Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Kencan


__ADS_3

“Kalau begitu, Kakak tinggal dulu ya, Rei. Kakak harus bersiap – siap untuk kencan nanti malam bersama suami tercinta,” pamit Nola dengan nada mengejek sambil menepuk – nepuk pipi Reisya pelan.


“Kak! Kakak akan menerima balasan atas perbuatan Kakak nanti!” pekik Reisya dengan tatapan jengah dan penuh kebencian pada Nola yang dengan santainya melanggak lenggok bak model di atas catwalk seraya mengangkat lalu melambaikan tangannya.


Hutomo pun ikut melambaikan tangannya sambil mengulas senyum licik. Kemudian menyuruh pengawalnya untuk menyumpal mulut Reisya kembali melalui kode tangannya.


Kedua pengawal itu pun mengerti, mereka langsung melaksanakan tugasnya setelah Hutomo keluar dari ruangan.


“Ternyata sedih sekali nasib Kamu, ya gadis manis,” cibir salah satu dari mereka sambil menggerayangi tubuh Reisya, sementara yang satunya sibuk mengikat kain yang menyumpal mulutnya.


Reisya hanya bisa pasrah atas perlakuan buruk mereka. Meskipun pelecehan yang mereka lakukan hanya sekedar meraba – raba bagian dada dan mencumbuinya, namun Reisya sudah merasa jijik dan merasa dirinya sangat kotor.


Air matanya terus mengalir deras. Dia sama sekali tidak mengira Nola mampu melakukannya tanpa perasaan sedikitpun.


Nola dan Hutomo diikuti beberapa pengawalnya melangkah menuju ruang utama rumah mewah itu.


“Baiklah, Om. Aku pamit dulu, takut Aaric lebih dulu sampai dirumah dan menimbulkan kecurigaan pada yang lainnya,” pamit Nola pada Hutomo.


“Baiklah. Biar orang Om yang akan mengantarkanmu.”


“Tidak perlu, Om. Aku naik taksi saja agar semuanya terlihat biasa,” tukas Nola dengan senyum smirk.


Nola langsung melangkahkan kaki jenjangnya dengan pasti. Hari ini hatinya merasa sedikit lega karena dia tidak perlu menutupi kelakuannya dari Reisya. Setidaknya membantu meringankan sedikit bebannya.


Nola harus berkorban sedikit untuk mendapatkan taksi. Karena pintu gerbangnya berada disisi samping pagar rumah Hutomo.


Dari dalam mobil dibalik kemudinya, seorang pria memperhatikan Nola dengan sangat awas. Netranya membulat sempurna.


‘Ternyata kecurigaanku selama ini benar. Tapi dari mana Dia? Dan apa yang sedang dilakukannya di rumah mewah milik Hutomo? Ada hubungan apa Nola dengan Hutomo?’ batin pria itu penasaran.


Lalu Dia melajukan mobilnya mengikuti Nola yang sudah berada di dalam taksi. Kemudian pengintaiannya terhenti saat taksi yang naiki Nola berhenti di sebuah salon spa tempatnya turun saat Aaric mengantarnya.


“Mau apa dia? Bukankah tadi Aku mengantarnya kesitu?” gumam Aaric yang terus mengawasi Nola dari dalam mobilnya.


Setelah satu jam menunggu akhirnya Nola keluar dari arah dalam dan kembali menghentikan taksi yang berlalu lalang.

__ADS_1


Aaric kembali mengekorinya dengan mobil yang ditumpanginya. Ternyata Nola langsung pulang ke rumah. Aaric menunggu beberapa menit kemudian di tepi jalan sebelum akhirnya menyusul Nola.


Tin.. tin..


Suara klakson mobil Aaric yang sudah di depan gerbang rumah keluarga Widjaya. Tampak Mbok Ana yang sedang bergegas membukakan pintunya. Dan menutupnya kembali setelah mobil Aaric masuk dan terparkir rapi di garasi.


“Syukurlah Aku lebih dulu tiba di rumah daripada Dia,” lirih Nola dengan senyum penuh kemenangan sambil mempercepat langkahnya manaiki anak tangga menuju kamarnya.


Begitu masuk ke dalam kamar, Nola mengunci pintunya agar memberinya waktu untuk menukar pakaiannya agar Aaric tidak curiga padanya.


‘Aku harus belajar senetral mungkin agar Aaric tidak curiga,’ gumam Nola sambil memakai baju rumahan.


