
Setelah tubuh Tantri segar, gadis kecil itu pun turun ke lantai bawah dengan perasaan yang riang, turun tangga pun dia berjingkrak bak kanguru yang berlari karena ada yang memberinya makan. Bi Sarni pun dari dapur ikut tersenyum dengan. lebar rasa wanita paruh baya itu ikut merasakan kegembiraan ini yang gadis kecil itu rasakan.
"Neng Tantri, bibi senang lihat Neng bahagia lagi," ucap bi Sarni yang melihat wajah ceria majikan kecilnya. Bahkan bi Warni sampai meninggalkan pekerjaannya sejenak untuk menghampiri Tantri yang hendak mengambil makanan.
"Iya bi ternyata Abang dan Kakak Qari tidak marah dengan Tantri." Tantri menjawab dengan suara yang terdengar sangat bahagia dan senyum tersungging di wajahnya dengan sempurna. Gadis itu langsung menatap menu makanan yang terhidang di meja makan, dan mengambil makanan dengan porsi yang banyak.
Bi Sarni pun ikut mengembangkan senyumnya, ikut merasakan kegembiraan dengan kabar bahagia ini, kekawatiranya tidak terjadi, setidaknya ia bisa mengingatkan Alzam sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi.
Tantri pun sore ini makan dengan lahap, bahkan gadis kecil itu nampak nambah sampai dua kali. Seolah ia tengah balas dendam dengan beberapa hari ke belakang yang jelas-jelas dia makan dengan kacau jadwal yang sangat kacau.
Tidak lama Alzam pun turun dengan wajah yang lebih fresh dan tampan serta bulu-bulu halus di wajahnya ia cukur menambah wajahnya semakin tampan.
"Sudah berapa hari kamu tidak makan Sayang?" tanya Alzam hingga ia pun mengagetkan Tantri yang sedang asik menikmati makanan yang tinggal tersisa beberapa suap lagi.
"Apaan Tantri hanya makan sedikit," balas gadis kecil itu yang malu karena yang ketahuan kalau makan dia hari ini sangat banyak.
"Sedikit sampai dua kali nambah, apa yang bisa dibilang sedikit itu," kekeh Alzam, dia sebenarnya sejak tadi sebelum turun sudah memperhatikan adik kecilnya dari atas tangga, dan bahkan Alzam sampai terkekeh dengan adiknya yang sangat menggemaskan itu.
__ADS_1
"Abang, kenapa Abang sekarang sangat menyebalkan sekali sih?" dengus Tantri dengan mendorong pirinya ke depan setelah suapan terakhir ia telan, dan kini perutnya benar-benar aman. Kenyang bahkan persediaan energinya sudah aman.
"Abang senang kalau kamu makanya kayak gini, dan abang sangat sedih kalau kamu tubuhnya kurus seperti saat ini. Kamu harus rajin makan yah dan jangan sampai kamu kurus kayak gini lagi, hati kakak sesak lihat adik abang kayak gini. Rasanya abang terlalu berdosa karena telah menelantarkan kamu." Alzam duduk dan memperhatikan Tantri yang tersenyum dengan mengangguk.
Itu yang membuat Alzam senang dengan Tantri dia tetap terlihat ceria meskipun Alzam telah berbuat salah.
"Yuk, kita ke makam Ibu dan Ayah, Tantri kangen banget sama mereka, Tantri ingin cerita banyak hal," ujar Tantri, yang matanya sudah mulai merah karena ucapan Alzam. Ia tidak mau menangis lagi, sehingga buru-buru ia memotong ucapan Alzam dan lebih baik mengajak kakaknya berkunjung ke makam keluarganya, agar ia tidak bermelow lagi.
Alzam pun langsung menyanggupinya, dia juga sudah lama tidak berkunjung ke makam keluarganya dan tentu ingin berkunjung juga dan banyak menceritakan apa yang mereka alami selama ini. Termasuk kelalaianya yang tidak bisa ia maaf kan, andai sesuatu terjadi pada adik kecilnya.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh, kini kakak beradik ini sudah sampai di pemakaman umum di mana keluarganya di makamkan. Seperti halnya pertama kali bersiarah, mereka mengucapkan salam, dan membacakan doa kebaikan untuk almarhum dan almarhumah.
"Abang, apa bisa tinggalkan Tantri sendirian? Tantri ingin bercerita dengan mereka, tanpa Abang tahu," ujar Tantri dengan suara yang parau itu semua karena ia terlalu sedih ketika mendengar curhatan abangnya barusan, hingga dirinya terus menangis.
