Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 117


__ADS_3

Bruuuuukkk.... Aduh.


"Hai, loe kalau jalan pake mata," pekik Doni yang baru saja keluar dari ruangan Deon dengan pintu yang ia gebrak, tetapi malah tubuhnya membentur benda yang keras itu.


"Maaf Tuan saya tidak melihat," balas wanita yang sedang jongkok memunguti kertas yang jatuh.


Deg!!! Doni terpaku ketika ia mendengar suara yang sangat seksi, yah dia masih mengenali suara itu, yaitu suara dari gadis yang sejak tadi ia cari-cari. Otaknya langsung berpikir gimana cara ia harus bisa jalan dengan gadis galak itu. Tubuhnya bersandar ke dinding samping pintu, manik matanya mengawasi gadis itu yang masih memunguti kertas laporanya.


Sementara itu Gatot dalam batinya sudah ketakutan karena ia takut yang ia tabrak adalah harimau betina yang sedang kelaparan, alias Deon.  Hampir seluruh karyawan di kantor ini tahu gimana bengis, dan mengesalkanya Deon. Mungkin hanya Jec yang paling setia dengan laki-laki itu. Hampir semua karyawan yang lain selalu mengatakan kalau Deon itu sangat menyebalkan, dan juga galak.


"Ya Allah semoga saja yang aku tabrak bukan Tuan Deon, aku masih pengin bekerja di sini, cita-citaku untuk membahagiakan Ibu belum terlaksana," gumam Gatot dalam batinya, tubuhnya dingin seketika karena ia belum siap apabila dipecat.


"Apa kamu sengaja memunguti kertas itu dengan lama? Kamu ingin menggoda aku?" Suara yang berbeda,  tetapi tidak asing membuat Gatot yang tinggal membereskan beberapa lembar yang berserakan langsung menengadahkan kepalanya, dan betapa terkejutnya Gatot ketika melihat bukan Deon yang ia tabrak tapi orang lain yang tidak kalah menyebalkan.


"Ya Tuhan, kenapa Anda ada di sini?" pekik Gatot langsung beranjak bangkit dan map yang dia pungut barusan sudah terjatuh lagi.


"Kenapa kaget gitu, apa aku terlalu memukau sampai kamu terkejut seperti itu," kekeh Doni, bahkan masalahnya dengan Deon ia sudah lupakan.


"Bukan memukau tetapi sebaliknya, saya berasa melihat LEAK di hadapan saya saat ini," balas Gatot dengan polos.


"Wah, kamu kadang-kadang sangat menjengkelkan yah, apa kalau mulut kamu lancang seperti ini aku akan memaafkan kamu, dan tidak memecat kamu?" gumam Doni, dengan jari telunjuk diketuk-ketukan ke dagunya.


"Maksud Anda apa, lagian kan saya sudah bilang kalau yang bisa memecat saya itu hanya Tuan Deon, bukan Anda Tuan terhor-mat." Gatot sengaja memenggal kata terhormat karena ia berpikir kalau Doni masih menghalu.

__ADS_1


"Baiklah, kamu sepertinya memang harus mendapatkan pelajara. Punguti map-map itu dan serahkan pada Deon, setelah itu kamu ikut aku!" titah Doni, tidak bisa dibantah lagi.


"Anda jangan membuat saya di pecat Tuan, pekerjaan saya masih banyak," dengus Gatot sembari memunguti kertas-kertas itu, secara tidak langsung gadis itu memang menantang Doni.


"Yah, tapi sayangnya kamu sudah di pecat!!"


Gatot mengangkat wajahnya lagi tengah mencari keseriusan di wajah Doni, tetapi sedetik kemudian ia langsung menunduk lagi, dan mengabaikan ucapan Doni yang serius itu.


"Saya sudah berhasil mengumpulkan ini lalu saya harus apa?" tanya Gatot dengan wajah yang sangat jengah, karena ia tetap menyangka kalau Doni itu sedang bercanda dengan dirinya.


Tangan Doni menekan gagang pintu dan membuka kebali ruangan Deon, di mana di dalam sana Deon sedang serius dengan pengaca papahnya.


"Masuklah, dan serahkan laporan itu pada Deon, dan kamu ikut aku!!" ulang Doni, dengan nada yang dingin.


"Baiklah wanita ini sepertinya benar-benar menguji kesabaran aku." Doni melangkahkan kakinya menuju pengacara papahnya dan mengambil surat-surat kepemilikan perusahaan yang terdapat namanya di atas sura-surat itu.


