Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episosode 61


__ADS_3

"Kakak Serius??" tanya Tantri, dengan kedua mata terlihat berbinar bahagia sekali, mendengar apa yang dikatakan oleh kakak iparnya.


"Iya Sayang, bukankah itu yang kamu inginkan, kita akan pergi malam ini dan akan kembali minggu malam, cukup kan dua hari kita liburan?" tanya Qari dengan yakin, sebenarnya dia juga membutuhkan liburan ini sehingga dia juga bersemangat untuk mengajak liburan adik iparnya. Qari ingin merayakan kebahagiaanya yang telah berhasil membuat Deon setidaknya merasakan apa yang pernah ia rasakan. Satu banding satu, mungkin itu yang Qari berikan pada Deon. Tidak ada balasan, tanpa Deon yang memulai semua ini.


"Cukup kakak bahkan kalaupun hanya satu hari Tantri sudah senang banget kok," balas Tantri dengan senyum yang tidak pudar, dan Alzam pun hanya menyimak obrolan adik dan istrinya. Memberikan waktu untuk dua orang yang disayanginya untuk  merasakan kebersamaan.


"Makanya biar semuanya cepat, nanti kamu pulang sekolah di siapkan semua keperluannya yah!" imbuh Qari.


"Siap." Tantri langsung memberi hormat pada kakak iparnya, dan kembali memasak sarapan bersama. Bahkan gadis kecil itu sepertinya lupa kalau kakak iparnya itu tadinya musuhnya dan kali ini terlihat sangat romantis, bahkan abang sendiri terlihat diabaikan. Akhirnya apa yang Qari inginkan pun tercapai, masak bersama dengan Tantri, sedangkan Alzam hanya  duduk menyimak adik dan kakak yang heboh dengan masakan mereka.


Berbeda dengan kemarin yang Qari sangat murung hari ini dari bangun tidur sudah usil sekali, dan ditambah dengan Tantri yang saat ini sudah jadi team Qari, menambah ceria Qari saja.


"Tara... masakan ala Qatar (Qari dan Tantri)" Qari dengan percaya dirinya menghidangkan masakan yang jauh dari biasanya, dan Tantri di belakang Qari menggoyang-goyangkan tangannya tanda, bahwa itu bukan masakan dia, alias ala Qari saja, Tantri tidak mau di sebut QaTar karena memang masakan itu dominan Qari yang masak, soal rasa, mungkin akan sedikit membuat kaget lidah. Bahkan Tantri belum mencoba saja sudah beberapa kali ia menelan ludahnya bukan membayangkan rasa yang enak, tetapi justru rasa yang sebaliknya.


"Apa masakan ini aman untuk perut?" tanya Alzam sembari terkekeh, tetapi itu bukan sungguhan yang ada di pikiran Alzam, ia hanya bercanda. Namun, Qari sudah tahu, dan dia juga tidak tersinggung.


"Sayang, aku yang masak dengan penuh cinta, mungkin aga aneh, tapi aku tadi cobain lumayan kok," bela Qari sembari mengambilkan nasi dan menu yang ia masak itu.


"Baiklah, aku akan makan dan akan memberikan penilaian yang jujur." Alzam pun menyuapkan satu sendok nasi serta sayur lodeh yang Qari masak dan ikan kembung. Ok, kalau kembung memang tinggal goreng sehingga tidak harus di nilai lebih detail, sayur lodeh mungkin yang perlu sedikit ada penilaian.


Alzam mengunyah dengan penuh perasaan, pelan menikmati rasa masakan ala Qari, sedangkan Tantri piringnya belum diisi nasi dan lauk pauknya, masih kosong menunggu penilaian dari sang abang lebih dulu.


Qari pun sepertinya sama, menunggu penilaian dari suaminya dulu, baru ia akan melanjutkan makan. Seolah ia sendiri juga takut untuk mencicipi masakan hasil olahannya  sendiri.

__ADS_1


"Gimana Bang?" tanya Tantri, dari ekspresi wajah Alzam sepertinya baik-baik saja, itu yang Tantri lihat, tetapi gadis kecil itu masih waspada.


"Tidak buruk, enak kok," jawab Alzam, meskipun dibandingkan dengan masakaan adiknya masih jauh dari sempurna, tetapi masakan Qari masih bisa diterima perut, paling mentok-mentok bolak-balik kamar mandi.


Tantri yang mendapat jawaban seperti itu pun langsung mengambil nasi dan lauk pauknya, lalu menikmatinya, begitupun Qari mengikuti kakak beradik. Sebenarnya Tantri mau komplain karena rasanya masih jauh dari enak, tetapi di bawah sana kaki Alzam sudah menendang kaki Tantri, memberi kode agar Tantri pura-pura biasa saja dan menikmati masakan yang di masak sang kakak ipar. Tantri pun mengerti kode itu, dan diam menikmati masakan yang kebanyakan gula itu.


