Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 112


__ADS_3

pukul sepuluh pagi, waktu yang sudah dari malam hari laki-laki itu tunggu.


"Apakah yang dikatakan oleh dokter tengil itu akan benar-benar terjadi." Deon tersenyum dengan sebelah bibir terangkat, karena ia yakin kalau yang diucapkan Doni adalah halu belaka.


Namun, beberapa menit kemudian, Deon cukup terkejut dengan kedatangan pengacara papahnya, yang selama ini ia panggil dengan sebutan Om Dika.


"Kenapa kebetulan sekali Om Dika datang tepat jam sepuluh, apa semua ini ada hubunganya dengan Doni?" tanya Deon pada dirinya sendiri, ia mulai gelisah. Namun sedik kemudian laki-laki itu berdiri dan menundukan kepalanya sebagai salam untuk Dika, dan menyembunyikan kegelisahannya.


"Tumben sekali Om, apa ada sesuatu yang penting sampai-sampai  membawa Om Dika sampai menemui saya?" tanya Deon berbasa basi, sedangkan dalam dadanya sudah bergemuruh karena dalam pikirnya masih memikirkan apa yang Doni katakan kemarin.


'Gimana kalau yang dikatakan laki-laki itu benar. Apa itu tandanya aku akan tinggal di kolong jembatan?' batin Deon tidak konsentrasi lagi dengan pekerjaanya.


"Iya ada yang ingin Om katakan dengan aset peninggalan almarhum Papah kamu, Deon," jawab Dika dengan mengambil duduk di sofa yang tidak jauh dari meja kerja Deon.


Sementara di luar kantor megah itu, Doni yang baru datang langsung mengedarkan pandanganya, dia lebih tertarik untuk mencari sosok yang sejak semalam mengganggu tidurnya, siapa lagi kalau bukan mba Gatot. Kedua matanya mengawasi dengan awas, bahkan nyamuk lewat saja bisa terlihat oleh Doni. Dia tidak mau terlewatkan satu orang pun dari pengawasanya. Yah, laki-laki itu mencari Gatot yang mungkin saja bertemu dengan dirinya, sedangkan Gatot sendiri di ruanganya, sedang serius dengan tumpukan pekerjaanya, terlebih dia adalah bagian marketing, yang harus bekerja dengan sungguh-sunggu menawarkan gedung-gedung untuk disewakan.


"Kemana wanita aneh itu, kenapa tidak ketemu dengan aku, apa mungkin dia pergi?" tanya Doni pada diri sendiri, sebenarnya dia juga tahu tugas sopir itu lebih banyak di luar kantor, tetapi lagi-lagi dalam hatinya ia sangat berharap bertemu dengan wanita yang ia bilang aneh itu.


Huhhh... Doni membuang nafasnya kasar. Ketika sudah sampai depan ruangan Deon, tetapi dia tidak bertemu dengan Gatot. Laki-laki itu membuka pintu setelah mengetuk pintu, dan dua pasang mata pun menatapnya, tetapi lagi-lagi Doni tertarik dengan reaksi Deon sendiri.

__ADS_1


"Hai, Tuan Deon. Maaf saya telat, tapi setidaknya Om Dika tidak telat dari pukul sepuluh kan?" tanya Doni, sembari menahan tawanya. Ia sangat tahu kalau saat ini perasaan Deon sedang tidak baik-baik saja.


Benar tebakan Doni, kalau perasaan Deon memang sedang tidak baik-baik saja banyak pertanyaan dalam isi otaknya.


Deon menatap Doni dengan tatapan yang sengit. Terlebih ketika laki-laki itu terlihat sangat akrab dengan pengacara papahnya.


"Siapa loe sebenarnya? Tidak mungkin kalau loe tidak ada hubungan dengan Papah terlihat sangat akrab dengan Om Dika?" cecar Deon, sembari mengambil duduk di sofa singel set sedangak Doni dan Dika duduk bersebelahan.


Lagi-lagi Doni tersenyum dengan sinis, ketika laki-laki itu melihat wajah Deon yang sudah sangat tegang, bahkan apabila itu balon mungkin penampakanya sudah seperti balon yang akan meletus.


"Baiklah sepertinya karena kamu sudah sangat penasaran, Om langsung saja katakan tujuan Om dan Doni datang ke sini adalah untuk membicarakan hak waris alamarhum papah kamu. Mungkin kamu tahunya kalau papah kamu hanya memiliki dua orang anak. yaitu kamu dan alhmarhum Dena, tetapi kenyataanya, Tuan Irwan memiliki tiga orang anak. (Wajah Deon sudah berubah menjadi pucat pasi) Kalau kamu mengira kamu adalah anak dari Tuan Irwan dan Diana, itu salah. Kenyataanya yang menjadi sah anak Irwan dan Diana adalah Doni." Dika menghentikan ucapanya ketika matanya menangkap wajah Deon yang pucat dan terkejut dengan penjelasannya.


