
Tepat pukul dua perawat mengatakan kalau operasi yang akan dilakukan oleh Qila akan seger dilakukan. Sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan yaitu jam tiga Qila akan menjalani operasinya. Qila pun terlihat nampak murung, sedih dan juga tegang. Hingga wanita yang baru saja menikah hanya diam saja ketika perawat menanyakan kesiapannya.
"Nur, kamu kenapa?" tanya Jec, laki-laki itu terlalu suka untuk meledek Qila yang sudah jelas-jelas tidak suka dengan nama panggilan Nur, tetapi justru Jec terus memanggilnya dengan sebutan nama itu. Anggap saja itu adalah pangilan nama kesayangan dari Jec untuk istri kecilnya.
Qila memalingkan wajahnya pada Jec dengan tatapan yang super malas. Ingin mengumpat pada Jec, tapi apa daya dia masih terlalu malas untuk ngobrol dengan suaminya itu.
"Jangan marah-marah nanti cantiknya ilang," ledek Jec, lagi sehingga Qila justru semakin kesal dengan laki-laki yang baru saja menyandang setatus sebagai suaminya.
Sedangkan Sam, yang begitu pamitan dengan Naqi langsung mengecek ruangan yang tadi ia sempat dengan ada ijab kabul. Hati Sam terlalu peka dan yakin kalau yang tadi mengadakan acara nikah di rumah sakit adalah Qila. Dari balik pintu Sam melihat ke dalam di mana keyakinanya benar, bahwa yang ada di dalam sana adalah Qila. Wanita yang sangat ia ingin temui. Dan Qila juga alasan dirinya datang kembali ke Indonesia.
Setelah cukup puas menatap Qila yang nampak murung, Sam pun meninggalkan ruangan di mana Qila berada, dan Sam juga semakin yakin kalau Qila itu tidak bahagia dengan pernikahan ini. Sebelum kembali ke ruanganya Sam pun mencari tahu akan sakit yang di derita oleh Qila.
Sam pun yakin akan menemui Qila, dan membahas hubunganya yang dulu. Yang entah dari mana datangnya keyakinan kalau Qila masih sangat cinta dengan dirinya. Entah kepercayaan diri dari mana datangnya sehingga Sam memutuskan untuk memperjuangkan Qila kembali. Persetan dengan tuduhan pembinor, yang ingin dia perjuangan adalah kebahagiaan Qila.
Kembali ke ruangan Qila di mana kini wanita itu sudah di pindahkan ke ruang operasi.
"Semangat yah Nur, kamu pasti bisa jalani ini semua, aku yakin ini tidak sakit, ya kalau pun sakit bersati itu dosa kamu yang terlalu banyak. Karena kata pak ustadz kalau sakit iu sedang mengurangi dosa. Jadi kalau sakit banget itu tandanya dosa kamu terlalu banyak," kelakar Jec. Laki-laki itu hanya menghibur Qila agar tidak sedih lagi. Sedangkan Qila justru kembali memberikan tatapan yang bosan, dan tidak menjawab ucapan Jec dari tadi.
Namun, Jec tetap berusaha mengerti mungkin Qila karena saking tegangnya sehingga ia tidak ingin menanggapi candaan dirinya.
Jec duduk di depan ruangan operasi, kata dokter untuk melakukan operasi pengangkatan miom paling lama hanya satu jam, meskipun Jec juga lelah dan juga ngantuk belum juga lapar. Laki-laki itu tetap menjaga Qila, tanpa ingin meninggalkan sedetik pun.
Benar saja setelah melewati tiga jam kini Qila sudah kembali lagi ke ruangan dengan wajah yang cukup segar. Tidak sepucat tadi. Hanya saja rasa sakit paska operasi masih sesekali membuat Qila meringis. Itu yang Jec lihat.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Jec untuk membuka obrolan. Lagi, Qila hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa dirinya baik-baik saja.
"Ok baiklah kalau gitu aku akan ke kantin dulu untuk membeli makanan, apa kamu akan titip sesuatu?" tanya Jec lagi, ia tidak lelah untuk membuka obrolan dengan Qila. Lagi, Qila hanya menggelengkan kepalanya.
"Ok kalau begitu aku akan kembali secepatnya." Jec pun langsung meninggalkan ruangan Qila, tentu sebelumnya menitipkan Qila pada perawat yang sedang berjaga tidak jauh dari ruangan sang istri.
Sementara Qila masih ingat betul suara dokter yang tadi mengajaknya berbicara. "Apa dokter tadi adalah Sam? Aku masih sangat mengenali suara itu," ucap Qila sembari memegang dadanya. yang ingin masih berdetak lebih kencang ketika mengingat suara tadi.
"Kalau dokter itu adalah aku apa yang ingin kamu katakan?" tanya laki-laki yang suaranya sangat Qila kenal.
