Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 222


__ADS_3

Deon pun bisa bernafas lega ketika Jec pada akhirnya pulang juga. Bahkan dia pun langsung kembali ke kamarnya dan langkah pertama membangunkan Cucu yang sudah jelas sangat pulas tidurnya. Namun Deon sangat tahu kalau teman tidurnya itu pasti juga sangat lapar, sehingga dengan pertimbangan yang sangat matang Deon pun langsung membangunkan Cucu.


Cup... Cup... Membangunkan versi laki-laki itu justru bukanya dengan mengerakan tubuhnya perlahan, tetapi dengan mengganggunya dengan beberapa kali mencium pipinya, dan tentu bibirnya.


Ehemzzz... Cucu mengerakan tanganya untuk medorong bibir Deon yang terus megganggu tidurnya pake segala ditempel-tempel udah kaya listrik yang nyetrum saja.


Namun, ingat Deon adalah laki-laki dengan segala keisenganya. sehingga rasanya tidak akan dia berhenti begitu saja. Kembali laki-laki itu melakukan hal yang sama.


"Deon, apa kamu tidak bisa membiarkan aku tidur barang satu jam," gerundel Cucu dengan suara yang tertahan. Mungkin dia tidak tahu kalau dirinya sudah tidur lebih dari satu jam.


"Hay Sayang, Cinta, apa kamu tidak merasakan lapar? Apa kamu akan tidur terus, dan membiarkan cacing-cacing dalam perut kamu kelaparan?" tanya Deon dengan mengganggu lagi tidur Cucu.


"Lapar, tapi aku masih ngantuk, biarkan aku tidur untuk satu jam," balas Cucu lagi, tetapi bahkan kedua matanya masih belum terbuka secara sempurna.


"Baby, Honey kamu bahkan tidur sudah lebih satu jam. Ayo sekarang kamu makan dulu jangan sampai nanti kamu malah sakit. Ingat kalau kamu sakit bagaimana kamu bisa mencicil hutang-hutang kamu." Kembali Deon menggunakan jurus reternirnya.


"Ya Tuhan Deon. Aku bahkan sangat bosan mendengar celoteh soal hutang," pekik Cucu dengan bangkit dan langsung duduk dengan melilitkan selimut di tubuh polosnya yang banyak tato dari drakula berbentuk laki-laki tampan.


Bonus difoto dari dekat dengan senyum tipisnya....



"Kalau kamu mau aku membayar hutang kamu yang tidak akan ada habisnya. Ambilkan aku makanan. Tenagaku sudah habis bahakan untuk berjalan ke meja makan," ucap Cucu dengan meletakan wajahnya di atas lutut yang wanita itu tekuk dengan mata yang kembali dipejamkan. Ini kalau bukan perut yang melilit Cucu tidak mungkin mau bangun. Tapi dia juga lapar sehingga mungkin makan sembari tidur adalah ide yang bagus.


"Bagus, sekarang udah berani nyuruh bos kamu," balas Deon semakin gemas lihat wajah Cucu yang sangat polos kalau bangun tidur seperti sekarang ini.


"Ya udah kalau kamu nggak mau. Aku akan kembali tidur lagi, dan biarkan aku sakit biar nggak bisa cicil hutang lagi paling kamu yang rugi," balas Cucu dengan santai dan bersiap untuk tidur lagi. Namun buru-buru Deon menahanya.


"Ehhhh... jangan tidur lagi. Iya-iya aku ambilkan Nyonyah... Anda tunggu di sini saya akan ambilkan untuk Anda," ucap Deon seolah dia sedang melayani seorang majikan yang sangat galak.

__ADS_1


"Nah harus begitu kalau mau aku tetap ada di samping kamu dan mencicil hutang-hutang yang aku bahkan nggak tahu hutang apa," balas Cucu dengan senyum kemenangan dan mata setengah terbuka sangat mengesalkan. Untung Deon sudah di transfer bonus sabar oleh othor jadi aman.


"Untung kamu cantik, dan hot Cu, kalau tidak mana mungkin aku mau patuh sama kamu," gerundel Deon sembari berjalan meninggalkan istri nya, tentu saja Cucu yang nggak budek pun dengar ucapan sang suami. Dan begitu pintu kamar tertutup wanita itu pun seolah kantuknya hilang ia tertawa dengan renyah. Untung kamar pribadi Deon kedap suara sehingga dia tertawa dengan volume full pun Deon tidak akan mendengar.


"Kenapa nggak dari kemarin-kemarin sih kamu sangat menggemaskan seperti ini kalau memang menggemaskan seperti ini kan aku tidak harus ada drama kabur dan ingin cerai,"  celoteh Cucu ia sekarang seolah menemukan mainan baru bisa memerintah bos yang sudah jadi suami bucin untuk dirinya. Namun, wajah Cucu tiba-tiba berubah ketika Cucu mengingat ia bisa mengerjai Deon hanya dalam waktu satu minggu lagi sehingga rasanya sangat berat untuk berpisah dengan sang suami.


Cucu sih percaya kalau Deon sekarang tidak mungkin main wanita lagi yang tidak percaya adalah emang dia bisa berjara,sedangkan dekatan dengan Deon saja rasanya kangen terus. "Apa aku ikut Deon ke Jerman yah?" Cucu untuk sesaat berpikir kalau dia ikut ke Jerman, tetapi wanita itu kembali teringat sang nenek dan kakeknya. Ia juga kalau terus-terusan dengan Deon malah akan semakin tergantu konsentrasinya, dan makin lama pekerjaannya selesai.


