Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam#Episode 237


__ADS_3

Pagi hari menyapa Doni yang sudah biasa kerja tepat waktu dan juga sangat perhitungan dengan waktu pun datang ke kantor lebih awal. "Mana nih Cucu, masa jam segini belum datang," gumam Doni yang mana saat ini dia sudah bekerja dari pukul setengah delapan dan saat ini sudah pukul delapan, di mana jam kerja adalah pukul delapan itu tandanya Cucu seharusnya sudah datang. Namun tanda-tanda wanita itu akan datang pun sepertinya tidak ada.


"Apa selama ini seperti ini kerja orang-orang di kantor ini," gumam Doni lagi. Ini adalah hari pertama ia merasakan kerja kantoran. Bahkan demi membantu Jec dan Cucu. Sang Dokter untuk praktek mengambil cuti selama satu minggu. Setelahnya ia akan mengambil praktek di pagi sampai siang hari dan setelah itu ia akan membantu mengurus perusahaan peninggalan sang papah.


Yah, itu adalah finis dari hasil semalaman otaknya berpikir dengan keras. Ia akan tetap mengabdikan diri sesuai dengan cita-citanya yaitu menjadi seorang dokter, tetapi Deon sendiri juga tidak akan melupakan kalau dirinya juga salah satu pewaris perusahaan sang ayah sehingga dia mau tidak mau harus membantu Deon untuk mengolah perusahaanya.


sedangkan Cucu yang semalam tidur saja sulit karena rasa kangen dengan suami yang melanda bangun pun kesiangan bagaimana tidak kesiangan hampir pagi menyapa Cucu baru bisa tidur, itu pun dia setelah nangis dengan hebat. Yah, nyatanya menjalani hubungan jarak jauh itu sangat menyiksa. Bahkan Cucu harus pura-pura baik-baik saja padahal ia sendiri dalam keadaan yang sedang sangat rindu.


Wanita itu awalnya sangat percaya diri kalau dia akan kuat menahan rindu apalagi Cucu adalah orang yang cukup keras dalam berprinsip. Bahkan kemarin Cucu sempat menertawakan kegundahan Deon karena dia takut tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh karena menahan rindu itu berat. Nyatanya justru sepertinya Cucu yang kena batunya. Cucu bisa melihat kalau sang suami masih bisa menahan rindu dan tetap bisa bekerja dengan fokus. Sedangkan Cucu? Jangan ditanya dia sangat berat untuk menjalani ini semua.


Bahkan Cucu kehilangan semangat untuk bekerja. Contohnya pagi ini badan dia yang sakit semua, dan mata yang sembab serta tubuh yang lemas membuat dia sangat bosan untuk kembali bekerja, dan ingin rasanya memanjakan diri untuk tetap di atas kasur. Namun, Cucu masih teringat akan kewajibannya. Meskipun Deon mengizinkan ia bekerja karena untuk membuat dia tidak bosan menjalani hidup seorang diri dan berjauhan dengan sang suami. Nyatanya semuanya tidak semudah itu. Cucu bekerja seperti kuda. Bahkan ia sendiri sampai jadwal makanya acak-acakan.


Yah, namanya  orang kalau sudah bekerja dengan sangat keras akan kehilangan selera makanya. Itulah yang dirasakan oleh Cucu akhir-akhir ini. Semua makanan yang ada di hadapannya tidak juga berhasil membuat dia menikmati ini semua.


Cucu pun dengan santainya beranjak dari tempat tidur dan mandi ala kadarnya dan juga setelah itu bersolek dengan tipis kemudian kembali berangkat kerja. Tentunya setelah pagi-pagi mengirimkan pesan cinta untuk sang suami yang mana apabila di Indonesia pukul sepuluh. Makan di negara Deon tinggal masih menunjukan pukul lima. Yang artinya Deon masih tidur dengan pulas.


Itu sebabnya Cucu memilih untuk mengirimkan pesan singkat untuk mengabarkan pada laki-laki yang jauh di sana kalau dirinya saat ini sangat rindu. [Sayang, aku kerja dulu yah. Aku tahu kamu pasti masih tidur. Semoga kamu tetap sehat di tempat yang berbeda yah. Aku sangat rindu kamu.] Itu adalah pesan yang dikirimkan Cucu pada sang suami. Berhubung Cucu tidak seromantis Mbak Lydia (Tokoh di novel "Pembantu Spesial Untuk Om Duda" ) yang selalu menyampaikan perasaanya dengan bait puisi dan pantun, tetapi dengan kata-kata itu sudah mewakilkan betapa cintanya Cucu dengan sang suami. Yah Cucu yang cuek tentu kata-kata itu udah paling manis.


