
Di tengah-tengah ketegangan yang terjadi Jec dan Qila pun terkejut ketika ada ponsel yang bunyi dengan suara nyaring (Bunyi ponsel Android yang sekali bunyi buah kelapa jatuh semua). Pandangan mata Qila langsung tertuju pada tas yang ada di atas nakas yang cukup jauh dari dirinya sehingga Qila tidak bisa mengambilnya.
"Biar aku yang mengambilkan untuk kamu," jawab Jec dengan jalan santai menuju nakas dan mengambil ponsel Qila, dan Qila pun hanya diam saja, tidak banyak protes. Lagi pula memang dia membutuhkan ponsel itu.
Jec mengambil ponsel Qila dan melihat terdapat profil anak bayi cewek yang menggemaskan dengan tulisan Mamih Meta. "Dari kontaknya Mamih Meta," ucap Jec, tetapi justru dia tidak langsung memberikan ponselnya pada Qila. Laki-laki itu tahan ponsel itu karena ingin melihat bagaimana reaksi Qila. Terlihat kalau Qila sedikit cemas dan langsung meminta ponsel itu.
"Mana sini, buruan!" ucap Qila dengan sedikit ketus. Sedangkan Jec pun langsung memberikanya. "Kamu ke luar dulu!" imbuh Qila dengan menggerak-gerakan tanganya seperti mengusir ayam, sementara Jec bukanya pergi malah duduk di kursi yang barusan dia ambil. Kembali, Qila memejamkan matanya dengan kuat, ia lupa kalau laki-laki yang ada di sampingnya adalah orang paling kepo dan paling menyebalkan sehingga sangat mustahil kalau bisa dinasehati. Mau tidak mau Qila akan tetap mengangkat telpon dari Meta, persetan kalau Jec mau menguping ya terserah itu yang ada dalam pikiran Qila.
[Ya Tuhan Cin, you di mana saja? Kita se-rumah nyariin you tau nggak,] cerocos Meta begitu ponsel diangkat oleh Qila.
[Iya Met, maaf yah kayaknya aku malam ini tidak akan pulang ke rumah. Aku tadi pulang kerja main sama Tiwi dan sekarang mau nginep di rumah Tiwi,] ucap Qila dengan suara yang sedikit terbata, seperti tidak menyakinkan.
"Bodoh, mau berbohong tidak meyakinkan sekali," umpat Jec dalam hatinya tidak ada habisnya mengumpat Qila yang terlalu polos untuk orang yang sedang berbohong.
[Apa you mau nginap di rumah Tiwi?] tanya Meta dengan suara yang nyaring seperti biasanya maka laki-laki itu tidak akan mudah percaya kalau Qila menginap di rumah orang lain. Karena memang wanita itu hampir tidak pernah menginap di rumah teman atau siapapun itu.
[Iya Met, kasihan Tiwi sendirian, jadi aku temenin,] imbuh Qila agar Meta semakin percaya.
[Ya udah, tapi mana Tiwi, I'm ingin bicara dengan dia.] Meta pun memancing Qila.
"Mampus loh, bohong sih. Emang enak dia cari ide, botak-botak cara ide biar nggak ketahuan," umpat Jec, sembari terkekeh samar, lagi-lagi dalam batinya meskipun pangilan tidak di loudspeaker, tetapi Jec bisa mendengar apa yang anak itu bicarakan dengan lawan bicaranya di sebrang telepon.
[E... e... itu Met, Tiwi lagi ke luar untuk beli makan,] jawab Qila dengan terbata, jelas saja Meta yang sudah kenal Qila dari beberapa tahun yang lalu dan sudah sangat paham wataknya sehingga sangat tahu sebenarnya apa yang sedang Qila lakukan, wanita itu sedang berbohong.
__ADS_1
[I'm tidak mau tahu you sekarang juga pulang!] ucap Meta dengan suara yang meninggi dan kesal karena Qila sudah berani berbohong.
Jec yang tahu kalau orang yang di sebrang telpon sedang marah dan ingin Qila pulang, Jec langsung meraih ponsel Qila dengan kasar, bahkan Qila beberapa kali meracau ingin dikembalikan ponselnya.
[Hallo, ini siapa?] tanya Jec dengan suaranya yang santai. Yah, saat ini Jec sudah ada di luar ruangan rawat Qila, sedangkan Qila mau turun tidak bisa selain bagian perut yang memang sakit maha dahsyat, di tanganya pun ada selang infus yang membuat dia semakin sulit untuk bergerak.
