
"Ehemzz... Maaf Anda siapa, dan sedang apa di sini?" tanya seorang dokter yang baru datang dan juga satu perawat di belakangnya, mengagetkan Cucu yang masih melamun di depan pintu ruangan Deon.
"Oh, maaf apa Dokter mau memeriksa pasien yang ada di dalam?" tanya Cucu dengan sedikit terbata.
"Iya, saya mau memeriksa pasien yang di dalam. Apa bisa dikasih jalan?" ucap laki-laki yang berpakaian putih bersih. Dan senyum mengembang sempurna.
"Oh, maaf saya lupa." Cucu langsung menggeser tubuhnya yang menutupi jalan. Ya iya lah dia nutupin jalan dari tadi berdiri di depan pintu. Wanita itu pun memegang dadanya yang bergemuruh hebat, semakin dia mengingat perceraian semakin dia tidak bisa fokus.
"Apa mungkin Deon adalah jodoh aku sesungguhnya, kenapa aku sepertinya sangat berat apabila mengingat perceraian. Tapi bagaimana kalau aku setiap malam diminta melayani laki-laki itu seperti malam kemarin-kemarin," batin Cucu dia merasakan ketakutan sendiri, dan wanita itu masih berdiri di samping pintu.
Hingga, lamunanya kembali dikagetkan oleh seorang perawat yang memanggilnya untuk masuk ke dalam ruangan, karena sang dokter mau memberikan apa saja yang harus di lakukan untuk merawat Deon.
Dengan langkah yang berat Cucu pun masuk ke dalam ruangan sang suami, dan dokter pun menjelaskan apa yang terjadi pada suaminya, obat yang harus dikonsumsi dan juga makanan apa saja yang boleh dan juga tidak boleh di makan.
"Apa ada pertanyaan Nona Cucu?" tanya Dokter, memastikan Cucu sudah paham bagaimana cara merawat suaminya, dan juga memastikan Cucu bisa diandalkan.
Wanita itu pun menggelengkan kepalanya dengan yakin, yah Cucu yakin penjelasan dokter itu bisa dia pahami.
__ADS_1
"Kalau tidak ada yang ditanyakan, kami pamit, nanti apabila ada apa-apa bisa langsung bertanya pada perawat yang berjaga, atau pencet tombol darurat itu, dan semoga cepat sembuh untuk satu dua hari sebaiknya tetap menjalani rawat inap di rumah sakit dulu, dan apabila perkembangan kesehatanya membaik terus makan dengan terjaga, bisa dipertimbangkan untuk melakukan rawat jalan, tapi ingat Tuan Deon, jangan lakukan kesalahan yang sama, berendam hingga berjam-jam. Masih mending asisten Anda datang tepat waktu kalau tidak bisa-bisa Anda menyusul almarhum kakak dan papah Anda," ucap sang dokter yang sepertinya sangat paham dengan sejarah perjalanan hidup Deon.
"Baik Dok, saya akan jaga Tuan Deon dengan sangat baik. Dokter jangan khawatir karena hal seperti itu tidak akan terulang lagi, saya yang akan memastikanya," jawab Cucu dengan yakin, ketika melihat Deon yang diajak berbicara justru membuang pandanganya, seolah ia sangat malas mendengar ucapan sang dokter.
"Saya percayakan semuanya dengan Anda, Nona. Karena Tuan Deon itu sedikit keras kepala dan sulit untuk dinasehati." Dokter pun setelah memastikan kalau Cucu bisa diandalkan kembali melakukan kunjungan ke ruangan lain. Sedangkan Cucu kembali ke samping ranjang.
Dan, Cucu akui apa yang dikatakan dokter tidak asal berucap, Deon memang benar adanya, dia sangat sulit untuk dinasihati, dan keras kepala.
Cucu pun langsung menatap tajam pada Deon, ingin rasanya memarahi laki-laki yang sudah menyandang status suaminya dengan segala perbuatan nekadnya.
"Menurut aku selesai," balas Deon dengan pandangan mata yang masih di buang ke luar jendela menatap langit yang biru dengan awan putih saling bergelantung.
Deg!!! Jantung Cucu seolah berhenti, apa yang ditakutkan olehnya benar terjadi. Ternyata Deon dengan sengaja ingin melakukan bunuh dirii, hal itu terlihat dari ekspresi sang suami yang terlihat sangat pasrah, dan seolah dia enggan untuk hidup.
Cucu pun menghirup nafas dalam dan membuangnya perlahan dengan memejamkan matanya perlahan. "Apa yang membuat Anda berpikir sangat pendek Tuan, apa Anda tidak memiliki cita-cita dalam hidup Anda yang membuat Anda bersemangat untuk menjalani hidup ini?" tanya Cucu dengan nada bicara yang jauh sekali dari Cucu seperti biasanya, kali ini Cucu seperti tengah menasihati pada anaknya.
