Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta berselimut Dendam #Episode 203


__ADS_3

"Siapa wanita itu Jec? Terus alasan kamu bawa ke sini untuk apa? Sedangkan aku lihat dia seperti tidak sehat kenapa tidak kamu bawa ke rumah sakit saja?" cecar Doni ketika melihat Jec duduk dengan lebih tenang.


"Istri dari Deon," jawab Jec dengan lemah. Sontak saja Doni langsung terkejut dan duduk dengan tegak.


"Istri dari Deon? Sejak kapan Deon menikah? Kenapa aku tidak tahu apa-apa? Apa yang terjadi sebenarnya Jec?" cecar Doni lagi. Dalam pikiran Doni sudah segudang pertanyaan. Apalagi melihat kondisi Cucu yang tidak baik-baik saja. Kemarahan Doni kembali menyelimuti, di mana sodara tirinya selalu saja berulah.


Jec sendiri kembali menghirup nafasnya dalam, dan berkali-kali. Laki-laki itu pun bingung mau memulai dari mana mengingat apa yang terjadi antara Cucu dan bosnya sebenarnya dia sendiri tidak begitu paham. "Jujur saya pun tidak begitu tahu bagaimana ceritanya. Dan soal pernikahan Bos Deon saya sendiri tidak begitu  paham. Saya sendiri baru tahu kalau Bos Deon sudah menikah baru tadi, dan tahunya juga dari Cucu," jawab Jec dengan suara yang lirih.


Doni nampak terkejut dan juga menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Terus dia siapa, kenapa kayaknya aku nggak pernah lihat. Apa dia juga jadi korban kebejadan Deon?" tanya Doni lagi, gigi-giginya beradu dengan hebat, hingga terdengar suara gemelutuk.


"Anda sudah pernah bertemu dengan wanita itu. Dia Cucu, asisten pribadi Bos Deon, saat Qinara meninggal dunia, wanita itu ada hadir untuk mendamping Deon di rumah sakit bahkan sampai di pemakaman Qinar," balas Jec lagi, dan Doni pun nampaknya tengah mengingat-ingat apa yang Jec katakan.


"Oh iya-iya, aku baru ingat wanita itu, tapi sekarang kaya beda, cantik dan menarik meskipun pakaianya gedodoran. Aku akui Deon memang seleranya tinggi. Qari dan sekarang Cucu yang tidak kaleng-kaleng. Tapi sayang kelakuanya sangat buruk," ucap Doni. Entahlah, laki-laki itu sendiri bingung mau ngomong Deon itu seperti apa.


Karena pada kenyataanya memang Deon itu seperti itu. Sangat sulit untuk di nasihatinya.


"Saya juga heran Tuan, saya pikir setelah kehilangan Qinar, Tuan Deon berubah dan bisa dinasihati lagi, tetapi nyatanya tetap sulit untuk dinasihati. Rasanya saya sendiri cape menghadapi sifanya yang kekanakan," adu Jec dengan suara yang lirih dan pasrah.

__ADS_1


"Aku salut sama kamu Jec, kamu tetap ada di samping Deon sedangkan dia sendiri sifatnya sangat buruk. Kalau aku jadi kamu sudah aku bikin burung penyet tuh burung perkutut-nya," dengus Doni lagi-lagi dia emosi kalau membahas soal Deon.


"Entahlah saya akan bertahan sampai kapan, mungkin setelah masalah Cucu selesai saya akan mengundurkan diri menjadi asisten Tuan Deon. Saya merasa tanggung jawab atas kejadian Cucu karena bagaimanapun Cucu, dulu saya yang bawa untuk menjadi asisten Tuan Deon, bahkan saya sempat mengancam Cucu kalau ke luar, tetapi justru saya kecolongan lagi." Jec sangat merasa bersalah. Dan dia akan tanggung jawab, setidaknya kalau Deon ingin Cucu kembali Jec bisa memastikan keamanan Cucu, jangan sampai terjadi yang lebih buruk lagi. Tapi kalau Deon tidak bisa berubah kemungkinan Jec akan benar-benar membuang Cucu ke pulau terpencil.


"Entahlah, seharusnya Deon sangat bersyukur karena memiliki asisten yang sangat tanggung jawab seperti kamu. Aku yakin kalau kamu berhenti dari pekerjaan kamu, Deon akan hilang arah. Aku yakin Deon tidak akan mungkin bisa menemukan  orang seperti kamu lagi. Kamu adalah orang yang baling baik selama aku kenal Deon. Seharusnya dia bisa menghargai kamu. Kalau kamu berhenti dari Deon, butuh kerjaan kamu bisa hubungi aku, aku akan tempatkan kamu jauh lebih tinggi posisinya," balas Doni, tidak mau kehilangan orang yang sangat tanggung jawab dalam pekerjaan.


