
Doni dengan langkah tegap berjalan lebih dulu menuju ruangan meeting. Meskipun laki-laki itu belum tahu di mana ruangan meeting itu, tetapi percaya diri adalah kunci utama, salah nomer sekian. Bener ga readers...?
Iriana pun mengikuti Doni. "Maafkan adik kamu yah. Dia hanya bosan sudah hampir satu jam menunggu dan kalian belum datang juga, tetapi anak Momy sebenarnya baik kok. Momy yakin nanti pasti kalian akan salin bantu." Iriana menepuk pundak Deon.
Serrr... darah seolah naik lebih kencang ke otak Deon.
Bahkan hati Deon yang sedang panas pun seketika berubah menjadi dingin ketka wanita yang belum ia kenal memberikan nasihat yang menengkan. Bukan hanya menenangkan, tetapi juga Iriana pun sampai menggandeng tangan Deon dengan ramah dan hangat.
"Yuk, kasihan yang lain sudah nunggu!!" Bak dihipnotis seketika Deon langsung nurut dengan apa yang Iriana katakan. Mereka pun berjalan bergandengan, lebih mirip dengan anak dan ibu kandung.
Sementara itu Doni yang berjalan di depan sebenarnya tidak yakin bahwa yang dia tuju adalah ruang meeting, tadi dia hanya dengar dari wanita seksi yang sudah pasti kalau itu adalah sekretaris dari Deon mengatakan kalau ruang meeting ada di ujung, tetapi ia tidak tahu ada di ujung mana.
Jec yang sebenarnya lebih tahu di mana letak ruang meeting pun sedikit heran, kenapa Doni justru berjalan kelain arah dan ruang meeting yang biasanya mereka gunakan. "Apa di sebrang sana anak ruang meeting?" tanya Jec semakin curiga. Jec pun berlari menghampiri Doni.
"Tuan Anda mau kemana?" tanya Jec dengan sopan, orang yang berada di belakang Doni pun ikut berhenti ketika Doni berhenti, termasuk Deon dan Iriana.
"Ruang meeting lah, masa mau ke dufan," jawab Doni dengan ketus.
"Tapi maaf setahu saya ruang meeting ada di sana." Jec menunjuk ruang yang ada di sebrang.
Bussshhh...
Wajah Doni cukup memerah, karena jiwa sok taunya yang tinggi, dan tanpa mau bertanya akhirnya salah juga.
"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi," elak Doni, dengan tampang tanpa dosa.
'Nah kan aku salah lagi,' batin Jec. Nasib mu Jec....
"Iya maaf Tuan, saya pikir Anda sudah tahu," balas Jec, mengalah dan meminta maaf adalah cara terbaik dari pada kena omel lagi.
"Kalu gitu kamu yang di depan! Nanti aku nyasar lagi." Doni pun membiarkan Jec berjalan lebih dulu di depannya. Sementara Dika pun menyikut perut Doni dan dua orang itu terkekeh.
__ADS_1
Akhirnya Doni bisa tersenyum juga. Yah, kalau ada yang mengira Doni marah karena terlalu lama menunggu Deon dan Jec itu benar,tetapi alasan utamanya adalah persaan bersalahnya yang tidak bisa melihat Mba Gatot lagi.
Tadi begitu ia datang langsung menuju ruangan Gatot di mana kemarin dia membujuk Gatot agar tidak meninggalkan pekerjaanya, tetapi Doni tidak berhasil, dan Gatot pun saat itu juga langsung mengundurkan diri dengan teman-teman yang bingung.
Flashback on...
"Apa Gatot belum datang?" tanya Doni, meskipun tidak kenal dengan orang-orang yang ada di dalam ruangan itu, tetapi dengan percaya diri Doni menyapanya lebih dulu.
Memang reaksi pertama mereka saling tatap, seolah mereka bingung dengan pertanyaan Doni, mereka juga bingung siapa orang yang bertanya itu.
Namun, ada satu karyawan yang mungkin masih mengingat Doni.
"Maaf Tuan, Gatot sudah Resign, dan semalan sempat berkomunikasi bahwa dia akan pulang kampung, dan rencananya akan mendaftar menjadi tenaga kerja wanita ke luar negri."
Deg!!! Lagi, Doni sangat merasa bersalah.
Flashback of.....
Benar saja setelah Jec yang berada di depan sebagai pemandu jalan, mereka tidak salah, dan sesuai yang mereka pikirkan di dalam ruangan meeting itu sudah pada menunggu pemimpin mereka, tentu mereka tidak tahu tujuan hampir setiap kepala bagian di panggil ke ruangan itu.
Kedua manik mata hitan Deon mengawasi dengan teliti setiap wajah yang ada dalam ruangan meeting itu, bukan ingin mengenali satu per satu karyawanya, tetapi dalam hati laki-laki itu masih berharap bahwa satu dari orang-orang yang ada di dalam sini, ada satu wajah yang sangat ia ingin temui.