Makan pagi yang berasa nasi makan dengan kolek pun sudah selesai dan kini Tantri seperti biasa akan berangkat lebih dulu ke sekolahnya.


"Terima kasih yah," ucap Alzam di tengah-tengah perjalanan Tantri ke sekolah.


"Untuk apa Bang?" tanya Tantri sedikit bingung, tiba-tiba abangnya mengucapkan terima kasih.


"Untuk tadi, pura-pura masakan Kakak Qari enak, dan kamu juga sempat muji Kakak Qari, Abang lihat dia suka banget ketika kamu bilang masakan Kakak enak," jawab Alzam, tidak menyangka kalau adiknya mau bekerja sama dengan dirinya, di mana biasanya Tantri itu akan tetap jadi diri sendiri suka akan bilang suka, dan sebaliknya, tidak akan mau Tantri diatur-atur apalagi sampai berbohong seperti tadi.


Benar saja berkat pujian dari Tantri dan dari Alzam, mood Qari pagi ini benar-benar baik, berbeda seratus delapan puluh derajat. Semangatnya langsung tumbuh begitu mendapatkan pujian dari sang adik ipar.


"Kamu udah siap Sayang?" tanya Alzam ketika ia baru pulang mengantar Tantri dan sang istri sudah tampil cantik dan rapih menunggu di halaman rumahnya, selain menunggu Alzam Qari juga mau menunjukan pada Deon kalau dia bahagia sekali menikah dengan Alzam.


Yah, Qari yakin sekali pasti Deon akan mendapatkan laporan ini, Qari jadi berasa kemana pun dia berada selalu diawasi CCTV. Namun Qari malah jadi semangat untuk memanas-manasi Deon, kalau perlu hingga gosong dan berubah menjadi debu, salah siapa mencintai Qari, padahal Qari tidak menginginkan di cintai laki-laki itu.


Qari lebih baik memperjuangkan dari pada di perjuangkan, sedikit aneh memang. Di mana kebanyakan orang terutama lebih suka diperjuangkan dan dicintai, kalau Qari justru memperjuangkan seperti saat ini ia akan terus memperjuangkan Alzam dan hubungannya. Apapun hal rintangan yang kemungkinan akan datang untuk menghadang. Qari sudah siap, dan dia justru seolah sedang menikmati permainan untuk bisa semakin membuktikan kalau dia bukan wanita yang mudah di tindas.


'Silahkan menikmati rasa cintanya sendiri Deon, karena aku tidak akan sudi membagi cintanya pada siapapun. selain Alzam.'

__ADS_1


Qari berjalan dengan hati yang riang dan menghampiri suaminya yang masih duduk di kendaraan yang Deon sebut rongsokan. Seperti biasa Alzam akan memasangkan helm dengan mesra, dan menghadiahkan cubitan kecil di hidung Qari hingga meninggalkan bekas merah.


Sebelum memastikan berangkat bekerja Alzam sudah memastikan bahwa mobil Deon sudah tidak ada lagi.


"Sayang, apa mobil yang kamu pakai semalam sudah diambil oleh pemiliknya, atau benar-benar dibawa oleh be-gal?" tanya Alzam, sebagai obrolan pembuka.


"Aku berharap diambil oleh be-gal Sayang," jawab Qari dengan santai.


"Apa nanti kalau mobil itu benar-benar hilang, sang pemilik tidak menuntut kalau dikira kita yang menyembunyikannya?" tanya Alzam lagi.


"Tidak akan Sayang, dan kalau hal itu terjadi makan itu artinya dia ingin mengetes ilmu bela diriku, oh iya Sayang aku sudah meminta hadiah pes-tol pada Kakek untuk hadiah ulang tahunku nanti," ucap Qari dengan bangga.


"Hah, untuk apa benda itu sayang, apa yang kamu maksud itu sejenis pis-tol mainan anak-anak yang bisa digunakan untuk bermain gelembung sabun?" tanya Alzam. "Jangan bilang ini adalah keinginan anak kamu," imbuh Alzam.


"Pis-tol sungguhan dong sayang, buat jaga-jaga mungkin laki-laki itu ingin bermain-main lagi dengan wanita yang bernama Qari," balas Qari dengan percaya diri.


Qari sengaja meminta hadiah benda berbahaya itu dari kakeknya, karena ia tahu memiliki benda seperti itu harus legal dan ada isin pembelian dan kepemilikan, dan biarkan kakeknya yang mengurus. Dia sebagai cucu yang paling disayanginya pun percaya diri kalau kakeknya pasti akan mengabulkan permintaannya.


*****


Teman-teman sembari nunggu kisa kelanjutan Qari yang ngidam pingin mainan pis-tol, yuk mampir ke novel bestie othor di jamin bikin baper....


Kuy ramaikan...

__ADS_1



__ADS_2