Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 146


__ADS_3

Doni bergantian kini ia mentap Deon setelah Alzam pergi dengan kesedihanya.  Marah yang sudah pada tahap akhir, kecewa yang sudah di luar batasnya. Entah bagaimana  kesedihan Alzam saat ini, dan itu semua Deon yang menyebabkanya.


"Apa yang loe inginkan sudah tercapai semua Deon. Tidak ada yang tersisa. Semuanya terkabulkan." Doni menatap Deon dengan sengit, dan Deon pun menatap Doni dengan iba, pandangan mata adik kakak itu bertemu. Namun buru-buru Deon memutuskan kontak matanya.


"Aku menyesal. Aku  sangat-sangat menyesal."


Ck... Doni berdejak dengan keras.


"Sudah terlambat!!! Pernah tidak loe berpikir bahwa semuanya akan seperti ini? Pernah tidak loe berpikir kalau betapa hancurnya Alzam saat ini. Dia harus menguatkan Qari, keluarga Qari yang sampai saat ini belum tahu kalau anak itu sudah meninggal. Pernah tidak loe berpikir sampai situ?" bentak Doni dengan suara yang keras, bahkan tanganya akan menampar Deon, tetapi Jec buru-buru menahanya.


"Tuan, tolong jangan menambah keributan di sini. Kami juga salah, karena kami yang seharusnya mengawasi Tuan Deon, tetapi justru kecolongan. Untuk saat ini tahan dulu Tuan hingga semuanya sudah selesai." Jec berbicara dengan nada yang pelan dan Doni pun untungnya bisa di nasihati. Berbeda dengan Deon yang selalu keras kepala.


"Tuan biarkan bayi Anda, saya yang urus untuk dimandikan dan Anda tunggu di sana saja, untuk istirahat," bisik Cucu, dengan tangan yang akan mengambil jasad bayi yang sudah mulai dingin tubuhnya. Namun, Deon lagi-lagi berulah dan menahan tangan Cucu.


"Tidak Cu, aku masih mau menggendong anaku," lirih Deon masih menatap wajah bayi yang bahkan bibirnya sudah mulai pucat, tangan Alzam terus membelai bibir dan mata bayi cantik itu, bulu mata yang lentik itu pasti ketika besar akan menjadi primadona, tetapi justru gadis itu harus kehilangan kesempatan itu.


Cucu dan Jec kembali saling menatap. "Tuan, tolong Anda jangan seperti itu. Kalau Anda seperti ini yang ada malah Anda menyakiti anak Anda, bayi Anda merasakan sakiti dengan cara Anda seperti ini." Cucu sebenarnya sangat kehilangan kesabaran ketika berbicara dengan Deon tetapi, hanya pada Cucu, Deon bisa sedikit nurut.


"Tapi aku masih ingin bersama anak aku, Cu," lirih Deon, kembali memeluk dan mencium jasad bayinya.


"Tuan, kalau Anda ingin tetap bersama dengan anak Anda, caranya bukan terus memeluk anak Anda, ini hanya akan menyakitinya. Anda harus banyak berdoa untuk anak Anda. Apa Anda kira Alzam tidak  sedih dengan anaknya yang meninggal. Laki-laki itu sangat sedih, tetapi dia tahu mana yang terbaik untuk anaknya. Belajarlah dari Alzam, dia bisa memperlakukan anak dan istrinya dengan baik, dia merelakan Anda mengurusnya bukan karena dia tidak sayang pada Qinar dan bukan juga karena dia memaafkan Anda, dia marah dan kecewa pada Anda, tetapi dia laki-laki yang baik dan tahu memperlakukan orang lain dengan baik, bisa memberikan kasih sayang yang sesui porsinya. Belajarlah dari Alzam, Tuan." Cucu yang terus berusaha menasihati Deon.


Meskipun Cucu tahu usahanya tidak akan dengan mudah berhasil. Doni dan Jec bun hanya diam saja, bukan mereka tidak ingin membantu Cucu, tetapi mereka juga tidak tahu cara menasihati laki-laki itu yang sangat menyebalkan itu.


