
Sudah beberapa hari Reisya tidak masuk ke kampus, karena dia merasa tidak memiliki masa depan lagi. Masa depannya hancur bersama dengan kagagalannya menjaga diri dan prinsip yang selama ini ia pertahankan.
Penyesalan yang tak berkesudahan datang terus menerus dalam diri Reisya. Namun, saat dia kembali berdiri di depan cermin yang menggantung di dinding kamarnya, ia kembali mengingat tujuan utamanya datang ke negara ini.
Kepercayaan dirinya seakan kembali. Pagi ini, Reisya kembali mencoba untuk meyakinkan dirinya. Ia selalu mematut dirinya di cermin untuk beberapa saat setelah sholat dua rakaat dan mengaji. Sampai ia benar – benar merasa yakin dirinya telah lebih baik dari sebelumnya hingga bisa mengulas senyum indah di kedua sudut bibir manisnya.
Waktu pun terus bergulir seiring perputaran jarum jam yang tak pernah lelah untuk berputar. Kini sudah berdiri dua orang insan di depan pintu rumah Reisya pada waktu yang bersamaan dan membuat sedikit keributan kecil yang sampai ke telinga Reisya.
“Hei! What are you doing here?” tegur Aaric kepada Max yang sudah lebih dulu sampai beberapa detik dari Aaric.
“I – I just..,” sahut Max terbata sambil menundukkan kepalanya tanpa berani melirik Aaric sedikit pun.
“It would be better if you go, Now!” sentak Aaric yang masih sangat marah dengan hasil kerja Max yang kurang baik menjaga pujaan hatinya.
“O – okey, I’m so sorry, --“ ucap Max sambil melangkahkan kakinya mundur mengikuti perintah Aaric.
Sementara Aaric menatapnya dengan kasar, lalu berkata, “But, don’t forget to clear it up soon.” Max pun kembali menganggukkan kepalanya lalu pergi menjauh dari Aaric.
Begitu Aaric membalikkan tubuhnya, Reisya sudah berdiri di depan pintu tepat di hadapan Aaric. Membuat Aaric menyengir kuda dengan susunan gigi yang tertata rapi dan bersih.
“Mau apalagi Mas datang kemari? Bukankah sudah ku katakan, kita sudah berakhir?!” sambut Reisya tanpa memberi kesempatan Aaric masuk ke dalam rumahnya.
“Tapi Rei, Kamu tidak bisa memutuskan begitu saja tanpa Aku tahu apa permasalahan sebenarnya. Pokoknya Aku nggak mau kita putus, TITIK!” seru Aaric sambil berusaha masuk ke dalam rumah.
Buummb!!
Bukan dapat jawaban yang Aaric inginkan malah sebuah tinjuan mendarat cantik di perut datarnya.
“Ouuggghhhh!!” pekik Aaric yang semakin mendramatisir sakit yang sebenarnya tak seberapa sakit dirasakannya. Ia berpura – pura tidak dapat berdiri tegak seperti semula sambil sesekali melirik dari ujung ekor matanya.
Tapi Reisya malah menutup pintu rumahnya rapat – rapat. Membuat Aaric semakin suka mengerjai Reisya.
“Auww! Rei.. tolong, Aku tidak bisa berdiri tegak. Sakit sekali Rei! Mungkin saja ada bagian dari dalam perutku ini yang pecah akibat tinjuan Kamu yang terlalu keras,” rengek Aaric semakin menjiwai aktingnya.
Reisya mendengar keluhan Aaric, lalu mengintip dari balik kain putih yang menggantung menutupi daun – daun jendela rumah yang tidak terlalu luas tersebut. Manik mata indah Reisya melihat Aaric semakin meringkuh di depan rumahnya.
Hatinya sedikit tergelitik untuk merasa iba pada sang kekasih namun bertentangan degan egonya yang memaksa dirinya untuk tidak perduli. Namun lagi dan lagi hati kecilnya menggiring tubuhnya untuk membukakan pintu dan membari kesempatan kepada Aaric untuk berbicara dari hati ke hati.
__ADS_1
Sambil membukakan pintu Reisya berkata, “Masuklah, Mas. Aku akan mengobati lukamu.”
