
Cucu hampir sepanjang perjalanan membuat pandanganya ke luar jendela menatap ke jalanan yang mulai padat, itu karena sudah mulai masuk jam ke luar kantor. Sehingga jalanan naik volume kepadatannya.
Deon semakin penasaran kenapa sikap Cucu berubah tadi ketika baru ke luar dari rumah sakit dia terlihat sangat bahagia, tetapi kenapa ketika di dalam mobil terlihat murung. "Kamu kenapa Cu?" tanya Deon, dengan pandangan dialihkan ke Cucu.
"E... Tuan, (Cucu mengerjapkan matanya, sadar dari lamunan) boleh tidak saya meminta izin untuk pulang sebentar saja, menengok nenek dan kakek saya. Pikiran saya tiba-tiba tidak tenang. Saya takut terjadi sesuatu pada nenek dan kakek saya, hanya mereka harta yang paling berharga untuk saya." Cucu memberikan tatapan permohonan pada bosnya yang terkenal galak itu.
"Kalau gitu katakan di mana alamat rumah kamu," ucap Deon, sembari menepikan mobil dan bersiap untuk mengantarkan Cucu pulang ke rumahnya.
Cucu langsung memalingkan pandangan ke arah Deon dan tangan di gerak-gerakan di depan wajahnya. "Ti...tidak usah Tuan, saya bisa pulang sendiri, angkutan kota juga masih banyak," jawab Cucu dengan terbata.
Deon langsung memberikan tatapan yang heran, dan bingung. "Kenapa aku tidak boleh mengantar ke rumah kamu, apa karena nanti pacar, kekasih atau selingkuhan kamu akan marah," goda Deon dengan tubuh di sandarkan ke sofa belakang dan tangan di silangkan di belakang kepala untuk di jadikan tumpuan.
Lagi, Cucu menggerak-gerakan tanganya sebagai tanda bahwa tebakan Deon itu salah. "Bukan, aku tidak punya pacar, kekasih selingkuhan ataupun sugar dady. Saya hanya tidak enak rumah kami tidak layak untuk di lihat oleh Anda, karena rumah kami seperti gudang," balas Cucu dengan menundukan wajahnya.
"Udah tunjukan di mana alamat rumah kamu, atau kalau kamu tidak mau menujukanya, kamu tidak aku izinkan untuk pulang," ucap Deon dengan tegas. Cucu pun tanpa pikir panjang langsung mengatakan di mana alamat rumahnya.
Perse-tan dengan rumah ataupun pandangan orang-orang tentang pekerjaanya yang terpenting saat ini dia bisa bertemu dengan nenek dan kakeknya. Meskipun gadis itu selalu bertukar kabar dengan keluarganya yang sampai saat ini mendukung apapun yang Cucu kerjakan, tetapi rasanya dia masih belum tenang kalau belum memastikan sendiri dengan kedua bola matanya bahwa kakek dan neneknya dalam keadaan baik-baik saja.
Cucu pun mengalah dan menujukan alamat rumahnya yang cukup harus putar arah dari arah rumah Deon, dan melewati perkampungan. Hingga sampai di tengah perkampungan rumah yang benar kata Cucu menyerupai gudang, sangat sederhana.
"Tuan, apa Anda mau langsung pulang?" tanya Cucu dengan santainya.
__ADS_1
"Hay Cucu, aku mengantarkan kamu ke sini bukan untuk kamu menginap, tetapi untuk sekedar melihat kondisi kakek dan nenek kamu saja setelah itu kamu kembali ke rumah aku lagi," balas Deon dengan tatapan yang tajam.
Glek... Cucu langsung menelan salivanya dengan kasar. "Kalau begitu Anda mau duduk di dalam mobil saja atau ikut turun, tapi rumah kami tidak pantas untuk Anda, kotor dan reyod," ucap Cucu, yah jelas tujuanya agar Deon tidak mau ikut turun.
"Aku ikut turun!!"
Uhuukkk... Uhukkk... kali ini Cucu tersedak salivanya sendiri.
