
Setelah kejadian buruk yang menimpa hubungan Aaric dan Reisya karena ulah Dona dan Melinda. Akhirnya membuat hubungan mereka menjadi lebih kuat. Dan Aaric semakin memantapkan hatinya untuk menjadikan Reisya permaisurinya.
Berbulan – bulan Aaric tinggal di Prancis. Dia bertukar posisi dengan orang kepercayaannya hanya demi menjaga keselamatan Reisya. Dan Reisya sendiri merasa sangat nyaman saat keluarga kekasihnya benar – benar menjaganya.
“Mom, thanks a lot for everything. Rei nggak tahu bagaimana lagi caranya untuk berterima kasih sama keluarga disini,” ucap Reisya sambil menggenggam erat tangan Bu Kusuma.
“Sayang, jangan berkata seperti itu. Kamu anak Mommy, calon istri Aaric. Jadi sudah seharusnya Kami menjaga Kamu."
Saat ini Reisya tinggal bersama keluarga Kusuma demi keselamatan Reisya.
Reisya pamit untuk pulang ke Indonesia saat liburan semester. Karena sudah hampir dua tahun Dia tidak pernah pulang ke Indonesia.
“Mas, Aku akan pulang liburan nanti. Rasanya kangen Aku sudah meluap. Nggak pernah puas kalau hanya lewat video call saja,” pamit Reisya pada Aaric saat mereka berdua sedang duduk di rooftop.
“Sama, Mas, ya?” tawar Aaric.
“Bukankah Kamu lagi banyak pekerjaan disini?”
“Itu bisa di atur, Sayang,” sahut Aaric sambil tersenyum seraya memainkan kedua alisnya.
“Ya sudah terserah Kamu saja. Aku ini adalah tipe perempuan yang akan nurut sama suami,” tukas Reisya memuji dirinya sembari mengerdipkan salah satu matanya.
Aaric tersenyum simpul saat Reisya memuji dirinya sendiri. Mereka kembali ke kamar masing – masing ketika malam semakin larut.
Akhirnya setelah hampir dua minggu, sampailah waktu yang dinanti – nantikan Reisya. Dia pulang ke Indonesia karena liburan telah tiba. Tapi tidak dengan Aaric. Dia masih harus menyelesaikan pekerjaannya yang tidak bisa diwakilkan pada orang lain.
“Sayang, Mas minta maaf nggak bisa nganterin Kamu sampai ke Indonesia. Ternyata pekerjaan Mas cuma Mas sendiri yang bisa menghandle nya. Kamu balik sendirian nggak apa – apa, kan?” tanya Aaric bersedih.
“Bukankah sudah Ku katakan sebelumnya, pekerjaan Kamu tuh banyak. Jadi Aku bisa pulang sendiri,” sahut Reisya.
“Mommy juga minta maaf ya, Rei. Mommy juga nggak bisa ikut nganterin Kamu ke bandara. Soalnya ada teman – teman Mommy yang mau datang,” imbuh Bu Kusuma.
“Iya, My. Nggak apa – apa. Rei bisa naik taksi, kok,” ujar Reisya yang sudah membawa tas kopernya di tangan kirinya.
__ADS_1
“Mommy tidak izinkan kalau naik taksi. Harus tetap Aaric yang nganteri Kamu,” tandas Bu Kusuma.
“Mommy jangan khawatir deh, nggak mungkin lah Aaric biarkan Rei begitu saja,” ucap Aaric.
Aaric pun segera mengantar Reisya ke bandara setelah berpamitan pada Bu Kusuma.
“Rei, pamit ya, Mom,” pamit Reisya sambil memeluk Bu Kusuma.
“Iya, Sayang, Kamu hati – hati, ya. Salam buat Mama Kamu,” sahut Bu Kusuma sembari mencium pipi kiri dan kanan Reisya.
Mobil yang mereka kendarai semakin menjauh dari pandangan mata Bu Kusuma.
“Mas, Aku pamit, ya. Hati – hati kerjanya.”
“Siap tuan putri. Nanti begitu pekerjaan Mas kelar, Mas akan segera menyusul Kamu,” ungkap Aaric tersenyum melepas kepergian Reisya kembali berkumpul dengan keluarga besarnya.
Kemudian Reisya masuk ke pesawat yang sudah siap membawa dirinya kembali ke kampung halamannya, dan Aaric kembali ke tempat kerjanya.
Sesuatu yang telah terjadi tidak akan pernah bisa diubah, ia akan menjadi tinta yang tertulis dalam catatan buku kehidupan kita dan akan menjadi kenangan indah atau menjadi bayang – bayang yang akan selalu menakutkan.
