
Doni melangkahkan kakinya hendak pulang setelah semua pekerjaannya selesai. Kedua matanya tertuju pada kertas yang ada di depan kaca mobilnya. 'JANGAN IKUT CAMPUR DENGAN URUSANKU' itu adalah tulisan yang ada di kertas, depan kaca mobilnya.
Laki-laki itu hanya mengambil kertas itu dan menyobeknya kecil-kecil. Sebelum naik kedalam mobilnya Doni lebih dulu mengecek semua kendaraanya dengan baik, mulai dari roda dan juga remnya. Antisipasi dengan apa yang mungkin saja Deon lakukan untuk mencelakainya. Setelah ia merasa kalau orang-orang suruhan laki-laki itu tidak membuat bahaya, Doni naik ke mobilnya. Tangannya mengambil ponsel yang ada di tas kerjanya.
Tangannya menekan nomor ponsel yang masih dia ingat. Meskipun Doni sudah menyobeknya kecil-kecil hingga tidak berbentuk, tetapi laki-laki itu masih sangat ingat nomor Jec, asisten Deon.
Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya orang yang berada di sebrang telepon mengangkat sambungan telpon Doni.
[Singkirkan orang-orang itu, dari kehidupanku! Jangan macam-macam denganku Jec, atau pun Deon. Aku memegang kartu As keluarga Irawan. Katakan pada bos kalian Deon Irawan, kalau dia mau bekerja sama denganku datang langsung padaku, jangan utus loe atau pun kecoa-kecoa busuk itu untuk mengancam aku. Karena kalau aku sudah kehilangan kesabaran siapa Deon sesungguhnya akan terbuka ke publik dan saat itu juga karirnya akan hancur. Aku tahu kartu AS kalian jadi jangan macam-macam.] cerocos Doni di balik teleponnya.
[Maaf Anda siap?] tanya Jec dengan santai, yang mengira bahwa orang yang sedang meneleponnya adalah orang yang salah sambung.
[Aku Doni. Doni Mahendra dokter yang menangani Alzam, suami dari Qari. Wanita yang sudah kalian jebak dengan kelakuan bos kalian. Kalau kalian masih ganggu Alzam dan meneror aku, seperti hari ini. Aku, Doni Mahendra tidak akan tinggal diam.]
Jec seketika di tempat berbeda langsung diam.
Deon yang melihatnya pun penasaran dan mengambil ponsel Jec dengan kasar.
[Apa mau loe?] bentak Deon dengan suara yang mengerikan.
__ADS_1
[Selamat sore Deon Irawan. Aku hanya ingin kamu tarik mundur orang-orang loe yang meneror gue dan Alzam,] balas Doni dengan santai.
[Tidak bisa, itu konsekuensinya karena loe tidak mau bekerja sama dengan gue,] jawab Deon juga dengan santai dan seolah laki-laki itu sedang menantang Doni. Apa yang akan dikatakan oleh Doni, Deon ingin tahu sejauh mana Doni mengenalnya.
[Ok. Aku senang dengan orang yang keras kepala seperti ini, dasar anak HARAM!] Doni terus memancing Deon yang di sebrang sana langsung terbakar kemarahannya.
[Jaga mulutmu bajing'an,] bentak Deon tidak mau kalah. Dalam batinya dia sangat penasaran dengan siapa sosok Doni itu.
[Kenapa marah? Tidak mau di katakan anak haram? Bukanya benar kan loe itu hanya anak haram yang lahir tanpa adanya ikatan pernikahan. Seharusnya loe bersyukur karena loe sudah berhasil menguasai harta Irawan, yang semestinya harta itu jatuh ke tangan anak sahnya. Anak yang lahir dari pernikahan sah bukan anak yang lahir dari wanita penggoda seperti Lysa.] Suara Doni tidak kalah tinggi dari Deon.
[Lysa? Siapa Lysa ibu ku adalah Diana bukan Lysa. Anda jangan sok tahu Doni]
[Yah, ibumu adalah Diana yang ada dalam surat hukum, tapi tetap saja loe itu keluar dari seorang wanita penggoda bernama Lysa. Atau jangan-jangan kamu sendiri tidak tahu kalau Lysa adalah ibu kandung Anda, Tuan. Kasihan sekali ibu kandung sendiri saja tidak tahu. Saran saya lebih baik Anda cari ibu kandung Anda dari pada membuang waktu untuk menyingkirkan Alzam, yang itu sama saja Anda berurusan dengan aku. Sekali Anda berurusan denganku mungkin kedepannya Anda akan tidur di kolong jembatan.] Doni langsung memutuskan sambungan teleponnya. Yah, dia sengaja agar Deon semakin murka. Marah dan itu akan semakin menarik.
