Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 202


__ADS_3

"Semoga aku bisa lepas dari Deon, Jec. Aku tidak meminta apa-apa hanya ingin bebas dari bos kamu."


Jec hanya membalas dengan senyuman getirnya. "Tapi kalau kamu sudah menikah dengan Bos Deon akan sulit Cu. Dia tidak akan melepaskan kamu begitu saja."


Kembali Cucu tersentak kaget dengan ucap Jec.


"Kamu jangan bercanda Jec, kenapa bisa kamu berkata seperti itu? Apa itu artinya pelarian aku sia-sia? Karena sejauh apapun aku berlari nyatanya tepian nya akan sama, yaitu kembali pada Deon?" tanya Cucu dengan bola mata yang memerah.


"Entahlah kamu beruntung atau justru malang karena diinginkan oleh Deon, sedangkan setahu aku Deon itu sangat sulit untuk tertarik dengan wanita, dan kalau sudah tertarik jatuhnya akan seperti kamu. Selalu di buat terikat terus.


Sepanjang perjalanan Cucu pun jadi diam saja tidak banyak berbicara lagi, wanita itu masih terlalu takut untuk kembali ke dalam pelukan Deon. Bahkan baru mebayangkan saja bulu kuduk Cucu sudah kembali berdiri.


"Ayo turun Cu!" ucap Jec ketika sudah sampai di rumah yang tidak terlalu mewah tetapi terlihat seperti nyaman. Namun, bukanya Cucu cepat mengikuti apa yang Jec katakan. Cucu justru semakin dibuat masih sibuk dengan pemikiranya.


"Jec, apa kalau aku kembali ditemukan oleh Deon dan aku kembali dalam pelukanya, nyawaku akan hilang?" tanya Cucu dengan wajah yang bersemu merah padam, bahkan untuk sekedar mencari pelindungan wanita itu ragu.


Jec yang sudah membuka pintu mobil pun kembali menutupnya, dan kembali menyandarkan tubuhnya. Membuang nafas kasar dengan gerakan pelan. "Deon itu sebenarnya orang baik Cu, hanya kadang tingkahnya sangat amat mengesalkan dan bikin emosi naik. Aku nanti sebelumnya akan bicara dengan Deon. Untuk sementara ini kamu tenangkan saja pikiran kamu. Tapi kamu juga jangan terlalu berharap kalau kamu akan kabur dari laki-laki itu yang ada Deon justru semakin gila nanti. Kamu jangan pikirkan Deon dulu, biar urusan laki-laki itu jadi urusan aku sementara ini," ucap Jec dengan nada yang sangat yakin.


Cucu pun semakin takut kalau memang Deon akan nekad dan akan membahayakan dirinya.


"Turun yuk! semuanya akan baik-baik saja," ucap Jec sembari memberikan kode agar Cucu turun dari dalam mobil, dengan tubuh lemahnya Cucu pun pasrah saja. Sekarang yang terpenting benar kata Jec dia harus menenangkan diri. Kalaupun dia kembali pada Deon, setidaknya dia sudah punya bekal untuk melawanya, bukan lagi Cucu yang dengan mudah dia tindas. Kalaupun nyawa taruhanya Cucu sudah pasrah. Tidak ada lagi penyemangat hidupnya. Kakek dan neneknya sudah pasti hidup bahagia juga karena sudah punya hunian yang lebih nyaman dan juga uang bulanan dari Deon bisa dijadikan penghasilan untuk kehidupan mereka kini hanya Cucu memikirkan kehidupanya sendiri.


Di depan pintu Cucu terus menggosok-gosokan tanganya yang terasa meriang tubuhnya semakin merespon kurang nyaman apalagi di bagian bawah sana sangat terasa tidak enak dan sendi di badanya seolah akan terlepas.


"Siapa sih pagi-pagi buta datang bertamu," umpat Doni yang terganggu dengan suara bel yang terus menerus Jec pencet.

__ADS_1


Mata Doni terbelalak ketika melihat ada seorang wanita tertunduk dengan lesu, danĀ  berpenampilan kurang layak untuk datang ke rumah orang, selanjutnya pandangan tertuju pada Jec.


"Jec, ada apa kamu pagi-pagi datang ke sini, dan ini siapa?" tanya Doni bingung, nyawanya saja belum sepenuhnya terkumpul tetapi Jec sudah memaksanya untuk berpikir dengan keras.


"Biarkan kami masuk dulu Tuan, nanti saya akan menceritakanya di dalam," ucap Jec dengan menuntun Cucu yang Jec tahu kalau wanita malang itu sedang tidak baik-baik saja tubuhnya.