Namun, lagi-lagi Doni kecewa karena pada kenyataanya wanita itu tidak ada di dalam ruangan ini.
'Andai kemarin aku tidak bercanda seperti itu, mungkin saat ini aku masih bisa menatap wajah gadis itu,' batin Doni, sembari duduk lesu.
Sementara yang memimpin rapat adalah pengacara Dika, dan nanti Doni akan memberikan sepatah dua patah sebagai salam dari pemimpin. Doni sadar banyak pasang mata yang menatap kagum pada dirinya.
Yah, sebagai sodara satu ayah dengan Deon, tentu wajah dan postur tubuh Doni hampir mirip dengan Deon. Sehingga sudah bisa di pastikan bawa bakal makin banyak antrian yang mendambakan menjadi istri Doni.
Namun, alih-alih Doni suka menjadi pusat perhatian, dari cewek-cewek cantik dan bertubuh seksi, dan tentu pakaiaan mereka jangan ditanya, sangat seksi, dan itu bukan selera Doni. ia lebih suka dengan gadis yang galak dan aneh seperti Gatot.
__ADS_1
Setelah Dika cukup memberikan sambutan dan tentunya surat kepemilikan yang sah dari perusahaan Bellamy yaitu Doni, maka kini jatahnya Doni memberikan sambutan dan serah terima jabatan, di mana sesuai rencana dan kata hatinya ia tetap menjalani profesi sebagai dokter sepesialis kangker.
Dalam kesempatan ini Doni berlaku sangat manis terhadap Deon, begitu pun dengan Deon yang terlihat sangat hangat dengan adik tirinya itu, bahkan Doni dan Deon berpelukan dan berdiri bersama. Memberikan sambutan dan juga rencana-renananya di masa depan.
"Gimana Don, apa kamu setuju dengan rencana aku?" tanya Deon, berusaha terlihat hangat dan bekerja sama dengan baik, untuk perusahaan mereka, tentu tidak dengan hati mereka sang saling umpat.
Doni menggerakan kepalanya naik turu, dan tampak senyum yang manis.
"Aku setuju, sejauh ini demi kebaikan perusahan, aku setuju dengan rencana Abang." Siapa pun yang melihat akan percaya bahwa mereka memang sodara tiri yang harmonis tidak terlibat perebutan harta, tetapi tidak pada kenyataanya, mereka tetaplah adik kaka pada umumnya yang akan terus bersitegang meskipun hal sepele.
Drama pun sudah selesai karyawan sudah pada bubur dan mereka sudah kembali bekerja sesuai bagian masing-masing, dan Doni serta Deon pun kembali ke mode jutek.
"Mom ayuk kita pulang, tugas kita sudah selesai, biarkan orang ini bekerja dengan benar. Dan kamu Jec awasi atasan kamu jangan sampai dia kerja seenaknya, ingat bos di sini adalah saya," cicit Doni, kembali memancing Deon, tetapi sama dengan tadi.
Iriana datang untuk menenangkan hati Deon.
"Jangan kamu ambil hati yah, dia itu sebenarnya sedang patah hati." Iriana berbisik di samping Deon, dan Deon peun tersenyum dengan sinis.
"Pantas Dokter berubah jadi tidak waras, ternyata dia juga bisa patah hati juga. Aku pikir orang menyebarkan seperti Doni tidak akan merasakan patah hati," kekeh Deon di dalam hatinya.
"Ingat Deon, kamu tidak boleh mengganggu Alzam dan Qari lagi, aku memang tidak ada perjanjian hitam di atas putih, tetapi Om Dika dan yang lain cukup untuk sebuah bukti, kalau kamu sudah berjanji dengan kesepakatan kita." Doni sebelum benar-benar pergi lebih dulu mengancam Deon, agar otaknya tidak amnesia dengan janjinya.
Deon lagi-lagi hanya membalasnya dengan pandangan mata jengah. Ia heran kenapa memiliki adik tiri yang sangat menyebalkan, dan anehnya datang ketika dia akan mengejar cintanya.
Iriana dan Doni pun langsung meninggalkan ruangan itu, setelah semuanya sudah sesuai dengan yang mereka rencanakan.
Sementara Deon, begitu orang-orang sudah pulang dan dia pun berada di dalam ruanganya seorang diri. Deon kembali teringat dengan kecurigaanya, tentang Qari yang hamil.
Tanganya mengambil benda pipih itu dan mencari nomor seseorang yang ia percaya bisa menjalankan tugas-tugasnya, tanpa memberi tahu apa rencanaya pada Jec. Ia kan mencari tahu tentang Qari tanpa diketahui oleh Jec.
[Kamu cari tahu tentang Qari, apakah dia hamil anak aku!!] Seperti itu kira-kira pesan yang dikirimkan oleh Deon pada orang kepercayaanya.
__ADS_1
Selamat Tahun Baru 2023, dari othor. Semoga kita makin baik lagi.....