Lalu Aaric mendongak sambil tersenyum bahagia. Tanpa ingin melewatkan kesempatan yang terbentang luas di depan mata, Aaric langsung beranjak dan mengekor di belakang Reisya.
Lalu Reisya berbalik dengan melototkan matanya, “Mas! Kamu?!”
Aaric hanya menyeringai melihat ekpresi Reisya.
“Kamu bohongin Aku?!” kesal Reisya sembari memukulkan bantal kecil berbentuk kotak ke tubuh Aaric.
“Itu tandanya, Kamu masih sayang sama Aku. Dan itu membuat Aku semakin yakin bahwa kamu adalah salah satu tulang rusukku yang hilang dan kini telah Aku temukan.”
“Seyakin itu Kamu sama Aku, Mas. Sementara Aku yang sudah tidak pantas untuk Kamu,” monolog Reisya sambil menatap Aaric.
Mereka pun kembali seperti semula saling bercerita dan bercanda, meski Aaric merasa Reisya telah berbeda tidak seperti yang pertama ia kenal. Namun Aaric berusaha mengabaikan hal itu.
“Rei, Kamu sudah rapi begini. Mau ke kampus?” tanya Aaric.
“Rencananya sih iya, Mas. Karena Aku sudah dua hari off,” akunya Reisya.
“Rei, katakanlah padaku. Apa sebenarnya yang terjadi? Aku hanya mendengar dari pihak Max saja. Dan Aku juga ingin mendengar penjelasan dari Kamu. Supaya Aku tahu mengambil tindakan,” ujar Aaric.
“Mas, ada apa?” tanya Reisya penasaran.
“Kamu kenal siapa Steve?” kata Aaric balik bertanya.
Reisya menggelengkan kepalanya pelan.
“Lantas siapa nama pria yang mengaku sebagai temannya Max?” selidik Aaric.
“Martin.”
“Martin??”
Reisya kembali mengangguk sambil menatap Aaric bingung.
“Ya sudah, kalau begitu.. untuk hari ini Aku minta sama Kamu untuk tidak pergi ke kampus dulu. Tetap dirumah. Dan jangan bukakan pintu untuk siapapun, kecuali Aku dan Max. Paham?” titah Aaric memohon.
__ADS_1
“Memangnya ada apa sih, Mas? Jangan buat aku takut dan penasaran.” Keluh Reisya.
“Sudah, Kamu nggak perlu khawatir. Yang penting Kamu ikuti arahan Aku.”
Sekali lagi Reisya mengangguk pelan. Kemudian Aaric pamit.
“Aku pergi dulu, Sayang,” pamit Aaric sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Hati – hati ya Mas.”
Aaric segera menemui Max untuk menyelesaikan semua persoalan yang timbul. Ia meminta Max untuk segera menuntaskan semuanya. Lalu ia kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak sembari memantau Max.
Begitu tiba di kamar hotelnya, Aaric mendapatkan pesan dari sang Mommy untuk segera pulang. Karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan.
Aaric mengayunkan langkah kakinya menuju rumah ternyaman dan terindah dalam hidupnya. Dimana ada cinta dan kasih yang selalu mengharapkan dirinya kembali. Ada untaian do’a tulus yang selalu terucap dari mulut manis sang Mommy.
Aaric tiba di rumah dan di sambut hangat sang Mommy dengan pelukan khas yang tak pernah berubah.
“Welcome home, my beloved son!” sambut Bu Kusuma.
“Mommy sehat?” tanya Aaric sembari mendaratkan ciuman di pipi sang Mommy.
“As you see now..,” sahut Bu Kusuma ceria.
Mereka pun melangkah masuk. Aaric menjatuhkan bokongnya pada sofa empuk di ruang tamu.
“Kamu pasti lelah, Mommy siapkan makan dulu ya,” tawar Sang Mommy.
“Nggak usah, Mom. Aaric sudah makan, sama Reisya,” terang Aaric sembari menyandarkan kepalanya.
“Reisya??!” tandas Bu Kusuma.
“Iya, kenapa Mom?! Ada yang salah?” selidik Aaric.
“Ce serait mieux si tu le quittais!” seru Bu Kusuma.
(“Akan lebih baik jika kamu tinggalkan dia!”)
__ADS_1
“WHAT!!! Maksud Mommy??!”