Deon pun menatap Cucu dengan tatapan yang kosong, mungkin otaknya sedang benar sehingga tidak melawan lagi. "Apa yang kamu katakan benar?" lirih Deon kedua matanya masih mencoba mencari kebenaran di mata Cucu.


"Dalam agama kita kalau ada seseorang yang meninggal itu harus disegerakan untuk mengurus pemakamanya, karena itu demi kebaikan si mayit, kasihan kalau terlalu di lamakan dia akan merasa tersakiti." Cucu kembali mengusap pundak Deon agar mau menyerahkan jasad bayinya.


"Aku mau anak aku bahagia." Deon menyerahkan jasad Qinara ke Cucu, dan wanita itu pun membawanya bersama suster yang akan memandikanya dan mengurus segala urusan untuk pemakaman. Deon sendiri hanya termenung entah apa yang ada dalam pikiranya, tetapi tatapnya sangat kosong.

__ADS_1


Alzam sendiri dengan kaki berat, tubuh lemas dan juga pikiran yang rumit berjalan menghampiri rungan Qari, untuk sejenak laki-laki itu menatap Qari dengan tatapan yang bingung. Tanpa sepatah kata pun. Alzam ingin memberitahu pada Qari bahwa Qinara sudah  bahagia bersama Tuhan, dan akan menunggu mereka di surganya Allah, tetapi Alzam takut, kalau Qari malah semakin drop.


Memang Qari tidak sadar tetapi mungkin saja kan kalo Qari dengar.


Setelah puas menatap Qari, laki-laki itu sangat yakin kalau Qari akan sembuh.


"Sayang, kamu hanya cape kan, kamu lelah dan saat ini kamu hanya ingin istirahat, katakan setelah kamu  tidak cape kamu akan bangun  lagi." Alzam menatap tubuh Qari yang masih banyak menempel alat-alat medis.


Dalam pikiran Alzam juga memikirkan perasaan Tantri, pasti gadis itu akan di hantui perasaan bersalah. Karena penyebab ini ada andil dari dirinya.


Laki-laki  itu pun mundur ke belakang dan duduk di kursi tunggu. Ia ingat belum ada keluarga Qari yang dia beritahu tentang kondisi buah hatinya yang sudah tidak sakit lagi.


Alzam meraih ponselnya dan segera menekan nomor Naqi, dan memberitahukan kakak iparnya. Mereka wajib tahu dengan kondisi anak Qari.


[Ada apa Al?] tanya Naqi yang tidak perlu menunggu lama langsung mengangkat sambungan telepon dari Alzam.


[Mamih bagaimana kondisinya?] tanya Alzam sebelum mengabarkan apa yang terjadi pada putrinya tentu Alzam ingin tahu lebih dulu bagaimana kondisi  mamih mertuanya.


Alzam menghirup nafasnya dalam dan mencoba membuangnya.  dengan perlahan untung mengurangi ke gugupanya.


[Anak kami sudah sembuh,] ucap Alzam dengan suara yang lirih.


[Apa Al, kamu ngomong apa? Anak kalian sembuh, maksudnya apa? Apa sembuh yang kamu maksud adalah...] Naqi membekap mulutnya, dan buru-buru laki-laki itu meninggalkan Qanita dan langsung menghampiri Alzam, bahkan sambungan telepon mereka masih terhubung, Alzam hanya diam saja ia tahu kalau abang iparnya sedang berjalan dari suara di telpon yang masih terhubung.


"Al... apa yang terjadi." Suara Naqi dari kejauhan sudah terdengar  dengan nyaring. Alzam hanya menunduk sebagai tanda bahwa dirinya memang bersedih.


Kedua mata Naqi kembali awas, bingung kenapa kakek dan istrinya tidak ada. "Ini Cyra dan Kakek k mana Al?"


