
Tangisan Reisya semakin menjadi – jadi ketika Aaric meninggalkannya dengan kebencian . Reisya meratap dirinya yang malang.
Dia meringkuk di dalam kamar di atas tempat tidurnya. Tak henti – hentinya ia menangis. Kini hanya tinggal sesal dan rasa sakit yang tersisa akibat dari kelalain yang dilakukannya dalam waktu sehari tapi teapi mampu meluluh lantakkan kehidupannya.
Reisya beranjak dari tempat tidurnya, berjalan gontai perlahan mengambil foto – foto yang berserak di meja tamu. Sambil terduduk, kembali dilihatnya foto – foto dirinya dengan pria yang sudah menipu dirinya.
“Ya Allah! Bagaimana aku bisa menjalani kehidupanku selanjutnya? Bagaimana Aku bisa menjelaskan kepada Mama, Papa, juga Kak Nola? Aku tak sanggup ya Allah, Aku tak sanggup,” gumam Reisya dalam hatinya.
“Seandainya saja waktu itu Aku kekeh dengan pendirianku, semua ini tidak akan pernah terjadi. Aku tidak akan terpuruk seperti ini..,” sesal Reisya lirih sambil terus menangis.
“Aku tidak akan tinggal diam, Aku akan mencari siapa pria asing itu! Aku akan membuktikan bahwa ini semua hanyalah kesalahan, hanya sebuah settingan!” geram Reisya dengan mata yang sudah menggembung.
Tapi lagi dan lagi cairan putih bening itu bebas mengalir tanpa ada yang menghalanginya sedikit pun. Rasa sakit yang teramat dalam, rasa perih yang sangat menyayat hati tak dapat lagi terelakkan.
Sekelebat bayangan Aaric melintasi alam pikirannya. Sorot mata penuh kebencian kembali menghias pikiran Reisya. Sakit sungguh sakit, melihat sikap dan kata – kata yang terlontar dari mulut orang yang di sayang, seakan dunia akan runtuh.
“Mas! Bagaimana kamu tega mengatakannya padaku? Kenapa sampai hati kamu menuduh aku seperti itu.. selama ini Aku selalu mengikuti apapun perkataanmu, apapun ke inginanmu, tapi sekarang dengan mudahnya kau menuduh, menghina dan bahkan mencaci maki aku seperti itu. Mas.. Aku benci.. sangat membencimu, Mas!” sesal Reisya.
“Jika mencintai membuat Aku tersakiti, membuat Aku terhina dan membuatku begitu rendah, Aku tidak ingin mengenal yang namanya cinta ya Allah, jika ternyata sesakit ini yang Aku dapat,” lirih Reisya masih dengan deraian air mata di kedua pipinya.
Reisya semakin terbenam dengan kesedihan dan kesakitannya di dalam ruangan yang tidak begitu luas. Dengan tissue yang berserakan di lantai maupun tempat tidur. Bahkan dering suara handphone tak lagi ia hiraukan.
***
Sementara Aaric, dia pergi menenangkan dirinya di sebuah tempat yang tidak jauh dari rumah Reisya namun membuatnya cukup untuk menenangkan diri.
“Rei! Kenapa Kamu tega mengkhianati ketulusan dan kepercayaan yang telah ku beri. Aku sungguh mencintai dan menyayangimu, tapi sampai hati kamu melakukan semua ini di belakangku! Kalau kamu memang menginginkan itu, Aku sanggup melakukannya untukmu! Tapi bukan dengan pria asing seperti itu,” murka Aaric dengan pandangan kosong ke depan.
“Di depanku Kamu berlagak sok suci, tapi di belakangku.. cih! Kamu tak lebih dari perempuan – perempuan malam yang hanya ingin mencari kenikmatan sesaat. Atau hanya sekedar demi uang receh. Atau jangan – jangan ini bukanlah yang pertama kali, tapi cuma aku saja yang baru tahu. Hmm, dasar perempuan murahan!” maki Aaric pada Reisya dalam hatinya.
Tak berapa lama, ada seseorang menghampirinya yang sedang termangu menatap kosong pemandangan di depannya.
“Sepertinya ada yang lagi bersedih?” tegur Melinda yang datang tiba – tiba lalu mensejajari Aaric.
Aaric langsung membeliakkan matanya, menoleh ke samping sambil melotot.
__ADS_1
“Bagaimana bisa kamu ada di sini?” tanya Aaric.
“Ternyata dunia ini sempit sekali ya, Kak? Buktinya kita bisa bertemu disini. Hm, Kakak tahu itu artinya apa?” –“kita itu bejodoh lho, Kak. Kita selalu saja di pertemukan alam dimanapun tanpa kita minta, iya kan?” celetuk Melinda. Namun Aaric tidak memperdulikannya.
“Atau jangan – jangan karena ini ya?” ungkap Melinda sembari menunjukkan cincin yang malingkar indah di jari manis Melinda.
