Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 188


__ADS_3

Pagi hari, kamar rumah sakit sudah ramai terutama oleh Meta, dengan dibantu beberapa teman sesama MUA dulu. Meta benar-benar semalaman tidak tidur untuk menyiapkan pernikahan Qila dan Jec ini.


"Astaga, kalian kenapa belum bangun, hari ini kalian akan nikah. Jam delapan penghulu datang, ayo-ayo bangun dan mandi." Suara Meta membuat gaduh ruangan yang diisi oleh satu pasien dan satu penunggunya. Mereka semalam tidur hampir pagi sangat wajar jam enam belum bangun.


"Apaan sih Met, aku masih ngantuk," protes Qila dengan menutup telinganya dengan bantal. Begitupun  Jec yang menutup telinganya juga dengan bantal juga.


"Hay kalian mau nikah tidak?" tanya Meta lagi dengan suara yang masih keras.


"Mau," jawab Jec dengan suara seraknya meskipun matanya masih merem, tetapi dia tetap antusias untuk menjawabnya.


"Tidak..." Kalau ini adalah jawab Qila, untuk saja suaranya tidak terlalu keras sehingga Meta dan Jec tidak mendengar ucapan Qila. Setelah dipaksa-paksa dan juga di tarik-tarik Qila dan Jec akhirnya bangun juga. Jec dan Qila pun mulai menyiapkan hari pernikahan mereka.


"Setelah hampir dua jam persiapan ruangan rawat VIP yang Qila tempati pun di dekor ala-ala kamar pengantin yang sederhana di mana di kamar itu akan ada pernikahan. Qila hanya diam bingung. Sedangkan sepengetahuan dia kalau menikah akan di nikahkan oleh papahnya, tetapi kenapa malam pernikahan Qila orang tuanya tidak tahu.


"Met, kenapa dipernikahanku, orang tuaku tidak tahu yah? Apa nanti pernikahan kami akan termasuk sah?" tanya Qila masih belum tahu hukumnya.


"Tenang saja masih sah kok, kan bisa di wakilkan pada wali hakim. Perkawinan tanpa restu orang tua memang tidak termasuk ke dalam rukun nikah dalam syarat sah pernikahan. Syarat sah pernikahan adalah adanya ijab kabul, adanya mempelai wanita dan mempelai pria serta dua saksi dan wali. Jadi pernikahan kalian masih sah kok ," balas Meta yang lebih tahu hukumnya, dia menikahi Fifah juga bukan Kifayat yang menikahkan mereka, tetapi wali hakim.


"Qila lagi-lagi hanya diam. Kini bahkan sudah ada penghulu, dan beberapa saksi termasuk Naqi dan juga Cyra.

__ADS_1


"Jec, apa kamu janji akan menjaga dan merawat adik, anak, dan juga teman aku?" tanya Meta, mewakilkan orang tua Qila, untuk serah terima Qila. Sedangkan Qila hanya bisa pasrah, meskipun dalam hatinya masih berat, bahkan sangat berat untuk menerima Jec menjadi suaminya. Qila melihat bahwa pernikahanya seperti main-main.


Untuk sesaat Jec berdiam, memikirkan apa yang kiranya akan dia jawab. Semalam dia sudah yakin sekali, tetapi setelah melihat wajah Qila yang seolah tertekan, dia jadi bingung lagi.


"Qila, apakah kamu mau menikah dengan aku? Kalau kamu keberatan aku akan melepaskan kamu," ucap Jec, menatap Qila yang tengah menunduk sedih.


"Qila pun dengan berat menatap Jec. "Saya sudah memutuskan untuk lanjut jadi tidak ada halangan untuk aku menolak kamu," jawab Qila dengan yakin. Meskipun Jec masih yakin kalau ucapan Qila tidak tulus dari dalam hati, tetapi ia akan mencoba percaya saja.


Qila sudah ok, terus kamu gimana?" tanya Meta pada Jec lagi.


"Aku sudah berjanji pada diri sendiri bakal menjaga Qila dan merawatnya dengan baik," jawab Jec dengan yakin dan juga menatap Qila dengan tatapan tajam.


Jec pun di minta menjabat tangan penghulu, dan juga langsung diadakan ijab kabul.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Munier Jakarya bin Zakaria, dengan Aqila Nur Binaryah bin Mujiono dengan maskawin uang I00 juta, dan sertifikat tanah beserta bangunan seluas 500 meter, dibayar tunai."


Jec pun yang sudah menghafal langsung menjawab. "Saya terima nikah dan kawinnya Aqila Nur Binaryah bin Mujiono dengan mas kawin tersebut dibayar, tunai."


Qila sendiri yang belum tahu maskawin untuk dirinya langsung tersentak kaget dengan masa kawin yang diberikan Jec untuknya.

__ADS_1


"Sah?"


"Sah!"


Suara Sah terdengar hingga luar, dan kebetulan  Sam yang baru lewat pun heran ada apa kira-kira di kamr VIP itu.


"Dok, di kamar VIP itu ada apa?" tanya Sam pada dokter lain yang saat ini berjalan bersama Sam.


"Kalau nggak salah sih sedang acara nikahan."


"Acara nikahan di rumah sakit?" Sam terkekeh dengan renyah.


"Yah, memang di sini diperbolehkan asal tidak membuat gaduh pada pasien yang lain. dan kalau tidak salah ceweknya sedang sakit, bahkan nanti sore akan diadakan operasi dan cowoknya ingin merawat sang cewek makanya menikah mereka biar lebih bebas untuk menjaganya tanpa fitnah, mungkin seperti itu," jelas sang dokter lain.


"Wah mereka romantis sekali, jadi penasaran laki-lakinya seperti apa  pasti sanyang banget sama ceweknya, dan ceweknya beruntung banget tuh," balas Sam, dalam pikiranya jadi kembali teringat Qila yang dulu, wanita itu masih mau merawat dirinya setelah dia sakiti.


"Qila kamu bagaimana sekarang keadaanya, aku kangen banget," gumam Sam. Laki-laki itu begitu sampai Jakarta langsung kerja sehingga belum sempat menemui Naqi, untuk menanyakan kabar Qila.


"Nanti pulang kerja ke rumah Naqi lah buat tanyakan Qila."

__ADS_1


__ADS_2