"Tidak-tidak aku harus punya perinsip yang pasti. Biara Deon kerjanya konsentrasi dan cepat selesai. Aku harus tetap di sini," batin Cucu lagi dengan yakin.


Cekrekkk... Sura pintu yang di buka, sehingga Cucu langsung kembali berekting matanya dipejamkan dan juga dia seolah tidur masih dengan duduk dan kepala di letakan di dua lutut yang ia tekut.


"Astaga Cucu, kenapa kamu tidur lagi," gerundel Deon yang mengira kalau sang istri  tertidur lagi. Padahal dalam batinya Cucu ingin tertawa karena dia akan mengerjai sang suami lagi.


"Cu... bangun Cu! Makan dulu kasihan calon anak aku kelaparan," ucap Deon sembari tanganya mengusap rambut Cucu yang berantakan.


"Ehemzzz... aku masih ngantuk Deon, kamu bisa menagih utang aku lain kali. Aku masih sangat ngantuk," racau Cucu agar Deon yakin kalau dirinya memang benar-benar tidur sungguhan.


Kini Cucu pun membuka sebelah matanya. "Aku mau kamu yang suapi aku," ucap Cucu dengan gaya manjanya. Deon pun nampak menghela nafas dalam. Kesabaranya diuji lagi. Bahkan seumur hidup mungkin ini adalah pertama kalinya Deon menyuapi wanita. Aduh istimewa banget dong jadi Cucu.


"Harus disuapi banget yah?" tanya Deon, memastikan lagi.


"Terserah kalau kamu nggak mau, aku juga nggak mau makan. Biar calon anak kamu kelaparan di dalam perut sana," ucap Cucu, kembali matanya dipejamkan dengan sempurna.


"Iya-iya Sayang ini aku suapi kamu. Demi kamu yang cantik dan juga bayaran cicilan aku rela pokoknya menyuapi kamu dan semuanya aku lakukan demi kamu Nyonyah Deon," balas Deon dengan menyuapkan makanan pada Cucu yang sedang kelaparan itu.


"Oh astaga ini makanan enak sekali. Terima kasih suamiku. Coba dari kemarin kamu baik kaya gini Deon, mungkin aku dengan suka rela memberikan keperawanaan ke kamu, tanpa ada drama yang berlarut dan saling tegang dan saring serang bahkan sampai aku berniat meminta cerai dari kamu," ucap Cucu sembari bibirnya terus mengunyah.


"Tapi jujur kalau kamu yang langsung menyerahkan keperawanaan itu rasanya kurang sensansinya. Enakan maksa dan memaksa itu lebih berasa," balas Deon tanpa dosa.

__ADS_1


"Dasar kamu memang punya kelainan dalam berhubungan badan sepertinya," dengus Cucu. Mereka pun terus bercerita satu sama lain hingga tanpa terasa satu piring penuh makanan berpindah ke perut Cucu.


Mata Cucu pun awas mencari sesuatu. "Deon apa kamu tidak membawa buah atau kue untuk pencuci mulut. Rasanya mulut ini tidak enak sekali tidak ada buah," ucap Cucu dengan tidak tahu dirinya.


Laki-laki yang sudah menjadi suami Cucu yang baik dan pengertian pun langsung melebarkan kedua bola matanya. "Apa ini kode agar aku mengambilkan buah untuk kamu Nyoya?" tanya Deon dengan menatap Cucu dengan tajam.


"Aku tidak meminta, tapi kalau kamu mau aku akan sangat berterima kasih suamiku," ucap Cucu dengan membuka sedikit selimutnya untuk menunjukan paha mulusnya. Ah, bodoh kalau Deon tidak tahu kode itu.


"Baiklah baginda ratu, hamba akan kembali mengambilkan buah untuk baginda," balas Deon dengan tangan sudah meremas squishy kesukaanya.


Cucu pun kembali terkekeh dengan kelakuan sang suami. Dan tentu tidak pernah terpikirkan sedikit pun kalau dia bisa membuat Deon sangat patuh seperti ini.


"Sayang..." panggil Cucu ketika Deon sudah membuka pintu dan bahkan laki-laki yang sudah menjadi suaminya hampir melangkah ke luar kamarnya.


Deon pun langsung memanlingkan pandanganya, apalagi di panggil Sayang. "Apa Cinta?" balas Deon dengan senyum mengembang sempurna.


"Jangan lama-lama karena calon anak kamu sudah berbisik, rindu bermain sama kamu," goda Cucu yang ia tahu kalau Deon tahu arti kode darinya, apalagi dia kembali menarik selimut bawahnya.


"Ok, tunggu aku akan segera melakukanya," balas Deon dengan tersenyum semangat.


"Bi... Bibi.... sini Bi...!!!" Laki-laki lacknat itu justru memanggil asisten rumah tangganya.


"Loh, Kok ke Bibi..." tanya Cucu benar-benar suaminya itu memang punya otak culas.


"Iya itu semua karena aku juga ingin buru-buru bermain dengan calon anak kita," balas Deon dengan senyum kemenangan.


#Nah loh Cu, puasa wey....


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2