"Kemarin saja sombongnya setengah mati, tetapi baru dapat info seperti itu langsung pucat. Apa takut kalau dia akan langsung miskin seketika?" guman Doni, tatapan matanya terus mengawasi Deon, kedua telinganya di buka lebar-lebar untuk mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Dika, dan juga Doni ingin mendengar apa tanggapan dari Deon.


"Kalau saya bukan anak dari Diana, siapa ibu kandungku?" tanya Deon, untuk memastikan kalau ucapan Doni tempo hari benar adanya. Lysa adalah ibu kandungnya, dan itu tandanya ancaman yang di berikan Doni bukan sebagai gertakan semata, tetapi benar adanya ia bisa membuat dirinya jadi miskin secara instant.


"Ibu kandung kamu adalah Lysa, tetapi Om sendiri tidak tahu di mana Lysa berada. Sejak dia kabur. Baik Tuan Irwan maupun anak buahnya tidak lagi menemukan ibu kamu di mana keberadaanya," jawab Dika, dan Deon hanya menunduk dan memegangi dadanya yang terasa sakit. Bukan serangan jantung, hanya saja sesak karena fakta ini. Mungkin andai tidak malu sama Dika dan tentunya Doni yang wajahnya sangat menyebalkan. Deon akan marah, menjerit dan bahkan menangis.


Namun, Deon tidak bisa melakukanya untuk apa? Karena yang ada Doni semakin menghinanya, saat in juga Deon sangat yakin Doni dalam batinya sedang menertawakan dirinya yang sangat kacau itu.

__ADS_1


"Siapa Lysa sebenarnya, kenapa Papah tidak menikahinya?" tanya Deon, mungkin kalau menikahinya setatusnya akan kuat dimata hukum setidaknya sama dengan Doni.


"Karena Lysa hanya seorang budak," sela Doni memancing Deon, yang sedang serius menunggu jawaban dari Dika.


"Jaga mulutmu baji-ngan. Tahu apa kamu tentang wanita itu," bentak Deon, sakit hatinya ketika ibunya dikatakan budak.


"Kenapa tidak terima? Memang benar Lysa itu hanya budak nafsu, andai wanita bukan budak nafsu Irwan, tidak mungkin dia mau menjadi duri dalam daging pernikahan ibu dan ayahku, terlebih tanpa adanya setatus pernikahan. Kamu mau protes, tanya pada Om Dika, apa selama dijadikan simpanan papahmu dia menuntut penikahan agar setatus kalian sah di mata negara? Tidak!! Yang dia tuntut adalah harta. Sama sepertimu yang menghalalkan segala cara agar tujuanmu tercapai. Memang buah tidak jauh jatuh dari pohonnya." Doni pun bisa mengeluarkan unek-uneknya, yang dia yakin kalau itu juga menjadi unek-unek Momynya selama ini.


Meskipun ibu kandungnya selama ini diam dan tidak menuntuk apa-apa, tetapi laki-laki itu sangat tahu kalau ibunya sangat menyimpan dendam dengan yang dilakukan wanita penggoda itu. Bahkan Doni saja yang mendengar cerita itu sangat geram dan ingin meluapkannya pada Deon, yang Doni ketahui pasti Deon tidak akan terima, dan benar saja, wajah Deon sangat merah dan pastinya, kalau tidak ada Dika yang melerainya, bisa-bisa terjadi pertumpahan darah.


"Kalian bisa diam kah? Tidak usah saling menyalahkan, yang sudah berlalu berlalu, dan sekarang yang  jadi kenyataan kalian tetap sodara satu ayah," lerai Dika, yang tahu situasinya semakin memanas.


"Lalu tujuan On Dika datang ke sini untuk apa, mengenalkan aku dengan laki-laki ini, aku tidak peduli dia sodaraku atau bukan," balas Deon dengan ketus.


"Sebenarnya kedatangan Om kesini bukan hanya itu saja, tetapi lebih membahas harta yang ditinggalkan oleh papah kamu. Kamu sebenarnya sudah tahu harta itu akan jatuh ke tangan siapa sesuai hukum yang  sah..." Dika tidak melanjutkan ucapanya, karena Deon yang memintanya setop.


"Jadi kamu datang ke sini hanya untuk membuat aku miskin dan tinggal di kolong jembatan sesuai yang kamu katakan?" tanya Deon, dengan tatapan yang membunuh pada Doni.


Sementara Doni membalasnya dengan senyum santai.

__ADS_1


__ADS_2