
"Bang... Bang, teleponya diangkat Bang," pekik Qanita dengan hati yang sangat bahagia. Padahal juga wanita itu belum tahu yang mengangkat telponya putrinya atau justru Alzam, tetapi dalam hatinya sudah sangat senang sekali.
Wanita paruh baya itu sudah sangat senang ketika pertama kali panggilan telponya diangkat dan yang mengangkat adalah Qari, tetapi justu wajah cemas dan dada yang bergemuruh di tunjukan oleh Naqi ketika mengetahui bahwa panggilan teleponya justru diangkat oleh Alzam.
"Sayang... Sayang kamu sudah sadar." Tangisan Qanita pun pecah ketika melihat wajah putrinya, ini adalah kabar gembira saking gembiranya sampai-sampai Qanita terisak dengan sedih.
Naqi pun yang mendengar ucapan sang mamihnya langsung meraih ponselnya. "Qari, kamu sudah sadar. Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga." Naqi tidak henti-hentinya mengucapkan puji syukur, atas kabar bahagia ini.
Hal serupa pun terjadi pada tuan Latif ketika yang pertama kali mengangkat telpon adalah cucunya, puji syukur dan ucapan hamdalah berkali-kali terlontar dengan kabar gembira ini. Cyra pun merasakan sama halnya dengan Naqi ketika pertama kali sambungan telepon mereka diangkat, tetapi setelahnya Cyra pun ikut merasakan hal yang bahagia ketika tahu kalau Qari sudah sadar.
Qari sendiri bingung ketika melihat dua orang yang sangat disayanginya tidak berdaya di atas ranjang pasien.
"Mamih, Kakek, kalian kenapa bisa sama kaya Qari, sakit juga kah?" tanya Qari dengan suara yang lemas.
"Kakek, dan Mamih itu terlalu cemas memikirkan kamu yang sempat kritis paska operasi kemarin, tetapi mereka akan segera sembuh, kan sumber kekuatanya sudah sadar dan sudah bawel malah." Kini Alzam yang mewakili menjawab atas pertanyaan Qari, dan Qanita serta Latif pun membenarkan apa yang Alzam katakan.
Mereka pun terus melakukan sambungan telepon dan terlihat sekali rona bahagia di wajah Qanita serta Latif, yang seolah benar-benar memiliki sumber kekuatan baru untuk sembuh dan berkumpul bersama dengan anggota keluarga baru yang mereka ketahu bahwa putrinya, Nara kondisinya jauh lebih beruntung dari Qari, itu sendiri
Yah, setelah ini tugas Naqi adalah menemui Jec, dan Deon agar tidak membuka fakta yang sudah mereka putuskan untuk menutup fakta kalau Sinar sudah meninggal. Jasad Qinar memang sudah di kubur, tetapi Qinar lain pun sudah siap hadir untuk meramaikan keluarga barunya.
"Kalau gitu sudah yah Mih telponannya, Qari juga baru sadar masih butuh istirahat, begitupun Mamih dan Kakek, banyak-banyak istirahat dan kita akan berkumpul lagi nanti," ucap Naqi, dan Qanita pun mengangguk kuat, dengan perasaan yang sangat bahagia.
"Sayang mamih sudahan yah telponanya, dan kamu juga jangan lupa makan yang banyak istirahat yang banyak, dan nanti kita akan bertemu dengan tubuh yang sehat yah Nak, maaf mamih malah tidak bisa menjaga kamu, karena mamih yang sakit seperti ini," ucap Qanita dengan perasaan yang sedih.
__ADS_1
"Hay, Mamih jangan sedih seperti itu, lagi pula Qari ada Alzam yang menjaga Qari, Mamih dan Kakek tidak perlu khawatir, Qari akan sembuh dan cepat sehat untuk kalian semua yang sayang sama Qari dan juga untuk Nara." Senyum semangat ditunjukan oleh Qari untuk semuanya.
Latif pun sama mengakhiri panggilanya pada Qari, dan tentunya dengan perasaan yang jauh lebih bahagia dari pada tadi.
"Ini sudah Ra." Latif memberikan ponsel pada cucu menantu kesayanganya.
Cyra pun meraih ponselnya. "Kalau begitu Kakek sekarang sarapan yah, ini sudah masuk jam sarapan, dan Kakek harus makan yang banyak biar bisa main dengan cucu serta cicit kakek," ujar Cyra, dengan tangan meraih makanan yang disediakan oleh rumah sakit.
