Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta berselimut Dendam #Episode 144


__ADS_3

Seketika dalam lorong rumah sakit berubah ramai, ketika Latif tiba-tiba jatuh pingsan, tidak ada yang menyangka kalau semuanya akan separah ini kacau semua, dari Qanita yang tiba-tiba pingsan setelah tahu putri kesayanganya kondisinya sangat memprihatinkan, dan juga setelah Qanita pisan kali ini Latif pun sama, setelah tahu bahwa ini semua adalah ulah Deon.


"Apa sekarang kamu sudah puas Deon? Apa sebelumnya kamu pernah terpikirkan hal semacam ini? Kenapa kamu jadi orang sangat keras kepala sekali, semua orang yang datang menasihatimu, tetapi justru kamu jadikan orang-orang itu musuh, padahal mereka datang menasihati kamu itu karena perduli." Doni yang menjadi adik tiri dari laki-laki itu pun sangat kecewa dan tentunya malu. Bagaimana tidak malu, seolah keluarganya hanya menjadi biang kerok untuk keluarga lainnya.


Deon sendiri berdiri, bergeming meratapi kesalahanya, penyesalan tidak akan membawa kebaikan. Semuanya sudah hancur, rencana yang selama ini ia yakini akan membawa kebaikan untuk dirinya, malah membawa keburukan bukan hanya untuk dirinya tetapi untuk orang-orang sekitar. Menangis pun sudah tidak ada guna.


Kini dalam lorong itu hanya ada Deon, Doni Jec dan Cucu sementara Alzam dan Cyra sedang membantu mengurus tuan Latif.


"Di mana anakku? Aku pengin melihatnya" tanya Deon, yang tidak mendengarkan ucapan Doni, bukan tidak mendengarkan, tetapi pikiranya terlalu runyam sehingga ucapan Doni hanya menambah beban pikiranya saja.


"Jec, loe antar laki-laki ini ke ruang NICU, kalian tanya saja sama perawat, bisa gunakan mulut kalian untuk mencari tahu, jangan plihara kebodohan terus." Doni bahkan untuk menatap Deon sudah tidak ingin. Biarkan Deon melihat kondiri bayinya, mungkin kalau tahu dia akan bertobat saat ini juga. Atau malah akan semakin menjadi?


Doni memilih menunggu Qari, dan mungkin saja keajaban itu akan datang. Qari bangun dan memulai kehidupan yang baru.


Sementara Deon dan Jec pun berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang ramai, tetapi terasa sepi untuk dua orang itu. Cucu sendiri yang tidak tahu apa-apa hanya diam dan mengekor di belakang dua laki-laki itu. Bahkan kalau situasinya memungkinkan Cucu ingin meminta izin untuk pulang saja. Wanita itu merasa bahwa dirinya berada di tempat yang tidak semestinya.


"Jec apa itu anak aku?" tanya Deon di mana di sana ada seorang bayi dengan banyaknya alat medis, bahkan tubuh bayi kecil itu hampir tertutup alat-alat medis. Wajahnya pun tidak bisa terlihat dengan jelas, tetapi Deon tahu bahwa bayi itu sangat cantik, sama seperti Qari.


Jec pun menelan salivanya kasar, tenggorokanya pun terasa sangat sakit, seolah dialah yang merasakan ini semua. "Kalau menurut info suster yang tadi kita tanya memang bayi itu adalah anak Anda, Tuan." Jec sendiri tidak berani melihat wajah Deon yang sudah bisa dia tebak pasti sangat memprihatinkan.


Cucu yang berdiri di belakang laki-laki itu pun sangat penasaran, bagaimana kondisi bayi yang menjadi topik pembicaraan mereka. Bahkan Cucu sampai berjinjit-jinjit agar bisa mengintip, dan melihat kondisi bayi yang Deon katakan anaknya.


Sama halnya dengan dua laki-laki yang ada di hadapan Cucu, wanita itu pun terkejut dengan kondisi bayi yang sangat malang itu. Keterkejutan Deon dan dua asistenya bertambah ketika para dokter dan perawat tiba-tiba mengerumuni bayi malang itu.


"Jec, apa yng terjadi sama anak aku Jec?" Deon bahkan akan merangsak masuk ke dalam sana, tetapi Jec buru-buru menahanya, begitupun dengan Cucu, meskipun wanita itu tidak tahu betul apa yang terjadi tetapi Cucu mencoba menahan Deon, sama halnya dengan Jec.

__ADS_1


"Tuan, Anda jangan masuk yang ada nanti Anda malah hanya akan mengganggu dokter." Jec memperingatkan Deon, tetapi dasar Deon dari dulu memang keras kepala, dan juga sulit dinasihati sehingga dia tetap ngotot untuk masuk ke dalam sana.