Setelah mengirimkan pesan untuk suami tercintanya. Cucu pun langsung mengayunkan kakinya menuju kantor. Dengan mengganjal perutnya menggunakan roti tawar sudah cukup untuk Cucu. Lagi-lagi kesibukan dan juga rasa cape yang berlebih sudah menghilangkan selera makan Cucu, sehingga meskipun di dalam meja makan terdapat banyaknya makanan tetapi nyatanya tidak juga membuat Cucu ingin memakanya.

__ADS_1


Tanpa menunggu waktu lama Cucu sudah sampai di kantor, dengan mengayunkan kaki setengah berlari Cucu kini sudah berada di lantai tempanya bekerja, dengan nafas yang setengah tersengal Cucu melangkah menuju ruangannya. Namun, betapa kagetnya Cucu ketika di dalam ruangannya Cucu justru melihat ada Doni yang sedang sibuk bekerja.


Brakkk... Suara pintu yang dibuka oleh Cucu dengan tekanan yang cukup keras sehingga menimbulkan suara yang cukup keras. Namun Doni yang sudah merasakan kesal karena Cucu datang bukan telat dalam hitungan menit, tetapi dua jam Cucu datang dari biasanya orang masuk kantor. Doni yang selama hidupnya sangat dididik dengan pekerjaan yang tepat waktu pun sangat marah dengan iparnya itu.


Doni yang selama hidupnya bisa dikatakan tidak pernah telat, dan selalu perhitungan dengan waktu, melihat Cucu bekerja sesuka hati tentu sangat kesal. Apalagi dia sampai mengorbankan pekerjaan utamanya demi bisa membantu Cucu, nyatanya Cucu justru sangat membuat dia marah dan juga kesal. karena seenak sendiri dirinya datang ke kantor ini.


"Tuan Doni, Anda ada di sini?" tanya Cucu dengan bingung. Pasalnya Jec tidak memberitahukan kalau Doni akan datang ke kantor untuk menggantikan dirinya. Yah, Jec yang semalam terlalu lelah pun lupa mengabarkan kalau Doni akan membantu Cucu untuk mengerjakan pekerjaannya. Jec juga pasti tidak kepikiran kalau Cucu akan datang telat bahkan sampai dua jam. Mengingat Cucu yang biasanya juga tepat waktu.


Namun di hari ini justru Cucu datang telat sehingga memancing Doni untuk menegur Cucu. Di mata Doni namanya telat itu harus ditegor tidak perduli alasan Cucu telat itu apa. Tetapi bagi Doni kalau tidak ditegur maka akan ada lagi telat untuk yang kesekian kalinya.


"Kenapa kamu kaget aku ada di sini? Kamu kira tidak akan ada aku sehingga kamu datang dengan santainya. Apa seperti ini cara kamu bekerja. Telat sampai dua jam. Apa mentang-mentang kamu kerja di kantor suami kamu kamu bisa datang dengan sesuka kamu?" tanya Doni tanpa mengalikan matanya dari laporan yang sedang ia kerjakan.


Tenggorokannya dalam hitungan detik langsung sakit yang luar biasa seolah ada biji kedondong yang mengganjal di tenggorokannya. "Maafkan saya Tuan, saya kesiangan. Semalam saya tidak bisa tidur dengan nyenyak sehingga pagi ini melewatkan alarm pagi," jawab Cucu dengan suara lirih, bergetar dan berat, karena ia harus menahan tangisnya yang hampir pecah.


"Ketika kamu sudah memutuskan untuk bekerja seharusnya kamu bisa profesional, jangan libatkan urusan pribadi dengan pekerjaan begitupun di tempat kerja, jangan mentang-mentang kamu istri dari Deon yang mana dia adalah pewaris dalam perusahaan ini kamu bisa sesukanya mengatur jam kerja kamu. Kamu harus memberikan contoh pada anak buah kamu kalau atasannya rajin anak buahnya juga rajin, kalau atasannya kaya kamu malas, bagaimana kerja anak buahnya. Pantesan laporan hancur semua karena bosnya saja tidak punya kedisiplinan."