"Untuk apa, lebih baik Anda duduk di dalam mobil saja, dengarkan musik (Tangan Cucu menyalan musik), Tidur atau duduk-duduk. Aku janji tidak akan lama," ucap Cucu yang terlihat sekali kalau dia tidak nyaman kalau Deon turun. Apa kata tetangga nanti dikira dia jadi simpenan om-om lagi, mana mobil Deon mahal, bagus dan wajah tampan, bisa-bisa gosipnya tidak hilang sampai tujuh purnama.
"Bukanya kamu yang tadi tawarin mau ikut tidak, dan aku putuskan mau ikut. Kenapa jadi kamu kepanasan. Lagi pula nggak sopan banget ada bosnya dibiarkan nunggu di mobil berasa sopir aku jadinya'" dengus Deon dengan bersiap turun tapi Cucu buru-buru menahanya.
"Baiklah, kalau kamu melarang aku turun, kita balik lagi ke rumah aku." Deon pun sama lagi-lagi menggunakan ancamanya.
"Ck... kenapa Anda senang sekali mengancam?" desis Cucu dengan sikap pasrah.
"Itu semua karena kamu yang juga sangat keras kepala, jadi mau pulang lagi atau izinkan aku untuk turun," ucap Deon dengan menaik turunkan alisnya tanpa di jawab seharusnya Deon sudah tahu jawaban Cucu.
"Buruan, karena nanti kalau jalannya lama-lama orang-orang keburu lihat Anda dan menggosipin saya yang enggak-enggak." Cucu pun buru-buru turun dan berjalan tergesa masuk ke rumahnya. Tentu berbeda dengan Deon, laki-laki itu ketika di minta buru-buru justru berjalan seperti semut yang sedang antri sembako.
"Ck... Dasar keras kepala," umpat Cucu yang melihat Deon benar-benar menguji kesabaranya. Namun, sedetik kemudian Cucu bersikap acuh. Masa bodo ada gosip juga, bukanya udah biasa dirinya di gosipkan.
__ADS_1
"Nenek, Kakek..." Cucu langsung mencari nenek dan kakeknya yang biasanya ada di belakang rumahnya.
"Ya Allah, Cucu, nenek kangen banget." Perempuan yang usianya sudah tidak muda lagi pun terisak dengan memeluk cucu satu-satunya yang sudah melebihi seperti anaknya.
"Sama Nek, Cucu juga kangen banget. Kakek ke mana?" tanya Cucu yang tidak melihat sang kakek.
"Itu... Itu Cu..." Nenek tidak bisa menjawab pertanyaan Cucu karena pasti tahu kalau Cucu akan marah kalau tahu kakeknya ke mana.
"Anu apa Nek, Kakek ke mana? Bukan sedang narik becak kan?" tanya Cucu yang langsung di balas dengan wajah masam sang nenek dan tertunduk lesu, yang dalam kata lain tebakan Cucu itu benar.
"Ya Allah Nek, Kek, untuk apa Cucu kerja sampai tidak pulang, kan juga untuk kalian. Tapi kenapa Kakek tetap narik becak lagi." Cucu nampak sangat marah, sedangkan Deon yang tidak ikut masuk ke rumah Cucu pun hanya menjadi pendengar dari setiap obrolan yang terjadi di Cucu dan neneknya.
"Kakek, dan Nenek hanya kasihan dengan kamu Cu, penagih ojol itu hampir dua hari sekali datang mencari kamu, dan mereka pikir kamu kabur itu sebabnya Kakek harus bantu kamu cari uang untuk melunasi utang-utang teman kamu itu."
Tangan Cucu pun mengepal sempurna sangat marah ketika harus membahas ojol lagi.
"Cucu akan cari Kakek, dan Cucu akan marah besar kalau sampai Kakek masih narik becak." Tanpa menunggu jawaban dari sang nenek Cucu pun langsung pergi meninggalkan sang nenek yang sudah hampir melayangkan protesnya.
"Cu... aku ikut," pekik Deon, tetapi tidak. Cucu gubris. Wanita itu mengayunkan kakinya dengan kencang menuju pangkalan becak, yang biasa kakeknya mangkal.
"Yah, gue di tinggal. Apes."
__ADS_1