Deon pun dengan lemah menggelengkan kepalanya. "Tidak ada," jawabnya dengan singkat, lagi-lagi membuat Cucu semakin bingung. Cucu bingung takut salah memberikn nasihat, tapi dia juga tidak bisa membiarkan Deon dalam pikiran putus asa seperti ini. Karena bisa-bisa Deon benar-benar nekad dengan pikiran jeleknya.
__ADS_1
Cukup lama Cucu menghirup nafas dalam, lagi. Wanita itu sadar kalau Deon memang butuh teman untuk membagi beban hidupnya, tidak mungkin Deon akan setega itu pada orang lain, kalau dalam hatinya tidak tertekan. Wanita itu yakin, Deon juga memiliki masalah yang cukup besar, tekanan dari kanan dan kiri, apalagi Jec juga kadang terlalu keras sama dengan dirinya tanpa tahu sebenarnya hati Deon sedang ingin diberikan sikap keras atau bahkan sebaliknya.
"Memiliki rumah tangga mungkin, istri yang selalu menemani Anda, dan anak-anak yang lucu yang selalu mengganggu tidur Anda, yang selalu menyambut Anda di saat pulang kerja," tanya Cucu ulang dengan suara yang semakin lembut.
Untuk sesaat Deon diam, dan memalingkan pandanganya pada Cucu yang menatap dalam pada Deon. "Aku nagntuk, pengin istirahat," ucapnya, dengan nada yang lemah. Dan mata di tutup rapat. Meskipun Cucu tahu kalau laki-laki itu bukan ingin tidur tapi ingin menghindar dari pertanyaan Cucu.
Jelas Deon ingin memiliki apa yang Cucu katakan tadi, tapi Deon juga tidak tahu apakah dia bisa bersikap baik atau tidak dengan pasanganya. Dalam hati terdalamnya dia takut kalau akan menyakiti wanita, tapi dia juga kadang memiliki pemikiran yang sangat di luar nalarnya. Mungkin karena kebiasaan buruknya dulu seperti itu sehingga Deon sulit untuk lepas dari kebiasaan buruk itu.
"Saya tahu, Anda bukan ngantuk, tapi Anda hanya ingin menghidar dari pertanyaan saya. Kalau Anda mau merubah kebiasaan buruk Anda. Saya juga mau melanjutkan pernikahan ini, tapi kalau Anda tetap seperti Tuan Deon yang kemarin, Saya akan tetap mengajukan cerai, seperti niat awal saya. Saya tahu Anda butuh teman untuk berbagi kesedihan, duka, dan juga tertawa bersama. Saya tahu Anda kesepian. Saya tahu setiap orang tidak ada yang sempurna. Saya tahu banyak di luar sana yang dulunya adalah penjahat, tetapi karena mau melawan egonya mereka bisa merasakan hidup bahagia bersama keluarganya. Anda juga pasti bisa. Lawan ego Anda Tuan, sebelum semuanya semakin menyesal. Saya tahu, saya sendiri mungkin terlalu keras dan terlalu tidak mau kalah dengan Anda, sehingga saya butuh banyak bimbingan untuk menjadi pendamping yang baik. Kita belajar bersama-sama."
Cucu menggenggam tangan Deon dengan hangat, pandangan mata Cucu tidak lepas dari mata sang suami yang terpejam tetapi Cucu tahu kalau Deon tidak tidur dia mendengar dengan jelas apa yang Cucu katakan itu bisa Cucu lihat dari tulang yang menonjol di lehernya bergerak naik turun seolah dia sedang terisak dalam batinya.
"Tidak ada yang melarang ataupun peraturan yang melarang laki-laki menangis. Laki-laki menangis bukan juga laki-laki lemah, karena menangis bukan lambang lemah dan juga kalah. Kadang kita butuh menangis agar kita tahu bagaimana pedihnya perjalanan hidup ini, dan memasrahkan semuanya sama yang Berkuasa Sesungguhnya. Namun, berjanjilan setelah menangis Anda akan baik-baik saja, dan kembali bersemangat menjalani hidup ini. Rasanya tidak mungkin kita dipertemukan dan menjalani serentetan kejadian yang sangat mengesalkan kalau tidak ada arti dalam pertemuan ini. Semuanya mengandung arti yang baik. Saya akan ke luar, dan kalau Anda sedang sedih, bingung dan juga putus asa. Ingatlah kita sudah menikah. Saya masih punya hutang-hutang banyak pada Anda, dan jangan pergi dulu sebelum hutang-hutang saya lunas, karena saya tidak mau ditagih kelak di akhirat," ucap Cucu dengan suara yang lembut dan setelah mengusap punggung tangan Deon wanita itu pun langsung meninggalkan Deon di dalam ruanganya seorang diri.
Cucu memberikan waktu untuk Deon merenungi dirinya sendiri dan Cucu pun melakukan hal yang sama. Ia akan bertanya pada dokter kejiwaan untuk mendampingi Deon. Cucu rasa Deon butuh terapi mental.
Cucu yakin kalau dia bisa merubah sang suami.
__ADS_1