Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 190


__ADS_3

Di tempat yang berbeda. Cucu, yang semalam terlalu lelah, pagi hari masih tertidur dengan pulas padahal pagi-pagi terdengar kegaduhan di rumah sang nenek, tetapi nampaknya tidak sedikit pun mengganggu tidur nyenyak Cucu.


Deon pun di tempat lain bersiap pagi ini dia akan melangsungkan pernikahan sehingga dia harus bangun lebih pagi untuk mempersiapkan semuanya. Dia tidak mau acara pernikahanya hancur begitu saja.


"Cucu... Cucu bangun bersiap yuk!" Sang Nenek membangunkan cucunya dengan berhati-hati. Cucu sendiri yang mendengar suara sang nenek langsung membuka ke dua bola matanya, dengan segera.


"Nenek, apa itu Nek, apa Kakek juga baik-baik saja?" cecar Cucu yang terlalu takut kalau nenek dan kakeknya akan benar-benar meninggalkan dirinya.


Sang Nenek pun nampak bingung dengan ucapan sang cucu. "Nenek baik-baik saja, kenapa kamu mengira kalaau kamu kenapa-kenapa?" tanya wanita tua itu dengan menunjukan wajah bingungnya.


"Tidak, Cucu hanya terlalu takut kalau Nenek dan Kakek kenapa-kenapa," balas Cucu, tidak ada hentinya wanita itu mengucapkan puji syukur dari apa yang dia rasakan. Dan kini Cucu sebenarnya ingin menayakan ke mana semalam kakek dan neneknya pergi, tetapi situasinya tidak memungkinkan, tetapi pastinya nanti Cucu akan menayakan.


"Kalau gitu Cucu mau tidur dulu yah, masih ngantuk," balas Cucu dengan santai.


"Heh... buruan mandi, calon suami kamu mau datang sebentar lagi, bukanya kamu hari ini akan nikah?" Sang Nenek menahan cucunya yang sudah bersiap untuk berbaring kembali.

__ADS_1


"Hah... nikah Nek? Ini serius?  Nikah dengan siapa?" tanya Cucu, yang mungkin dia lupa kalau semalam dia sudah sepakat dengan Deon kalau hari ini dia aka menikah.


"Hah... jangan-jangan nikah dengan Deon." Cucu langsung bangkit dan bingung harus bagaimana sedangkan dirinya belum siap, untuk melepas keperawananya. Ah, kenapa aku semalam balas iya ajah lagi." Kini Cucu pun kalang kabut sendiri.


"Cu, ayok buruan kamu tidak banyak waktu karena sebentar lagi penghulu dan calon sumami kamu akan datang," ucap Nenek dengan mengusap pundak Cucu yang nampak kebingungan.


"Ta... tapi Cucu belum siap Nek," jawab Cucu dengan terbata. Ia berharap bisa mundur dari ucapannya semalam.


"Siap, atau tidak siap kamu sudah menyanggupinya, dan laki-laki itu sudah bermaksud baik dengan menjaga kamu dari pergaula yang tidak-tidak. Dia laki-laki baik dan pengertian serta dia perduli dengan semua yang terjadi dengan kamu. Laki-laki itu juga mau menerima kamu apa adaanya dengan segala kekurangan kita itu sudah sangat luar biasa baik. Dia laki-laki baik, Cu." Sang Nenek menasihati cucunya dengan sangat lembut.


"Udah buruan jangan bikin Nenek dan Kakek malu, tetangga sudah banyak yang datang," ucap sang Nenek, dan Cucu pun dengan menghentakan kakinya menyambar handuk dan siap bebersih, lalu dia dirias ala-ala pengantin.


"Deon memang bisa banget buat aku tidak berkutik, dia tahu kelemahan aku. Aku paling tidak bisa melawan nenek dan kakek," gerutu Cucu.


Dengan secepat kilat Cucu pun membersihkan tubuhnya dan mulai dirias dengan MUA yang sudah siap meriasnya. Memang lagi-lagi yang Deon katakan itu benar, dalam waktu satu malam dia bisa menyelesaikan segala urusanya.

__ADS_1


Sesuai yang dikatakan oleh sang Nenek, tepat pukul sembilan Deon dan rombongan alakadarnya yang Cucu yakini kalau orang-oarng yang hadir mengantarkan Deon adalah orang-orang bayaran. Lagi pula setahu Cucu, calon suaminya sudah tidak ada sodara lagi. Satu-satunya orang yang peduli pada Deon adalah Jec. Tapi kayaknya Jec udah tidak peduli lagi buktinya dia tidak ada diacara resmi laki-laki itu.


Pak Penghulu tidak lama pun datang dan Cucu pun siap tidak siap harus menikah dengan Deon. Benci, kesal dan ingin marah itu yang saat ini Cucu rasakan.


Namun, lagi-lagi Cucu tidak bisa berontak, karena dia tahu kalau ini hanyalah mempermalukan dirinya dan juga kakek serta neneknya. Kalau memang Deon ingin bermain main dengan Cucu, maka Cucu juga harus bermain-main dengan Deon, hingga dia menikmati permainan yang sangat menyenangkan itu.


Setelah semua siap Cucu pun ke luar dan duduk di samping Deon, dengan senyum terbaiknya wanita yang sudah bersolek dengan cantik dan setelah kebaya yang cocok dengan tubuh dan wajahnya. Bahkan untuk beberapa saat Deon terhipnotis dengan kecantikan Cucu.


"Gila ini Cucu, cantik juga kalau dandan kayak gini," batin Deon, hampir saja kedua biji matanya loncat.


"Jaga mata Anda Tuan, siapkan uang untuk bayaran pertama kita," bisik Cucu sembari pura-pura menggeser tubuhnya agar semakin dekat dengan Deon.


Deon pun tersenyum dengan sinis.


"Aku suka kenakalan kamu Cucu."

__ADS_1


__ADS_2