Doni pun membuka pintunya dengan lebar dan membiarkan Cucu dan Jec masuk. Tidak lama datang juga Iriana yang tidak kalah syok ketika melihat ada wanita yang bernasib kurang beruntung datang ke rumahnya dengan pakaian yang sangat buruk.


Doni pandanganya tidak lepas dari pandangan mata Cucu yang terlihat pucat.


"Kamu bawa ke kamar tamu saja Jec!" ucap Iriana yang baru ke luar dari kamarnya. Jec pun mengikuti apa kata nyonyah di rumah ini membiarkan Cucu istirahat di kamar tamu. Sementara Iriana memasuki kamarnya kembali untuk mengambilkan pakian yang sekiranya pas untuk Cucu bukan pakaian kedodoran seperti itu. Sementara Doni duduk masih dengan kebingungan yang luar biasa.


Dengan sabar Doni menunggu Jec yang akan menceritakan siapa wanita bernasib na'as itu, kenapa harus dibawa ke rumahnya, kenapa bukan di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Apalagi Jec dan dirinya sejatinya belum terlalu akrab, sehingga dia tidak mungkin datang ke rumahnya tanpa pertimbangan matang.


"Nak, kamu kenal dengan wanita itu?" tanya Iriana yang datang dengan membawakan satu set pakaian tidur.


Iriana hanya mengangguk samar setelahnya kembali mengayunkan kakinya ke kamar tamu di mana tamu berada.


"Ehemzz... kenapa Jec?" tanya Iriana yang melihat Jec memegang kening Cucu yang sudah mulai hangat, sedangkan Cucu tertidur dengan lemah.


"Sepertinya badanya meriang Mom," jawab Jec dengan menggeser tubuhnya agar Iriana memeriksanya.


"Kamu keluarlah, biar urusan teman wanita kamu Mommy yang urus. Doni ingin berbicara dengan kamu," ucap Iriana sembari mengambil duduk di samping Cucu.


"Baik Mom. Cu, aku tinggal yah, kamu cepat sehat jangan terlalu banyak memikirkan Deon," ucap Jec, yang membuat Iriana kembali menatap Jec dengan tatapan yang bingung.

__ADS_1


Setelah melihat Cucu mengangguk dengan lemah Jec pun meninggalkan Cucu dengan Iriana. Yah, Jec sudah siap kalau Doni bertanya banyak hal dengan Cucu, dan Jec juga sangat yakin kalau Doni pasti bisa membantu Cucu untuk menenangkan pikiranya.


"Mau ganti pakaian sekarang atau mau istirahat dulu?" tanya Iriana dengan suara lembut dan bijaksananya, terlihat sekali kalau Iriana adalah orang yang sangat penyayang.


"Ganti saja Nyonya," jawab Cucu sebenarnya dia sangat risih ketika menggunakan pakaian Deon, tetapi dari pada pakai pakaian minim lebih risih lagi.


Iriana memberikan satu set pakaian tidur miliknya dulu yang masih bagus. "Panggil Momy saja biar lebih dekat lagi," ucap Iriana ketika Cucu mengambil pakaianya di tangannya. Cucu pun membalas dengan senyum manisnya,


"Terima kasih Mom," balas Cucu kemudian ia meninggalkan Iriana untuk ke kamar mandi mengganti pakaian sang suami yang tidak diakui suami.


Iriana terus menatap punggung Cucu dan menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kamu anak baik, tapi semoga saja kamu adalah orang yang beruntung."


Sementara di ruang tamu Jec pun duduk dengan menggosok-gosokan tangan di atas ke dua pahanya. Menghilang rasa gerogi nya. Menyiapkan mentalnya agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Deon.


"Siapa wanita itu Jec? Terus alasan kamu bawa ke sini untuk apa? Sedangkan aku lihat dia seperti tidak sehat kenapa tidak kamu bawa ke rumah sakit saja?" cecar Doni ketika melihat Jec sudah lebih tenang.


"Istri dari Deon," jawab Jec dengan lembah. Sontak saja Doni langsung duduk dengan tegak.


"Istri dari Deon? Sejak kapan Deon menikah? Kenapa aku tidak tahu apa-apa? Apa yang terjadi sebenarnya Jec?" Dalam pikiran Doni sudah segudang pertanyaan.


,


...****************...


Sembari nunggu, mampir novel bestfriend othor yuk...

__ADS_1



__ADS_2