Lalu samar terdengar langkah kaki Aaric yang semakin lama semakin mendekat ke arah kamarnya. Nola kembali merapikan baju dan rambutnya dan membuka pintu saat suara ketukan dari balik pintunya menggema.


“Kau sudah pulang?” sambut Nola berusaha sabaik mungkin terlihat di mata Aaric.


“Hem,” sahut Aaric sambil melangkah masuk dan memberikan tas di tangan kanannya.


Nola menerima tas itu dan meletakkannya di atas meja belajar Nola.


“Bagaimana harimu?” tanya Aaric berbasa – basi.


“Uhm.. menyenangkan. Rasanya tubuhku kembali fresh setelah berendam lama dalam bak spa yang merelaksasi tubuhku. Lain kali Kau juga harus mencobanya,” usul Nola yang juga berbasa – basi.


‘Pandai sekali Kau bersilat lidah. Jelas – jelas Aku sudah memergokimu, sekarang Kau masih bisa berkilah,’ rutuk Aaric sambil membuka jas dan kemejanya.


‘Aku harus bersikap manis padanya, agar dia percaya jika Aku adalah wanita yang tepat untuk menggantikan posisi Reisya,’ desis Nola dalam batinnya dengan senyum licik.


“Apa Kau ingin Aku membawakan segelas air hangat untukmu?” tawar Nola.


“Boleh, dan Aku akan membersihkan tubuhku lebih dulu,” sahut Aaric sambil melangkah ke kamar mandi.


Nola mengangguk sambil membawakan baju kotor Aaric ke bawah. Meskipun itu adalah tugas Mbok Ana setiap harinya untuk mengutip pakaian kotor ke setiap kamar.


Namun untuk mendapatkan nilai dimata Aaric, ia rela berkorban sedikit untuk mendapatkan hasil yang besar.

__ADS_1


‘Bersabarlah Nola, semuanya akan berakhir indah seperti yang Kau harapkan,’ monolognya sambil melangkah keluar kamar.


Bapak dan Ibu Widjaya melihat Nola sedang membawa pakaian kotor di tangannya saat menuruni anak tangga.


“Pa, lihat. Ternyata Nola dapat melaksanakan tugasnya sebagai istri dengan baik,” puji Bu Widjaya pelan.


“Syukurlah, Ma.”


“Andaikan itu adalah Reisya..,” ucapan Bu Widjaya tercekat teringat akan anaknya yang menghilang tanpa jejak dengan derai air mata.


Mereka masih menunggu hasil pencarian dari polisi yang menangani kasus hilangnya Reisya. Do’a pun tak luput dari bibir mereka untuk keselamatan Reisya.


Kemudian Aaric juga terlihat menuruni anak tangga menuju ke balkon di teras samping yang terdapat kolam ikan koi. Sepertinya suara gemericik airnya akan sedikit memberinya ketenangan.


Namun samar terdengar suara dari arah dalam ruang tengah. Seperti suara seseorang yang sedang menenangkan orang yang sedang menangis.


Aaric melingukkan kepalanya ke arah dalam, pada saat yang bersamaan Nola datang membawa baki yang berisi segelas the panas dan sepiring kecil camilan yang juga masih mengeluarkan uap panas.


“Terimakasih,” ucap Aaric saat Nola meletakkannya di atas meja di depan Aaric.


“Apa Kau ingin Aku menemanimu?”


“Terserah.”


Sekelebat Nola memutar bola matanya, namun segera meninggalkan Aaric seorang diri menikmati hidangannya. Netranya fokus pada benda pipih yang kini di pegangnya.


Aaric membuka – buka kembali galeri handphone – nya. Hatinya sangat merindukan kehadiran Reisya. Gadis lembut nan manja yang sok kuat padahal sangat rapuh.


“Rei, Kamu dimana? Aku sungguh sangat merindukanmu. Seharusnya Kamu yang melakukan ini untukku. BUKAN Nola, perempuan licik yang berlagak sok lugu,” batin Aarik sambil menggulir lembar demi lembar setiap foto Reisya.


“Senyuman ini, Rei.. lama – lama Aku bisa gila jika tidak menemukanmu,” racau Aaric yang terlihat frustasi bahkan ia sampai lupa jika ada hidangan di depan matanya.


Nola yang berdiri di ambang pintu menuju dapur tersenyum puas dengan pemandangan di depan matanya kali ini.


“Dasar orang – orang b*doh! Apa Kalian akan terus menangis seperti ini?!” decak Nola dengan tatapan yang tajam dengan tangan yang sudah bersedekap di dadanya.

__ADS_1


__ADS_2