Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam Bab 242


__ADS_3

"Jec kamu kenapa sih dari tadi perasaan gelisah banget?" tanya Qila yang mana entah berapa balik Jec menghubungi seseorang tetapi seperti tidak ada jawaban dan bahkan entah berapa kali Jec mengeluh karena tidak adanya jawaban dari sebrang sana.


"Tuan Deon, nomor ponselnya tidak aktif-aktif, dan Tuan Doni sejak tadi juga cemas memikirkan ini. Aku jadi bingung harus cari info kemana lagi," ucap Jec dengan tangan yang bergetar, ini bahkan sudah malam dan di Jerman juga sudah malam, sehingga mau membuat pengaduan pada polisi sana juga sulit karena kondisi Jec yang sedang di jalan. Coba kalau sudah di Jakarta, Jec pasti akan langsung mencari tahu dari teman bisnisnya di negara tempat Deon berada. Meskipun Jec tidak kenal banyak teman di negara itu, tetapi Jec ada satu dua teman yang dalam pikirannya sudah Jec masuk list untuk mencari informasi dengan keberadaan bosnya.


"Kamu sabar dulu mungkin Tuan Deon sedang kecapean dan ponselnya sedang low bet," jawab Qila masih bisa berpikir positif sedangkan Jec boro-boro bisa berpikir positif. Pasalnya ini adalah kali pertama Deon mematikan ponselnya cukup lama.


"Yah, mudah-mudahan apa yang kamu katakan benar adanya," jawab Jec, tetapi dengan sinyal yang seadanya Jec terus mencoba mencari informasi mengenai bosnya itu. Sementara Deon sendiri dia atas awan, saking kecapean, dia begitu pesawat mengudara ia sudah langsung terbuai ke alam mimpi. Padahal pesawat yang Deon tumpangi memberikan fasilitas Wifi (Ada beberapa maskapai yang memang memperbolehkan menyalakan ponsel dan bahkan ada fasilitas wifi, dan biasanya itu untuk yang kelas bisnis dan penerbangan yang cukup memakan waktu lama) untuk penggunanya dan bisa untuk menghidupkan ponsel, tetapi saking laki-laki itu sudah cape dan menghabiskan banyak tenaga untuk bekerja sehingga waktu di udara ia manfaatkan untuk istirahat dan benar-benar untuk istirahat, yah mungkin laki-laki itu akan memanfaatkan waktu penerbangannya yang sampai belasan jam untuk tidur.


"Bagaimana? Apa masih belum bisa di hubungi juga?" tanya Iriana dengan suara yang lirih. Bahkan ibu satu anak itu sekarang bertambah cemas setelah berjam-jam, tetapi nomor Deon tidak aktif juga.


Lagi, Doni menatap Cucu yang masih pulas tertidur. Deon memberikan jawaban dengan menggelengkan pelan kepalanya sebagai tanda bahwa sang abang belum ada kabar apa-apa.


"Apa kamu tidak ada nomor kontak yang bisa kamu hubungi?" tanya Iriana lagi, dan jawaban Doni pun sama, jangankan orang-orang di negara yang berbeda. Di negaranya sendiri saja Doni hanya kenal Jec dan Cucu.


Doni yang sudah putus asa karena sudah beberapa kali menghubungi Deon tetapi hasilnya masih sama. 'Nomor yang Anda tuju sedang di luar jangkauan' Doni menggelengkan pelan kepalanya dengan tatapan yang bingung.


Bahkan mungkin ini adalah kecemasan pertama untuk Doni terhadap abangnya, awalnya Doni yang kesal dan mengumpat Deon di dalam hatinya dengan kata-kata yang kasar, kini justru Doni juga mulai cemas dengan serius. Apalagi ketika Jec juga selalu berkata hal yang sama untuk  melacak keberadaan Deon tidak juga di temukan. Bahkan saking seringnya Doni menghubungi Deon yang ponselnya tidak aktif, ponsel Doni baterainya hingga berwarna merah seperti lampu Ultraman ketika dalam keadaan gawat darurat.

__ADS_1


Iriana pun berjalan menghampiri Doni yang nampak sangat cemas itu. "Kamu tenang dulu sekarang kamu istirahatlah, dan ponsel kamu cash agar tidak mati karena kehabisan daya. Momy yakin Deon dalam keadaan baik-baik saja," balas Iriana dengan suara lembutnya, yang langsung di balas anggukan lembut oleh Doni. Yah, ibu kandungnya memang selalu seperti itu mengetahui apa isi hati Doni.