Alzam menatap Tantri dengan heran. "Kenapa kamu ingin abang pergi dari sini, sedangkan abang saja tadi tidak meminta kamu pergi waktu abang bercerita dengan curhatan abang. Apa kamu akan mengadu kalau Abang khilaf kemarin hah." Alzam mencoba bercengkrama dengan adiknya agar Tantri tidak memintanya pergi.
"Bang, tolong yah, Tantri merasa malu pada abang, kalau mau curhat dengan Ibu, Ayah, dan juga Kakak." Tantri menatap iba pada abangnya itu.
__ADS_1
"Tapi kamu tidak akan ngomongin abang kan? Kamu tidak akan mengadu hal yang macam-macam kan?" cecar Alzam dengan tersenyum sempurna.
"Tidak Abang, mana berani Tantri mengadu yang buruk-buruk pada mereka, kan Tantri sayang Abang," balas Tantri dengan senyum yang tidak kalah manis mengalahkan manisnya gula.
"Baiklah karena kamu yang ngusing Abang maka Abang akan pergi." Sebelum pergi Alzam pun mengusap punggung adik kecilnya, untuk memberikan dukungan, bahwa ia akan terus mendungnya, tidak akan lagi Alzam biarkan Tantri merasakan kesepian lagi.
Tidak lupa Tantri juga mengucapkan banyak terima kasih atas pengertian abangnya itu.
"Ayah, Ibu, Kakak, terima kasih sampai detik ini kalian masih membiarkan Abang merawat Tantri. Kalian mungkin masih ingat doa Tantri dua tahun lalu, saat menguburkan kaki Abang. Tantri meminta pada kalian jangan ajak Abang berkumpul dengan kalian di sini, karena Tantri sangat takut akan sendirian di dunia ini. Tantri tidak bisa tinggal sendirian. Tantri butuh Abang untuk menemani Tantri mewujudkan mimpi-mimpi Tantri." Gadis kecil itu mengusap air matanya yang jatuh menetes di pipinya. Rasanya kembali sesak apabila membahas perpisahan.
"Ibu, Ayah maafkan Tantri kemarin Tantri sempat berdoa agar Tantri kalian jemput, dan berkumpul dengan kalian, maafkan atas doa buruk itu. Tantri terlalu kecewa pada Abang, sampai berdoa yang sangat jelek. Tantri tidak akan berdoa jelek lagi karena Abang pasti akan sangat sedih kalau Tantri pergi dari dunia ini, dan berkumpul bersama kalian."
"Ibu, Ayah, Tantri ingin tinggal berjauhan dengan Abang, bukan Tantri marah dengan Abang dan juga dengan semuanya. Tantri hanya ingin belajar mandiri dan tidak tergantung terus sama Abang. Abang sudah punya keluarga dan rasanya Tantri tidak sopan sekali ketika tetap berebut kasih sayang. Ayah, Ibu tolong izinkan Tantri untuk menjalani hidup sendiri. Tantri ingin tinggal bersama Bi Sarni di kampung halaman Bi Sarni. Beliau adalah asisten rumah tangga yang ada di rumah Abang. Tantri merasakan kalau sosok Bi Sarni adalah orang tua pengganti untuk Tantri. Beliau selalu menasihati Tantri, dan tanpa segan akan menegur Tantri, dan Tantri nyaman dengan beliau. Tolong izinkan Tantri untuk tinggal mersama bi Sarni. Tantri janji akan menjaga diri Tantri, dan Tantri juga janji tidak akan membuat masalah di kampung Bi Sarni. Ibu, Ayah, kalian tidak marahkan kalau Tantri pergi."
Bocah usia dua belas tahun itu terus merancau dan mengeluarkan apa yang menjadi beban dalam hidupnya. Bukan dia marah pada abangnya tetapi, dia merasa kalau butuh suasana yang baru, dan membuat hatinya tenang.
Sementara Alzam duduk di bawah pohon yang cukup jauh dari makam orang tua serta kakaknya, pandangan matanya sejak tadi tidak bisa berpaling dari Tantri. Berapa kali gadis kecil itu menyeka air matanya pun Alzam melihatnya, perasaanya sangat sakit ketika menyaksikan adiknya bersimpuh di makam ke dua orang tuanya sedangkan dirinya tidak bisa memberikan kebahagiaan yang kekal untuk adiknya
__ADS_1
"Maaf kan abang yah Dek, karena abang, kamu banyak menanggung derita. Maafkan abang." Pandangan Alzam kembali menatap Tantri yang masih anteng dengan curhatannya di atas pusaran orang tuanya.
"Abang janji akan menuruti apa pun yang kamu inginkan, selama itu terbaik tuntuk kamu pasti abang akan turuti abang hanya ingin kalau kamu bisa menikmati kebahagiaan dalam hidup ini."