"Sebenarnya saya kerja juga bukan karena kekurangan materi Tuan, saya sendiri ada bisnis yang omsetnya mengalahkan gajih-gajih saya. Saya tetap bekerja pada Tuan Deon, karena saya sudah berjanji sama Tuan Irawan untuk tetap menjaga putranya, karena beliau tahu kalau Tuan Deon itu sangat sulit untuk dinasihati, dan mungkin beliau percaya dengan saya karena saya tegas. Namun, nyatanya sampai detik ini pekerjaan saya tidak banyak membawa hasil yang positif." Di wajah Jec terlihat penyesalan yang teramat dalam.


Keinginan Jec hanya satu Deon bisa menghilangkan kebiasaan buruknya yaitu selalu memaksa, dan berambisius. Namun, mungkin apa yang Jec inginkan tidak akan pernah terwujud.


"Lalu kenapa kamu bawa wanita itu ke rumaku?" tanya Doni lagi.


"Setelah saya berpikir rumah ini paling aman untuk Cucu bersembunyi. Setidaknya biakan Cucu sampai sehat dan saya akan selesaikan kekacauan dengan Bos Deon. Sekiranya Anda membantu Cucu Tuan, Anda dokter dia butuh obat-obatan untuk badanya yang sudah mulai meriang," jawab Jec dengan lengkap agar Doni tidak keberatan untuk menampung Cucu.


"Anda jangan pura-pura polos Tuan. Sudah jelas dia buat untuk melayani Tuan Deon dengan paksa, sedangkan mungkin ukuranya terlalu besar sehingga membuat wanita meriang, atau apalah saya juga tidak menayakan detail sama Cucu, itu urusan dia dan Bos Deon. Masa iya saya harus tanya dengan detail," dengus Jec, laki-laki itu tahu kalau Doni sedang memancingnya.


Benar saja Doni langsung tertawa dengan renyah ketika membahas receh itu. Hiburan di dinginya pagi hari.


"Terus nanti kalau Deon tahu wanita itu di sembunyikan di sini, aku harus gimana?" tanya Doni sok polos, padahal dia sudah tahu bahagimana cara menghalau Deon.

__ADS_1


"Tuan, Anda pasti tahu bagimana cara membuat Tuan Deon darah tinggi, bahkan kadang Anda bukan membuat darah tinggi Tuan Deon saja, tetapi membuat darah tinggi saya juga," aku Jec dengan serius.


Kembali Doni tetawa dengan renyah. Ternyata di balik seriusnya Jec bisa juga diajak bercanda. "Ok-ok lah aku akan jaga ipar tiriku. Dan aku berharap agar Deon tahu kalau istrinya aku sembunyikan, rasanya aku tidak sabar membuat dia emosi," kelakar Doni. "Padahal aku tidak menyebalkan sekalikan Jec, tapi kenapa Deon kalau bertemu dengan aku selalu emosi. Apa salah aku?" tanya Doni dengan tampang yang sok pura-pura polos.


"Anda memang tidak salah, yang salah adalah Tuan Deon yang kesabaranya setipis tisu."


Jec dan Doni terus berkelakar ngobrol  santai bahkan Jec sendiri merasa kalau dirinya lebih dekat dengan Doni dari pada dengan Deon. Bosnya yang sekarang itu sangat berbeda dengan Deon yang dulu yang selalu  ada cara untuk berbicang dengan santai. Kini selalu saja berujung dengan perselisihan.


Tidak jauh berbeda dengan Doni dan Jec yang sedang bercerita dengan diselingi candaan. Cucu di dalam kamar pun sama sedang bercerita dengan Momy Iriana, di mana Cucu merasakan kalau kedekatanya seperti dengan ibunya sendiri. Cucu juga menceritakan pertemuanya dengan Deon dan juga menceritakan perlakuan Deon, hingga hutang-hutangnya Cucu, yang jumlahnya tidak sedikit karena jebakan Deon, dan pastinya cara pembayaran yang sangat menjijihkan untuk Cucu.


"Kamu tenang saja, di rumah ini aman. Kamu bisa beristirahat dengan tenang di sini. Sehatkan tubuh kamu dan juga sehatkan pikiran kamu." Iriana mengusap tubuh Cucu yang banyak tanda cinta dari Deon.


"Terima kasih Momy, saya merasa tidak sendiri lagi sekarang. Saya merasa banyak yang memberikan dukungan pada saya," ucap Cucu dengan kedua kelopak matanya mulai mengembun. Karena setidaknya dia bisa tenang di rumah sodara tiri suaminya itu.


"Sama-sama, dan Momy berharap kamu tetap di samping Deon. Momy yakin laki-laki itu hanya bisa nurut sama kamu. Dan kalau sudah tenang Momy ingin kamu rubah sifat Deon. Dia sebenarnya baik hanya kurang perhatian dan kurang nasihat bimbingan dari orang-orang, jadi dia tumbuh dengan segala kekerasan hatinya." Iriana juga mengisahkan cerita dirinya dengan papahnya Deon dan Doni.


Cucu pun hanya menyimak dengan seksama, dan dalam batinya terus bergumam. "Apa aku bisa merubah Deon, sedangkan wataknya saja sangat menjijihkan?"


...****************...

__ADS_1


Sembari Tunggu Deon bangun, yuk mampir ke karya bestie othor...



__ADS_2