Sehingga lagi dan lagi Qila pasrah hidupnya benar-benar diatur oleh laki-laki itu, tetapi dalam hatinya juga ia tidak ada henti-hentinya mengumpat laki-laki bernama asli Jaka itu.
[Hay, you siapa, kenapa ponsel anak I'm ada sama you," ucap Meta dengan gaya yang gemulainya, bahkan Jec yang tidak tahu Meta sebenarnya sempat terkejut dengan Meta yang suaranya sangat aneh itu.
"Ben-cong?" batin Jec dengan alis mengerut sempurna.
[Aku Jec, dan sekarang calon istri aku sebenarnya ada di rumah sakit dia sedang sakit, bukan di rumah Tiwi] jelas Jec dengan asal, biarkan dia malah senang kalau akhirnya keluarga atau teman Qila tahu dan akan di kawinin justru Jec tidak harus cape-cape membujuk Qila.
[hah... apa you kekasih anak I'm sejak kapan Qila punya kekasih baru setelah Sam?] tanya Meta dengan suara yang terdengar sangat panik, nyaring dan kalang kabut (Khas ben-cong kalau teriak) . Sedangkan Jec justru merasa ada yang kurang nyaman ketika Meta menyebut nama Sam.
#Terus pancing Jec....
[You jangan main-main yah Jec, kawin bukan sekedar kawin saja bakal banyak yang di pikirkan,] Jiwa emak-emak bersatu jadi bapak-bapak khas Meta langsung ke luar menasihati laki-laki yang ngaku sebagai calon suami putri, adik dan sahabatnya.
[Aku sudah siap, siap banget malah, materi batin sudah siap lalu nunggu apa lagi. Pokoknya aku akan nikahi Qila, baik sirih ataupun sah secara hukum.] Jec semakin tertantang dong ketika Meta dengan nyerocos langsung menasihatinya.
[Ok, you sekarang ada di mana? Rumah sakit mana sekarang I'm kesitu?] tanya Meta dengan tegas, tidak mungkin juga dia membiarkan Qila yang sedang sakit. Lalu sakit apa pun tidak diketahui, itu karena Qila yang terlalu pendiam.
__ADS_1
[Datanglah ke rumah sakit AKU INGIN SEHAT ruang VIP.] jawab Jec dengan santai, seolah dia tidak ada masalah apapun padahal Meta datang bisa-bisa timbul masalah besar. Setelah sambungan telepon terputus kini Jec pun kembali masuk ke dalam kamar Qila.
"Kamu ngomong ama sama Meta?" cecar Qila dengan kedua mata melotot dan gigi saling beradu.
"Tidak ngomong apa-apa hanya mengabarkan kalau aku akan menikah dengan kamu," jawab Jec tidak takut sama sekali kalau Qila bakal marah, malah seolah laki-laki itu sangat menyukai kalau hal itu akan terjadi. Yah, Jec suka melihat Qila marah-marah terus.
"Jec..."
Blukkk bantal melayang tepat mendapat di wajah Jec, karena Qila yang marah langsung melempar wajahnya. Jec langsung menatap Qila, dan dengan wajah yang kesal menahan marah, Jec pun berjalan terus menghampiri Qila yang sudah beringsut ke pinggir ranjang seolah ia ingin meloloskan diri. Jec terus mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka akan bersentuhan, tetapi Qila dengan cekatan langsung memalingkan wajahnya sehingga Jec tidak sampai menciumnya.
"Aku bisa melakukan apapun sampai kamu jadi milikku, Qila, kalau kamu mau orang tuamu tetap bisa makan enak, adikmu tetap bisa sekolah, maka ikuti apa yang aku katakan. Aku bisa mencu-lik kamu dan menyembunyikanya dari siapa pun di belahan bumi yang berbeda jadi jangan macam-macam dengan aku," ucap Jec tepat di balik telinga Qila. Hingga Qila tidak bisa berbuat apa-apa.
Glek!!! Qila hanya bisa menelah salivanya kasar.
"Ingat, katakan iya kalau kalau Meta bertanya sesuatu tentang hubungan kita. Karena kalau kamu berbuat macam-macam, maka aku tidak akan segan-segan melakukan apa yang barusan aku katakan."
Dalam waktu hitungan detiik bulu halus di sekujur tubuh Qila langsung berdiri.
"Oh ya Tuhan, makhluk apa yang ada di hadapaku, kenapa sangat menyeramkan."
#Sembari Nunggu bambang Sam datang mampir yuk ke novel baru othor masih sepi nih...
#Dinikahi Anak Konglomerat
__ADS_1
#Pembantu Spesial Untuk Om Duda
ramaikan yah pleasee eeee.. 🤭