Mata Reisya akhirnya terpejam.
Jauh lamunan Nola seakan menembus luar angkasa yang tanpa batas. Tiba – tiba saja seseorang mendampinginya duduk bersamanya. Nola tersentak kaget saat menolehkan kepalanya. Seketika dendam dalam hatinya menghilang entah kemana.
“Reisya!!!” pekik Nola langsung memeluk sang adik yang sudah seperti saudara kandungnya.
“Miss You so much, Sist,” ucap Reisya semakin mengeratkan pelukannya membuat sang empunya badan sedikit terbatuk – batuk.
“Uhkuk..ukhuk.., Rei..,” keluh Nola sembari menepuk – tepuk tangan yang melingkari pundaknya.
“Hehee.. maaf,” ungkap Reisya dengan cengiran yang menunjukkan gigi – giginya yang rapi.
__ADS_1
“Kok nggak bilang – bilang kalau mau pulang, kan bisa Kakak jemput di bandara,” ujar Nola.
“Justru itu, Rei ingin buat kejutan untuk semuanya,” kata Reisya sambil memainkan kedua alis indahnya.
“Sekarang PUAS? Untung saja Kakak nggak kena serangan jantung. Bisa – bisa masuk Rumah Sakit tanggung jawab lho,” racau Nola dengan kedua bibirnya yang mengerucut.
“Ya pasti lah, Reisya yang jawab dan Bu pengacara ini yang menanggung,” kelakar Reisya lalu keduanya tertawa lepas bersama.
Tidak ada yang mengetahui jika Reisya akan pulang ke rumah hari ini setelah sekian lama tidak pernah pulang. Karna meskipun ada waktu libur Reisya lebih suka untuk menggunakan waktunya meyelesaikan tugas – tugas kuliah atau memanfaatkan waktunya untuk mengeksplor lebih banyak tempat – tampat wisata yang ada di Prancis dan sekitarnya.
“Oh iya, Kak. Papa sama Mama mana?” selidik Reisya karena tidak melihat kedua orang tuanya dan juga Mbok Ana.
“Katanya sih ada acara nikahan anak kolega Papa gitu. Sedangkan Mbok Ana.. pergi ke pasar sama Pak Man,” jelas Nola.
“Oh gitu, ya sudah Rei naik dulu ke atas ya, Kak. Nanti kalau mereka semua pulang jangan bilang kalau Reisya sudah di rumah,” pinta Reisya sambil mengerlingkan salah satu manik matanya.
“Siiiiipp, beres nyonya. Siap laksanakan tugas,” canda Nola pada sang adik.
Namun terlintas pikiran jahat Nola saat Reisya mengayunkan langkah kakinya menuju kamar yang telah lama ia tinggalkan tapi tetap terawat, tersusun rapi dan bersih.
“Kamu tidak perlu jauh – jauh ke Prancis untuk menyakiti anak perempuan yang sangat mereka sayangi, Nola!” sayup terdengar suara bisikan di telinga Nola membuat tatapan tajam penuh kebencian hadir pada dirinya sambil melihat punggung Reisya yang menjauh pergi.
“Kita lihat saja sebentar lagi, keluarga besar Widjaya akan lenyap selama – lamanya dari muka bumi ini. Dan kamu Rei, dengan kepulangan Kamu kembali akan lebih memudahkan Aku untuk terus membalaskan dendamku!” seru Nola pada dirinya sendiri diiringi kedua sudut bibir yang melengkung ke atas penuh kelicikan.
Perlahan Reisya membuka daun pintu kamarnya. Kedua manik matanya berbinar ketika menelisik ke setiap sudut bagian ruangan yang tidak terlalu luas namun cukup nyaman untuk berada di dalamnya.
“Ternyata tidak ada yang berubah sedikit pun,” gumam Reisya dalam batinnya.
Reisya mengelilingi ruangan itu setelah meletakkan kopernya di dekat tempat tidur. Berjalan ke keluar, memandangi sekelilingnya dari atas balkon kamarnya. Lagi dan lagi Reisya merasakan rindunya terobati.
Reisya kembali melangkahkan kakinya masuk ke kamar lalu menjatuhkan tubuhnya pada kasur yang sangat empuk dengan kaki yang masih menggantung.
Kini kebahagiaan terpancar di raut wajah cantik Reisya Adelia, matanya terpejam. Karena lelah, menggiring tubuhnya terlelap dalam tidur.
__ADS_1