Sedangkan Iriana sendiri lebih baik menunggu Cucu sampai bangun, dan Doni juga memilih untuk membersihkan tubuhnya dan mencoba menghilangkan kecemasan. Dalam batin Doni dia juga yakin kalau sang abang tirinya juga dalam keadaan baik-baik saja. Doni berharap dengan dia mandi otaknya jadi sedikit adem.


Cucu mengerjapkan matanya berkali-kali ketika dia merasakan kepalanya yang berat sekali, bahkan seperti ditindih batu berukuran besar. Tangan kanannya memijat pelipisnya. Pandangan mata yang buram memaksa Cucu untuk terus mengerjapkan mata hingga bisa lebih jelas mengetahui dirinya sedang berada di mana saat ini.


Sementara Iriana yang sudah tahu kalau Cucu bangun pun membiarkan Cucu sampai ia benar-benar sadar dan tahu bahwa saat ini wanita itu sedang berada di rumah sakit.


"Momy... Kenapa Cucu ada di sini?" tanya Cucu dengan suara lemahnya, dan pandangan mata yang terus ditajamkan mengawasi ruangan berwarna putih serta bau obat yang sangat menyengat.


"Iya, tadi Doni telpon Momy, kataknya kamu pingsan, dan saat ini kamu sedang ada di rumah sakit," jawab Iriana dengan suara yang lembut.


"Tidak apa-apa lagian Momy kan cuma nungguin kamu, selebihnya kalau cape juga tidur," balas Iriana dengan mengambil air putih. "Minum dulu, biar kamu segar. Emang apa yang kamu rasakan?" tanya Iriana dengan super perhatian.


"Terima kasih Mom." Cucu mengambil botol air mineral dan meminumnya hingga setengah botol hampir habis.


"Pusing, yang Cucu rasakan Mom, dan rasanya seperti ada batu besar yang menindih kepala Cucu," balas wanita itu setelah kini tenggorokannya tidak sekering tadi.

__ADS_1


"Ini hasil dari dokter, Momy belum baca, biar kamu yang baca saja," ucap Iriana dengan mem berikan selembar kertas yang baru Iriana dapat ketika Doni masuk ke dalam kamar mandi.


Cucu pun menatap wanita itu dengan tatapan yang tajam. Ada rasa takut yang Cucu rasakan kalau dia akan mengalami sakit yang aneh-aneh. Mana saat ini ia tidak bersama dengan sang suami. Dan Cucu bukanya menerima amplop yang Iriana beri malah wanita itu berkaca-kaca karena, rasa rindu, takut dan juga kesepian menjadi satu. Mungkin kalau ada Deon sekaliypun ia sakit akan ada yang menemaninya sehingga Cucu tidak merasakan sendiri, tetapi Deon tidak ada dan ia terpaksa harus menjalani ini seorang diri, sampai kapan? Entahlah Cucu juga tidak tahu ia akan menjalani ini semua seorang diri.


Iriana yang tahu kalau Cucu merasakan takut dan lain sebagainya pun mengusap punggung wanita yang tengah mematung sedih. "Kamu jangan sedih, ada banyak wanita di luar sana yang nasibnya jauh lebih buruk dari kamu. Momy yakin sebentar lagi Deon akan pulang," ucap Iriana memberikan semangat Cucu agar tidak bersedih lagi.


"Apa Deon tahu kalau Cucu saat ini sedang di rumah sakit?" tanya Cucu dengan perasaan yang mulai tidak enak.


Dan Iriana  menjawab dengan gelengan kepala. "Tetapi Momy yakin ikatan batin Deon dan kamu kuat. Kalian pasangan yang serasi. Saling melengkapi, dan Momy meskipun bukan ibu kandung dari Deon tahu kalau dia saat ini jauh berbeda, dan itu semua karena kamu yang membuat Deon semakin berubah," ucap Iriana dengan mengusap tangan Cucu. Dan Cucu pun mengembangkan senyumnya, apa yang dikatakan oleh Iriana hampir semuanya benar. Deon saat ini sudah jauh berbeda dan itu semua karena Cucu, dan Cucu sediri pun saat ini tidak terlalu keras kepala dan itu semua karena Deon. Dan itu tandanya dia sangat banyak melakukan perubahan.


"Kalau gitu buka amplopnya. Momy penasaran ada rahasia apa di balik amplop itu," tunjuk Iriana, yang mana Cucu justru sebaliknya ada rasa takut kalau dia akan mengetahui sakit yang berbahaya. Dengan tangan bergetar Cucu pun membuka amplop itu.


Kedua mata Cucu melebar sempurna ketika membaca hasil dari pemeriksaanya.


"Mom... Ini artinya apa?"


Bersambung...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2