Alzam kembali diam, bahkan dia lupa kalau kakeknya juga tidak lama dari Qanita pingsan langsung, sama dengan Qanita yaitu pingsan.

__ADS_1


"Al... kamu sedang tidak bercanda kan?" Naqi tahu arti dari diamnya Alzam.


"Kakek pingsan, dan saat ini masih dalam tahap penanganan dari dokter, dan yang menemani Kakak Cyra. Soal anak kami, dia sudah sembuh untuk selamanya." Alzam menunduk dengan tubuh condong ke depan tidak berani menatap Naqi.


Akkhhrrr... Naqi menjambak  rambutnya dengan kuat. "Kenapa semuanya jadi seperti ini Al, kenapa...?"


Brakkk... Naqi melempar ponselnya hingga berserakan, bahkan orang-orang yang ada di sekitarnya pun langsung terdiam dan pandangan terarah pada Naqi dan Alzam.


Alzam sendiri masih diam saja bergeming dengan posisi yang sama. Ia maklum Naqi juga pasti sangat menunggu kehadiran anak itu, mengingat Qinara adalah cucu pertama dalam keluarga mereka, dan Naqi yang sampai detik ini juga belum mendapatkan momongan.


"Di mana Qinara saat ini?" tanya Naqi dengan suara parau dan bergetar. Naqi sudah tahu bahwa anak Qari, bernama Qinara sebab, Qari yang selalu mengatakanya.


"Di ruang NICU. Deon yang mengurus pemakamanya. Saya tidak bisa meninggalkan Qari, takut dia sadar dan akan mencari saya," jawab Alzam, meskipun Naqi tidak menanyakanya tetapi Alzam tidak mau Naqi salah sangka.


"Al, kenapa kamu menyerahkan Qinar pada laki-laki itu? Kamu sudah gila! Gara-gara laki-laki itu Qari kritis, dan anak kalian, meninggal apa kalian ingin terjadi yang lebih dari kekacauan ini." Naqi kembali membentak pada Alzam, dan Alzam hanya diam saja.


"Deon itu ayahnya juga, meskipun dia salah, tetapi saya melihatnya dia sudah menyesali kesalahanya. Saya tidak ingin  menghakimi dia. Saya juga marah sangat marah dan menyayangkan sifat bodohnya, tetapi dia saat ini sedang di hukum juga dengan kepergian anaknya."


"Aku nggak tahu hati kamu itu terbuat dari apa Al. Kamu terlalu baik, sehingga Deon bisa  memanfaatkan  kalian." Naqi meninggalkan Alzam kembali sendirian, dia ingin melihat keponakanya.


"Gara-gara laki-laki itu keluarga ku hancur. Awas saja kalau terjadi sama Qari, Mamih, dan Kakek, dia akan mati di tanganku.," umpat Naqi dengan kaki terus mengayun ke ruangan yang Alzam katkan, kalau keponakanya berada.


Pandangan mata Alzam sendiri terus menatap punggung kakak iparnya hingga tidak terlihat lagi. "Anda salah Tuan, saya bukan terlalu baik dengan Deon, justru Deon marah ketika saya sudah tegur. Mungkin kalau saya siang tadi diam saja dan pura-pura tidak tahu semuanya tidak akan seperti ini."


Namun, lagi-lagi nasi sudah menjadi bubur, yang tersisa dalam batin hanya penyesalan, tidak ada satu pun yang membuat semuanya kembali seperti sedia kala.


Mata Naqi langsung memerah ketika meliah Deon sedang dudu termenung melamun, meratapi nasibnya.


"Kurang ajar kamu. Gara-gara loe, Adik, Ponakan, Mamih dan juga Kakek gue semuanya jatuh sakit gara-gara loe, bajingan."

__ADS_1


Bruggg... Bruuggg... Naqi langsung melayangkan tinjuan berkali-kali ke wajah Deon, hingga laki-laki itu yang berlum siap untuk menerima serangan dari Naqi pun jatuh tersungkur.


__ADS_2