
"Jec berikan aku satu obat penenang, aku membutuhkan obat itu," lirih Deon yang kepalanya tiba-tiba berdenyut dengan sangat kencang.
Jec membuang nafasnya kasar. "Tuan, obat itu tidak akan menenagkan pikiran Anda, yang ada obat itu akan makin membuat Anda tidak bisa menerima kenyataan atas semua ini. Tolong Tuan Anda harus biasakan lepas dari obat-obat itu," balas Jec dengan suara yang sangat lembut. Meskipun obat-obatan yang Deon konsumsi atas resep dokter, tetap dokter juga sudah memberikan peringatan kalau obat-obatan itu tidak untuk di konsumsi secara rutin, karena bisa semakin membuat sarafnya rusak. Itu obat keras sehingga Deon hanya bisa mengonsumsinya dalam jangka waktu yang tidak rutin.
Deon menatap Jec dengan mengiba. "Tolong aku Jec, untuk kali ini saja aku ingin istirahat dengan tenang. Dalam pikiranku sudah terlalu banyak masalah. Aku ingin tidur tenang seperti dulu, sebelum badai besar mengahncurkan keluargaku gara-gara laki-laki yang bernama Luson," lirih Deon, tatapan yang dalam dan mengiba terlihat jelas dari wajah lelahnya.
Jec menghirup nafasnya dengan berat, bukan dia tidak mau memberikan obat yang bisa menenangkan itu, tetapi Jec masih mengingat apa yang dokter katakan, bahwa obat itu tidak bisa dikonsumsi terlalu sering dan Deon sudah terlalu sering menggunakan obat itu. Dokter memperingatkan untuk menghentikanya, karena bukan tidak mungkin justru Deon semakin sulit membedakan apakah ini kenyataan atau hanya sebagai bayanganya saja.
"Tuan, tolong untuk saat ini saja. Saya memohon dengan sangat dengarkan saya. Saya tahu apa yang Anda rasakan, Meskipun bukan saya yang berada di posisi Anda, tapi bukan berati saya tidak bisa mersakan apa yang Anda rasakan saat ini. Saya tahu betul gimana perasaan Anda saat itu, dan saat ini, saya bisa merasakanya, oleh sebab itu saya tidak pernah tega untuk meninggalkan Anda melewatkan ini semua seorang diri. Saya perduli dengan Anda, Tuan," lirih Jec, mungkin dengan ucapan Jec ini Deon akan mengerti bahwa Jec melakukanya bukan karena Jec ingin menyiksanya dengan sakit yang ia rasakan itu.
Namun Jec melakukanya demi kebaikan Deon. Andai Jec tidak perduli dan tega maka ia sudah sejak lama meninggalkan Deon dengan sifat yang menyebalkanya itu. Selain janji Jec pada Irawan, Jec juga tidak tega meninggalkan Deon yang sebenarnya baik, hanya keluarga yang tidak mendukung dan tidak ada orang yang peduli sehingga Deon tumbuh menjadi orang yang kurang arahan.
Deon hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan oleh asistennya itu. Tidak bisa disangkal bahwa apa yang Jec katakan memang benar adanya.
"Jec, kamu minta orang-orang cari tahu wanita yang bernama Lysa. Minta orang-orang kamu untuk cari tahu dari para pekerja yang tinggal di rumah Papah mungkin salah satu di antara mereka tahu cerita tentang wanita yang bernama Lysa itu. Aku masih penasaran dengan ucapan Doni. Rasanya tidak masuk akan apabila Doni mengucapkanya hanya karena dia ingin membuat aku mengalihkan konsentrasiku dari Alzam dan Qari," ucap Deon seambari tanganya terus memijat kepalanya yang terus berdenyut.
__ADS_1
"Baik Tuan, saya akan cari tahu siapa wanita itu," balas Jec dengan suara yang lembut dan tenang.
"Satu lagi Jec, kalian cari tahu siapa Doni Mahendra itu, aku seperti mencium dia ada hubunganya dengan Papahku. Cari tahu tentang dia dan juga ibunya," imbuh Deon. Mungkin kalau tujuan Doni mengatakan seperti itu untuk memecah konsentrasi Deon, rencana Doni bisa dibilang berhasil.
