Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 67


__ADS_3

Di rumah sakit Deon tiba-tiba terbangun dengan mimpi buruknya. Nafasnya  masin memburu dan semakin tersengal ketika Deon mencoba  mengingat apa yaang barusan ia mimpikan.


Jec yang hampir dua puluh empat jam berada di ruangan Deon pun langsung menghampiri Deon ketika laki-laki berparas asia itu tahu kalau  kemungkinan besar bosnya telah bermimpi buruk. "Tuan minum air putih dulu." Jec menyodorkan air putih untuk langkah pertama yang ia lakukan dengan bosnya itu.


Glukkk... Glukkk... Glukkk.... Deon meneguk air putih dalam tegukan yang besar.


"Apa Anda bermimpi sesuatu Tuan?" tanya Deon selanjutnya sembari tangannya mengambil kembali gelas yang sudah tandas isinya.


"Aku bermimpi kalau Qari mengejar-ngejar ku dengan menaiki seekor kuda, padahal aku saat itu sudah keadaan terluka parah tetapi wanita itu masih terus mengajarkan dan mengejar kemanapun aku bersembunyi," lirih Deon, nafasnya masih belum teratur.


Sedangkan Jec yang mendengar ucapan Deon hanya tersenyum kecut. 'Apa Anda tidak sadar Tuan, mimpi itu adalah gambar ke depan apabila Anda masih menganggu wanita itu,' batin Jec, sembari meletakkan gelas yang kosong di atas nakas.


Satu kursi di tarik oleh Jec untuk duduk di samping ranjang pasien Deon. "Lalu Anda ingin aku bagaimana Tuan?" tanya Jec, dengan suara yang sangat terlihat hormat dan patuh.


"Apa kamu tahu Jec apa arti dari mimpi itu?" tanya balik Deon masih belum bisa berpikir untuk ke depannya yang ada dia terpikirkan dengan mimpinya yang terlihat sangat menyeramkan. Bahkan biasanya ia setiap bangun tidur pasti bocor karena ia memang memimpikan Qari tetapi bermimpi yang enak-enak tentunya, sangat berbeda dengan malam ini yang justru bermimpi yang tidak mengenakan di hati Deon.

__ADS_1


"Saya tidak tahu Tuan," jawab Jec hanya pasrah, Jec malah ada perasaan yang bangga dan senang ketika Deon bermimpi seperti itu, mungkin dengan mimpi itu laki-laki yang masih terbaring lemah dengan luka tusuk akan berpikir kedua kalinya untuk mengganggu Qari.


Deon langsung mengangkat pandanganya pada Jec. "Jec perintahkan orang-orang kepercayaan untuk menculik Luson, aku ingin membuat perhitungan dengan laki-laki itu," ucap Deon dengan suara yang cukup menyeramkan.


"Baik Tuan," balas Jec dengan suara yang tegas, jujur Jec lebih tertarik dengan Deon yang  lebih terfokus dengan dendamnya yang sungguhan dari pada berurusan dengan Qari. Baru di pertemuan pertama setelah dia pulang dari luar negri Deon sudah tidak bisa berkutik melawan Qari, bukan tidak mungkin kalau mimpinya itu akan menjadi kenyataan, dia akan  di pukul mundur oleh Qari, ia kalau nasibnya tidak sama dengan kakak dan papahnya. Meskipun sakit masih ada kesempatan untuk bangkit kalau nasibnya sama dengan kakak perempuannya, lalu siapa yang akan mengurus bisnis-bisnisnya yang ada di mana-mana itu.


"Kamu bawa laki-laki itu ke markas kita jangan biarkan ada seorang pun yang tahu dengan aksi kalian, pastikan semuanya bersih," imbuh Deon dan kembali diiyakan oleh Kec.


Kini Deon kembali memejamkan kedua matanya, tetapi pikirannya lagi-lagi terhalang oleh Qari yang tengah tertawa bahagia dengan laki-laki cacat itu. Canda tawa Qari berhasil membuat luka di hati Deon. Bahagia Qari adalah sakit untuk Deon.


"Jec..." Deon kembali memanggil Jec yang sudah merebahkan diri di sofa dan juga mata yang sudah memejam hampir mengarungi alam mimpinya. Jec kembali terbangun dan terduduk.