"Tuan, Anda apa tidak kasihan pada anak Anda yang sedang bejuang untuk tetap hidup. Jangan terlalu keras kepala. Coba Anda lihat hasilnya karena keras kepala Anda, anak Anda dan juga ibunya sampai dalam kondisi kritis seperti ini. Apa memang Anda ingin anak Anda meninggal?" Cucu yang tidak sabar pun langsung menyerang Deon dengan ucapan yang langsung membuat Deon terdiam.


Yah, seketika itu Deon diam dan duduk terkulai di atas lantai dan menyender di dinding. Sangat memprihatinkan. Jec dan Cucu lagi-lagi hanya saling pandang dan tidak menyangka kalau Deon yang sangat menyebalkan dan juga sangat membuat masalah di mana-mana, keras kepala langsung diam dengan ucapan Cucu.


"Tapi kalau Anakku di dalam kenapa-kenapa bagaimana, kalau dokter itu membunuh anakku bagaimana, apa aku harus diam saja, dan menerima anakku meninggal?" Deon menatap Cucu dan Jec bergantian. Jec sendiri  langsung terdiam ketika mendengar ucapan Deon, laki-laki itu hanya menunduk, tidak berani memberikan jawaban untuk bosnya itu.


Yah, Jec  ada perasaan yang takut kalau ia salah ucap atau salah jawab yang ada malah Deon makin marah dan makin meracau yang tidak-tidak. Sedangkan Jec sendiri juga membayangkan hal itu terjadi sangat sesak. Bahkan laki-laki itu dalam hatinya entah berapa kali meminta maaf untuk ucapanya yang dulu sering memarahi anak itu ketika mengerjai dirinya dengan mengidam yang aneh-aneh.


Namun, hal yang berbeda justru terlihat pada Cucu, dengan terang-terangan dia malah menjawab pertanyaan Deon.


"Anda bukannya memiliki agama, dan Anda punya keyakinan akan adanya Tuhan, kalau anak Anda meninggal dunia itu mungkin memang yang terbaik untuk semuanya. Tuhan pasti memiliki rencana yang indah atas semua ini. Anda juga jangan berpikiran dokter itu membunuh anak Anda, Tuan Deon. Justru kalau ada orang yang disalahkan dalam masalah ini adalah Anda sendiri." Dengan santainya Cucu berkata seperti ini yang sontak saja ia mendapatkan kode dari Jec dengan kedua mata Jec yang melebar sempurna.


Cucu sendiri yang baru sadar kalau ucapanya keterlaluan pun hanya menunduk dan menggaruk kepalanya dengan bingung. Meskipun yang dikatakan oleh Cucu adalah sebuah kebenaran, tetapi Jec tidak mau nanti Cucu malah kena amuk oleh Deon. Laki-laki itu kalau sedang marah kadang-kadang kurang bisa berpikir dengan jernih. Bisa saja malah Cucu kena tampar atau malah kena pecat lagi. Susah payah Jec membujuk agar Cucu tetap bekerja menjadi asisten pribadi bosnya masa malah kena pecat lagi. Nanti Jec lagi yang akan repot.


"Apa hukumanya bagi seorang pembunuh Cu?" tanya Deon kali ini laki-laki dengan paras rupawan itu menatap Cucu dengan tatapan yang memohon. Cucu seketika melirik Jec dengan ekor matanya, tetapi Jec sendiri juga bingung mau menjawab apa, mengingat Jec sendiri juga tidak tahu hukuman untuk pembunuh itu apa, selain penjara.


"Memperbaiki diri ke jalan yang lebih baik lagi. Saya tidak tahu sebelumnya kelakuan Anda seperti apa, dan bagaimana bersikap dengan orang lain, tetapi dari kejadian yang saya tangkap hari ini. Anda itu tipe orang yang sesuka hati menjalankan apa yang menjadi kesukaan Anda, menjalankan yang menurut Anda baik, padahal nyatanya itu sangat merugikan untuk orang lain, dan kejadian ini saya rasa sudah banyak sekali mengandung pelajaran untuk Anda, tinggal bagaimana Anda menyikapinya. Anda tentu juga harus mendengarkan apa kata orang lain, karena orang lain menasihati Anda bukan sok tahu dan sok ikut campur dengan urusan Anda, tetapi karena mereka perduli pada Anda." Cucu terus menasihati Deon seolah dia adalah orang tua dari laki-laki itu.


Bahkan Jec sampai terkejut dengan apa yang Cucu itu katakan, wanita itu cukup berani untuk memberikaan nasihat untuk Deon.


'Tidak salah aku memilih Cucu untuk mejadi asisten Bos, ternyata dia memang wanita yang berani, suka tidak suka dia bisa berkata dengan jujur dan bisa menyampaikan tanpa mengintiminasi dan memojokan tersangka.