Yah, kali ini bahkan Deon lebih tertuju dengan Lysa dan Doni, Qari dan Alzam, Deon tidak lagi menggebu untuk mengganggunya lagi. Itu karena apa yang diucapkan oleh Doni sudah mengganggu sebagian pikiran Deon.
Jec kali ini hanya diam tidak menjawab ucapan Deon, dan Deon pun sampai heran. "Kenapa Jec, apa kamu tidak mau menjalankan apa yang aku katakan tadi?" tanya Deon dengan serius.
"Tuan, kalau soal dan Doni sepertinya jangan terlalu diikuti campuri sepertinya dia bukan orang yang sembarangan. Doni itu bukan orang yang dengan gampang bisa kita gertak, bisa kita takut-takuti. Contohnya hari ini laki-laki itu bisa langsung tahu kalau yang membuat ancaman itu kita. Tidak hanya itu dia juga sepertinya banyak mengetahui siapa Anda. Saya hanya khawatir apa yang Doni katakan tadi akan benar-benar terjadi," ujar Jec, ia tentu dengar apa ancaman Doni yang bisa saja membuat Deon tinggal di kolong jembatan.
"Tapi aku justru semakin penasaran dengan Doni, Jec. Sepertinya dia tahu banyak tentang aku, dan mungkin dari dia aku bisa mengetahui apa yang aku tidak ketahuinya." Deon kekeh masih ingin mengetahui siapa Doni itu.
"Tapi aku juga sudah jatuh cinta sama anak Luson itu kan? Kamu juga tahu gimana perasaanku pada Qari, bahkan karena wanita itu aku sampai kehilangan hasrat dengan wanita lain," oceh Deon.
Jec menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sulit menasihati Deon. Padahal Jec melihat kalau Qari dan Doni itu memiliki kesamaan wataknya. Dua orang ini sulit untuk digertak semakin dia digertak maka orang ini akan semakin menjadi. Qari bukan lawan Deon. Jec hanya kasihan pada bosnya kalau dia malah hanya akan sia-sia dalam semua pencapaian akhirnya dia akan dirundung penyesalan.
__ADS_1
"Tuan, sebaiknya Anda istirahat lagi mengenai pembahasan dengan Doni dan Qari bisa dilanjutkan besok lagi. Hari ini adalah hari pertama Anda pulang dari rumah sakit jangan sampai Anda harus masuk rumah sakit lagi hanya gara-gara kurang istirahat," lirih Jec dengan memberikan obat-obatan yang di berikan oleh dokter.
Deon tidak menolak, ia meminum obat dan setelahnya mengikuti apa yang Jec katakan, istirahat dengan tenang.
Jec yang menunggui Deon istirahat duduk untuk mengecek pekerjaanya yang sudah beberapa hari ia tinggalkan, hanya mengeceknya sepintas saja. Laki-laki itu melihat kalau Deon memang sudah terpenjam dan itu tandanya kalau bosnya itu sudah tertidur.
"Jec..."
Baru juga Jec akan beranjak ke kamarnya tiba-tiba Deon memanggilnya lagi.
"Iya Tuan," jawab Jec dengan kaki berjalan mendekat kearah ranjang Deon yang mana Deon sedang berusaha duduk, dan Jec dengan cekatan membantunya. Karena Deon terlihat sesekali meringis menahan perut yang masih sakit apabila tertarik untuk duduk.
"Jec, aku ingin makan slice cake rasa tiramisu dan cake dengan toping buah yang segar," ucap Deon, dengan wajah tanpa dosa.
Jeduerrr.... bak di sambar petir di siang bolong. Jec melirik jam yang ada di dinding kamar bosnya.
__ADS_1
Kedua mata Jec terbuka dengan lebar bahkan sebentar lagi tengah malam. Bosnya meminta slice cake dengan rasa tiramisu dan juga cake dengan toping buah segar. Tangan Jec menggaruk rambutnya yang tidak gatal itu.
"Oh bayi yang kecil, dimanapun kamu berada tolong jangan siksa aku seperti ini," geram Jec mengumpat anak Qari dan bosnya yang benar-benar menyusahkan Jec.