Begitupun dengan Naqi yang menyuapi Qanita dengan sabar, mereka kini memiliki semangat untuk sembuh setelah Qari mengalami banyak perubahan.
Qari sendiri saat ini sedang menikmati sarapanya, sama dengan kedua orang yang di sayanginya, perasaannya semakin bahagia, semakin memiliki semangat untuk sembuh, semakin bahagia. Yah, inilah hidup senang sulit di jalani dan selalu yakin bahwa semuanya akan bahagia pada waktunya, seperti pepatah mengatakan akan ada badai setelah pelangi. SALAH...!!!
#Kebalik thor, akan ada pelangi setelah badai!!! Nah anggap ajah othor adalah penulis berkedok pelawak. SALAH lagi (Pelawak berkedok penulis) itu yang bener.
*******
Di rumah yang mewah.
"Maafkan aku gadis kecil, aku salah, aku tidak pernah terpikirkan kalau semuanya akan seperti ini. Aku salah dan aku sangat menyesal, dan kini Tuhan telah menghukum aku, anakku diambil lagi oleh Tuhan, aku sangat menyesal." Deon pun kembali terisak sama halnya seperti tadi-tadi dia menangis mengingat tubuh kecil sang buah hati yang perlahan tertimbuh tanah.
"Ja... jadi anak Kakak Qari sudah meninggal?" tanya Tantri dengan ucapan yang terbata.
Deg!! Kali ini Deon yang kembali dikagetkan dengan pertanyaan Tantri dengan suara bergetar dan kesedihan yang mendalam, hal itu bisa Deon simpulkan dari tangisan bocah kecil itu, yang terdengar sangat pilu dan menyayat hati.
__ADS_1
"Apa kamu belum tahu, kalau Qinara sudah meninggal semalam, bahkan saya sendiri yang menguburkanya," balas Deon, laki-laki itu mencoba mengerti mungki keluarganya Alzam dan yang lainya belum sempat untuk mengabarkanya.
"Tidak... tidak mungkin keponakan bayi meninggal, tidak mungkin itu terjadi." Tantri menjerit, dengan keras. Yah, saat ini memang dia sedang berada di balkon, di luar kamarnya dengan sengaja agar Bi Sarni tidak mendengar obrolanya, tetapi salah.
Bi Sarni langsung terbangun ketika telinganya menangkap ada kegaduhan di balkon rumahnya.
Tantri menjerit dan menangis penuh dengan penyesalaan, tidak pernah terpikirkan tentu kalau ponakan bayinya yang selama ini selalu dia sayang dan belai tiba-tiba meninggal.
"Gadis kecil, kamu kenapa? Apa kamu baik-baik saja." Deon di tempat lain pun mulai panik ketika ia tahu bahwa ponselnya sudah terjatuh, dan suara tangisan dari gadis kecil itu yang membuat Deon kembali di selimuti rasa bersalah.
"Neng... Neng Tantri, Neng kenapa?" tanya Bi Sarni melihat Tantri yang menangis meraung dengan bersimpuh. Tantri menatap Bi Sarni dengan mengiba.
"Bi... ponakan bayi apa sudah meninggal? Katakan kalau itu bohong Bi? Tidak mungkin meninggal kan Bi? Itu semua hanya mimpi saja kan Bi? Tantri bukan pembunuh Bi, Tantri bukan pembunuh."
Bi Sarni perlahan berjalan ke arah gadis kecil itu dan memeluknya dengan hangat.
"Neng Tantri yang sabar yah, semuanya akan baik-baik saja." Bi Sarni yang tidak tahu apa-apa pun kembali mnguatkan Tantri.
"Jadi bener Bi, ponakan bayi sudah meninggal?" Kembali Tantri mencari kebenaranya, dan Bi Sarni yang tidak tahu apa-apa pun hanya bisa pasrah, dan mengangguk dengan lemah, meskipun wanita paruh baya itu belum mendapatkan kabar langsung dari majikanya.
Tangisan Tantri benar-benar pecah, hingga tubuhnya yang lemah tegolek pingsan.
"Neng... Neng kenapa ini. Tolong... Tolong." Bi Sarni pun berlari mencari bantuan. Sementara Deon di sebrang telpon pun dilanda kepanikan yang teramat. Ingin pergi ke rumah Qari, tetapi jaraknya tidak dekat.
__ADS_1
"Ya Tuhan, apa lagi yang telah aku perbuat? Kenapa rasanya aku tidak pernah menemukan kedamaian? Kenapa aku selalu membuat masalah?" jerit Deon dalam suasana pagi yang masih sepi.