Deon pun dengan tertatih bangkit dan kembali melihat putrinya dari jendela kaca, di mana di dalam sana dokter masih bekerja dengan keras. Air mata  laki-laki itu pun mulai turun dan tidak terasa pipinya sudah banjir air mata. Menyesal pun tidak ada guna, menangis pun tidak berhasul membuat hatinya tenang, justru Deon merasa kalau dirinya sangat merasakan bersalah, atas apa yang terjadi dengan buah hatinya.

__ADS_1


"Sayang, bangunlah! Papah janji setelah kamu bangun dan berjuang papah akan memperbaiki hidup papah, sudah cukup dendam papah, sudah cukup ambisi papah, saat ini papah ingin berserah." Deon menempelkan tanganya ke kaca jendela yang mungkin lebarnya hanya 50x50 cm. Seolah-olah laki-laki itu tengah menyentuh buah hatinya.


Kaki Deon kembali melemah ketika ia melihat upaya dokter menyerah. Beberapa dokter mengangkat tanganya memberi kode pada Deon kalau buah hatinya tidak tertolong, gelengan kepala dari dokter yang lain memberi isyarat bahwa mereka sudah bekerja dengan sangat baik.


Deon menggelengkan kepalanya dengan pelan, serta sorot mata yang memohon. Meminta agar dokter berusaha sekali lagi. Bahkan kalau boleh diminta biarkan dia kehilangan harta bendanya saat ini juga asal anaknya kembali berjuang dan diberikan hidup untuk menembus kesalahanya.


Jec sendiri nampaknya malam ini adalah orang yang paling bodoh dan orang yang paling lemah, dia ikut-ikutan Deon tidak bisa berpikir dengan jernih. Laki-laki itu malah menangis dan hal itu sontak saja membuat Deon juga terisak, lagi-lagi menyesali perbuatanya.


Cucu pengusap punggun Deon dengan lembut seolah ia adalah benar-benar ibunya, dan kaki kirinya menendang Jec agar laki-laki itu menghentikan tangisanya. Kedua mata Cucu melotot pada Jec dan meminta dia jangan memancing kesedihan untuk Deon. Kepala Cucu seketika itu langsung panas.


Dokter pun nampaknya mengikuti apa yang Deon pinta. Mereka membali memberikan pertolongan pada anak baru lahir yang sudah menyerah untuk berjuang. Meskipun sakit dan Deon tahu bahwa kesempatanya untuk hidup bayi mungil itu sangat kecil, tetapi Deon cukup lega. Karena dokter tidak menyerah.


"Tuan, ikhlaskanlah anak Anda untuk pergi, kasihan juga kalau dia hidup yang ada makin tersiksa, pasti dia merasakan sakit dipaksa untuk tetap hidup sedangkan anak bayi itu lebih nyaman dengan Tuhan tinggal di surga sana." Cucu pun kebali beraksi menasihati Deon yang biasanya akan keras kepala, mungkin saja Deon akan menurut dengan apa yang Cucu katakan. Cucu hanya kasihan dengan bayi mungil itu yang sudah menyerah untuk hidup, tetapi dipaksa untuk tetap hidup. Kalaupun hidup kembali apakah bayi itu akan bahagia dan tidak menjadi bahan rebutan antara keluarga Qari dan Deon yang terlihat  sangat menyayangi bayinya itu?


"Tidak Cu, anak aku harus tetap hidup dia pasti kuat. Dia itu wanita kuat anak aku pasti hidup lagi," rancau Deon dan hal itu membuat Cucu kembali sesak.


Bukan sesak sedih, tetapi sesak kasihan dengan anak bayi itu. Dia sudah menyerah tetapi justru orang-orang yang menyayanginya tidak merelakan dia pergi alhasil hanya menyakitinya.


"Tuan, anak Anda tidak akan kekurangan satu apapun kalaupun kembali pada Tuhan, malah nantinya anak Anda yang akan menolong kalian di alam pengadilan nanti. Tuan, saya tidak tega melihat bayi itu malah disakiti dengan dokter. Ikhlaskan buah hati Anda dan Anda akan mendapatkan yang lebih. Mungkin anak itu bukan rezeki untuk kalian." Cucu dengan hati-hati kembali menasihati Deon.


"Tidak Cu, anakku akan tetap hidup." Deon menatap Cucu dengan kedua mata yang melebar sempurna memberi tahukan pada Cucu kalau dia sedang marah.


Cucu mundur satu langkah dari Deon, ia menyerah mebujuk Deon. Biarkan Deon dengan keyakinannya yang mungkin memang anak itu akan tetap bertahan untuk hidup.


Cucu dan Jec pun hanya bisa berdoa demi kebaikan bayi mungkin itu.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2