"Apa bukti ini masih kurang meyakinkan kalau aku bisa memecat kamu saat ini juga." Doni menujukan kertas di mana namanya terpampang, sementara Deon yang melihatnya sudah sangat jengah dengan kelakuan adik tirinya. Mungkin dia baru merasakan gimana menyebalkanya Doni, dan dia tidak sadar selain Doni yang menyebalkan dia sendiri lebih menyebalkan sehingga Jec adalah satu-satunya orang yang  tahan dengan kelakuan dirinya yang sangat mengesalkan.


Deg!! Jantung Gatot kembali berhenti berdetak, seketika tubuhnya menggigil dan itu seperti dia berada di kutub. Pandangan pata Gatot masih tertuju pada tulisan Doni Mahendra dan terdapat nama Bellamy yang artinya kalau laki-laki yang berdiri di sampingnya adalah keluarga Bellamy, tetapi Deon siapa? Itu yang ada di dalam pikiran Gatot, wanita itu seketika tubuhnya berkeringat.


"Letakan map itu dan kamu sudah dipecat."


Gatot menatap Doni yang sedang mengembalikan surat penting itu pada Dika dan Deon yang sedang mematung melihat pertunjukan yang Doni persembahkan. Wajah Gatot pun langsung pucat pasi, baru juga ia berdoa agar tidak dipecat oleh Deon, tetapi ia tidak menyangka kalau yang memecatnya memang bukan Deon, tetapi pemilik perusahaan yang sah, yaitu Doni.

__ADS_1


"Kenapa wajah kamu pucat seperti ini? Apa kamu tidak puas dengan hasil itu, kalau tidak puas kamu mengajukan banding dengan pengacara Dika, karena yang bisa menolong kamu hanya pengacara Dika, bukan Deon," tantang Doni, dan Gatot pun langsung menatap wajah Deon yang diam tanpa ekspresi, malah terlihat cenderung malas mendengarkan ocehan laki-laki yang ada di hadapanya.


Sedetik kemudian Gatot melihat laki-laki yang di sebut pengacara Dika, dan sama wajahnya nampak dingin, bahkan sepertinya lebih dingin dari pada Doni. Gatot merasa salah ruangan, di mana di dalam ruangan itu ada tiga orang laki-laki, tetapi wajahnya sangat mengerikan.


Ingin sekali Gatot mengucapkan banding, dan keberatannya atas pemecatan dirinya yang tidak berdasar itu.


"Baiklah kalau kamu tidak keberatan, mulai hari ini juga kamu jangan kerja di kantorku." Doni pun berjalan meninggalkan ruangan abangnya, di mana ini adalah kali kedua laki-laki itu meninggalkan ruangan Deon.


Sementara Gatot yang merasa ini adalah akal-akalan Doni pun mau melakukan banding pada laki-laki itu dan lagian dia tidak melakukan kesalah apapun, tetapi Doni dengan tidak ada sebab dan tidak ada akibat memecat dirinya, sangat aneh.


"Tuan kalau gitu saya pamit." Gatot tanpa menunggu lama langsung melesat menggerakan kakinya untuk menyusul Doni yang ia yakini belum jauh dari ruanganya.


"Cuuuiihhh... baru juga menjadi bos sehari sudah berani memecat karyawan seenak udelnya," ejek Deon, dengan suara yang jijih.


Pengacara Dika pun hanya diam saja, ia pernah muda dan dia yakin kalau yang dilakukan Doni hanyalah cara agar wanita yang berbadan kekar itu masuk perangkapnya.


"Jadi apa lagi yang harus Deon lakukan Om? Apa Deon harus jadi budak laki-laki itu?" tanya Deon, ia siap mengangkat kaki kalau memang rencana Doni itu menjaduikanya budak.


"Tidak seperti itu Deon, Doni itu datang hanya untuk menyelamatkan harta-harta peninggalan almarhum Papah kalian, karena kalau tidak ada setatus yang sah secara hukum maka makin banyak orang-orang yang akan membahayakan kamu, dan berebut mendapatkan harta-harta ini. Kamu tahu lah arah pembicaraan kita kemana," jelas Dika.


Deon pun diam saja ia tahu  dengan apa yang dibicarakan oleh Dika. "Lalu ngapain dia mengancamku dengan laki-laki bernama Alzam, apa dia ada hubungan dengan keluargaku?" tanya Deon, dan  Dika justru bingung mau menjawab apa, mengingat Doni tidak mengatakan apa-apa mengenai laki-laki bernama Alzam. Bahkan Dika baru tahu kalau Doni melakukan ini semua untuk Alzam.


"Kira-kira siapa Alzam dan Qari itu, kenapa sepertinya sangat penting untuk Doni?

__ADS_1


__ADS_2