Sedangkan Deon sendiri begitu sambungan diputus secara sepihak oleh Doni emosinya langsung meningkat, dan ponselnya dibuang ke sembarang arah. Sedangkan Jec sendiri hanya mematung melihat Deon yang seperti itu, dan hal seperti itu pun memang sering terjadi. Bahkan entah berapa kali Jec berganti ponsel karena lagi-lagi ponselnya hancur karena Deon.
"Jec apa kamu kenal wanita yang bernama Lysa?" tanya Deon. Pikirannya tidak bisa menolak ia terpancing juga dengan ucapan Doni itu.
Setahu Deon selama ini adalah dia anak sah dari pasangan Irwan Bellamy dan nama Bellamy sendiri adalah nama dari kakeknya sedangkan ibunya adalah Diana Jovanka yang sudah berpisah dengan papahnya dan menurut cerita dari Irawan ibunya sudah pulang kedengarannya dan meninggal dunia di negara kelahirannya.
__ADS_1
Sementara Deon sendiri hanya di besarkan oleh pengasuhnya dan kakak perempuannya yaitu Denada Keisha Arion Bellamy. Hubungan mereka memang dari dulu jarang terjalin dengan hangat. Itulah yang di sesali oleh Deon. Bahkan laki-laki itu tidak tahu kalau kakaknya Dena mengalami depresi gara-gara laki-laki bernama Luson.
Semua yang Deon ketahui setelah Dena meninggal dunia, semuanya diungkap dari buku diary nya dan juga asisten pribadinya. Itulah yang membuat Deon selalu dihantui dengan kesalahan atas meninggalnya Dena dan papahnya.
"Saya tidak pernah mengenal perempuan bermana Lusy, Tuan," balas Jec dengan suara lirihnya.
"Apa kalian sudah tahu siapa Doni itu dan hubungannya dengan keluargaku apa? Kenapa sepertinya dia lebih tahu keluargaku dari pada aku sendiri?" lirih Deon dengan wajah masih terduduk dengan lesu.
"Belum Tuan, dari orang-orang yang mencari tahu mereka itu hanya mengatakan kalau Doni itu hanya seorang anak dari pemilik rumah makan yang cukup terkenal pada jamannya, dan saat ini mereka hanya tinggal berdua," jawab Jec hanya itu yang dia tahu dari informasi anak buahnya mengenai Doni.
"Papahnya ada yang tahu?" tanya Deon mulai curiga dengan orang tua laki-laki dari Doni itu.
Jec menggeleng kepalanya dengan pelan. "Tidak ada yang tahu mengenai mereka Tuan. Keluarga itu cukup tertutup dan untuk ibunya sendiri pun tidak pernah terlihat. Mungkin mereka sudah berumur," balas Jec lagi.
"Kamu coba cari tahu lagi mengenai laki-laki itu, aku semakin penasaran dengan Doni. Apa benar semua yang dikatakan benar, atau justru dia sedang bermain-main denganku dan menciptakan kebohongan," lirih Deon. Otaknya di putar dengan keras mengingat-ingat nama Lysa. Sepanjang papahnya hidup dia tidak pernah tahu dengan nama itu.
"Mungkin ini adalah trik dokter licik itu Tuan, agar Anda tidak terfokus dengan Alzam dan dirinya, tetapi justru mencari tahu siapa itu Lysa." itu yang ada di dalam pemikiran Jec.
"Tapi bagaimana kalau yang dikatakan Doni itu benar ibu kandungku adalah wanita bernama Lysa?" cecar Deon, rasanya tidak mungkin Doni bisa sangat lancar menyebut nama-nama wanita itu apabila ia tidak tahu dengan kebenaranya.
__ADS_1
Namun, lagi Deon juga membenarkan pemikiran Jec, saat ini saja ia sudah tidak terfokus dengan Doni dan Alzam, apalagi Qari dia hanya terfokus dengan silsilah keluarganya yang runyam, dan itu tandanya rencana Doni itu sangat berhasil.
"Jec berikan aku obat penenang, kepala sangat sakit."