
Bergitu Cucu dan Jec sampai di rumah sakit, dengan menunggu cukup lama Deon di observasi kurang lebih tiga jam di IGD, dan setelahnya Deon di pindahkan ke ruang rawat. Cucu dan Jec pun masuk ke ruangan di mana saat ini Deon sudah di pindahkan ke ruang rawat, tentu sebelumnya Jec sudah mengucapkan banyak terima kasih pada bi Sarni dan juga Tantri. Bahkan Jec sudah menawarkan tumpangan pada mereka, tetapi mereka menolaknya sehingga Jec pun tidak berani menawarkan lebih. Terlebih Jec juga harus kembali menjaga Deon.
Cucu begitu masuk pandangan matanya langsung tertuju pada Deon yang sedang terbaring dengan lemah. Kasihan, itu rasa yang pertama kali Cucu lihat, tetapi kalau teringat keras kepalanya laki-laki itu rasanya rasa kasihan itu hilang.
Hal yang sama pun Jec tunjukkan dirinya yang awalnya akan marah karena Deon yang sangat menyebalkan pun langsung diam ketika melihat kondisi Deon yang cukup memprihatinkan.
"Bagaimana kondisi Anda saat ini Tuan, apa ada yang sedang Anda rasakan?" tanya Jec dengan nada yang lembut, sementara Cucu berdiri di samping Jec, tidak banyak berkata-kata.
"Bukanya kalian akan marah padaku, kenapa kalian justru diam saja. Aku sudah siap kalian marahi. Karena aku yang keras kepala, aku yang terlalu sulit dinasihati sehingga membuat tidur kalian terganggu," balas Deon dengan pasrah.
Jec sendiri hanya mematung, tidak berani berkata-kata lebih karena tidak tega pada Deon.
"Kami memang ingin marah dengan Anda, dan juga ingin meluapkan rasa kecewa pada Anda, tetapi lihat kondisi Anda yang sangat memprihatin kan lebih baik Anda sehat saja dulu, dan ketika Anda sehat saya yang akan menasihati Anda sampai Anda tidak akan berani lagi berpikir dengan keras kepala." Cucu memilih berjalan ke sova dan duduk dengan santai, setelah meluapkan apa yang ada di dalam hatinya.
Jec dan Deon pun lagi-lagi hanya diam melihat keberanian Cucu. Wanita itu sama sekali tidak memiliki rasa takut.
"Tuan Anda istirahatlah, karena kami juga akan kembali tidur," imbuh Cucu dengan merentangkan selimut di lantai untuk ia tidur. Deon yang memang sudah mulai mengantuk pun tidak lama memejamkan matanya dan tertidur, sesuai apa kata Cucu, dia kembali tertidur di bawah dengan beralaskan selimut bahkan tubuhnya di gulung dengan selimut, seperti sebuah lontong.
"Kamu juga tidur Jec, jangan terlalu di cemaskan Tuan Deon, dia hanya butuh istirahat, aku yakin Tuan Deon akan baik-baik saja setelah dia bangun tidur nanti," gumam Cucu dengan pandangan mata yang sudah mulai meredup.
Jec yang memang masih mengantuk pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia memilih tidur di Sofa. Untuk ke dua kalinya Jec dan Deon kembali lagi tidur di dalam ruangan yang sama yaitu ruang rawat.
********
Paska meninggalnya Qinar, hari pun terus berganti dan kini Qanita dan Latif pun sudah membaik dan di izinkan untuk pulang, begitupun Qari yang juga sudah diizinkan untuk pulang. Atas permintaan keluarga besarnya, Qari pun pulang ke rumah orang tuanya.
__ADS_1
Tantri sendiri hingga detik ini masih di selimuti perasaan bersalah, bahkan dia menjadi gadis kecil yang mistterius dan semakin irit bicara, bahkan di sekolah pun dia menjadi gadis yang murung, konsentrasinya terganggu sehingga nilai-nilai pelajaranya banyak yang turun. Padahal sebelumnya Tantri adalah siswa paling pandai, tetapi sejak ia mengetahu bahwa Qinar meninggal karena kejadian yang ia anggap itu semua adalah kesalahannya.
Bi Sarni juga selalu memberikan nasihat-nasihat yang penting, tetapi apa daya, yang dilakukan olehnya tidak jauh membuahkan hasil. Tantri tetap denganĀ pendirianya. Bahwa Deon yang bersalah dalam semua yang terjadi sedangkan dirinya merasa kotor dan berdosa karena jadi pembunuh. Bahkan bi Sarni melihat akhir-akhir ini Tantri tidurnya semakin tidak tenang.
Bi Sarni pun ingin sekali membicarkan hal ini pada Alzam, tetapi sampai dua hari ini Alzam hanya berkomunikasi dengan seadanya, dan wanita paruh baya itu juga rasanya kurang sopan apabila bercerita hal sepenting itu lewat sambungan telepon.