"Kapan kira-kira aku bisa keluar dari rumah sakit sialan ini? Bukankan lukaku sudah tidak parah lagi, bahkan aku saja sudah bisa bangun tidur sendiri dan juga sudah bisa berjalan jalan," ujar Deon. Jec kembali memejamkan matanya dengan kuat. Laki-laki itu sudah bisa menebak  kemana arah pembicaraan bosnya itu.


"Anda masih dalam tahap penyembuhan Tuan, luka jahit Anda masih basah dan takutnya akan lepas lagi kalau Anda terlalu cape," jawab Jec dengan lirih.

__ADS_1


"Aku mau keluar besok Jec, dan kamu cari tahu kemana Qari liburan," titah Deon, sudah menandakan bahwa perintahnya sudah tidak bisa di tolak lagi.


Jec rasanya ingin teriak sekencang-kencangnya. Mengatakan pada Deon agar STOP mencari tahu soal Qari. Baru beberapa menit yang lalu Jec bernafas dengan lega karena ia mengira bahwa Deon sudah mengerti resikonya bila mendekati Qari, tetapi ternyata perhitungannya salah Deon justru kembali lagi dengan sifat awalnya, yang mana Jec berpikir kalau Jec sudah mengetahui kalau perbuatanya salah.


"Kenapa Jec, apa kamu sudah tidak ingin bekerja denganku?" tanya Deon menggunakan ancaman yang mematikan. Sebenarnya Jec kalau tidak teringat amanah orang tua Deon alias papahnya Deon beliau sebelum meninggal menitipkan Deon pada Jec. Di mana beliau hanya percaya pada Jec yang bisa mengatur Deon. dan selama ini Deon memang nurut dan bisa diatur oleh Jec. Namun bukan Deon setelah mengenal Qari, yang semua nasihat Jec seolah tidak berguna sama sekali


"Baik Tuan saya akan laksanakan perintah Anda, tapi sebaiknya Anda istirahat dulu Tuan," ucap Jec dan Deon pun mengikuti nasihat Jec, istirahat, begitupun dengan Jec dia akan beristirahat lagi. Mengingat ini masih malam.


Deon kembali merebahkan tubuhnya tangannya memegangi dadanya yang sesak, antara ia mempertimbangkan nasihat Jec, dan juga dia mengikuti keegoisan sifat dirinya. 'Dena apa kamu dulu sebelum meninggal di bikin sama seperti aku saat ini, aku juga saat ini merasakan kalau jalan aku salah, tetapi kenapa aku tidak bisa lepas dari kutukan ini Dena," Deon berbisik dalam hatinya memanggil nama kakaknya yang sudah meninggal dunia.


Bahkan matanya untuk kembali terpejam Deon tidak berani ada rasa takut kalau nanti dia akan bermimpi yang sama, yaitu mimpi buruk antara Qari dan laki-laki cacat itu.


Entah berapa jam yang Deon lewati dengan mata yang masih terbuka memandangi langit-langit rumah sakit, sedangkan Jec sudah lebih dulu tidur dan tidak tahu kalau bosnya masih terjaga. Memikirkan rencana demi rencana.


Deon tahu kalau ada upaya dari Jec untuk menutup akses informasi dari Qari untuk dirinya. Deon dan Jec memang perpaduan yang sempurna soal kecerdasan otaknya. Hanya satu yang menarik perhatian Deon yaitu Alzam laki-laki miskin yang menjadi suami Qari. 'Bukanya dia terkena kanker yang dalam arti lain dia sangat besar kemungkinan untuk sakit kembali. Mungkin apabila aku bekerja sama dengan salah satu dokter kepercayaannya untuk menyuntikan obat penumbuh sel kanker laki-laki itu akan cepat pergi dari sisi wanita itu dan aku bisa menggantikan posisinya, dan kebahagiaan Qari akan berganti dengan neraka dunia," Deon terkekeh.

__ADS_1


'Kalau gitu aku harus mencari orang untuk menjalankan tugas-tugas ini," batin Deon kembali. Sisa malam hari ini Deon habiskan untuk menyusun rencananya.


...****************...


__ADS_2