"Sam..." Qila langsung menatap Sam yang ternyata sudah berada di belakangnya.
"Iya itu aku, kamu mau ngomong apa? Buruan mumpung aku lagi tidak sibuk," goda Sam dengan senyum merekahnya, senyum yang sempat membuat Qila tergila-gila.
Qila pun membalas senyum Sam, tetapi wanita itu tidak bisa mengatakan apa-apa. Otaknya masih bisa berpikir dengan normal. Ada laki-laki baik yang sudah menikahinya. "Tidak ada, aku tidak ingin mengatakan apa-apa," jawab Qila dengan senyum yang masih tertahan karena rasa sakit di perut bagian bawahnya.
"Baiklah kalau kamu tidak mau mengatakan apa-apa kalau gitu lebih baik aku saja yang mengatakannya. Aku kangen kamu, aku masih cinta kamu, dan aku baru saja datang di Indonesia tidak lain dan tiada bukan untuk memperbaiki hubungan kita," ucap Sam dengan tatapan yang terus menatap Qila dengan tajam. Sedangkan Qila justru menunduk dan tidak merani menatap Sam.
Cukup lama keduanya terlibat kebisuan. Qila tidak menjawab ucapan Sam, dan Sam menunggu sampai Qila mau menjawab apa yang dia katakan.
"Kenapa tidak kamu jawab?" tanya Sam, pura-pura tidak tahu dengan pernikahan Qila. Meskipun pasti Qila sudah tahu bahwa dirnya hanya ekting semata. Sudah jelas Sam melihat situasi dulu sebelum masuk ke dalam ruanganya.
"Maaf Sam, lebih baik kita menjadi teman saja, karena aku sudah menikah," jawab Qila, dengan tatapan yang menunduk dan lesu. Hingga Sam pun terkekeh renyah dengan ucapan Qila itu.
__ADS_1
"Menikah? Apa pernikahan kamu karena keikhlasan kamu atau?" Sam tidak melanjutkan ucapanya, karena melihat Qila menangis. "Maafkan aku kalau ucapanku terlalu membuat kamu sedih. Aku hanya kasihan kalau kamu hidup dengan orang yang tidak mencintai kamu, yang ada kamu tidak akan bahagia," ucap Sam dengan meraih tangan Qila, dan Qila pun membiarkanya. Ingin dia menolak genggaman tangan Sam tetapi dia tidak berdaya. Hati dan otaknya tidak sejalan.
"Kamu datang terlambat Sam, coba kamu datang kemarin. Mungkin aku bisa mengambil keputusan sesuai kata hatiku, saat ini sudah terlambat. Semuanya sudah terjadi dan aku mau tidak mau sudah menjadi istri orang sehingga tidak bisa membiarkan hati ini terus mengaharapkan kamu," balas Qila dengan suara yang lirih.
"Kenapa tidak bisa. Yang merasakan bahagia atau tidak adalah kamu Qila lalu kenapa kamu mau saja hati kamu terbelenggu sedangkan kamu masih punya waktu untuk menentukan pilihan kamu, dari pada kamu tetap bertahan tetapi hati kamu sakit. Aku hanya tidak ingin membuat kamu sakit. Aku ingin kamu bahagia." Jec semakin menekan Qila agar wanita itu mengakhiri hubungan yang tidak di dasari karena adanya ikatan cinta.
Kembali Cukup lama Qila berpikir. "Lalu apakan kalau aku melepaskan diri dari Jec. Lalu kalau aku bersama kamu. Hidupku sudah pasti bahagia? Tidak kan Sam? Kamu juga pasti tidak tahu kalau kamu akan membahagiakan aku? Sedangkan aku juga tidak tahu kamu apakah Jec yang benar-benar tulus menerimaku."
"Aku akan berusaha terus membuat kamu bahagia, aku akan menebus semua kesalahan aku yang dulu. Qila berikan kesempatan aku untuk memperbaiki semuanya," ucap Sam dengan menggenggam tangan Qila dengan kencang.
Sementara itu di balik pintu tangan Jec sudah mengepal sempurna.
#Hayo perang, asik othor suka keributan.... Readers nggak ada yang ngajak othor ribut gitu?
...****************...
Promo Om Duda sama Mbak Lidi lah siapa tau ada yang kecantol dengan kisah mereka yang geremet-gremet. Mbak Lidi itu idola othor loh....
yuk ramaikan bacaan buat bulan puasa cocok bingit nih....
Atau ada yang mau kenalan sama anggota othor yang baru namanya CEMONG mampir ke novel Mommy Jojo...
__ADS_1
Ditunggu dilapak Mbak Lidi dan Mommy-nya Cemong yah🙏🏻🙏🏻