Sehingga bi Sarni memutuskan akan berbicara dengan Alzam ketika bertemu langsung.
"Neng apa mau menjenguk Non Qari mereka sudah pulang," ujap Sang supir yang mencoba membuka oprolan ketika pulang sekolah, mereka awalnya akan pulang ke rumah
Wajah Tantri sedikit terlihat bahagia dengan apa yang ia dengar. "Kakak Qari sudah pulang?"
"Udah Neng, tapi pulangnya ke rumah Tuan Latif," balas Sang Sopir, wajah Tantri pun langsung terlihat sedih kembali.
"Pasti Kakak tidak mau lagi tinggal di rumah itu, kalau gitu antar Tantri ke ruamah Tuan Latif, Pak. Tantri akan minta maaf dengan apa yang terjadi. Ini semua kesalahan Tantri sehingga Tantri harus bertanggung jawab," balas Tantri dengan wajah yang terlihat sangat sedih.
Sebenarnya sudah beberapa kali kesempatan ketika Alzam menelepon Tantri ingin mengatakan maaf untuk kejadian yang menimpa anak Qari, tetapi Tantri kembali teringat pesan bi Sarni bahwa hal ini sebaiknya jangan dibicarakan melalui sambungan telepon. Kurang Sopan.
Entah nasib yang sedang baik atau justru buruk, begitu Tantri masuk ke rumah mewah itu pandangan Tantri langsung tertuju pada Qari yang baru ke luar dari ruang makan, (Berpapasan)
"Kakak...." Tantri langsung menghambur dan bersimpu di bawah kaki Qari.
"Kakak maafkan Tantri."
Qari buru-buru menahan Tantri agar tidak melakukan hal seperti itu. "Tantri bangunlah semuanya sudah terjadi." Qari mencoba berbicara dengan lembut.
__ADS_1
"Tapi gara-gara Tantri anak kakak meninggal."
Jeduerrrr...
Tubuh Qari langsung limbung. Bahkan Qari harus bertumpu pada sofa yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Ma... maksud kamu apa Tantri. Anak Kakak sehat-sehat saja, kenapa kamu bilang Nara meninggal?" cecar Qari dengan kepala yang berdenyut hebat.
Tantri pun tidak kalah bingung. "Kalau anak kakak baik-baik saja, lalu yang di makam itu anak siapa, namanya Qinara bin Najma Qarina Orlin, itu bukanya nama kakak dan anak kakak?" tanya Tantri masih dengan kebingungan yang sama dengan Qari.
Namun Qari justru trus menggelengkan kepalanya dan mulai terisak. "Tidak mungkin Nara baik-baik saja, di kamar sedang bermain dengan Alzam. Kamu pasti bohong, karena kamu tidak ingin Nara hidup kan?" Tangis Qari pun pecah.
Tantri pun hanya mematung bingung dengan yang terjadi. Sementara dia sangat yakin kalau makam itu atas nama Qarina.
Naqi yang kebetulan baru turun dari tangga pun terkejut dengan Qari yang menangis. "Dek, kamu kenapa?" tanya Naqi dengan berjalan tergesa pada Qari dan Tantri yang menunduk bersalah.
"Bang, kenapa Tantri bilang, kalau anak Qari sudah meninggal. Qinara, sudah meninggal. Lalu siapa anak yang ada di kamar Bang?" Qari langsung mencecar Naqi yang seketika itu wajahnya berubah.
Naqi memejamkan matanya dengan kuat, dia bahkan lupa untuk memberitahu Tantri. Oh, bukan lupa tetapi Naqi yakin Tantri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga mereka merasa bahwa Tantri bukan ancaman untuk semua yang sedang ia atur skenarionya.
Naqi hanya memberikan info pada Deon, melalui asisten-nya Jec, itu karena Deon yang memang dalam kondisi sakit, dan Naqi sendiri belum menemui Deon.
Susana semakin runyam ketika Latif dan Qanita juga tidak sengaja keluar kamar ketika mendengar ada kegaduhan.
"Apa yang kalian katakan itu benar? Qinara sudah meninggal?" Latif tidak kalah syok dengan kabar yang tiba-tiba ini.
__ADS_1
"Naqi, apa ada yang kalian sembunyikan? Apa yang terjadi sebenarnya Bang? Qinara sudah meninggal? Lalu bayi yang diasuh kita anak siapa?" Qanita pun tidak kalah mencecar Naqi yang semakin tersudutkan. Tidak bisa mengelak dan juga tidak bisa menutupi fakta ini lagi. Keluarganya sudah mulai curiga, semakin di tutupi justru semakin jadi bumerang di kemudian hari.
Naqi menatap tajam pada Tantri yang masih terisak tajam dengan kebingungan yang sama dengan yang lainnya.