Tanpa terasa bulir air mata tidak bisa Cucu bendung lagi, Ia yang memang sedang merasakan tidak nyaman dari tubuhnya, kini justru baru datang ke kantor moodnya sudah dibuat hancur oleh saudara tiri dari suaminya.


"Maafkan kesalahan saya Tuan, silahkan hukum saya karena saya sudah telat, saya sudah meninggalkan dua jam kerja saya untuk bermalas malasan. Silahkan lakukan apapun yang bisa mengantikan keteledoran saya. Tetapi asal Anda tahu, saya tidak pernah merasa santai karena saya di sini istri dari Deon. Justru saya juga ingin bekerja karena kemampuan saya bukan karena saya istri dari Deon, tetapi kalau itu yang Anda pikirkan terserah Anda. Bahkan saya akan terima apa pun keputusan dari Anda," jawab Cucu dengan suara yang sudah serak Doni tentu tahu kalau Cucu sudah menangis. Yah, Cucu merasa sakit hati dengan ucapan Doni. sehingga sekuat apa pun  dia berusaha untuk bertahan dan tidak cengeng tetapi air matanya justru tetap jatuh.

__ADS_1


"Kembalilah bekerja, percuma ngomong dengan cewek jatuhnya juga akan nangis dan ngadu." Doni sendiri kembali memfokuskan diri untuk kembali mengerjakan laporan-laporannya. Begitupun dengan Cucu, dengan tubuh yang lemas dan kemarahan yang mendominasi dan banyak rasa yang saling berperang dalam hatinya. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Tentu dengan kebisuan yang terjadi di ruangan itu. Hanya suara isakan dari Cucu yang masih sesekali terdengar yah. Cucu yang masih merasakan sakit hati. Tidak bisa dengan mudah untuk menghentikan tangisannya.


Dulu dia entah di buat marah seperti apa oleh Deon, tetapi tidak sekali pun Cucu merasakan sesedih ini tetapi kali ini oleh Doni yang niatnya laki-laki itu menegur Cucu agar datang bekerja tidak telat lagi tetapi rasanya dadanya sudah terbakar dengan hebat.


Sedih, marah dan kecewa yang Cucu rasakan. Hingga jam makan siang Cucu tetap bekerja, jangankan untuk memikirkan makan untuk minum saja Cucu sampai lupa, dengan tangan sesekali masih terus mengusap air mata yang hampir jatuh Cucu terus bekerja. Tanpa memperdulikan adanya Doni di ruangan itu. Cucu sangat sakit hati dengan ucapan Doni.


"Ini sudah waktunya makan siang Cu, kamu istirahatlah. Jangan sampai kamu sakit. Nanti suami kamu yang  setengah tidak waras itu akan marah padaku. Karena istrinya sakit," ucap Doni, yang lagi-lagi ucapannya membuat Cucu sakit hati. Suaminya dikatakan setengah tidak waras siapa yang tidak kesal dan tidak marah.


Yah, Cucu tentu tidak tahu ada permasalahan apa sebelumnya Doni dan Deon sehingga Doni bisa mengatakan itu. Bagi Cucu lagi-lagi ucapan Doni itu sangat kejam hingga dia beranggapan buruk pada laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu.


"Anda duluan saja Tuan, saya akan memesan makanan via aplikasi online," balas Cucu dengan mencoba menahan tangisnya. Meskipun suara paraunya sudah menggatakan kalau Cucu sejak tadi menangis.


Doni pun sama memilih memesan makanan dengan menggunakan aplikasi online. Tentu Cucu  yang masih sakit hati bertanya pada Jec dengan apa yang terjadi kenapa Doni bisa ada di dalam ruangannya.


[Jec apa Tuan Doni, ada di dalam ruangan kamu yang minta?] tanya Cucu melalui pesan singkat, hanya ingin tahu dengan apa yang terjadi. Itu semua karena Cucu merasakan hari ini adalah hari terburuknya rasanya hari ini dia ingin makan manusia. Saking marah, kesel dan juga kecewa. Bukan Cucu tidak terima ditegur oleh Doni, tetapi wanita itu merasa kalau dia selama ini bekerja dengan keras tetapi tidak ada yang memujinya, tetapi kenapa saat ia telat Doni menegurnya dengan kata-kata yang menurut Cucu sangat tidak mengenakan.


Sabar yah Cu, maklum Deon dan Doni satu bapak jadi kerasnya sama...


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2