengin muntah dan menghajarnya lagi. Qari pikiran laki-laki itu akan kapok dengan dirinya yang telah memberikan sebuah tusuknya yang cukup untuk ancaman. Kalau Qari itu berbahaya jangan main-main dengan Qari.
"Kakak, Kak Qila gimana?" tanya Tantri memecah kemarahan Qari, untung ajah adik iparnya memangilnya, mungkin kalau tidak sapu yang ia bawa sudah melayang ke wajah Deon. Entah kenapa Qari setiap melihat wajah Deon seperti melihat benda yang sangat menjijihkan, bawaanya ingin muntah.
"Tantri, bawa Qila masuk ke dalam rumah kita obati sekarang. Dan loe Jec, bawa Tuan loe yang gila itu pergi dari hadapan gue, karena gue mual liat wajahnya yang sangat menjijihkan," dengus Qari dan meskipun Qari berbicara dengan pelan tetapi Jec bisa mendengarnya, dan Deon justru bibirnya semakin tersunggir dengan sempurna. Tujuan melihat Qari terwujud, justru jarak mereka sangat dekat.
Setidaknya keinginanya tercapai yaitu melihat Qari, meskipun dalam wajah yang marah-marah.
"Qari apakah, karma itu ada? Kalau ada aku ingin kamu jadi miliku selamanya, dan ingin mengenal kamu dengan setatus pasangan bukan dendam seperti yang dulu pertama aku ingin mengenalmu," batin Deon, tatapan matanya tidak berkedip sedikit pun menatap wanita yang semakin cantik.
Alzam sendiri bisa mengartikan tatapan dari laki-laki yang duduk dengan santai di dalam mobil sana.
__ADS_1
"Tantri, jangan bawa Qila, biarkan orang ini (Meta menunjuk Jec) yang bertanggung jawab mengobati Qila, karena kesalahan itu dari orang ini," ucap Meta masih dengan pandangan mata yang akan mencabik-cabik Jec.
Sedangkan mata Jec langsung melirik Qila yang sedang meringis sakit karena tangan dan lutut banyak luka lecet.
Tangan Jec mengambil beberapa lembar uang berwarna merah.
"Dasar pemeras, sudah jelas wanita ini yang salah dengan tidak tahu meminta kami yang memberikan pengobatan. Dunia memang terbalik." Jec mengulurkan tangan untuk memberikan uang untuk ganti rugi yang Meta katakan.
"Cukup kan untuk kamu," ucap Jec dengan mata yang masih mengawasi Qila dengan tajam.
"Dia tidak butuh uang, yang dia butuh pengobatan, bawa Qila ke rumah sakit dan balikan ketika dia sudah sehat," ucap Qari dengan mata yang tidak kalah tajam dari Jec.
"Wanita ini bisa jalan sendiri ke rumah sakit, dia tidak butuh tumpangan dari kita, dan kita juga harus kerja, sibuk," tolak Jec tetap pada pendirianya uang sebagai jalan damai.
Qila pun hanya diam, bingung dengan perdebatan itu. (Sifat Qila itu memang pendiam dan sedikit pasrah, itu sebabnya dia diselingkuhin oleh Sam, yang sudah baca novel Jangan Hina Kekuranganku pasti tahu betul sifat Qila, yang pernah bikin Cyra marah karena rela ia tidak memegang uang demi Sam yang sudah jelas-jelas selingkuh darinya) Apakah di sini Qila akan sama juga pasrah meskipun sudah di sakiti?
"Bawa Qila ke rumah sakit!! Kalau tidak sapu ini akan melayang ke tubuh kamu, atau kalian masih kurang, satu tujukan berhasil mendarat di perut Deon?" bentak Qari, tanganya mengangkat sapu yang ia ambil dari halaman rumahnya.
Qari yakin dengan betul kalau Jec tidak akan macam-macam, karena kalau macam-macam, Qari maju paling depan, dan sangat gampang untuk mencari dua kecoa busuk itu.
"Ayo masuk!!" Jec akhirnya mengalah, Qari lebih seram dari sekedar hantu si manis jembatan ancol.
"Enak saja naik mobil kamu. Naik motor, nanti kalau kamu apa-apakan Qila apa aku bisa jamin," Qari kembali memberikan ultimatum.
"Tapi Nona, Tuan Deon masih sakit dia belum bisa menyetir sendiri..."
"Dia bisa menyetir sendiri Jec. Deon kuat dia tidak akan mati konyol gara-gara menyetir. Kalau tidak dia bisa gunakan jasa taxi online aku yakin hartanya tidak akan habis untuk membayar taxi online," lagi-lagi Qari tidak bisa membuat peraturan yang bisa di tolak, baik Jec maupun Deon patuh kepada ucapan wanita hamil itu, sementara Alzam lebih banyak diam setelah tahu bahwa laki-laki yang sedang berdebat dengan Qari adalah Deon, laki-laki yang sudah menghamilinya.
"Eh, jangan pakai motor aku mau pakai buat cari bakmie, Fifah ngidam bakmie," tolak Meta.
__ADS_1
"Kalau gitu kamu pesan taxi online Jec. Biarkan Deon mandiri sudah besar juga dilayani terus sama kamu malu sama umur." Qari lagi-lagi melirik Deon yang masih tersenyum tidak jelas, menatap Qari.