Ya cincin yang pernah di beli Aaric untuk melamar Reisya namun Melinda merampasnya begitu saja. Hal itu membuat Aaric semakin jengah.
“Lebih baik kamu pergi dari sini sekarang, Aku tidak mau mendengar ocehan apapun dari Kamu!” ketus Aaric.
“Yakin mau Aku pergi? Nanti menyesal, karena aku ingin menyampaikan sesuatu tentang ‘Tunangan’ Kak Aaric yang sok suci itu,” cicit Melinda.
“Tapi kalau Kak Aaric tidak ingin mendengar ya sudah, Aku tidak akan memaksa.”
Melinda menepuk pundak Aaric pelan sembari tersenyum, lalu beranjak dari tempat duduknya. Namun tangan Melinda di cekal oleh Aaric, membuat langkah kakinya terhenti dan terukir senyum lebar penuh kemenangan.
“Katakan apa sebenarnya yang kamu ketahui tentang Reisya? Sedlidik Aaric.
“Jika Kakak ingin mengetahui semuanya.. boleh – boleh saja, tapi ada satu syarat.”
“Kakak harus mencium ku di depan mata Reisya,” pinta Melinda sembari menunjuk bibir dan lehernya.
“Gila kamu ya?”
“Ya sudah jika Kakak menolak, berarti Kakak juga tidak akan mendapatkan informasi apa – apa dari Aku tentang tunangan Kakak yang..,” tandas Melinda dengan senyum licik.
Aaric tampak berpikir sejenak. Tak berapa lama ia pun menyetujui syarat yang di berikan Melinda kepadanya.
“Oke, Aku setuju!” jawab Aaric datar.
“Nah, begitu kan enak. Toh syaratnya juga gampang dan menguntungkan ka..,” omongan Melinda terhenti disela oleh Aaric.
“Sudah katakan apa yang Kamu ketahui tentang Reisya?” desak Aaric yang sudah tidak sabar.
“Nggak sabar, ya? Okey....”
__ADS_1
Akhirnya Melinda menceritakan sesuai dengan apa yang ia inginkan. Ia semakin menggiring Aaric untuk membenci Reisya agar dengan mudah ia mengambil hati Aaric dan juga kedua orang tuanya.
“Seandainya Aku ada di posisi Kamu, Kak. Aku tidak akan pernah mau mengenal apalagi melihat perempuan yang tidak punya harga diri seperti itu. Tanpa rasa malu bercinta dimanapun dia mau, tidak perduli lagi dengan budaya kita sebagai orang Timur,” imbuh Melinda semakin membakar api kebencian Aaric.
“Dan yang lebih memalukannya lagi, dia melakukannya di depan mata kedua orang tua kamu, Kak!” hasut Melinda semakin menjadi – jadi.
“Are you serious?!”
“Serius, Kakak. Jadi apakah dia masih layak untuk Kakak?” tanya Melinda.
“No! Dia tidak layak sama sekali. Ternyata selama ini Aku salah menilainya.”
Aaric langsung beranjak dari tempat duduknya sambil menarik tangan Melinda. Akhirnya Melinda merasa misinya berhasil kali ini.
“Kak, pelan dong. Memangnya kita mau kemana?” tanya Melinda pura – pura tidak tahu.
Aaric hanya diam tak bergeming. Dia terus menggandeng tangan Melinda sampai ke mobil.
“Masuk!” titah Aaric.
Melinda dengan sangat senang hati mengikuti perintah Aaric - sang pujaan hati.
Aaric melajukan mobilnya dengan emosi dan cemburu yang semakin membuncah setelah mendengar penuturan dari Melinda. Kini ia dan Melinda sudah berdiri di depan pintu rumah Reisya.
Dengan kasar Aaric kembali mengetuk pintu dan memanggil nama Reisya. Reisya pun langsung lompat dari tempat tidurnya kemudian membuka pintu rumahnya.
Reisya membulatkan manik matanya saat mendapati Aaric dan Melinda masih bergandeng tangan. Sementara Melinda melebarkan senyum kemenangannya.
“Kalau Kamu bisa melakukannya itu bersamanya, Aku juga bisa melakukan seperti apa yang Kamu lakukan Rei!”
Dengan kasar Aaric langsung ******* bibir ranum Melinda. Sesuai yang dipinta Melinda sebagai syarat. Reisya hanya melongo, tanpa di sadarinya air mata itu kembali menggenagi pelupuk matanya yang masih sembab. Sementara Melinda semakin menikmatinya.
Akhirnya Reisya menutup dan mengunci pintu rumahnya rapat - rapat, kemudian kembali ke kamarnya sambil berlari dan menangis sejadi – jadinya.
“Kamu keterlaluan, Mas! Kamu Jahat! Aku benci kamu, Mas,” rintih Reisya denga rasa sakit yang sangat luar biasa.
__ADS_1